Trash of the Count Family Book II 498 : Pangeran dan Ayahnya
“Pa, pa… paus—”
Seorang penduduk Pulau 89, yang juga seorang kapten dengan
kualifikasi memimpin satu kapal, merinding seketika saat matanya bertemu dengan
mata seekor paus.
Makhluk laut raksasa itu adalah keberadaan yang tak mungkin
ia lihat di perairan dekat pelabuhan benua—di mana biasanya ia hanya berlayar
di sekitar sana.
Saat itu juga—
“Nyaaa~ong—”
Terdengar suara kucing mengeong.
Suara yang mustahil terdengar di tengah laut.
Begitu suara itu terdengar, matanya menangkap seekor kucing
di atas bahu pria berambut merah.
“...Eh—”
Tapi ada yang aneh.
Bukan kapalnya yang berguncang—tubuhnya sendiri yang
bergetar.
Bruk.
Tubuhnya roboh.
Kedua kakinya kehilangan rasa.
‘Kabut ini—’
Kabut itu berwarna merah.
Entah sejak kapan, kabut merah itu telah menyelimuti kapal.
“Khuk!”
“Kuhuk!”
Terdengar suara anak buahnya yang terjatuh dan mengerang
kesakitan. Tapi tak lama kemudian, semuanya menjadi sunyi senyap—seperti tikus
mati.
“Ah…”
Apakah semua kehilangan kesadaran?
Atau mungkin—
‘Me… meninggal—’
Tubuhnya makin kaku, kesadarannya memudar, dan rasa takut
menyelimuti seluruh tubuhnya.
Syuuaaaa—
Sebelum ketakutan menutup matanya, hal terakhir yang dilihat
sang kapten adalah tatapan mata seekor paus raksasa yang menerobos permukaan
laut dan menegakkan tubuhnya.
Bulan dan bintang sudah lama tertutup kabut.
Bayangan paus itu menutupi kapal, dan kegelapan yang lebih
pekat melahap semuanya.
‘Sial… tak kusangka aku bakal mati begini~’
Kapten yang selama ini menghindari perang dan hanya merampok
kapal di sekitar pelabuhan itu, tak menyangka hidupnya akan berakhir dengan
sia-sia seperti ini.
Ia menutup mata dengan penyesalan.
Tak ada yang terlihat—hanya kegelapan yang menyambutnya.
Craaak!
Namun kemudian—
Craaak!
“Haah!”
Ia terbangun dengan napas terengah.
“Keuk! Keuhk!”
Dan di depannya, ada seorang pria dengan tampang preman yang
sedang menatapnya sambil tertawa puas.
“Lihat, kan? Aku bilang juga, cara ini paling ampuh buat
ngebangunin orang!”
Pria tampan berwajah nakal itu mencengkeram kerah baju sang
kapten, lalu mengayunkan tangannya lagi.
Craaak!
“Guhk!”
Baru sadar setelah pingsan, sang kapten merasakan
nyerinya—cengkeraman pria itu sangat kuat. Pipinya membengkak, dan darah mulai
mengalir di dalam mulutnya.
Craaak!
Dan dia memukul lagi.
“Kuuhk, kuhk! A-aku—”
Sang kapten berusaha bicara—
Craaak!
Tapi pria itu memukulnya lagi.
Kapten itu tak berdaya, hanya bisa menerima tamparan
berulang di sisi wajah yang sama, tanpa sempat membalas.
Lalu—
“Hey, Archie. Dia sudah bangun, minggir dulu.”
Terdengar suara seseorang.
“Siap!”
Pria preman itu menjawab santai, lalu—
Craaak! Craaak!
Memberikan dua tamparan terakhir dengan penuh semangat
sebelum akhirnya mundur.
Bruk!
Begitu tangannya melepas kerah sang kapten, tubuh itu pun
jatuh tersungkur ke lantai kapal.
“Suara tamparannya… sungguh memuaskan.”
“Hehe, terima kasih atas pujiannya.”
Sementara dua orang—Heavenly Demon dan Archie—saling memuji,
Cale tidak memperhatikan mereka. Ia berjalan mendekat ke arah sang kapten.
Di belakangnya, terdengar suara percakapan lain dari
kelompoknya.
“Kabut dan racunnya makin kuat!”
“Racun lumpuh dan racun tidurnya bekerja sempurna!”
“Kerja bagus.”
“Kau juga hebat, Nuna!”
Anak-anak berumur rata-rata sepuluh tahun itu duduk
berkelompok di sudut kapal, saling memuji.
Terutama On dan Raon yang memuji Hong, membuat Hong senang
dan menggoyang-goyangkan tubuhnya kegirangan.
Cale tak memperdulikan mereka dan berjongkok di depan sang
kapten.
“Hahh… hahh…”
Masih bingung dan penuh darah di mulut, sang kapten berusaha
menyeka wajahnya.
Kesadarannya mulai pulih, tapi tubuhnya masih belum bisa
bergerak bebas.
Cale pun membuka mulut.
“Tuan Muda.”
Saat itu juga, Ron datang tanpa suara.
‘Hh!’
Cale hampir kaget karena pria tua itu mendekat tanpa bunyi
sedikit pun.
“Aku yang akan menginterogasinya, Tuan Muda?”
Ron mengeluarkan sebilah belati dan menatap jari-jari sang
kapten dengan ekspresi menyeramkan.
“!”
Melihat pria menakutkan itu, tubuh sang kapten gemetar
hebat.
“Tidak, tak perlu.”
Pria berambut merah itu menjawab dengan tenang.
Mendengar suaranya, sang kapten teringat kembali pada sosok
yang dilihatnya sebelum pingsan—pemimpin mereka.
Ia pun segera membuka mulut.
Selama hidup sebagai bajak laut, ia belajar satu hal penting—
“A-ak… aku mohon… ja—jangan bunuh—”
Mulutnya pecah dan kata-katanya tak jelas, tapi ia berusaha
keras untuk berbicara.
“A… aku akan… b-bicara… semua… Aku… aku bisa katakan
semuanya! A-apa pun! Aku bisa menyerahkan segalanya!”
“Tidak, tak apa.”
Pria berambut merah itu menolak dengan senyum tenang, sambil
melambaikan tangannya.
Berbeda dengan kesan dingin yang ia tunjukkan pertama kali,
kini wajahnya tampak lembut. Melihat itu, sang kapten memberanikan diri untuk
cepat-cepat berbicara.
“Ak-aku mohon… j-jangan bunuh—”
“Tidak, tak apa.”
“Tu-tunggu! Tolong—”
“Tidak. Tak apa.”
“Hah?”
Baru saat itu sang kapten merasa ada yang aneh.
Ia baru saja memohon untuk diselamatkan, tapi pria itu hanya
menjawab, “Tak apa.”
Apa maksudnya?
“A…?”
Dan saat kesadarannya mulai jernih—
“Ini… bola sinyal, ya?”
Ia melihat bola kristal pecah yang tadinya disimpan di
sakunya, kini berada di tangan Cale.
“Y-ya! Benar, benar sekali!”
Namun yang menjawab bukan dia—dan bukan juga anak buahnya.
“!”
Kapten itu menoleh dan melihat seorang kakek tua berpakaian
lusuh serta kurus kering, berdiri tak jauh darinya.
Di sampingnya, ada beberapa anak dan perempuan.
Mereka adalah para tawanan yang sebelumnya dikurung di ruang
bawah kapal—orang-orang yang dianggap tak berguna, sedikit jumlahnya, dan
bahkan para bajak laut pun bingung bagaimana menjual mereka.
“Jadi, kalian bukan cuma maling… tapi juga menculik manusia,
ya? Cih cih.”
Sang kapten menelan ludah mendengar ejekan dari pria yang
menamparnya tadi—si preman bertampang nakal yang kini bersandar santai sambil
bertolak pinggang.
Ia menatap ke arah para anak buahnya yang masih terikat
bersama para tawanan—tali yang tadinya dipakai untuk mengikat budak.
Cale berbicara dengan suara tenang.
“Katanya, setelah sinyal ini aktif, pasukan sekutumu akan
datang, benar?”
“Y-ya! Dalam jarak tertentu, kapal-kapal dari kelompok yang
sama akan datang!”
Yang menjawab adalah sang kakek tua, tergesa-gesa
melanjutkan penjelasannya.
“Orang-orang dari Pulau 89 sedang berkumpul di dekat pesisir
pelabuhan ini untuk merebut kembali kekuatan mereka! Pasti ada lima kapal yang
datang!”
Pulau 89—
Sebuah pulau yang cukup dekat dengan garis pantai, dan salah
satu kelompok bajak laut yang tak mau melepaskan wilayah ini karena hasil
jarahan yang besar.
Meski namanya berarti “peringkat ke-89”, mereka termasuk
cukup kuat di antara bajak laut lainnya.
“Tentu markas utama mereka ada di sekitar Pulau 89 atau
lautan tengah, tapi kapal-kapal yang datang ke sini juga kuat!”
Sialan, kakek tua ini!
Kapten itu menatap dengan benci, mendengus pada lelaki tua
yang seharusnya diam.
“……”
Namun ketika ia menoleh, pria berambut merah itu masih
menatapnya sambil tersenyum tenang.
“H-hei! Jangan berani menatap Tuan Muda kami begitu,
bajingan!”
Teriakan si preman terdengar, tapi kapten itu tak bisa
menjawab.
Senyuman pria berambut merah itu jauh lebih menakutkan
daripada ancaman apa pun.
Dan kemudian—
“Puuuu—”
Terdengar suara terompet dari kejauhan.
Itu adalah sinyal—sekutu mereka datang.
Namun sang kapten tak sempat merespons.
Karena Cale menatapnya tanpa emosi dan berkata pelan:
“Jadi kau sudah membuat semuanya jadi merepotkan, ya.”
Clap.
Ia menepuk tangannya, dan pecahan bola sinyal di telapak
tangannya hancur berderak menjadi debu.
“Benar juga,”
Ujar Alberu dengan nada datar sambil menoleh ke sekeliling.
“Waktunya sudah sempit.”
Heavenly Demon pun ikut menatap lautan dan menunjuk ke salah
satu dari lima kapal yang mendekat.
“Kapal itu yang paling cepat dan paling bagus.”
Ia berdiri sambil memutar lehernya, terlihat gatal ingin bertarung.
Namun begitu melihat seseorang, ia kembali duduk dengan
senyum kecil.
“Tuan Muda Cale.”
Di bagian haluan, Witira yang sejak tadi duduk, bangkit
berdiri.
“Bolehkah aku yang menanganinya?”
Cale bisa merasakan betapa buruk suasana hati Witira saat ini.
Ia teringat kata-kata kakek tua tadi—
“Setelah Sang Jenderal Laut tumbang… semuanya berubah.
Mereka semua haus kekuasaan, melampaui batas!”
Kakek tua itu dulunya adalah kepala desa kecil di sebuah
pulau terpencil, yang hidup damai tanpa ikut dalam perebutan kekuasaan.
Tapi kini wajahnya dipenuhi kesedihan.
“Lautan telah ternoda… ini tak seharusnya terjadi! Dewa
Laut akan murka! Bahkan kaum Haen (manusia laut) pun telah kehilangan
kehormatannya—"
Kata-kata kakek itu mengguncang hati Witira.
“Haen…?”
“Ya. Kaum Haen sekarang yang paling kejam. Aku tak tahu
bagaimana lautan bisa berubah jadi lautan darah seperti ini…”
Suara kakek itu bergetar, penuh ketakutan.
“Witira.”
Cale memanggilnya lembut. Saat ia menatapnya, Cale menjawab
dengan tenang:
“Lakukan sesukamu.”
Begitu kalimat itu diucapkan—
“Archie. Kapal itu serahkan padamu.”
Witira mengangguk singkat, lalu menjejakkan kakinya
kuat-kuat ke dek kapal.
Sraaak!
Tubuhnya melesat tinggi ke udara.
“!”
Sang kapten yang menyaksikan semua itu hanya bisa melotot kaget.
Swaaah—! Swaaah—!
Rambut dan mata perempuan itu bersinar seperti lautan itu
sendiri.
Air mengalir deras di kedua tangannya, membentuk pusaran
yang berkilau.
Ia menatap lurus ke arah kapal-kapal musuh yang datang—
kapal yang bersiap menembakkan sihir dan panah.
Swaaah—!
Ia mengayunkan cambuk air tanpa ragu.
Kwaaaang!
“Kuuaaah!”
“Haluan kapal! Haluan kapal hancur!!”
Kapal itu hancur seketika tanpa bisa berbuat apa-apa.
Namun sang kapten tidak terkejut karena kapal itu hancur —
yang benar-benar membuatnya terguncang adalah apa yang terjadi setelahnya.
Swaaah—!
Perempuan itu berubah menjadi paus.
Paus raksasa yang sama seperti yang ia lihat sebelum
pingsan.
Seekor paus punggung hitam raksasa—benar-benar makhluk laut
yang luar biasa besar.
Paus itu mengamuk di lautan.
Tidak, bukan mengamuk—ia hanya bergerak.
Gerakannya cepat, tepat, dan sangat kuat.
Tidak ada satu pun kapal yang bisa menandingi paus itu.
“Uwaaah!”
“Sa-selamatkan kami!”
Teriakan para bajak laut tenggelam di antara ombak besar
yang ditimbulkan oleh paus itu.
Kwaaang! Kwaaang!
Satu per satu kapal hancur berkeping-keping.
Namun di antara percikan air laut dan serpihan kapal, mata
paus itu yang kadang terlihat di atas permukaan — tetap dingin.
Sang kapten membeku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“……”
“……”
Anak buahnya yang mulai sadar pun hanya bisa gemetar dalam
posisi terikat, tak sanggup bersuara.
‘Ini… ini bukan level kami lagi.’
Pulau ke-30? Tidak, ini sekelas dengan Pulau ke-17.
Ia belum pernah bertemu langsung dengan mereka, tapi sering
mendengar kisah tentang pertempuran sengit yang terjadi di Laut Tengah.
Dan sosok perempuan paus ini — membuatnya langsung teringat
pada cerita itu.
Namun satu hal membuatnya bingung—
Ia belum pernah mendengar ada manusia paus seperti ini.
“Beastmen Paus…? Tak pernah ada di antara bangsa laut atau
kaum Haen.”
‘Siapa mereka sebenarnya…?’
Mereka bukan bajak laut, dan bukan sekutu dari mana pun.
Mungkin… kelompok baru yang tiba-tiba muncul di tengah
perang kekuasaan di lautan ini.
Kepalanya penuh kebingungan, tapi tubuhnya bahkan tak berani
bergerak atau bernapas keras.
Swaaah—
Dari lima kapal yang datang, hanya satu kapal yang tersisa
utuh.
Paus itu mendekat lagi, perlahan.
Dan di atas kapal yang masih utuh itu—
“Hahaha! Anak panah kalian lemah
banget!”
“Guhk!”
Archie sedang menghajar para bajak laut tanpa ampun.
“Keuhk,
i-iblis…!”
“Apa?!
Aku bukan iblis! Kalian ini yang busuk! Siapa yang kalian panggil iblis, hah?!”
Puk! Bugh!
Archie meninju mereka berulang-ulang, jelas-jelas bisa
membuat mereka pingsan sejak tadi, tapi sepertinya sengaja memperpanjang
penderitaan mereka.
“Menjual
manusia?! Dasar sampah!”
“Guhk!”
“Kau
berani menghunus pedang ke arahku?! Mau aku potong, hah?!”
“Uwaaaah!”
“Kau,
kau yang tadi pakai sihir, ya? Hehe, mau mati?”
“A-iblis—!”
Sementara Archie menghajar bajak laut, Cale hanya berdiri
diam menonton dua ‘paus’ — Witira dan Archie — menghancurkan semua kapal.
Kemudian ia berkata pada kelompoknya:
“Pindahkan
semua sandera ke kapal ini. Kita akan berlayar dengan kapal itu.”
“Manusia,
aku bisa meniupkan angin ke layar dengan sihir!”
“Baik,
lakukan.”
Sementara rombongan mulai berpindah kapal, Cale mendekati
kakek tua tadi.
“Kamu
juga seorang pelaut, bukan?
Tolong bawa orang-orang ini ke pelabuhan.
Atau setidaknya, ke tempat yang aman.”
Ia mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya — sebagian dari
uang bekal yang dititipkan oleh Dark Bear, si makhluk berbulu yang meski
menakutkan, sebenarnya lucu.
“Uh,
itu…”
Kakek tua itu ragu-ragu, lalu bertanya:
“Siapa
kalian sebenarnya?”
Ia tahu ada sesuatu yang berbeda.
Sebagai kepala desa dari pulau kecil yang sudah lama
bertahan di antara kekacauan laut ini, ia bisa merasakan bahwa pria di depannya
bukan orang biasa — mungkin setara dengan para pemimpin besar dari 17 Pulau
Tengah.
Cale tersenyum.
Namun senyum itu bukan lagi yang lembut tadi, melainkan
senyum berbahaya, penuh kekuatan tersembunyi.
Cale dan Alberu bertukar pandang sejenak.
‘Setelah
Ayah ditemukan, kita akan menaklukkan Maritim Union juga. Nanti, di New World,
kita butuh sebanyak mungkin kekuatan untuk menghadapi Fived Colored Blood.’
‘Benar,
Yang Mulia. Seperti biasa, kita sejalan.’
Cale tidak menjawab lebih jauh, hanya menoleh.
Mata semua orang — sang kakek dan para tawanan yang baru
dibebaskan — mengikuti arah pandangnya.
Swaaah—
Dari laut, perempuan itu kembali naik ke dek kapal.
Witira, dengan rambut dan mata berkilau seperti ombak,
menatap Cale yang tersenyum kepadanya.
Ia pun tersenyum lembut, lalu menjawab pertanyaan yang tadi
sempat menggantung di udara.
“Bukan,
kami bukan orang pulau ini.”
Kakek tua itu mengangguk perlahan.
Tentu saja… mereka bukan penduduk sini.
Witira menambahkan dengan tenang:
“Tapi,
kami adalah orang laut.”
Seolah seluruh lautan di sekitarnya adalah wilayah kekuasaannya,
ia berdiri tegak dengan aura anggun dan berwibawa.
Kakek itu hanya bisa menelan ludah, tak berani berkata apa
pun.
Di balik wajah tenangnya, mata Witira memancarkan kekuatan
predator — seperti sang Jenderal Laut yang dulu pernah memimpin lautan ini.
“Kalau
begitu, kami pamit dulu, Kakek.”
Mereka — yang bagi musuh bagaikan iblis, tapi bagi yang
diselamatkan tetap sopan dan lembut — meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang selamat pun segera sadar, dan bergegas
menuju pelabuhan.
Dan tak lama kemudian, desas-desus mulai beredar di antara
mereka.
Tentang ‘orang-orang laut’ yang muncul dari kabut merah.
***
Beberapa waktu kemudian—
“Kapalnya
tak bawa bendera! Serang!”
“Uwaaaah—!”
Mereka bertemu lagi dengan sekelompok bajak laut dari pulau
lain.
Awalnya mereka berniat mengabaikan—karena waktu berharga,
dan lawan tampak sepele.
Namun kemudian—
“Hahaha!
Apa ini, pendatang baru rupanya? Bunuh mereka! Bunuh dan rebut kapalnya!”
“Mereka
orang asing? Kalau begitu, kita jual saja mereka sebagai budak! Serang!”
Mereka benar-benar tidak tahu dengan siapa berhadapan.
Kwaaaang!
Maka sekali lagi, kapal itu dihancurkan.
Tak ada waktu untuk bermain-main, jadi Witira langsung
menghantam dengan tubuhnya.
“Hahaha!
Korban baru! Kapal itu tak punya bendera! Serang!”
Namun, muncul lagi kapal lain.
Sebelum mencapai laut tengah, perairan ini penuh dengan
kapal-kapal lemah — bajak laut kelas rendahan yang hanya mengincar jarahan.
Kwaaaang!
“Hahaha!
Bagaimana rasanya kena bogem si Archie ini, hah?!”
Maka mereka menghancurkan lagi.
Kalau ada sandera, mereka hanya menyingkirkan bajak lautnya
lalu pergi.
“Oh!
Mangsa! Ayo kejar!”
“Tingkatkan
kecepatan! Dekati kapal itu! Serang!”
Kapal-kapal bajak laut terus bermunculan.
Kwaaaang! Kwaang!
Jadi mereka pun terus menumpas.
Mereka menyingkirkan kapal musuh dengan mudah, sambil terus
bergerak cepat.
Namun, jumlah bajak laut itu benar-benar banyak.
“……”
“……”
Dan ketika matahari terbit—
“……”
“……”
Rombongan Cale tak lagi bicara.
Mereka memang kuat.
Bukankah Cale sendiri mampu bertahan bahkan melawan Kaisar
Tiga? Dan semua rekan yang bersamanya pun kuat.
Sebaliknya, bajak laut-bajak laut yang mereka hadapi
semalaman tidak sekuat itu —
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Dan entah bodoh atau nekat, mereka menyerang tanpa berpikir,
seolah-olah Cale dan rombongannya lemah.
Cale menatap matahari yang perlahan muncul di cakrawala.
Archie bergumam, “Wah, sial. Datang lagi.”
Choi Han menghela napas panjang dan menepuk bahu Archie.
“Jangan
tidur.”
“Ah!
A, iya!”
Archie terkejut. Ia rupanya sempat tertidur tanpa sadar,
lalu terbangun karena melihat kapal bajak laut lain mendekat.
Lingkar matanya tampak gelap — wajar saja, dia yang paling
banyak bertarung di laut, tanpa waktu untuk beristirahat.
“Eh?
Mimpi, ya?”
Namun, segera ia sadar setelah melihat ke arah cakrawala —
Dari jauh, puluhan kapal sedang mendekat.
“Bukan
mimpi,” jawab Ron dengan suara lembut, lalu menambahkan,
“Dari
benderanya, kebanyakan bajak laut. Ada juga beberapa dari pulau bajak laut yang
kapal mereka kita hancurkan tadi malam. Sepertinya datang untuk merebut kembali
kapal mereka.”
Memang, saat malam berakhir dan fajar tiba, makin banyak
kapal yang berlayar ke laut.
“Ah.”
Ketika Archie duduk lemas di geladak, Ron menepuk bahunya
pelan — seolah menyemangati.
“Cale.”
“Ya.”
“Masih
satu hari lagi perjalanan sebelum kita masuk wilayah laut tengah.”
“Ya.”
Seperti yang dikatakan Alberu, mereka butuh satu hari lagi
untuk sampai ke laut tengah.
“Tapi
mungkin akan lebih lama.”
“Benar.
Kalau begini terus.”
Cale mengangguk pada kata-kata Alberu.
Alberu menatapnya sejenak lalu tersenyum tipis.
“Sepertinya
kau berniat membuat mereka tidak berani meremehkan kita.”
“Benar.”
Kalau mereka tampak lemah karena hanya punya satu kapal
kecil tanpa bendera dan tanpa banyak kru—
Maka solusinya sederhana: buat mereka tidak berani
meremehkan.
Sebelum kabar tentang mereka menyebar luas.
[Waktunya aku maju?]
Suara yang menggema di kepala Cale terdengar bersemangat,
hampir bergetar karena antusias.
[Heh, sudah waktunya menunjukkan keagungan ini!]
Hah!
Dengan nada penuh kebanggaan, suara itu melanjutkan:
[Bajak laut rendahan itu akan merasakannya segera! Begitu
mereka melihatku, mereka akan menundukkan kepala! Hahaha!]
Itulah Dominating Aura, yang pernah menghadapi Dewa
Kekacauan—meski belum bisa mengalahkannya, kekuatannya kini luar biasa.
[Hahaha! Penguasa lautan adalah
kita!]
Mendengar suara penuh kesombongan itu, Cale mulai melepaskan
Dominating Auranya.
“Turun.
Kabut.”
Lalu pagi itu, di atas lautan cerah—
“Kelilingi
hanya kapal kita.”
Kabut tebal pun muncul, menyelimuti kapal tanpa bendera itu.
Kini kapal itu tampak seperti kapal hantu yang mengarungi
lautan neraka.
Dari balik kabut itu, Dominating Aura menyebar luas.
Shoooa—
Dengan bantuan angin sihir Raon, kapal hantu itu meluncur
cepat, jauh lebih cepat dari kapal mana pun.
Menuju laut yang lebih luas.
Menuju puluhan kapal di kejauhan.
Dan setiap kapal yang tersentuh kabut itu, para awaknya akan
melihat Cale, diselimuti Dominating Aura yang menekan seperti beban dari
langit.
.


Komentar
Posting Komentar