Trash of the Count Family Book II 585 – Ketika Seseorang Bodoh
Cale mengeluarkan sebuah kotak transparan dari dalam kantong
sub-ruangnya.
Hummmm─
Hummm~
Beliung yang membusuk itu bergetar halus.
(tl/n : beliung/kapak itu benda yang sama.)
"Ah."
Pria tua yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang penunjuk jalan itu
melepaskan desahan pendek penuh kekaguman.
Tak. Tak.
Sambil mengarahkan tongkatnya di depan, dia berjalan dengan tepat ke
arah kapal tempat Cale berada.
Cale memperhatikan hal itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah kotak.
Kemudian dia mengangkatnya.
"Hmm."
Sambil mengembuskan napas pendek, Cale membuka kotak tersebut.
Klik.
"Sudah kuduga."
Tepat pada momen ketika desahan kecil lolos dari mulutnya...
"Eh?"
Dewa Kematian tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Mary, sang Necromancer, juga ikut terkagum-kagum.
"Ada bau harum yang tercium."
Benda Suci Beliung yang tadinya memancarkan bau busuk yang sangat
menyengat, entah bagaimana sekarang justru memancarkan aroma yang sangat harum
dan menyegarkan.
"Proses pembusukannya telah berhenti."
Cale mengangguk setuju atas perkataan Dewa Kematian.
Sejak terakhir kali dia memeriksa kondisinya sebelum datang ke Dunia
Mimpi, pembusukannya sama sekali tidak bertambah.
"A-Aku datang ke sini dengan mengikuti aroma ini~"
Suara pria tua yang bergetar itu dipenuhi dengan rasa sukacita.
"Choi Han, bantu dia naik ke kapal."
"Baik."
Atas perintah Cale, Choi Han memapah pria tua itu dan memindahkannya ke
atas kapal.
Setelah berhadapan dengan pria tua itu, Cale membuka mulutnya.
"Aku butuh penjelasan."
"Apakah boleh jika aku memeriksa Benda Sucinya terlebih
dahulu?"
"Ya."
Cale menyerahkan kotak berisi Benda Suci itu tanpa ragu.
"Hah—"
Benda Suci yang membusuk.
Pria tua itu menyentuh benda berbahaya itu dengan tangan kosong.
Cara tangannya meraba dan membelai beliung itu dipenuhi dengan
kehati-hatian, rasa syukur, serta kebahagiaan.
"Ternyata benar, Dewa Harmoni belum lenyap."
Secercah cahaya melintas di mata Cale.
Sorot mata Dewa Kematian juga ikut berbinar.
Dugaan mereka berdua terbukti benar.
‘Kaisar Dua memang memangsa Dewa Harmoni, tetapi dia belum bisa
mencernanya sepenuhnya!’
Dengan kata lain, Dewa Harmoni masih eksis di dalam tubuh Kaisar Dua.
Karena alasan itulah Kaisar Dua tidak memunculkan dirinya sekarang.
"Dunia Mimpi adalah tempat yang unik,"
Pria tua itu mulai berbicara.
"Entah disengaja, tidak sengaja, atau karena dipaksa oleh pihak
lain, ada berbagai eksistensi yang memasuki Dunia Mimpi dengan alasan mereka
masing-masing. Di antara mereka ada manusia, ada ras iblis, dan ada juga ras
langit. Dan..."
Pria tua yang matanya tertutup perban itu menatap ke arah Dewa Kematian.
"Dewa juga bisa tinggal di sini."
Sniifff.
Dia menghirup aromanya.
Bau yang sangat harum.
Aroma yang terasa menyegarkan namun manis, gurih, dan meskipun tidak
bisa dijelaskan dengan satu kata, itu adalah aroma di mana segala sesuatunya
terasa selaras.
"Sebagian dari mereka yang datang ke Dunia Mimpi melalui cara apa
pun, terkadang memasuki alam bawah sadar, Malam Gelap. Baik atas kehendak
sendiri maupun karena paksaaan."
Hilsman palsu adalah salah satu contohnya.
"Kepada sebagian dari mereka yang tersesat di Malam Gelap itu, Dewa
Harmoni mengulurkan tangannya."
Pria tua itu tersenyum.
"Orang pertama yang disentuh oleh uluran tangan-Nya adalah
diriku."
Namun, senyuman itu segera menghilang dari wajahnya.
"Akan tetapi, bagi mereka yang disentuh oleh Dewa Harmoni, cara
penyelamatan mereka terbagi menjadi dua kelompok."
Pria tua itu menunjuk ke arah buku yang dipegang oleh Mary.
"Mereka yang menyadari diri mereka sendiri dan menemukan jalan
keluar melalui firman yang diturunkan oleh Dewa Harmoni yang tertulis di dalam
buku itu."
Kemudian, dia menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Dan orang-orang yang sepertiku."
Pria tua itu menceritakan tentang dirinya sendiri.
"Aku dulunya adalah seorang pengembara yang kehilangan makna
eksistensi hidup dan berkeliaran tanpa arah di Dunia Mimpi."
Dia ingin mati tetapi tidak bisa mati, sehingga dia terus melanjutkan
hidup.
"Karena tidak memiliki keberanian untuk mati, aku tidak bisa
melepaskan nyawaku. Di sisi lain, aku ingin menemukan makna untuk hidup—ya,
makna untuk terus hidup."
Apa yang dia harapkan dengan sangat sungguh-sungguh masih belum jelas
saat itu. Itu tidak ada.
"Dewa Harmoni mengatakan hal ini kepadaku."
Hilsman palsu mengingat dirinya sendiri melalui kemarahan, dan meskipun
itu adalah mimpi buruk tentang kediaman Thames yang terbakar, dia akhirnya
berhasil menemukan jalan keluar dan meloloskan diri dari alam bawah sadar
melalui jalan tersebut.
Namun, kepada mereka yang tidak ingin mati tetapi tidak bisa menemukan
makna untuk hidup, Dewa Harmoni berkata...
"Dewa berkata—"
Dewa itu berkata:
"Aku juga belum bisa menemukan jalan."
Dewa Harmoni.
Seorang Dewa yang dikurung di dalam penjara oleh Dewa Keseimbangan yang
lahir bersamanya.
Dewa tersebut tidak bisa menemukan pintu keluar untuk meloloskan diri
dari penjara.
Dewa yang terkurung itu berkata kepada sang pria tua:
"Kalau begitu, mari kita cari jalan itu bersama-sama."
Tentu saja, sekarang pria tua itu tahu.
"Dengan cara itulah aku menjadi seorang penunjuk jalan."
Bahwa 'jalan' yang dimaksud oleh Dewa Harmoni dan 'jalan' yang dimaksud
oleh dirinya adalah hal yang berbeda.
Bagi Dewa Harmoni itu adalah penjara yang tidak bisa dihindari,
sedangkan bagi pria tua itu, itu adalah perbedaan dari kemungkinan yang bisa
dia pilih.
"Dengan begitu, total ada 12 penunjuk jalan yang terlahir sampai
sekarang."
12 orang pengikut.
"Tujuan kami hanya satu."
Meskipun jumlah mereka sedikit, hati mereka sangat membara dan terpadu.
Orang-orang seperti pria tua ini yang menjadi penunjuk jalan karena
ingin mencari makna hidup.
"Membantu Dewa Harmoni keluar dari kuil dan kembali ke jalurnya
sendiri."
Hanya Dewa Harmoni yang menjadi alasan eksistensi sekaligus alasan hidup
mereka.
Ke-12 penunjuk jalan itu hidup hanya dengan memandang hal tersebut.
"Demi hal itu, kami melintasi alam bawah sadar dan pergi ke
berbagai penjuru Dunia Mimpi untuk melakukan pencarian yang tak terhitung
jumlahnya."
Klik.
Pria tua itu menutup kotak berisi Benda Suci tersebut.
"Namun suatu hari, tiba-tiba ada banyak sekali orang yang masuk ke
dalam alam bawah sadar dan tersesat."
Jumlahnya benar-benar sangat banyak.
Itu bukan dalam skala ratusan orang.
"Jumlahnya pasti melampaui ribuan hingga mencapai puluhan ribu.
Tidak, mungkin bisa lebih dari itu. Puluhan ribu, ratusan ribu..."
Tidak ada yang bisa dipastikan.
Mereka hanya bisa membuat tebakan mengerikan bahwa jumlahnya bisa jadi
jauh lebih banyak dari itu.
"Dewa Harmoni mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka adalah
orang-orang yang tidak bersalah, jadi Beliau menyuruh kami untuk menyelamatkan
sebanyak mungkin orang yang bisa kami selamatkan."
Oleh karena itu, ke-12 pengikut telah melakukan yang terbaik yang mereka
bisa.
"Padahal biasanya harus ada setidaknya satu orang yang berjaga di
kuil. Namun Dewa Harmoni mengatakan bahwa hal itu tidak perlu. Beliau menyuruh
kami untuk menyelamatkan manusia terlebih dahulu."
Ya, Beliau adalah sosok yang seperti itu.
Pria tua itu mengembuskan napas panjang yang penuh dengan penyesalan.
"Sebenarnya, bahkan sampai saat itu pun, perkataan bahwa kami tidak
perlu berjaga di kuil adalah hal yang benar. Tempat di mana Dewa Harmoni
tinggal adalah tempat yang paling dalam bahkan di dalam Malam Gelap sekalipun.
Menemukan jalan untuk mencapai tempat itu adalah hal yang mustahil menurut akal
sehat kami."
Selain itu, tidak ada kebutuhan untuk melindungi kuil atau penjara
tersebut.
Karena bagi penunjuk jalan dari dunia luar, itu adalah penjara yang
tidak akan pernah bisa mereka hancurkan.
"Bagaimanapun, seperti yang kalian ketahui, menemukan jalan di
dalam alam bawah sadar adalah hal yang sangat sulit. Karena jalan yang berbeda
eksis untuk setiap masing-masing orang, hal itu sama sekali tidak mudah. Itu
benar-benar sangat sulit."
Meskipun ke-12 orang tersebut mencurahkan seluruh tenaga mereka siang
dan malam, kemungkinan besar jumlah orang yang mati karena kehilangan diri
mereka di dalam alam bawah sadar tanpa bisa diselamatkan justru jauh lebih
banyak.
Karena para penunjuk jalan adalah orang-orang yang berhasil bertahan
hidup, mereka semakin ingin menyelamatkan setidaknya satu orang lagi.
Di tengah kesibukan yang luar biasa itu, waktu yang cukup lama telah
berlalu.
"Sikap orang-orang yang kami bantu carikan jalannya siang dan malam
mulai berubah sedikit demi sedikit."
Sikap?
Cale yang mendengarkan dengan diam dapat melihat pria tua itu
mendongakkan kepalanya ke arah langit kosong.
"Pada awalnya, mereka hanyalah orang-orang yang mengembara di dalam
alam bawah sadar. Namun seiring berjalannya waktu, kata-kata yang keluar dari
mulut mereka mulai berbeda. Penyelamatan, jalan keluar, pintu masuk."
Pada saat itu, mereka sebenarnya sudah menyadari bahwa ada pihak-pihak
dengan niat tertentu yang sengaja memasukkan orang-orang ke dalam alam bawah
sadar ini. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh 12 orang tersebut.
"Sejak saat itu, frekuensi suara Dewa Harmoni yang menjangkau kami
mulai berkurang."
Mereka hanya mendeteksi adanya keanehan dan membangun metode mereka
sendiri.
Namun karena banyaknya orang yang datang bagaikan air pasang, ke-12
orang yang bergerak dengan sangat sibuk itu pada suatu hari mendadak mendengar
kata-kata yang sama dari orang-orang yang mereka selamatkan secara bersamaan.
"Penjara. Kami berdua belas semuanya bisa melihat manusia-manusia
yang mencari 'penjara'."
Pupil mata Cale tenggelam dengan dalam.
"Saat itulah kami menyadari. Bajingan-bajingan yang mendorong
begitu banyak manusia menuju kematian saat ini sedang mencari Dewa kami."
Suara pria tua itu mulai gemetar hebat.
"Wilayah alam bawah sadar bergerak mengikuti embusan angin yang
kuat. Namun, jika semua orang yang jatuh ke dalam alam bawah sadar berkeliaran
di tempat ini dengan pemikiran bahwa mereka bisa selamat jika menemukan
penjara, apa yang akan terjadi?"
Dia bertanya sambil menatap ke arah Cale, dan Cale menjawab:
"...Mereka akhirnya berhasil menemukan penjaranya dengan cara
seperti itu."
"Benar sekali. Aku pun langsung bergegas menuju kuil."
Bagi orang lain tempat itu adalah penjara, tetapi bagi mereka tempat itu
adalah kuil.
Tempat di mana sosok yang menyelamatkan mereka dari kematian dan
menjalani hidup bersama mereka berada.
Para penunjuk jalan bergegas menuju penjara dengan teramat panik.
"Namun pada saat itu, untuk terakhir kalinya, Dewa Harmoni
menyampaikan firman-Nya kepada kami."
Perban yang menutupi tempat di mana mata pria tua itu seharusnya berada
mulai basah.
Air mata mengalir turun.
"Larilah."
Atas perkataan itu, pria tua itu menghentikan langkah kakinya.
"Dan pada saat itulah kami untuk pertama kalinya mendengar nama
dari Dewa yang kami abdi."
Dewa itu berkata kepada 12 orang pengikutnya:
"Aku adalah Dewa Harmoni."
Seorang Dewa yang mengatakan bahwa nama-Nya tidak diperlukan bagi mereka
yang telah kehilangan nama mereka sendiri.
Seorang Dewa yang sengaja tidak memberi tahu nama-Nya selama ini.
Hati yang teramat baik itu.
Nama dari Dewa itu adalah Harmoni.
"Aku tidak memercayai logika ataupun hukum alam."
Namun, Dewa Harmoni tidak memercayai logika maupun hukum alam.
"Akan tetapi, aku memercayai sebuah harapan yang
sungguh-sungguh."
Dewa yang telah eksis di wilayah alam bawah sadar jauh lebih lama
daripada dunia luar.
Dewa tersebut lebih memercayai harapan yang sungguh-sungguh di dalam
hati daripada hukum alam.
"Tunggulah."
Suara pria tua itu dipenuhi dengan isak tangis.
Dewa pasti ingin menyelamatkan ke-12 orang itu.
Alam bawah sadar.
Di tempat yang disebut dengan nama Malam Gelap ini, mereka adalah Dewa
dan pengikut, tetapi bagi pria tua itu, Beliau adalah keluarga yang berharga.
Hanya Beliau yang menjadi alasan hidupnya.
Selain itu, karena dia telah kehilangan sebagian dari dirinya, dia tidak
bisa hidup di luar dunia mimpi.
Pada akhirnya, dia harus datang ke dalam mimpi.
Harapan pria tua yang seperti itu adalah agar Dewa mereka bisa
meloloskan diri dari penjara dan keluar ke dunia.
Agar Dewa yang baik hati itu bisa diakui oleh dunia.
Namun dengan suara yang perlahan padam, Dewa itu nyaris tidak bisa
berkata kepada pengikutnya:
“Larilah. Tunggulah. Dan, bertahan hidup lah.”
Ke-12 orang itu tidak bisa menolak perintah pertama yang diturunkan oleh
Dewa.
Dan atas kata-kata Dewa yang berikutnya, pria tua itu berbalik dan
melarikan diri.
"Saat di mana sebuah jalan terbuka pasti akan datang."
Jalan.
Kata yang menghubungkan antara Dewa dan para penunjuk jalan.
"Sejak saat itu, kami sama sekali tidak pernah mendekati arah
penjara dan terus menunggu momen di mana jalan tersebut akan terbuka."
Dia menyerahkan kembali kotak berisi Benda Suci itu kepada Cale.
"Dan aku telah mencium aromanya."
Cale menerima kotak itu.
Hum.
Benda Suci tersebut berhenti bergetar.
Seolah-olah, benda itu telah menemukan tempatnya yang tepat.
"Aroma yang bisa dicium oleh kami para pengikut tidak peduli
seberapa jauh jaraknya. Berkat aroma ini, kami pada akhirnya bisa menemukan
jalan di Dunia Mimpi yang sangat penuh bahaya ini, dan berhasil kembali dengan
selamat."
Tampaknya fungsi asli dari beliung yang membusuk itu adalah sebagai
sebuah penanda.
'Kembalilah ke sini.'
Apakah itu adalah fungsi dari beliung tersebut?
Tepat ketika Cale berpikir demikian, pria tua itu berkata dengan datar:
"Kami akhirnya bisa kembali ke rumah kami. Menuju kuil tempat Dewa
berada."
Rumah.
Choi Han menatap ke arah pria tua itu.
Alam bawah sadar.
Tempat yang menakutkan ini ternyata merupakan rumah bagi seseorang.
Pria tua yang kehilangan rumahnya.
Pupil mata Choi Han yang menatapnya tampak tenggelam dengan dalam.
Sebaliknya, pupil mata Beacrox mulai menajam dengan dingin.
‘Benar-benar tidak kusukai.’
Dan mereka sangat bodoh.
Hal-hal yang muncul sebagai musuh Tuan Muda Cale benar-benar teramat
bodoh.
Bajingan-bajingan tolol.
"......"
Rasa gatal di telapak tangannya menjadi semakin parah seiring
berjalannya waktu.
Beacrox mengeluarkan sepasang sarung tangan putih lagi lalu memakainya
berlapis di atas sarung tangan sebelumnya.
Meski begitu, rasa gatal di telapak tangannya tidak berkurang.
Dia hanya ingin memegang pedang dan mengayunkannya. Dia ingin menebas
sesuatu.
Menebas apa? Dia tidak tahu.
Hanya saja, gejolak yang muncul di dalam hatinya membangkitkan impresi
yang aneh di dalam diri Beacrox.
Perasaan itu muncul saat dia melihat laut biru.
‘Apa yang kupikirkan saat melihat laut itu ya?’
Siapa, atau apa yang kuingat saat itu—
Beacrox merasa kepalanya ikut terasa gatal karena firasat bahwa dia akan
segera menyadari sesuatu.
Namun...
"Momen yang dikatakan oleh Dewa pasti adalah saat ini, dan jalan
itu pastilah dirimu."
Pria tua itu berkata kepada Cale.
"Aku akan memandu kalian menuju kuil."
Tak.
Pria tua itu berdiri di atas kapal sambil bertumpu pada tongkatnya.
"Bagaimana cara kau akan memandu kami? Di tempat itu bukankah tidak
ada aroma dari Benda Suci?"
Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Dewa Kematian, pria tua itu
mengangkat tongkatnya.
"Kami mendeteksi adanya keanehan dan telah membangun metode kami
sendiri."
Salah satunya adalah tongkat ini.
Ziiing-
Tongkat itu bergetar.
Dan benda itu bergerak ke satu arah di udara kosong.
Utara.
"Tongkat ini dibuat dari pohon yang tumbuh di kuil."
Para penunjuk jalan telah membuat cara bagaimanapun agar mereka bisa
kembali ke kuil.
"Kalian hanya perlu pergi ke arah yang ditunjukkan oleh tongkat
ini. Namun, ada hal yang harus kalian ingat."
Pria tua itu berbalik menatap ke arah Cale dan rekan-rekannya.
Meskipun mereka tidak tahu apakah ada mata asli di balik perban itu atau
tidak, pria tua itu jelas sedang melihat ke arah mereka.
"Tongkat ini hanya memberi tahu arah, yaitu jalan terpendek."
Alam bawah sadar yang terikat secara acak dan berantakan.
"Melintasi dunia alam bawah sadar ini adalah bagian dari kapasitas
kemampuan kalian sendiri."
Pandangan mata Cale mengarah ke Naga Kuno, Eruhaben.
Huuuh. Huuuh.
Naga Kuno itu tampak mengembuskan napas dalam-dalam seolah mencoba
menahan emosinya sekuat tenaga.
Begitu matanya saling bertemu dengan Cale, dia membuka mulutnya.
"Kalau begitu, sekarang kita hanya perlu menghancurkan ruang ini
dan maju ke arah utara, kan?"
Dia bertanya kepada Cale, dan Cale menjawab:
"Ya."
Alam bawah sadar Beacrox telah menemukan jawabannya sendiri.
Kali ini, sudah sepatutnya menjadi bagian tugas dari Eruhaben.
"Huuuh. Baiklah."
Setelah mengembuskan napas panjang, Eruhaben segera menyunggingkan
senyuman miring yang bergetar.
"Tapi, aku tidak bisa melihat jawabannya."
Dia berkata dengan lugas sambil dikelilingi oleh wujud dirinya yang
tidak agung, yaitu 10 pulau tersebut.
"Pikiranku hanya dipenuhi oleh keinginan untuk menghancurkan
segalanya sampai berkeping-keping."
Ya.
Ini pasti karena alam bawah sadar ini menyentuh emosinya, membuat
dirinya bertindak secara sembrono tanpa kendali.
"Sama seperti saat aku masih muda dulu."
Untuk membuat dirinya menghancurkan segalanya begitu saja seperti saat
dia belum dewasa dulu, seperti saat dia mengamuk karena tidak bisa menahan
temperamennya.
Namun sekarang dia tidak boleh melakukan hal itu.
Dia harus berpikir dengan tenang dan mencari jawabannya.
Mengingat ada begitu banyak bocah-bocah yang harus dia lindungi—
"Kalau begitu lakukan saja seperti itu."
"Apa?"
Atas kata-kata yang dilontarkan Cale begitu saja, Eruhaben tanpa sadar
balik bertanya.
"Lakukan saja sesuka hatimu."
Namun Cale terlihat sangat santai.
"Apakah Eruhaben-nim saat ini melupakan tujuan kamu?"
Tujuan.
Pergi ke Penjara Dewa Harmoni untuk menghadapi Kaisar Dua, dan
selanjutnya segera kembali ke 7th Evils untuk melindungi anak-anak
kecil itu.
Dia sama sekali tidak pernah melupakannya.
"...Tidak."
Aku tidak melupakannya.
"Kalau begitu tidak masalah, kan."
Cale melanjutkan kata-katanya dengan santai.
Dia tidak punya pilihan lain.
Alam bawah sadar bergerak mengikuti embusan angin yang kuat dan
memberikan jawaban.
Bukankah mereka sudah mengalaminya saat kejadian Beacrox tadi?
"Dan sejujurnya—"
Cale berbicara ke arah Naga Kuno yang agung.
Dia menyuarakan hal yang telah dilupakan oleh Naga yang teramat sombong
ini.
"Keinginan untuk menghancurkan dirimu sendiri yang tidak agung
itu... bukankah hal itu terasa sangat layaknya seekor Naga?"
Jika dikatakan dengan tepat, itu adalah hal yang sangat mencerminkan
seorang Eruhaben.
"Ah."
Eruhaben melepaskan desahan pendek penuh kesadaran. Di atas hal itu,
Cale menambahkan satu kalimat lagi.
"Lagipula sekarang kamu kan sudah kembali menjadi muda?"
"Ah."
"Kamu kan sudah bertambah muda."
"Ah."
Kepada Eruhaben yang hanya bisa melontarkan kata 'Ah' dengan linglung,
Cale berkata dengan acuh tak acuh:
"Lakukan saja sesuai temperamen kamu. Sebelum kamu jatuh sakit
karena menahannya."
"Ah."
Eruhaben menganggukkan kepalanya dengan wajah bodoh lalu bangkit dari
tempat duduknya.
Demi menghancurkan segalanya sampai berkeping-keping menjadi debu sesuai
dengan temperamennya yang meledak-ledak.
.
.

Komentar
Posting Komentar