Trash of the Count Family Book II 499 : Pangeran dan Ayahnya
“Dayung! Dayung lebih cepat! Krahahaha!”
Sang bajak laut menjilat bibirnya dengan penuh semangat.
“Sudah lama sekali... akhirnya kelinci itu muncul juga!”
Hyena-hyena yang selama ini berkeliaran mencari mangsa,
menghindari singa, harimau, dan gajah — kini menatap mangsa baru mereka.
Di tempat di mana tak ada binatang buas, hyena adalah
penguasa terkuat.
Namun karena itu juga, semua mangsa sudah lama bersembunyi
atau melarikan diri.
“Hehe... kapal itu milik kita!”
Kini, yang tersisa bagi para hyena hanyalah bertarung di
antara mereka sendiri.
Tapi di tengah situasi itu, mereka menemukan satu kapal.
Tanpa bendera, tanpa kawanan — melaju sendirian di lautan
luas.
Itu pasti seekor kelinci!
“Cepat, ya pastilah cepat.”
Melihat sejauh itu kapal itu bisa datang, jelas kapal itu
punya kecepatan yang luar biasa.
Namun, para bajak laut di tempat ini — yang bahkan para
bajak laut kelas rendahan pun enggan mendekat — sudah bersiap menyambutnya
dengan senang hati.
“Krahahaha! Itu milik kita!”
“Kau dengar!? Dayung lebih cepat dari bajingan-bajingan
itu!”
“Heh. Kita santai saja. Biarkan para idiot itu saling
berkelahi, lalu kita datang dan ambil semuanya.”
Shwaaaaa—
Shwaa—
Puluhan kapal membelah ombak, semuanya menuju satu arah — ke
kapal asing itu, yang baru pertama kali terlihat hari ini.
“Bagaimana?”
“Bagus!”
Beberapa kapal bajak laut bahkan memberikan isyarat tangan,
bersekutu sementara demi satu tujuan yang sama.
“Krahaha! Bodoh! Siapa cepat, dia menang — itu saja
jawabannya!”
Kapten kapal paling depan menertawakan kapal-kapal di
belakangnya dan mempercepat lajunya.
Slurp. Ia menjilat bibirnya, menatap kapal asing itu
dengan wajah beringas — seperti hyena yang baru menemukan mangsa di wilayahnya.
“T-tapi, Kapten! Sesuatu aneh terjadi!”
Kapal itu — yang tadi melaju perlahan menuju mereka, tanpa
bendera, tanpa awak yang jelas — tiba-tiba tampak aneh.
“Aneh, katamu?”
“Tutup mulut! Aku juga lihat, brengsek!”
Ada yang janggal.
Matahari pagi terasa terlalu panas.
Angin tak berembus, layar pun tak dibutuhkan. Langit bersih
tanpa satu kabut pun.
“Sial... apa-apaan mereka itu?”
Lalu tiba-tiba, kabut mulai muncul di sekitar kapal itu.
Kabut yang amat tebal.
“Kapten, apa yang harus kita lakukan?”
“Diam dulu! Aku sedang mikir!”
Sang kapten kebingungan.
Namun, kapal mereka sudah terlanjur melaju cepat, sesuai
perintahnya sebelumnya.
“Hah! Hah!”
Saat ia berpikir, kapal ‘kelinci’ itu meluncur ke arah
mereka dengan kecepatan mengerikan.
Terlalu cepat untuk terdengar masuk akal.
Kini kapal itu bahkan tak terlihat lagi.
Yang terlihat hanyalah gumpalan kabut tebal yang makin
membesar — dan makin mendekat.
‘Ada yang salah.’
Sesuatu... benar-benar salah.
“Kapten!”
Anak buah di sampingnya juga tampak merasakan firasat buruk
yang sama.
“Kapten! Kapal lain mulai menyusul dari belakang!”
Suara dari buritan terdengar.
Mundur pun kini bukan pilihan.
Mereka sudah melangkah terlalu jauh — melarikan diri tanpa
bertarung sedikit pun hanya akan mempermalukan mereka.
“Kapten, bagaimana kalau kita terus saja?”
Anak buahnya tampak setuju.
“Baiklah! Majulah!”
Kapten akhirnya memutuskan.
“Kita lihat dulu! Kalau memang cuma kelinci, kita tangkap!
Kalau bukan, kita kabur!”
“Siap, Kapten!”
Itulah hidup bajak laut — tidak perlu berpikir panjang.
Lihat peluang, jika berbahaya, tinggal kabur.
Selama tidak mati, berarti masih untung.
“Ayo!”
“Dayung lebih cepat! Kapten memerintahkan maju!”
Shwaaaaa—
Kecepatan dayung meningkat lagi.
“Perhatikan kabut itu! Kita cuma lihat dulu! Siapkan sinyal
untuk mundur kalau keadaan buruk!”
Meski nekad, kapten masih mempersiapkan langkah mundur.
Mereka terus mendayung sekuat tenaga.
“Kapten! Kapalnya berhenti!”
Kapal misterius itu mendadak berhenti.
“Krahaha! Sepertinya mereka mau kabur!”
Kapten merasa lega.
Musuh kuat tidak akan berhenti begitu saja, bukan?
“Jangan lengah!”
Ia berteriak gagah, memimpin kapalnya menuju kabut.
Dan begitu haluan mereka menyentuh kabut itu—
“Sial! Kapal lain sudah lebih dulu masuk!”
“Kelihatannya kabut itu tidak berbahaya! Cepat, kita susul!”
Kapal-kapal lain pun menyusul dengan semangat membara.
Puluhan kapal bajak laut, seperti hiena kelaparan yang
mengerumuni satu mangsa.
Namun ketika kapal paling depan menyentuh kabut—
“….”
“….”
Kesunyian menyelimuti mereka.
Kabut itu tiba-tiba menyebar, menelan seluruh kapal.
Kapten, anak buah, semua orang di atas kapal — tak satu pun
bisa mengeluarkan suara.
“U…aah…”
Awalnya, mereka mencoba berbicara.
Namun, suara yang keluar bukan lagi bahasa manusia.
Kabut setebal itu menutupi matahari, seperti hendak
memadamkan cahaya dunia.
Dari dalamnya, terasa sesuatu — kekuatan tak terlihat yang
menekan dari segala arah.
Sulit bernapas.
Seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang menatap mereka
dari atas.
Mereka tak bisa bergerak. Tak bisa berbicara.
Bahkan tak bisa berpikir tentang “jika” atau “andaikan”.
Yang bisa mereka lakukan hanyalah — bernapas.
Menarik dan menghembuskan napas, berusaha bertahan dari rasa
takut yang tak berwujud itu.
Shwaaaaa—
Terdengar suara ombak dibelah sesuatu.
Kapal mereka sendiri berhenti, jadi itu pasti suara kapal
lain yang melaju di dalam kabut.
Namun tak satu pun dari mereka — tidak kapten, tidak awak
kapal — berani mengangkat kepala untuk melihat kapal yang mendekat itu.
"Sssshhh—"
Kabut semakin tebal.
Napas semakin sesak.
Lebih tepatnya, rasanya seolah napas pun hanya bisa diambil
dengan izin seseorang — seperti sedang dikuasai oleh sesuatu.
"Sssshhh—"
Kapal di balik kabut perlahan menjauh.
Namun, di atas kapal bajak laut itu, suasana tetap terjebak
dalam kesunyian yang mencekam.
Mereka semua bisa merasakan — sebuah tatapan dari dalam
kabut yang melintas di hadapan mereka — namun tak satu pun berani menatap
balik.
Mereka hanya bisa menundukkan kepala lebih dalam dan
meringkuk ketakutan.
"Sssshhh—"
Akhirnya, suara air terbelah perlahan memudar.
Dan ketika kapal kabut itu melintas sepenuhnya—
“...Huff... haa~”
Sang kapten akhirnya bisa menarik napas panjang — seolah
baru sekarang paru-parunya kembali berfungsi.
“Huff... hhk...”
Saat ia mulai bernapas dengan benar, justru napasnya semakin
tersengal.
Barulah ia sadar bahwa dirinya berlutut, tubuhnya meringkuk
di atas dek kapal.
Seluruh tubuhnya basah kuyup.
Keringat dingin mengalir dari dahinya.
Drip. Drip.
Butir keringat menuruni pipinya dan jatuh ke lantai kayu
dek.
Bekas keringat dan air liur yang menetes dari mulutnya
membekas di atas papan kayu.
“……”
Dengan susah payah, ia mengangkat kepalanya.
Anak buahnya masih berjongkok, gemetar, tak berani bergerak.
Walau tekanan mengerikan itu telah menghilang, tak satu pun
berani menegakkan kepala.
Kapten tidak menertawakan mereka. Ia mengerti sepenuhnya —
karena dirinya pun sama.
Namun, sebagai kapten, ia memaksa dirinya untuk menoleh ke
belakang.
Kapal kabut itu kini berlayar ke arah puluhan kapal bajak
laut lainnya yang semula menuju mereka.
Dan di jalur yang telah dilewatinya—
semua kapal itu terhenti.
Tak satu pun berani bergerak.
"Sssshhh—"
Kapal kabut terus memecah air laut.
Kapten hanya bisa menatapnya kosong.
“Ka—Kapten... a—apa kita akan baik-baik saja...?”
Salah satu anak buahnya, masih dalam posisi meringkuk,
menatap kapten dengan suara gemetar.
Kapten menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
“Hey. Kau... tidak merasakannya?”
“Hah? M—merasakan apa?”
Alasan sang kapten masih bisa berdiri dan menatap kapal itu,
meski tubuhnya bergetar ketakutan—
“Tidak ada... niat membunuh.”
“Ah...”
Sebuah desahan pengertian keluar dari mulut anak buahnya.
Ketika kapal kabut itu melintas,
mereka memang merasakan tatapan menusuk dan tekanan luar
biasa di seluruh tubuh.
Namun, di dalamnya tidak ada kebencian, tidak ada ancaman.
Kapal itu hanya... melihat.
Hanya lewat.
Tapi hanya dengan kehadirannya, mereka tak mampu bergerak
sedikit pun.
Dan itu hanya berarti satu hal—
“...Telah muncul penguasa baru.”
Kapten mengusap keringat di dahinya, menatap kapal kabut
yang perlahan menjauh.
Sebuah kapal yang, hanya dengan keberadaannya, memancarkan
aura yang menelan dan menguasai sekitarnya.
Pemilik kapal itu... pasti pemilik dari kekuatan itu.
Kapal tanpa satu pun bendera — justru terasa paling
mengerikan.
Dengan suara parau, sang kapten berbisik:
“Hubungi... komandan besar.”
Ia harus segera melapor.
“Katakan padanya... seekor ‘pemangsa’ baru telah muncul. Dan
kali ini...”
Ia menelan ludah.
“...Bukan main-main. Bisa jadi lebih berbahaya dari
orang-orang Laut Tengah itu.”
“Ta—tapi Kapten, bagaimanapun, orang-orang Laut Tengah
banyak dan kuat. Hanya dengan satu kapal—”
“Ha! Pernahkah kau dalam hidupmu hanya karena sebuah kapal
mendekat, kau langsung menunduk ketakutan?!”
“Ke—kenapa—”
“Pernahkah bajak laut seperti kita, yang hidupnya penuh
darah dan kebrutalan, menundukkan kepala tanpa perlawanan hanya karena satu
kapal lewat?”
“...Tidak.”
“Dan bukan cuma kita! Lihat ke sana!”
Kapten menunjuk ke arah laut.
“SEMUA kapal lainnya juga membungkuk ketakutan! Itu saja
sudah cukup! Ini bukan hal sepele!”
Wajahnya menegang.
“Dari satu pandangan saja sudah jelas... itu bencana. Kapal
itu adalah bencana!”
Sebuah keberadaan yang tidak boleh didekati.
Sebuah entitas yang hanya bisa dihadapi dengan menahan napas
hingga ia berlalu.
Seperti bencana alam yang lahir dari lautan itu sendiri.
Kapten yang telah lama hidup di laut tahu betul—
Kapal itu bukan kapal biasa. Itu adalah bencana yang
berwujud kapal.
“...Putar haluan. Kita kembali ke pulau.”
“Cepat! Kirim sinyal ke semua kapal!”
Dan saat itu juga, kapal-kapal bajak laut lain mulai
menyadari hal yang sama.
Kabar pun menyebar cepat—
Ke pulau tempat sang Jenderal Agung tinggal.
Ke pulau-pulau bawahan bernomor dua hingga delapan belas.
Kabar itu menyebar ke seluruh jalur laut menuju Laut Tengah:
“Berhati-hatilah terhadap kapal tanpa bendera.”
“Waspadalah terhadap kapal yang diselimuti kabut.”
“Itu... adalah bencana.”
***
Pada saat yang sama—
“Manusia! Nyaman sekali! Archie, ayo tidur sebentar~!”
“Noona! Kabutmu hebat banget!”
“Ah, bukan apa-apa kok.”
Anak-anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun berlarian di
sekitar Cale.
Ia tersenyum puas melihat kapal-kapal bajak laut yang bahkan
tak berani mendekat ke kapal mereka.
“Yup, berpura-pura sombong memang yang terbaik.”
Tak lelah, tak sakit, tak perlu mengerahkan kekuatan suci —
cukup memancarkan sedikit aura secara terus-menerus, dan
semuanya beres.
Saat Cale menikmati keberhasilannya, Heavenly Demon bergumam
pelan,
“Sepertinya kita tidak akan bisa lewat dengan tenang.”
Cale menoleh, tapi sebelum sempat bicara, Pangeran Mahkota
Alberu dengan tenang memakan kue yang diberikan Raon, lalu berkata,
“Tak perlu repot meladeni remah-remah itu.”
Krek.
Ia menggigit kue, lalu menatap Cale.
“Lagipula... kalau bisa, kau memang berniat menjadikan
lautan ini di bawah kekuasaanmu juga, kan?”
Sambil menyelamatkan Raja, sekalian menaklukkan laut.
Cale hanya menyeringai lebar, dan Alberu membalas dengan
senyum lembutnya.
Kemudian ia bertanya pada Ron:
“Ron, pulau ke-16 itu tujuan pertama, kan?”
“Ya.”
Dari Pelabuhan Solafra, mereka menuju Laut Tengah —
Dan sebelum sampai ke pulau tempat Jenderal Agung berada,
ada beberapa titik perhentian yang akan mereka lewati.
“Pulau ke-16 dan satu lagi, Pulau ke-19, keduanya memiliki
posisi strategis, tetapi Pulau ke-16 dikatakan paling stabil untuk dijadikan
titik tengah. Mereka juga mempertahankan netralitas bahkan di masa perang.
Jadi, kami berencana singgah di Pulau ke-16 untuk memperbaiki kapal, lalu
mencari jalur terbaik menuju pulau tempat Jenderal Agung berada.”
“Benar. Lebih baik kita tidak buang waktu untuk hal-hal tak
penting dan segera melanjutkan perjalanan secepat mungkin,” ujar Alberu.
Ketika Ron dan Alberu sedang membicarakan rencana ke depan, Archie
yang sedari tadi diam tiba-tiba bertanya santai,
“Jadi, kita tidak akan menaklukkan Pulau ke-16, begitu?”
Ron menatap Archie tanpa berkata apa pun.
Meski Archie jauh lebih lemah darinya, tatapan Ron yang
tajam membuatnya refleks mengalihkan pandangan.
Barulah kemudian Ron tersenyum lembut dan menjawab,
“Pulau ke-16 sangat besar. Kalau kita ingin menaklukkannya,
akan memakan waktu terlalu lama.”
“Ah, ya, benar juga.”
Archie menjawab seadanya dan mengalihkan pandangan,
sementara Heavenly Demon yang berdiri di sisi geladak menatap ke cakrawala dan
bergumam,
“Yah… apakah kita benar-benar bisa pergi dengan tenang, aku
penasaran.”
Tatapannya beralih pada Alberu dan Cale.
Keduanya hanya saling menatapnya dan tersenyum samar tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
“Heh, kalian berdua benar-benar licik,” gumamnya pelan, lalu
kembali menatap laut tanpa minat lebih lanjut.
Chwaaaa—
Tak ada lagi kapal bajak laut yang berani mendekati kapal
kabut.
Semua yang pernah menyentuh kabut itu kini hanya bisa
gemetar ketakutan, dan tak satu pun berani menatap langsung ke kapal tersebut.
***
Namun kabar itu, bagi sebagian orang, hanyalah bahan ejekan.
“Be…
be… be— apa? Bencana?”
Tss.
Seorang pria menyeringai geli begitu membaca laporan di
tangannya, lalu melemparkan kertas itu ke arah bawahannya.
“Bencana,
katanya? Hanya karena satu kapal lewat? Dasar bodoh! Dan kalian semua langsung
geger karena ocehan sekelompok bajak laut rendahan?”
“Maaf…
maaf, tuanku.”
Anaknya buahnya menunduk dalam-dalam, membuat pria itu
menggerutu dengan nada jengkel.
“Huh,
yah… memang, kita juga bajak laut, sih.”
Tap, tap, tap—
Ia mengetuk sandaran kursinya dengan jari.
Wajahnya menegang, menahan rasa muak yang hampir meluap.
“Pulau
ke-19! Sampai kapan kita harus terjebak di pulau sialan ini?! Pulau ke-18 saja
sudah cukup bagus! Kalau aku di posisi itu, aku nggak akan marah begini!”
Pria itu—dikenal dengan julukan ‘Shark’, pemimpin Pulau
ke-19—mengerang kesal.
Tak diundang ke rapat besar para Jenderal , ia merasa
direndahkan. Ia ingin lebih. Ingin naik menjadi Jenderal Agung.
“Yang
lain dipanggil ‘Jenderal’, tapi aku, yang jelas-jelas lebih kuat, masih saja
disebut bajak laut! Kenapa?! Kenapa aku cuma bajak laut, hah?!”
Anak buahnya menelan kata-kata yang hampir keluar:
‘Ya
karena kita memang cuma bajak laut, bos…’
Ia tahu, kalau sampai mengucapkannya, nasibnya tamat.
Shark menggeram,
“Hey.
Bagaimana keadaan Pulau ke-16?”
“Jenderal Pulau ke-16 masih berada di kastilnya, Tuanku.”
“Ha.
Itu perempuan gila, seharusnya sudah kubawa keluar dari sarangnya.”
Ia menatap peta di hadapannya, lalu bertanya,
“Katanya,
adiknya akan berlayar, benar?”
“Ya,
benar.”
“Pastikan
semua sudah tahu rencananya?”
“Sudah.”
“Aku
bilang, siapa pun yang gagal menuruti perintah, aku sendiri yang akan membunuhnya.”
“Y-ya,
tuanku! Semuanya akan menjalankan rencana sesuai perintah!”
Shark mengetuk peta dengan ujung jarinya.
“Tangkap
adiknya. Gunakan dia untuk memancing keluar si gila itu. Saat itu terjadi, kita
kuasai Pulau ke-16. Mengerti?”
“Ya,
tapi… apakah benar-benar mungkin menangkap adiknya? Dan Jenderal Pulau ke-16
sendiri juga bukan lawan yang mudah…”
Tatapan Shark menjadi dingin.
“Jangan
lupa, kita punya dukungan Jenderal ke-3. Kau ingin menentang kehendak orang
itu, hah?”
“Ti-tidak,
tuanku!”
“Bagus. Jenderal ke-3 mengendalikan air laut sendiri. Dia bilang sebentar lagi akan
memanggil leluhur agungnya—Raja Naga Laut. Katanya, kekuatan orang itu satu
tingkat di atasnya. Begitu Raja Laut itu tiba, keseimbangan kekuatan akan
berpihak pada Jenderal ke-3. Dan kita akan memanfaatkan kesempatan itu.
Paham?”
“Ya!
Paham sepenuhnya!”
“Bagus.
Sekarang keluar. Pastikan semua perintah sudah tersampaikan.”
“Baik!”
Setelah bawahannya pergi, Shark termenung sendirian di
ruangan itu, memikirkan pertemuannya dengan Jenderal ke-3.
“Di
keluarga kami, ada sosok yang disebut Raja Laut—penguasa naga-naga laut.
Kekuatan orang itu melebihi Jenderal Agung sendiri.”
“Beliau
akan segera datang membantu kita. Jadi bantu aku menguasai pintu masuk ke Laut
Tengah.”
Menguasai.
Kata itu terasa begitu manis di telinganya.
“…Menjadi
bawahan Jenderal ke-3 memang terasa menjengkelkan,” gumamnya pelan.
“Tapi,
kalau itu berarti aku bisa menyingkirkan Jenderal Pulau ke-16 yang sok suci
itu… ya, ini kesepakatan yang bagus.”
Ia menatap peta dengan mata berkilat.
“Aku
harus menanyakan kapan Raja Laut itu tiba. Katanya akan segera datang, tapi
belum juga ada kabar. Sudah datang tapi sengaja tidak memberitahuku, mungkin?”
Shark menjilat bibirnya dengan penuh ambisi.
‘Raja
Laut itu seperti apa orangnya?’
“Dia
sekuat Dewa. Salah satu dari tiga terkuat di antara para tetua keluarga kami.”
Ia mendengus, separuh tak percaya, separuh bersemangat.
“Dewa,
huh. Kita lihat saja nanti…”
***
“Manusia!
Itu Pulau ke-16, ya? Besar banget!”
Cale menatap pulau yang jauh lebih besar dibanding
pulau-pulau yang mereka lewati sebelumnya.
Kemudian, pandangannya beralih ke sisi lain cakrawala—ke
arah sebuah pulau besar yang tampak jelas meski agak jauh.
“Itu
Pulau ke-19. Dikatakan, pemimpinnya adalah bajak laut bernama Shark. Banyak
bajak laut lain yang mengikutinya,” jelas Ron.
Cale mengangguk, lalu memberi isyarat pada On.
Chwaaaa—
Kabut perlahan menipis, memperlihatkan jalur menuju
pelabuhan selatan Pulau ke-16.
Kapal tanpa bendera itu akhirnya tiba di pintu masuk Laut
Tengah—Pulau ke-16.
.


lucu bgt, raja naga laut nya aja udah babak belur di dunia iblis🤣
BalasHapus