Trash of the Count Family Book II 562 : Ada Apa Dengan Tempat Ini?
Keheningan yang begitu
pekat hingga suara napas pun tak terdengar memenuhi ruangan itu.
Baik Jack maupun
Wanderer Elwood tidak bisa bergerak dengan mudah.
Terutama setelah Cale
memperingatkan untuk tidak melakukan hal yang sia-sia.
— Manusia, aku akan
menghentikan mereka jika mereka mencoba kabur!
Di tengah situasi itu,
Raon—satu-satunya sosok yang dibiarkan bergerak bebas oleh energi yang
mendominasi ruang ini—menggunakan sihirnya dengan leluasa.
Wung, wung—
"!!"
"!!"
Jack dan Elwood bisa
melihat mana hitam transparan menyelimuti segalanya, langit-langit, lantai,
jendela, hingga dinding.
"Ada orang lain
lagi?"
Jack bergidik ngeri.
Selain Cale Henituse,
ada satu sosok lagi di sini, dan energi mana luar biasa yang dipancarkan sosok
itu telah menutupi seluruh kantor dengan sihir.
— Hehe. Manusia, aku
sudah menutupi seluruh ruang ini dengan mana! Kalau mereka coba kabur, aku akan
langsung tahu!
Sring.
Sudut bibir Cale
terangkat.
'Kapan dia
mempelajari hal seperti ini?'
Seolah tahu apa yang
dipikirkan Cale, Raon melanjutkan.
— Aku dan Rosalyn
sedang belajar bersama belakangan ini!
'Hmm?'
— Rosalyn yang baik
bilang kalau mana itu seperti udara, dan dia akan mempelajari ruang di mana
udara itu berada!
'Hoo?'
— Manusia, ini rahasia
dari kakek Goldie! Kakek sedang sibuk dengan 'Kekuatan Unik'-nya, jadi hanya
aku dan Rosalyn yang melakukannya berdua! Hehe!
Wah.
Jadi ceritanya begitu?
Cale teringat akan
rekan-rekannya.
'Choi Han mengincar Kekuatan
Unik,' sedangkan Raon dan Rosalyn memilih untuk menggali sihir lebih dalam
alih-alih Kekuatan Unik?
'Aku tidak
menyangka Nona Rosalyn memikirkan hal itu.'
Bahkan di saat Cale
tidak menyadarinya, rekan-rekannya terus berkembang pesat dengan cara mereka
masing-masing. Senyum puas muncul di wajah Cale.
— Hehe! Manusiaku
sedang merasa senang sekarang!
Melihat senyum itu,
suasana hati Raon ikut membaik.
Namun, perasaan itu
hanya dirasakan oleh Raon dan Cale.
'…Apakah itu senyum
aslinya?'
Melihat senyum Cale
yang tampak agak sinis dan santai, Jack menyadari bahwa sosok bernama 'Bob'
selama ini hanyalah akting belaka, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
'Bajingan ini, dia
benar-benar sekutu kita, kan?'
'Dia benar-benar
orang yang ingin menyelamatkan New World, kan?'
Tepat saat keraguan
muncul di hati Jack...
[ Cale, pohon itu
mau bergerak lagi. ]
[ Cale, sepertinya
ada angin yang bertiup. Atau bukan ya? ]
Mendengar ucapan Indestructible
Shield dan Sound of Wind, Cale berkata dengan santai:
"Wanderer Elwood.
Bukankah aku sudah bilang jangan menggerakkan pohonmu?"
"……"
Wanderer Elwood
menggigit bibirnya.
Tap.
Cale mendekat dan
duduk di pinggir meja kerja Elwood.
Sambil menatap ke arah
Elwood yang sedang duduk di kursinya, Cale bertanya:
"Apakah Kaisar
Dua tahu soal pengkhianatanmu?"
"!"
Pupil mata Elwood
bergetar.
Bibirnya yang tadi
tergigit kini terbuka perlahan karena terkejut.
Tuk.
Cale mengeluarkan
sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja Elwood.
"……!"
Tanpa sadar, Elwood
menjatuhkan pena yang dipegangnya.
Sebuah beliung yang
membusuk.
Benda Suci Dewa
Keseimbangan diletakkan di atas meja di dalam kotak transparan yang telah
diproses secara sihir.
Karena tidak punya
banyak waktu, Cale tidak ingin bertele-tele.
Dia langsung
mengutarakan alasan mengapa dia datang menemuinya.
"Kalau kamu
berniat mengkhianati Kaisar Dua, bagaimana kalau bekerja sama denganku?"
Tentu saja, Cale
menambahkan ancaman.
"Kalau tidak,
dokumen yang kamu curi itu akan aku berikan pada Kaisar Dua."
Cale menatap melewati
bahu Elwood.
Di taman itu, ada
delapan pohon raksasa yang tersebar.
Pohon-pohon itu
berbagi akar yang sama, dan di titik pusat persilangan akar-akar tersebut,
terdapat satu pohon lagi.
Pohon itulah yang
berada di pusat istana, di sisi sang Raja.
'Sudah jelas,
mereka pasti merencanakan sesuatu dengan pohon itu.'
Taktik yang dilakukan
orang-orang macam ini biasanya mudah ditebak.
Cale memalingkan
pandangannya dari pohon itu kembali ke Elwood.
"Halo."
Tok, tok, tok.
Cale mengetuk meja
kerja Elwood dan berkata:
"Jangan terlalu
banyak berpikir."
Realisasi 7th Evils.
Begitu melihat
kata-kata itu, Cale langsung memutuskan.
Ah, karena mereka
bertindak sesuka hati, aku juga akan bertindak sesuka hatiku.
"Lakukan saja apa
yang aku katakan."
Biasanya, jika itu
adalah Cale yang biasa, dia mungkin akan menahan Wanderer ini dan bertanya
mengapa dia mengkhianati Kaisar Dua, apa alasannya, dan menawarkan bantuan.
'Tapi aku tidak
punya waktu untuk itu.'
Selama New World masih
berupa game sebelum menjadi dunia nyata, dia harus membereskan Kaisar Satu dan
para Hunter.
'Lagi pula, tidak
ada alasan untuk melakukan itu.'
Para Hunter ini,
semakin dilihat semakin keterlaluan.
Mereka melakukan
segala macam hal menjijikkan dengan nyawa dan kehidupan.
‘Makhluk-makhluk
yang memuakkan.’
Bukan hanya membunuh,
sekarang mereka bahkan menyiksa jiwa dan memberikan penderitaan yang lebih
mengerikan daripada kematian.
'Aku muak.'
Cale benar-benar muak
dengan para Hunter itu.
'Dewa? Makhluk
transenden?'
Apa pentingnya semua
itu?
Hanya karena hal itu
mereka berbuat sejauh ini?
Dan anehnya,
orang-orang seperti itu sangat menghargai nyawa mereka sendiri.
Pemandangan Kaisar
Tiga, orang terkuat ketiga di Fived Colored Blood, saat memohon pengampunan
nyawa benar-benar menjijikkan untuk dilihat.
"……"
Cale menatap Elwood
dalam diam.
Dia tidak mengatakan
apa-apa lagi, namun segala emosi di matanya tersampaikan dengan jelas kepada
Jack.
'Penghinaan.'
Terhadap musuh besar
yang mencoba menguasai New World, Cale Henituse menunjukkan penghinaan yang
luar biasa.
Meskipun mungkin itu
hanya perasaan Jack saja, namun tatapan tajam itu tampak penuh dengan rasa muak
terhadap lawan di depannya.
"……"
Hal itu juga
tersampaikan dengan jelas kepada Elwood. Wanderer Elwood tanpa sadar membuka
mulutnya.
"Sejauh mana kamu
tahu sebelum datang ke sini?"
"Menurutmu kenapa
aku ada di sini?"
Mendengar pertanyaan
balik Cale, Elwood mengangguk.
Karena dia sudah
berhadapan langsung dengan Cale Henituse, tidak perlu lagi banyak penjelasan.
"Apakah kamu
datang untuk menyelamatkan 8th Evils?"
Elwood bertanya
kembali, dan pria di depannya itu terkekeh sinis.
"Tidak."
Cale menggelengkan
kepalanya.
"Tujuanku adalah
membereskanmu, lalu Kaisar Dua, dan Kaisar Satu."
Pria itu berkata
dengan tegas kepada Elwood.
"Dengan begitu,
tidak akan ada kejadian apa pun lagi di bagian mana pun di New World, bahkan
jika kita mengabaikan 8th Evils."
Ah.
Sebuah desahan pendek
keluar dari mulut Elwood.
Dia segera mengangguk.
"Memang, kamilah
masalahnya."
"Syukurlah kalau
kamu sadar."
Mendengar nada bicara
Cale yang sinis, Elwood mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Dia menatap Cale dalam
diam.
Melihat itu, Cale
kembali bicara.
"Tidak ada
jawaban?"
Elwood tidak
memberikan jawaban apa pun atas tawaran untuk bekerja sama atau perintah untuk
mengikuti instruksinya.
Cale hendak
mendesaknya, namun dia berhenti sejenak.
'Aneh.'
Tidak ada permusuhan
di mata Elwood.
Tapi, dia juga tidak
terlihat seperti orang yang akan menyerah pada Cale.
‘Pencerahan?’
Dia tampak seperti
orang yang sudah lepas dari keduniawian.
'Apa ini?'
Sosok Wanderer Elwood
terasa berbeda dari para Wanderer Hunter yang pernah ditemuinya sebelumnya.
"Cale Henituse,
apakah kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat?"
'Hmm?'
Cale menyadari emosi
yang tersembunyi di balik mata Elwood yang tampak tenang itu.
'Kebencian
(Dendam)?'
Saat ini, Elwood
sedang mendendam pada Cale.
'Hah.'
Benar-benar konyol.
Cale tidak
menyembunyikan rasa heran dan kesalnya.
"Apa memangnya
yang sudah aku perbuat?"
Benar-benar luar
biasa.
"Ya, kamu pasti
tidak tahu. Dari sudut pandangmu, apa yang kamu lakukan adalah hal yang
benar."
Elwood menatap Cale
dengan rasa dendam sekaligus iba.
"Huu..."
Dia menghela napas
panjang.
Sambil menyandarkan
punggungnya ke sandaran kursi, dia mulai bicara.
"Alasanku
mengirimkan informasi kepada Han Taek Soo bukan bertujuan untuk mengkhianati
Kaisar Dua."
Itu bukan sekadar
tindakan sederhana seperti itu. Pandangannya beralih ke arah Jack dan Cale.
"Hanya saja, aku
akhirnya mencintai dunia ini."
'Apa?'
Alis Jack berkerut.
Suara Elwood yang
tenang berlanjut.
"Dunia yang indah
dan murni ini, dunia yang baru saja diciptakan dan belum ternoda... aku tidak
bisa untuk tidak mencintainya."
Kata-katanya terasa
tulus.
"Han Taek Soo
adalah kepala keluarga Transparent yang mengelola New World ini. New World bisa
tetap utuh hanya jika dia dan Kaisar Dua berada dalam posisi saling mengawasi
(check and balance)."
Han Taek Soo harus
tetap bertahan untuk menahan Kaisar Dua.
"Namun, setelah
Han Taek Soo lenyap dan New World bukan lagi milik keluarga Hunter, Kaisar Dua
menjadi tidak sabar dan mulai bertindak sesuka hati di New World."
Tatapannya beralih ke
Cale, seolah-olah mata yang penuh dendam itu mengatakan bahwa ini semua salah
Cale karena telah melenyapkan Han Taek Soo.
"Apakah kamu
pikir dengan membebaskan 8th Evils dari 7th Evils, hal seperti ini tidak akan
terjadi di tempat lain?"
Dia tertawa hampa
sambil berkata.
"Hal seperti ini
akan terus terulang."
Bahkan jika Realisasi
7th Evils kali ini berhasil dihentikan, kejadian serupa akan terulang kembali.
"Setidaknya jika
Han Taek Soo masih hidup, New World akan tetap dipertahankan sebagai ruang bagi
kandidat Dewa Absolut, dan tetap dalam bentuk ini sambil memuja sosok itu.
Setidaknya, neraka tidak akan tercipta."
Karena umpan untuk
neraka itu bisa saja disediakan dengan menarik mereka dari Bumi, dimensi lain,
atau berbagai tempat lainnya seperti sekarang.
"Lautan
Keputusasaan. Insiden seperti itu seharusnya tidak terjadi di sini sejak awal.
Seandainya saja kamu diam saja."
Haaa.
Sambil menghela napas,
dia menatap tajam ke arah Cale.
"Jika begitu,
makhluk-makhluk di New World akan tetap menjalani hidup mereka seperti
sekarang."
Tanpa mengetahui apa
pun, dalam kemurnian mereka.
Sret.
Tangannya mengelus
sandaran tangan kursi kayu itu.
Dengan penuh rasa
sayang yang menyedihkan.
"Haaa, dunia yang
indah dan tak ternoda ini akan segera hancur."
‘Karena
perbuatanmu, Cale.’
"Karena kamu
terus merusak rencana mereka, Kaisar Dua menjadi terburu-buru. Dia adalah sosok
yang hidup hanya demi Kaisar Satu. Demi tujuan Kaisar Satu, dia bahkan akan
menghancurkan New World ini."
Drip.
Setetes air mata
mengalir dari matanya.
"Kamu pasti tidak
tahu rasa sedih ini, kan? Sungguh malang. Perbuatanmu demi menjaga
'kebenaran'-mu itu lah yang membuat semuanya jadi seperti ini."
Saat mata yang penuh
kesedihan itu menatap Cale, Cale akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Tanpa
sadar, kata-kata ini terlontar dari mulutnya.
"Kamu gila?"
Cale mengeluarkan
suara yang sangat kasar tanpa dia sadari sepenuhnya.
Melihat hal itu,
Wanderer Elwood berkata dengan nada iba.
"Tadi itu, kata
'gila' itu... apakah ditujukan kepadaku? Memang, kamu yang merasa hanya dirimu
yang benar dan baik, pasti tidak bisa berpikir bahwa—"
Saat itulah.
BRAK!
Lantai bergetar.
Jack, yang tidak bisa
menahan amarahnya, menghentakkan kakinya ke lantai dan mulai bicara.
"Omong kosong apa
ini!"
Wajahnya penuh dengan
kebencian dan kemarahan besar, suaranya pun penuh dengan amarah.
Ziiing—
Mungkin karena dia
mengerahkan kekuatan yang cukup besar, getaran yang dimulai dari lantai
merambat hingga ke jendela, membuat kaca-kaca bergetar.
Pandangan Cale sempat
beralih ke sana sebentar.
Namun Jack tidak
melihat atau merasakan hal lain.
Benar-benar, dia
merasa sangat marah mendengar omong kosong itu.
"Apa itu yang
kamu sebut hidup?"
Bagaimana Jack selama
ini bertahan hidup?
Sebagai keberadaan
palsu di dunia palsu ini, dia telah berjuang mati-matian untuk melindungi
kedamaian ini.
Apakah dia tahu betapa
sulitnya itu?
"Sejak awal kita
hanya dimanfaatkan, dunia macam apa yang kamu sebut baik itu!"
Indah?
Meskipun begitu, kita
tetap saja dimanfaatkan dan dikurung, kan?
"Ya ampun."
Senyum tipis muncul di
sudut bibir Elwood.
Senyum itu terasa
pedih sekaligus menyedihkan.
Bahkan terselip rasa
kasih sayang terhadap Jack di dalamnya.
Dia berkata dengan
tenang.
"Tapi, dunia ini
adalah sesuatu yang kita ciptakan."
"Heh! Apa
maksudmu—!"
"Benar. Ini
adalah dunia yang dibuat untuk Dewa Absolut dan para Hunter. Tempat ini."
"……!"
Jack kehilangan
kata-kata.
Dia tidak bisa
menemukan bantahan untuk kalimat itu.
Karena benar bahwa
awal mula dunia ini adalah sebuah kepalsuan.
Dunia ini—
Aku—
"Bukan."
Puk.
Saat itu, Jack
merasakan sesuatu di bahunya.
Itu bukan tangan Cale
Henituse.
Sesuatu yang terasa
kenyal namun bukan tekstur manusia menepuk bahunya.
Puk, puk.
Sosok yang menciptakan
ruang sihir ini menepuk bahunya. Seolah-olah sedang menghiburnya.
Dan kemudian, suara
Cale yang tadi mengatakan "Bukan" terdengar menyusul.
"Tempat ini
awalnya adalah realitas virtual yang dikembangkan oleh orang Bumi, tapi mereka
mencurinya. Ya, karena awalnya adalah virtual, memang benar ini palsu. Tapi
apakah itu penting?"
Ada ketulusan dalam
suaranya yang acuh tak acuh itu.
Apakah itu penting?
Dia benar-benar
berpikir demikian.
"Yang penting
adalah sekarang. Benar, kan?"
.
.

Komentar
Posting Komentar