Trash of the Count Family Book II 856 – Ketika Seseorang Bodoh
Sraaaa—
Angin berembus.
Eruhaben merasakan embusan angin yang menerpa dirinya yang kini telah
berdiri tegak.
'Melakukan sesuka hati.'
'Kembali menjadi muda.'
'Bertindak sesuai temperamen.'
Dan, menjadi layaknya seekor Naga.
Bukan sembarang Naga, melainkan sosok yang mencerminkan sang Naga Kuno,
Eruhaben.
"Benar juga."
Ya, itu benar.
Jika dia menahan diri dan tidak bertindak sesuai temperamennya lalu
malah jatuh sakit, itu akan sangat merepotkan.
Terutama di tempat bernama alam bawah sadar ini, sebuah tempat yang
memberikan pengaruh besar pada hati seseorang.
'Bayangan hati yang seperti ini tidaklah baik—'
Bukan, bukan begitu.
Dia bahkan tidak seharusnya memikirkan hal semacam itu lagi.
"Wah."
Naga Kuno Eruhaben melepaskan desahan penuh kekaguman.
"Karena sudah menua, pikiranku jadi terlalu banyak."
Ya. Pikirannya telah menjadi terlalu banyak.
Seiring bertambahnya hal yang dia ketahui, aspek yang harus
dipertimbangkan pun menjadi semakin luas, dan dia tidak lagi memikirkan segala
sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di depan mata semata.
‘Apakah hal itu selama ini menjadi belenggu?’
Eruhaben menelan kembali pemikiran yang tidak sanggup dia lupakan itu di
dalam hatinya.
Karena sebagai seekor Naga yang agung, tidak mungkin dia membicarakan
tentang 'belenggu' yang mengikat dirinya sendiri, bukan?
‘Itu benar-benar tidak keren.’
Ya, keren. Sesuatu yang terkesan gaya.
Meskipun kedengarannya konyol, tetapi itu sama sekali tidak terlihat
keren—setidaknya menurut standar Eruhaben.
Sraaaaaa---
Embusan angin menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Meskipun kabut masih terasa sangat pekat, dan meskipun debu emas yang
dia sebarkan di sela-sela kabut tidak dapat terlihat...
Eruhaben bisa merasakan keberadaan dari debu-debu tersebut secara utuh.
Di antara sekian banyak karakteristik agung yang dia miliki, tepat pada
momen ketika dia mendapatkan debu atau serbuk ini—bukan, momen ketika dia
akhirnya menyadari bahwa dia sebenarnya telah memilikinya sejak awal—bagaimana
perasaannya saat itu?
Wuuuush----
Angin mulai berembus dari tubuh Eruhaben.
Flap, flap.
Pinggiran pakaiannya berkibar tertiup angin.
Sraaa-
Tubuh Eruhaben mendadak memancarkan cahaya emas.
Cahaya emas yang cemerlang melingkari sekeliling tubuhnya.
Itu semua adalah serbuk, debu emas.
Kilau emas berkumpul dalam jumlah dan densitas yang berada di dimensi
yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Itu terlihat bagaikan sebuah
gelombang.
Wuuuush----
Begitu angin kembali berembus, gelombang emas itu menyebar ke segala
penjuru. Dan kemudian...
Sraaaaaa----
Benda itu lenyap di dalam kabut.
Menyebar luas.
Cahaya emas perlahan memudar dan terkubur di dalam kabut.
"......"
Eruhaben berdiri dengan tenang sambil menyaksikan semua proses itu.
Tanpa disadari, bahkan angin pun tidak lagi berembus di sekitar
tubuhnya.
Choi Han yang melihat Eruhaben berada di dalam kesunyian yang mencekam
itu langsung bangkit berdiri sambil memegang sarung pedangnya.
"Aku juga akan membantu kamu."
Naga raksasa yang menyerupai pulau.
Choi Han tidak ingin melihat sesosok Naga yang menundukkan kepala dan
menyembunyikan wajahnya.
Naga-Naga sejati yang dia kenal adalah eksistensi yang bahkan jika jatuh
dari langit sekalipun, kepala mereka akan tetap tegak lurus menantang langit.
Dia ingin membantu Eruhaben yang isi hatinya telah ketahuan, agar beliau
bisa segera meloloskan diri dari tempat ini.
Sama seperti saat Cale berada di sisi Beacrox dan menyelaraskan langkah
kakinya dengan pria itu.
"Kenapa?"
Saat itu, suara acuh tak acuh Eruhaben terdengar di telinga Choi Han.
Choi Han tersentak kaget dan matanya saling bertemu dengan Eruhaben yang
tengah berbalik menatapnya.
"!"
Kepada Choi Han yang kembali termangu diam, Eruhaben bertanya,
"Kenapa? Apa kau pikir aku tidak akan bisa melakukan hal sepele
seperti ini?"
"Ya? Ah, tidak, bukan begitu—"
"Aku tahu."
Seringai.
Eruhaben menyunggingkan senyuman.
Choi Han bukanlah tipe orang yang akan memikirkan hal buruk seperti itu.
Dia hanya murni ingin membantu.
Namun jika itu adalah Eruhaben di masa lalu yang berwatak ketus, dia
pasti akan berpikiran negatif seperti itu.
Tapi sekarang dia tidak lagi berpikir demikian.
Dia tahu isi hati Choi Han.
Dia memahami perasaan lawan bicaranya.
Jika itu di masa lalu, Eruhaben mungkin akan bertindak dengan
mempertimbangkan hal tersebut, tetapi...
‘Hanya saja—’
Hanya saja, saat ini dia ingin bergerak mengikuti ke mana pun hatinya
menuntunnya.
"Keinginan untuk menghancurkan dirimu sendiri yang tidak agung
itu... bukankah hal itu terasa sangat layaknya seekor Naga?"
Cale, orang yang telah melihat langsung ke dalam lubuk hatinya.
Eruhaben mengalihkan pandangan matanya menuju pria itu.
Tentu saja, sambil memasang senyuman miring di sudut bibirnya.
Melihat senyuman yang teramat sombong itu, Cale memasang ekspresi heran,
dan sang Naga Kuno pun bertanya,
"Apakah kau tidak berniat untuk membantu?"
"Ya?"
Aku? Kenapa harus aku?
Cale menatapnya dengan sorot mata yang persis seperti itu.
Atas tatapan masam Cale yang seolah-olah baru saja mendengar pertanyaan
yang teramat tidak masuk akal, Eruhaben menganggukkan kepalanya.
Dia menyukainya.
Ya, dia menyukai reaksi itu.
‘Benar.’
Itu baru tepat.
Eruhaben berpikir mengikuti hatinya yang melonjak naik-turun selaras
dengan tubuh mudanya—entah karena pengaruh berada di dalam dunia mimpi ini atau
bukan.
‘Ya, hal seperti itu baru tepat!’
Dalam urusan di mana seekor Naga agung maju bertindak, terlebih lagi itu
adalah urusan milik sang Naga sendiri, menyerahkan hal tersebut kepada orang
lain?
Apalagi bagian yang diserahkan adalah bagian dari kekurangannya sendiri?
"Mana mungkin aku melakukannya."
Sama sekali tidak boleh.
Seekor Naga haruslah agung.
Hal ini sudah mendekati sebuah identitas yang dibangun oleh dirinya
sendiri, melampaui sekadar harga diri.
"Benda-benda yang menyerupai gundukan batu seperti ini..."
Eruhaben kembali mengulurkan tangannya ke arah pulau-pulau itu sambil
menatap ke arah utara.
"Harus kuhancurkan dengan tanganku sendiri."
Dia mengepalkan telapak tangannya yang terbentang lebar dengan sangat
erat.
Saat masih muda dulu, dia sangat suka menghajar bajingan-bajingan yang
mengusik temperamennya di hari hujan.
Ya, jika diingat-ingat kembali sekarang, dia jelas cukup menikmati
momen-momen itu.
Kenapa dia melakukannya?
Jika ditanya mengapa...
"Meledaklah."
Tahukah kalian seberapa banyak debu yang harus beterbangan jika ingin
menghajar seseorang sampai berdebu di hari yang sedang hujan?
Sederhana saja, cukup buat debu itu sampai mengalahkan air hujan.
Sampai-sampai rintik hujan tidak ada apa-apanya, karena debuku sangatlah
kuat. Sama seperti sekarang.
Kabut sialan seperti ini sama sekali tidak akan bisa menghalangi debuku.
Satu butir debu yang menyerupai partikel yang teramat kecil. Benda-benda
itu telah menyebar di sekitar tempat ini.
Jutaan?
Puluhan juta?
Konyol sekali.
Jumlahnya pasti melampaui ratusan juta.
Debu-debu milikku ini.
"Ah."
Ya, ini dia.
Sensasi ini.
Sensasi saat dia masih muda dulu.
Gairah itu.
Keberanian itu.
Eruhaben akhirnya menyadari nilai dari apa yang telah dia dapatkan.
Hal itu berbeda dari sekadar perpanjangan sisa usianya semata.
Tubuh yang kembali muda.
Dan hati masa muda yang dibangunkan kembali oleh tubuh tersebut.
Fakta bahwa diriku yang telah menua ini bisa kembali merasakan dan
merespons hal tersebut... adalah sebuah kekuatan berharga yang tidak bisa
ditukar dengan apa pun.
Boom!
Sebuah ledakan kecil terjadi.
Itu adalah permulaannya.
Boom! Bang! Boom! Bang, bang, bang!
Ledakan terjadi di segala penjuru, berpusat dengan tepat di sekitar
kapal kecil mereka.
Pada awalnya, hanya suaranya yang terdengar.
Namun tepat pada momen ketika ratusan juta ledakan yang melampaui jutaan
dan puluhan juta itu terjadi... gelombang yang tercipta dari ledakan kecil
tersebut adalah...
"Ha, hahaha—"
Sebuah cahaya emas yang teramat cemerlang.
Kabut-kabut melenyap dan tempat itu langsung diwarnai oleh kilau emas.
Wuuuush—
Angin berembus.
Ledakan yang tercipta dari gelombang emas mengarah ke arah 10 Naga di
segala penjuru.
Mayat-mayat Naga yang membatu layaknya patung dalam posisi menundukkan
kepala. Itu adalah wujud Eruhaben sendiri.
‘Benar-benar merusak pemandangan.’
Jika mengikuti temperamen aslinya, dia ingin menghancurkannya secara
langsung menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya sendiri sampai hancur
berkeping-keping.
Namun sekarang dia telah menjalani kehidupan yang panjang.
Dia telah menua.
Sambil membawa gairah masa mudanya, dia kini memiliki kebijaksanaan dari
usia tua untuk melangkah ke arah yang jauh lebih baik.
Eruhaben merentangkan kedua tangannya.
10 pulau. 10 perwujudan diriku. 10 ekor Naga.
"Menjadilah debu."
Di antara gelombang emas, mayat-mayat raksasa itu mulai hancur.
Terbelah menjadi partikel-partikel kecil.
Dimulai dari sayap yang menghadap ke arah langit, melewati tubuh mereka
yang berukuran raksasa, hingga ke wajah tersembunyi yang menunduk ke bawah.
Segala sesuatunya berubah menjadi debu.
Seolah-olah, seekor Naga tengah menyambut kematian yang alami dan
kembali ke alam tanpa menyisakan penyesalan sedikit pun.
Namun...
‘Kalau untuk hal itu, saat ini masih agak merepotkan.’
Eruhaben sama sekali tidak memiliki niat untuk mati bahkan seujung kuku
pun.
"Sekarang aku mengerti."
Sekarang dia telah memahaminya.
Gelombang emas yang mewarnai segala penjuru.
Dan mayat dirinya yang lenyap berubah menjadi debu layaknya pasir yang
berhamburan ditiup angin.
Tepat pada momen ketika dia melihat mayat-mayat itu pun ikut berubah
menjadi bagian dari gelombang emas... melihat kabut yang melenyap dan bahkan
laut yang membawa firasat buruk pun tertutup oleh gelombang emas hingga tidak
terlihat lagi...
‘Hal yang ingin kulakukan pada akhirnya ternyata hanya satu.’
Eruhaben menyadarinya.
Bukan untuk melindungi anak-anak kecil, melindungi rumah, ataupun
melindungi rekan-rekannya—bukan hal-hal semacam itu.
Ternyata aku masih ingin bertarung.
Dan...
‘Aku ingin menghancurkan mereka.
Berani-beraninya mereka menyentuh rekan-rekan milikku dan memandang
rendah seekor Naga yang agung, aku ingin menghajar eksistensi-eksistensi itu
sampai berdebu.
Tidak peduli apakah bajingan-bajingan itu memiliki Kekuatan Unik yang
unik ataupun seorang Dewa sekalipun.
Itulah diriku yang sekarang.
Dan itulah diriku yang sebenarnya sejak awal.
Bukan sosok Eruhaben yang mengkhawatirkan sisa hidupnya yang tinggal
sedikit dan ingin menjalani sisa hidupnya dengan bermakna.
Diriku adalah Eruhaben tua yang ingin bertarung sambil membawa tubuh dan
hati masa muda.
Perbedaan itu akhirnya benar-benar terasa nyata baginya sekarang.
"Ha, hahahaha—"
Tawa spontan meledak dari mulutnya.
Perasaannya terasa sangat lega.
Wuuuush----
Angin berembus.
Menuju ke arah utara, debu emas bergerak secara alami mengikuti embusan
angin.
Gelombang emas mengalir menuju ke arah utara. Sebuah jalan mulai
terbentuk.
Seolah ingin memberi tahu bahwa Eruhaben telah memberikan jawabannya
sendiri.
"Menarik."
Alam bawah sadar, Malam Gelap. Tempat ini benar-benar sangat menarik.
"Kalau aku sih sama sekali tidak merasa tertarik,"
Atas jawaban masam Cale, Eruhaben terkekeh pelan.
Setelah sekian lama, perasaan lega yang tidak terkubur oleh kekhawatiran
kini memenuhi seluruh dirinya.
Kepercayaan diri tanpa alasan yang jelas ini... hal itu juga pastilah
merupakan bagian dari masa muda.
Dan dia akan menerima masa muda itu dengan senang hati untuk melangkah
maju. Karena sekarang dia juga memiliki jejak langkah dari kehidupan yang telah
dia jalani.
Setidaknya dia tidak akan mengambil langkah kaki yang tidak berarti.
Sebuah keyakinan bangkit di dalam hatinya.
Wuuuush—
Angin menyebar ke segala penjuru.
Serbuk emas berhamburan ke segala arah.
Meskipun di bawah langit abu-abu itu masih berupa laut yang membawa
firasat buruk, jalan yang terbentang di depan mereka tampak bersinar dengan
warna emas.
Hal itu seolah memperlihatkan sosok dirinya yang sekarang; seorang Naga
Kuno yang memiliki banyak kekhawatiran dan pertimbangan karena telah menjalani
hidup yang panjang dan mengetahui banyak hal, namun setidaknya memiliki
keyakinan serta kepercayaan diri pada jalan yang harus dia tempuh saat ini.
"......"
Dewa Kematian menatap ke arah Eruhaben dengan sorot mata yang aneh.
"...Mengapa Naga tidak bisa menjadi Dewa."
Suara lirihnya tidak dapat menjangkau orang lain.
Alasannya sangat sederhana.
Karena bersamaan dengan embusan angin yang teramat kencang, kapal melaju
dengan sangat cepat mengikuti jalur air yang berwarna emas.
Debur, debur.
Kapal melaju ke arah utara tanpa keraguan sedikit pun.
Dan Cale yang tengah berkendara di atas gelombang emas segera saling
bertukar pandang dengan Eruhaben.
"Perasaan kamu sudah lega, kan?"
"Ya. Rasanya aku tidak akan jatuh sakit karena menahan temperamenku
lagi."
Sang Naga Kuno dan Cale saling melempar senyuman saat melihat satu sama
lain.
Senyuman sombong sang Naga Kuno.
Senyuman miring Cale.
Itu adalah senyuman yang teramat cocok bagi mereka berdua.
Dan tak lama kemudian, kapal itu tiba di suatu tempat.
Jika dikatakan dengan tepat, sebuah pelabuhan atau dermaga mulai
terlihat.
"Kita akan berpindah ke tempat berikutnya."
Pria tua sang penunjuk jalan mengangkat tongkatnya.
Drrr, drrr—
Tongkat itu bergetar dengan sangat hebat, berbeda dari sebelumnya.
"...Kuil sudah tidak jauh lagi."
Suara pria tua itu juga ikut bergetar. Tongkat itu menunjuk ke arah
timur. "Arahnya adalah timur."
Di manakah alam bawah sadar kali ini?
Beacrox berpikir.
Apakah bagian Choi Han?
Ataukah Mary?
Ataukah Dewa Kematian?
Siapakah di antara ketiganya.
Namun...
"Sialan."
Begitu mendengar keluhan dari Cale, jawabannya langsung keluar.
Kali ini adalah alam bawah sadar milik Cale, sang subjek utama dari
mimpi ini.
"Di mana tempatnya?"
Atas pertanyaan Beacrox, Cale mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
lalu menjawab,
"Incheon."
Incheon?
Beacrox merasa heran dengan nama tempat yang baru pertama kali dia
dengar itu, tetapi di saat yang sama dia menyadari bahwa itu adalah nama tempat
dari masa ketika Cale masih menjadi Kim Rok Soo.
****
Putra Mahkota Alberu Crossman memeriksa papan buletin komunitas New
World.
〈Aroma Perang Mulai
Merebak Berpusat di Kekaisaran Barat, Breeze! Musuh Mulai Bersatu Menuju ke
Seluruh Benua!〉
Kekaisaran Barat, Breeze.
Pihak yang merupakan bagian dari faksi Hunter sekaligus menempati posisi
3 Besar di antara formasi '3 Besar, 5 Menengah, dan 10 Lemah' di New
World.
Tempat itu telah membentuk sebuah aliansi.
Terlebih lagi, sebanyak 4 kekuatan faksi
Menengah telah berkumpul di bawah aliansi tersebut.
Selain itu, banyak tempat lain yang ikut masuk ke bawah kendali Breeze.
Seolah-olah telah dijanjikan sebelumnya, hal itu terjadi dalam sekejap
mata.
"......Mereka telah mempersiapkan banyak hal di bawah sana."
Awan kegelapan yang dingin muncul di mata Alberu.
Pandangan matanya beralih sejenak ke arah samping. Di sana terdapat Cale
dan rekan-rekannya yang tengah tertidur di dalam formasi pertahanan.
"New World akan terbagi menjadi dua kelompok."
Mungkin Alberu dan Cale harus segera menghadapi perang dalam skala
terbesar dalam waktu dekat.
Hummmm—
Pedang Matahari milik Alberu bergetar.
Seolah-olah sedang memberi tahu sang pahlawan bahwa sekarang adalah
waktunya untuk maju bertindak. Namun sang pahlawan menahan napasnya.
Saat ini masih belum waktunya.
Pandangan matanya mengarah ke arah rekan-rekannya yang tengah tertidur.
Sang pahlawan harus melindungi rekan-rekannya.
Dan dia juga membutuhkan rekan-rekannya.
Dan Cale yang berada di atas kapal yang menuju ke arah dermaga langsung
menggigit bibirnya.
‘Harus banget Incheon di masa itu...’
Pemandangan Incheon yang tertangkap di dalam matanya. Itu adalah Incheon
pada masa ketika tempat tersebut dijuluki sebagai 'Neraka'.
Itu adalah masa di awal-awal periode jabatannya sebagai Ketua Tim, momen
ketika Kim Rok Soo benar-benar nyaris mati.
Meskipun Kim Rok Soo adalah sosok yang sudah biasa melintasi garis
kematian, kali itu dia benar-benar hampir mati.
Setelah kejadian itu, dia harus menerima perawatan di rumah sakit selama
hampir dua bulan, dan harus menghabiskan waktu setengah tahun untuk fokus pada
rehabilitasi.
"Sialan."
Jarak di antara kedua alis Cale berkerut dengan dalam.
Tanpa sadar dia meraba area di sekitar matanya.
"Ah, apakah mata itu merekam segala sesuatunya? Ho-oh. Berarti otak
itu adalah tempat penyimpanannya? Wah, itu adalah kekuatan yang menarik
ya?"
Sosok penjahat terkeji sepanjang masa.
Masa ketika ada bajingan sialan yang mengincar kemampuan milik Kim Rok
Soo.
Dan itu juga merupakan masa ketika Cale melakukan kesalahan karena
menjadi gila akibat racun di tengah situasi di mana baik Ketua Tim Lee Soo Hyuk
maupun Choi Jung Soo tidak ada di sisinya.
Masa ketika dia mencampakkan dirinya sendiri. Itu adalah masa ketika dia
melakukan kesalahan semacam itu. Sorot mata Cale tenggelam dengan dalam.
Kapal melaju menuju ke arah masa ketika dia menghancurkan dirinya
sendiri. Dia menundukkan kepalanya karena sensasi aneh yang dia rasakan. Suara
Choi Han yang panik terdengar di telinganya.
Namun tidak ada waktu baginya untuk menoleh ke belakang.
"Tuan Cale—"
Tubuhnya mulai berubah.
Begitu menundukkan kepala, tangannya mulai terlihat. Itu bukanlah tangan
milik Cale Henituse.
Tangan Kim Rok Soo yang dipenuhi oleh berbagai macam bekas luka kini
tertangkap oleh pandangan mata Cale.
Malam Gelap, alam bawah sadar kali ini mengincar Cale sebagai targetnya.
Pandangan matanya mengarah ke arah dermaga.
Langit di tempat itu juga merupakan malam hari.
.

Komentar
Posting Komentar