A Villainous Baby Killer Whale 93
Itu adalah air mata yang jatuh dari mataku. Lalu, air mata besar mulai jatuh. “……Aku tidak tahan lagi.” Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Aku menangis sekeras-kerasnya, hingga tangisanku yang sedih tak dapat keluar. Setelah bertemu ibu dan ayahku, hari pertama hanya sekadar linglung. Pemandangan yang kulihat sungguh menakjubkan, mengejutkan, lalu aku tercengang lagi. Keesokan harinya ditolak. Ibu dan ayahku begitu menyayangiku, tidak mungkin mereka menolakku. Karena kamu mengingatku, yang harus kulakukan hanyalah kembali, kan? Dan keesokan harinya, aku akhirnya menyadarinya. ‘Sekalipun aku kembali.... Tidak ada tempat untukku.’ Aku harus mengakuinya. Tidak ada tempat bagiku untuk kembali. Aku harus menerimanya, aku harus menerimanya, aku harus bernegosiasi dengan diri aku sendiri. Aku merasa putus asa merasuk ke dalam hatiku. Karena tidak ada tempat untuk kembali, hanya tempat inilah yang tersisa. Di Sini..... Mengapa? Mengapa? Saat aku menerim...