Postingan

Menampilkan postingan dari November 9, 2025

Trash of the Count Family Book II 500 : Pangeran dan Ayahnya

Gambar
Pemimpin Pulau ke-16 sekaligus jenderal yang termasuk dalam Jenderal ke-17. Perry. Ada banyak sebutan untuknya. “Berlaku benar.” “Orang yang dapat dipercaya.” Ada banyak julukan baik, tetapi juga tak sedikit yang bernada buruk: “Prinsipalis keras kepala.” “Batu karang yang tak tergoyahkan.” “Penjaga gerbang sang Jenderal Agung.” Setelah Jenderal Agung tumbang, semakin banyak orang yang memanggilnya dengan nada negatif. “Nunim. Jangan khawatir.” Mendengar ucapan sang adik, Perry menjawab dengan wajah tanpa ekspresi. “Kita harus menyelesaikan misi ini bagaimanapun caranya.” “Ya. Meski harus mempertaruhkan nyawa, aku akan melakukannya.” Si adik menampilkan senyum kecil. Perry terdiam sejenak. Nyawa. Benar-benar mungkin adiknya harus mempertaruhkan nyawanya hari ini. Namun ia tidak bisa memintanya untuk mundur. “Meski, yah… seharusnya memang tak perlu sampai mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengawasi para bajingan-bajingan bajak laut di sekitar sini.” ...

Trash of the Count Family Book II 499 : Pangeran dan Ayahnya

Gambar
“Dayung! Dayung lebih cepat! Krahahaha!” Sang bajak laut menjilat bibirnya dengan penuh semangat. “Sudah lama sekali... akhirnya kelinci itu muncul juga!” Hyena-hyena yang selama ini berkeliaran mencari mangsa, menghindari singa, harimau, dan gajah — kini menatap mangsa baru mereka. Di tempat di mana tak ada binatang buas, hyena adalah penguasa terkuat. Namun karena itu juga, semua mangsa sudah lama bersembunyi atau melarikan diri. “Hehe... kapal itu milik kita!” Kini, yang tersisa bagi para hyena hanyalah bertarung di antara mereka sendiri. Tapi di tengah situasi itu, mereka menemukan satu kapal. Tanpa bendera, tanpa kawanan — melaju sendirian di lautan luas. Itu pasti seekor kelinci! “Cepat, ya pastilah cepat.” Melihat sejauh itu kapal itu bisa datang, jelas kapal itu punya kecepatan yang luar biasa. Namun, para bajak laut di tempat ini — yang bahkan para bajak laut kelas rendahan pun enggan mendekat — sudah bersiap menyambutnya dengan senang hati. “Krahah...

Trash of the Count Family Book II 498 : Pangeran dan Ayahnya

Gambar
“Pa, pa… paus—” Seorang penduduk Pulau 89, yang juga seorang kapten dengan kualifikasi memimpin satu kapal, merinding seketika saat matanya bertemu dengan mata seekor paus. Makhluk laut raksasa itu adalah keberadaan yang tak mungkin ia lihat di perairan dekat pelabuhan benua—di mana biasanya ia hanya berlayar di sekitar sana. Saat itu juga— “Nyaaa~ong—” Terdengar suara kucing mengeong. Suara yang mustahil terdengar di tengah laut. Begitu suara itu terdengar, matanya menangkap seekor kucing di atas bahu pria berambut merah. “...Eh—” Tapi ada yang aneh. Bukan kapalnya yang berguncang—tubuhnya sendiri yang bergetar. Bruk. Tubuhnya roboh. Kedua kakinya kehilangan rasa. ‘Kabut ini—’ Kabut itu berwarna merah. Entah sejak kapan, kabut merah itu telah menyelimuti kapal. “Khuk!” “Kuhuk!” Terdengar suara anak buahnya yang terjatuh dan mengerang kesakitan. Tapi tak lama kemudian, semuanya menjadi sunyi senyap—seperti tikus mati. “Ah…” Apakah semua kehilan...