Trash of the Count Family Book II 547 : Kehancuran yang Mengerikan


Saat pertama kali Cale masuk ke dalam kawah,

“Bakar semuanya! Bakar!”

Dia terus membakar gumpalan daging yang terus merangsek keluar sambil menuju ke bawah, semakin dalam ke bawah.

Suasana semakin gelap.

Dia merasa seolah-olah perlahan mulai tertelan.

Pajijik, pajik—

Namun, api yang menyelimuti Cale justru berkobar semakin hebat.

[ Suasana hatiku sedang berada di puncaknya sekarang! ]

Daya hancur dari Si Pelit yang suasana hatinya sedang melonjak tajam benar-benar tidak ada habisnya.

[ Ah, ah, gawat! ]

Isak tangis dari Si Kakek Cengeng yang memiliki kekuatan regenerasi mungkin tidak terdengar olehnya.

[ Hah? ]

Namun tak lama kemudian, Si Cengeng pun berhenti terisak.

Kung!

Suara detak jantung yang sangat besar.

“Apa ini?”

Cale tersentak diam.

Kung! Kung!

Ini adalah suara jantung.

Bukan, ini adalah getaran dari detak jantung.

‘Apa Han Taek Soo punya jantung?’

Struktur internal dari gumpalan daging ini tidak diketahui.

Itulah sebabnya dia datang ke sini untuk mencari tahu.

Kung, kung.

Detakan itu terasa semakin keras mendekat.

Semakin dia menuju ke bawah, semakin besar getarannya.

[ Di bawah! ]

Si Pelit menyampaikan maksudnya, dan maksud itu selaras dengan Cale.

[ Ada sesuatu di bawah! ]

Dia harus memeriksanya.

Kung! Kung!

Suara detakan ini membuat telinga terasa tuli, dan seluruh tubuh terasa terguncang oleh getaran tersebut.

Kung! Kung!

Detakan itu semakin kuat.

Dan semakin cepat.

Seolah-olah sedang mengancam...

‘...Insting bertahan hidup?’

Mungkinkah insting bertahan hidup Han Taek Soo adalah detakan ini?

Seolah menjawab pertanyaan Cale,

“Kh!”

Kegelapan dan gumpalan daging dari atas menekan dirinya ke bawah.

Kung! Kung! Kung!

Lalu gumpalan daging kegelapan yang ada di bawah menangkap dan menyeretnya semakin dalam.

Dari kedua sisi, dinding-dinding itu menekan Cale seolah hendak menghimpitnya.

Semuanya terjadi dalam sekejap.

Pajijik, pajik!

Meski hancur oleh api yang berkobar, tekanan terhadap Cale merangsek dari segala penjuru.

Dan menyeretnya turun.

Cale diseret ke bawah, terus ke bawah tanpa henti...

Buk.

Lalu punggungnya menyentuh sesuatu.

Bukan daging licin dan becek seperti rawa,

Melainkan sesuatu yang keras.

Lantai.

Cale merasakannya secara insting.

Ini adalah sejenis lantai yang menopang gunung raksasa bernama Han Taek Soo.

Lantai apa ini?

Seketika rasa merinding yang tak terjelaskan muncul.

Dia meraba lantai yang menyentuh punggungnya dengan tangan.

Lalu dia melihatnya.

[ Gila. ]

Si Pelit terperangah ngeri.

Tes. Tes.

Darah merah kehitaman mengalir dari tangan Cale.

Ada darah di lantai yang keras ini.

Apa ini sebenarnya?

Cale sesaat tidak bisa memahami situasinya.

Saat itulah,

Dia merasakan sesuatu merangsek dari segala arah.

Tak, tak.

Gigi Cale bergemeletuk tanpa sadar.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Hawa dingin merangsek masuk dengan sangat cepat.

Sesuatu yang dingin mendekat bersama daging untuk menekannya,

Namun itu bukanlah sesuatu yang benar-benar dingin secara fisik.

[Selamatkan aku.]

[Ugh, aaaah, aku tidak mau dimakan!]

[Tolong selamatkan anakku, setidaknya keluargaku! Bukankah cukup jika aku saja yang dikorbankan!]

[Ah, sakit, sakit!]

Wanita, pria, orang tua, anak-anak.

Tanpa pandang bulu, puluhan ribu suara terdengar.

Berbeda dengan di luar yang suaranya menyatu menjadi satu, suara yang terdengar di dalam Han Taek Soo semuanya berbeda-beda.

[ Ugh. Ini, ini mengerikan! ]

Kekuatan kuno Sound of Wind bereaksi.

[ Orang-orang meratap, bukan hanya manusia! Hewan, semua makhluk hidup semuanya meratap! ]

Cale tidak bisa mendengar perkataan Sound of Wind dengan jelas.

Dari segala penjuru, tanpa celah sedikit pun, suara-suara yang berbeda merangsek masuk hingga kepalanya terasa penuh dan telinganya seolah mau pecah.

Dan terasa berat.

Bukan hanya dagingnya.

Sesuatu yang merangsek bersama hawa dingin ini,

Sesuatu yang terkandung dalam suara-suara itu menekan Cale.

Saat itulah,

Suara seseorang terdengar dengan sangat jelas.

[Inilah karma yang telah dikumpulkan oleh kehidupan selama lebih dari sepuluh ribu tahun.]

Itu adalah Han Taek Soo.

[Cale Henituse, aku mengakui kekuatanmu itu.]

[Aku mengakui para Dewa, juga para Wanderer.]

[Namun kamu semua tidak akan mengakuiku.]

[Hanya akan menganggapku sebagai monster yang menjijikkan.]

Han Taek Soo mengingat awal mulanya.

Dia tidak ingat bagaimana itu terjadi.

Hanya saja, ingatan pertamanya adalah saat dia lahir sebagai ‘gumpalan daging’.

Awalnya dia dikatakan sebagai manusia.

Namun dia menjadi sosok seperti ini karena suatu eksperimen,

Dan mereka menghina sosok ini,

Menertawakannya.

Sambil tetap berusaha membuktikan kegunaannya dan memanfaatkannya.

Meski begitu, pada akhirnya dia tetap bertahan hidup.

‘Itu berkat instingku.’

Insting untuk bertahan hidup.

Insting itu memberitahunya tanpa henti bahwa dia harus makan dan menjadi kuat.

Han Taek Soo menjadi kuat dengan memakan segala hal sesuai insting itu.

Lalu tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

‘Mangsa yang kumakan juga memiliki insting.’

Para mangsa itu tidak hanya menempel di tubuh Han Taek Soo dan membesarkan ukurannya, tapi insting bertahan hidup mereka juga membantu Han Taek Soo.

Tentu saja, awalnya itu tidak membantu.

[Mungkin setiap karma bagimu tampak lucu. Karena kamu sangat kuat.]

Namun semakin banyak yang dimakan Han Taek Soo, hal-hal yang tersisa di dalam tubuhnya semakin membesar, dan Han Taek Soo yang mengendalikan kekuatan itu pun menjadi semakin kuat.

[Tapi semua ini telah kukumpulkan dengan bertahan hidup selama lebih dari sepuluh ribu tahun.]

Kung! Kung!

Keberadaan yang ada di dalam batin Han Taek Soo berdetak dengan sangat keras.

[Sanggupkah kamu menahan kekuatan raksasa yang terkumpul dari obsesi terhadap kehidupan ini?]

Kung! Kung!

Mereka memberikan peringatan.

Peringatan bagi Han Taek Soo sebagai tubuh utama agar tetap hidup,

Dan di saat yang sama—

[Kamu yang menghalangi kehidupan adalah musuh.]

Itu juga merupakan peringatan bagi musuh bernama Cale Henituse.

Fived Colored Blood.

‘Makhluk-makhluk angkuh itu pun sekarang membungkuk padaku. Baik Kaisar Dua maupun Kaisar Satu tidak bisa mengabaikanku.

Siapa yang bisa mengalahkan aku yang telah hidup lebih dari sepuluh ribu tahun,

Aku yang telah mengumpulkan begitu banyak obsesi kehidupan?’

[Wahai para kehidupan—]

‘Wahai kalian yang telah kumakan,’

[Merataplah.]

Dan,

[Hancurkanlah.]

Karena tidak akan ada manusia yang sanggup menahan jeritan makhluk hidup yang telah kumakan selama sepuluh ribu tahun lebih.

Kung!

Han Taek Soo bergerak sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh instingnya.

Seperti yang selalu dia lakukan.

Ku-ung!

Getaran yang lebih berat dari sebelumnya,

“!”

Cale mencoba bangkit karena merasakan firasat mengerikan.

Jjeok!

Lantai keras tempat punggungnya bersandar tadi,

Di sana muncul banyak sekali mulut.

“Kh!”

Hwaruru—

Cale yang mengobarkan api melihat mulut-mulut lainnya.

Di antara daging dan hawa dingin yang merangsek dari segala arah menuju dirinya, dia bisa melihat hal lain.

[Ah, sakit]

[Selamatkan aku!!!!]

Suara-suara ratapan itu semuanya berubah menjadi mulut.

Ribuan mulut muncul dan mulai mengincar Cale.

[Selamatkan aku!]

[Aku tidak mau mati!]

[Aku tidak mau sakit!]

Dan—

Jjeok!

Mulut-mulut itu menganga lebar dan menerjang ke arah Cale.

Seolah hendak mengoyak dan memakan seluruh tubuhnya.

Mulut-mulut yang menganga lebar itu seolah hendak mengunyah apa pun demi memuaskan rasa lapar mereka.

Ku-ung!

Segala arah mendekat untuk membunuh Cale.

Jeritan dan ratapan.

Keputusasaan untuk ingin hidup.

Permusuhan yang kuat terhadap musuh.

Semua itu seolah memiliki wujud fisik dan menjadi tekanan nyata yang menindas Cale.

“...Ha!”

Lalu Cale mendesah.

“Aku tidak mengerti.”

Dia benar-benar merasa konyol.

Baik Kaisar Dua,

Maupun Han Taek Soo.

Kenapa mereka memilih cara seperti ini?

‘Bukan.’

Tidak ada gunanya memahami cara berpikir bajingan seperti mereka.

‘Aku juga tidak ingin memahaminya.’

Tidak ingin tahu juga.

Pasti ada alasan yang akan mereka ocehkan.

“Tapi itu bukan urusanku, kan?”

Cale berpikir,

Dan benar saja.

Si Pelit setuju.

Kung. Kung.

Bagian dalam tubuh Cale juga sudah berdetak kencang.

Karena Cale nyaris tidak bisa menahan api yang tak terkendali ini.

[ Aku sangat marah. ]

Si Pelit berbicara dengan tenang.

[ Bajingan yang mencemari tanah dengan Mana Mati juga mengatakan hal yang sama. Apa kamu tahu berapa banyak kematian yang terkandung dalam Mana Mati ini? ]

Dan apa kamu tahu betapa berbahayanya dan menakutkannya tanah yang tercemar Mana Mati?

Mereka bilang, tidak peduli seberapa banyak api yang kamu nyalakan sendiri, kamu tidak akan bisa membakar seluruh tanah ini.

Ya.

Dia pernah mendengar kata-kata itu.

Namun, sampai sebelum ajalnya, Si Pelit terus membakar semua yang bisa dia bakar.

Ya, benar-benar sampai dia mati.

[ Bajingan-bajingan lucu. ]

Kenapa Si Pelit mau-maunya melakukan itu?

[ Apa ini menakutkan? ]

Si Pelit tidak takut pada mana mati.

[Apakah kamu takut pada tanah hitam yang tercemar mana mati?

Apa kamu tahu berapa banyak kematian di dalamnya, apa kamu tidak takut?]

Mendengar kata-kata itu, alih-alih merasa takut, Si Pelit justru...

[ Aku ingin menghancurkan semuanya. ]

Kemarahan meluap-luap.

Amarah memuncak.

Dan dia merasa sedih.

Melebihi kesedihan, dia ingin melampiaskan semua amarah ini bagaimanapun caranya.

Karena itulah dia membara.

Dan menghancurkan.

[ Bajingan gila. ]

Si Pelit memaki Han Taek Soo.

[ Apa kamu bilang karma kehidupan itu berat? ]

Bajingan pecundang.

[ Kenapa kamu mengubah suara minta tolong menjadi sebutan karma kehidupan, insting bertahan hidup, atau omong kosong lainnya? ]

Bahkan setelah mati pun.

Bukankah mereka sekarang sedang memohon untuk diselamatkan?

Apa itu artinya mereka ingin hidup sebagai tubuh Han Taek Soo?

[ Cale. ]

Si Pelit memanggil tuannya yang pasti sudah mengetahui seluruh isi hatinya.

“Kh, kenapa?”

Cale gemetar di seluruh tubuhnya.

Hwaruru—

Meski diselimuti api, Cale tetap bertahan.

Tubuhnya seolah akan remuk saat itu juga.

Mulut, gumpalan daging, kegelapan, dan hawa dingin yang memenuhi depan, samping, dan segala arah merangsek ke arahnya.

Dan sesuatu yang keras tertutup darah yang menyentuh punggung Cale.

Tak satu pun dari mereka berniat memberi Cale kesempatan untuk bernapas.

[ Lantai ini adalah makam. ]

Makam bagi keberadaan yang dimakan oleh Han Taek Soo.

Ku-ung!

[ Ribuan suara itu bermula dari lantai ini. ]

Bukan dari hawa dingin yang mendekat, melainkan suara-suara yang terdengar dari lantai.

Dan suara-suara yang menuju ke arah lantai.

Namun hanya satu.

Han Taek Soo.

Satu-satunya suara Han Taek Soo yang terdengar sendirian.

Hanya suara itu yang berbeda.

Dia sudah menemukan lokasinya.

[ Sepertinya getarannya juga berasal dari sana. ]

Cale, Si Pelit, maupun Pendeta Wanita Sound of Wind telah menemukan lokasinya.

Ada alasan mengapa mereka diam-diam mendengarkan perkataan Han Taek Soo.

Han Taek Soo mungkin mengira itu karena Cale tidak tahan dengan tekanan ini,

Padahal mereka hanya ingin melepaskan semuanya sekarang.

Ke arah asal getaran dan suara Han Taek Soo,

Si Pelit memohon pada Cale.

[ Ayo kita lepaskan mereka. ]

Cale nyaris tidak bisa mengangkat kedua lengannya di tengah tekanan itu.

Lalu, dia menggigit bibirnya kuat-kuat.

Saat dia melepaskan semua kendalinya,

Jureuk.

Sesaat setelah darah mengalir dari sudut mulutnya.

Kwaaaaaaa—

Api melonjak dari kedua tangan Cale.

Api merah menyala seperti lava, dan pilar api yang dikelilingi cahaya bercampur warna keemasan.

Api itu bergerak.

Ke arah atas.

[Bodoh—]

Han Taek Soo mencoba mencemooh pilar api yang bergerak seolah ingin melarikan diri ke atas menuju kawah, namun,

Hwaruru—

Pilar api itu bergerak.

Layaknya ular yang hidup.

Bukan, seperti Imugi yang melonjak ke arah langit.

Imugi yang dibalut api dan cahaya itu...

“Ugh—”

Cale yang memejamkan mata.

Ku-ung!

[ Di sana! ]

Saat dia mengambil jalan menuju arah yang ditemukan oleh Pendeta Wanita Sound of Wind.

Api itu melesat seperti badai angin.

Karma yang terkumpul selama sepuluh ribu tahun.

Semua itu sama sekali tidak mudah.

Benar-benar sulit.

Jureureuk.

Cale tidak punya waktu untuk memedulikan darah yang keluar dari mulutnya.

Meski tekanannya seolah membuat seluruh tubuh meledak, dia tetap merentangkan kedua tangannya.

Rasanya seolah semua tulangnya akan hancur.

Namun dia tidak bisa berhenti.

[ Terbakar!

Semuanya terbakar! ]

Si Pelit memberitahunya.

[ Cale, semuanya terbakar! ]

Segala sesuatu terbakar.

[ Kamu dengar? ]

Dan,

[ Ratapan mereka mulai menghilang! ]

Lalu, tidak ada lagi yang terdengar.

Suara-suara itu perlahan berkurang.

Hawa dingin telah lenyap.

Mereka tertelan oleh panas yang mempertaruhkan segalanya itu.

Chulleong!

Bagian dalam gunung berguncang.

Terasa rasa panik di sana.

[I, ini—]

Suara Han Taek Soo terdengar sendirian.

Karena dia sedang dibakar.

Ku-ung!

[ Dia kabur! ]

Posisi getaran berpindah.

Ternyata kelemahan Han Taek Soo memang bisa bergerak.

[ Tidak apa-apa! ]

Namun itu tidak masalah.

‘Bukan, tidak peduli.’

Khuluq!

Cale memuntahkan darah.

Api yang dilepaskan tanpa batas kini tidak bisa dihentikan lagi.

Di sini tidak ada keberadaan yang bisa memadamkan api.

Kebakaran hutan dahsyat yang akan membakar seluruh gunung mulai muncul dari dalam gunung.

Dan, akhirnya,

Saat suara-suara itu menghilang,

Dan tidak ada lagi suara apa pun yang terdengar,

Ku-ung—

Saat hanya getaran yang terdengar,

[ Mau kabur pun, pasti masih di dalam tumpukan daging ini. ]

Si Pelit memberitahu batas kemampuan Han Taek Soo,

Dan akhirnya, Imoogi cahaya merah itu mencapai satu titik.

Ku-ung!

Sebuah bola kecil yang bergetar.

[ Benar. Itu dia gumpalan dagingnya. ]

Saat Pendeta Wanita menemukan gumpalan daging kecil yang pernah dia lihat.

Gumpalan daging yang tetap pada wujud aslinya yang kecil karena hanya terus menempelkan bagian lain tanpa pernah bisa benar-benar menyatu.

Jjeojeok—

Imoogi itu membuka mulutnya.

Dan menelannya bulat-bulat.

“Um!”

Namun,

“Sial!”

Kekuatannya tidak bisa dikendalikan.

[ Heu-heuk. Itulah sebabnya harus berhati-hati. ]

Diakhiri dengan suara Si Kakek Cengeng, Imoogi cahaya api itu terus melonjak naik.

Sambil terus membawa api milik Cale,

Kwaaaaaaang—!

Kawah itu meledak.

[Kuaaaaakh—]

Di saat Han Taek Soo dan seluruh gunung menjerit,

“Kh!”

Cale yang gemetar hebat akhirnya membuka mulutnya.

Dia menatap langit yang berlubang, langit malam bumi, dan nyaris tidak bisa bicara.

“Hei, hei! Hentikan ini!”

Dan Si Pelit menjawab.

[ Maaf. ]

Suara yang benar-benar terdengar merasa bersalah.

[ Kan aku bilang tidak ada jalan kembali. ]

‘Bukan, maksudku tadi itu aku sudah siap untuk pingsan!’

Cale tidak bisa menghentikannya.

Kobaran api yang tumpah ruah.

-------!!!

Api berbentuk Imoogi yang melonjak bersama aliran api seperti lava setelah menembus kawah.

Api yang melonjak sambil menebarkan cahaya merah keemasan itu...

“Sialan!”

Tidak ada pilihan lain.

Cale berteriak sambil memuntahkan darah.

“Hancurkan semuanya!”

Api yang melonjak itu...

Kugugugung—

Mulai membakar gunung yang runtuh karena kehilangan tubuh utamanya, dan gumpalan daging raksasa yang ditempeli berbagai macam hal itu hingga habis.

[ Khahahaha, inilah yang namanya pertunjukan api! ]

Cale rasanya ingin gila mendengar perkataan Si Pelit.

[ Sepertinya dia akan pingsan. ]

Seperti kata Si Cengeng.

Sepertinya sebentar lagi dia benar-benar akan pingsan.

Kung. Kung.

Kesadarannya mulai menjauh.

Namun dia tidak bisa pingsan begitu saja.

[Kuaaaaaa—]

Tubuh utama Han Taek Soo di dalam Imoogi cahaya api belum sepenuhnya meleleh.

[ Khahaha! Bakar! Bakar! ]

Namun Si Pelit dengan suara penuh kegilaan seolah tidak berniat melepaskan Han Taek Soo.

Kugugugu—!

Dan gumpalan daging yang kehilangan bentuk dan runtuh ke segala arah ini.

Seseorang harus membereskannya.

Imugi cahaya api raksasa yang dibuat Cale membakar gunung dan berkobar hebat hingga sanggup mengusir kegelapan malam.

‘Ha.’

Benar-benar gila.

Tepat saat Cale berpikir demikian,

“Tuan Cale.”

Di kawah gunung yang runtuh,

Choi Han melompat masuk ke sana.

Cale berkata padanya.

“G-gendong—”

Hoeeeekk!!!

Darah menyembur keluar.

“...Baik.”

Choi Han dengan wajah kaku menggendong Cale di punggungnya.

“Daging ini, harus dilenyapkan semua—”

“Iya, aku tahu tanpa kamu harus bicara lagi.”

Saat Cale yang berada di dasar paling bawah dibawa keluar dari lubang oleh Choi Han,

Api raksasa yang terpancar dari tangannya sedang membakar segala penjuru dengan hebat, dan...

“Khuhok, aku Crazy Attention Seeker mulai hari ini hanya akan mengikuti Tuan Cale Henituse. Beliau adalah cahaya, beliau adalah api, beliau adalah segalanya bagiku, khuhuhung!”

—Ini benar-benar bikin nangis!

—Air mata menghalangi pandanganku.

—Inilah yang namanya legenda! Pahlawan tidak akan matiiiii!

—Pertunjukan api terbaik dalam hidupku.

Saat Crazy Attention Seeker, kolom komentar, komunitas, dan para pengguna RMPAG semuanya menumpahkan kata-kata yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa maksudnya...

*****

“Aaaaaakh!”

Di depan pintu ruang sistem lantai 17 kantor pusat Transparent.

Pintu yang sudah hancur hingga sulit dikenali bentuknya.

Namun sebagai pengganti pintu itu, tulang-tulang hitam berjaga dan menahan Han Seo Hyung,

Sementara Han Seo Hyung, anak terakhir yang dikenal sebagai cucu Han Taek Soo, sedang mengeluarkan teriakan mengerikan.

Jiing!

Lalu pintu lift lantai 17 terbuka.

Seseorang turun.

Jeobeok, jeobeok.

Saat orang itu melangkah menuju Han Seo Hyung,

Mary sang Necromancer dengan tangan gemetar berusaha menahan tubuh dan daging Han Seo Hyung bagaimanapun caranya.

Namun melalui celah tulang, Mary yang menjaga ruang sistem tersentak.

“...Anak buah Kaisar Dua.”

Mary mengenali identitas orang yang mendekat.

Orang yang berada di samping Kaisar Dua saat pertarungan di Laut Keputusasaan waktu itu.

Seseorang dengan atribut unik angin.

“Hooo, kita bertemu lagi, Nona Necromancer.”

Wind.

Itu dia.

Jeobeok, jeobeok.

Dan menyusul di belakangnya, 6 orang lainnya turun dari lift.

****

Di saat yang sama, Cale yang digendong Choi Han berkata dengan susah payah.

“Ma, Mary—”

Han Seo Hyung, dia tetap tinggal sendirian berbeda dengan anak-anak Han Taek Soo lainnya.

Artinya, replika Han Taek Soo masih hidup.

Itu juga harus disingkirkan.

Selain itu, situasi ini tidak hanya ditonton oleh Transparent Blood, tapi juga oleh Fived Colored Blood.

Jika Fived Colored Blood melihat bahwa Transparent tidak menang melawan Cale melainkan sedang kalah, mereka tidak akan tinggal diam.

Cale menunjukkan poin tersebut, dan Choi Han menjawab.

“Tuan Eruhaben sudah pergi ke sana.”

Begitu melihat api melonjak dari kawah, Naga Kuno Eruhaben langsung bergerak.

****

Jeobeok...

Anak buah Kaisar Dua, Wind, yang sedang menuju Han Seo Hyung sambil menatap Mary sang Necromancer, menghentikan langkahnya.

Srekk.

Pandangannya beralih ke jendela lorong.

“!”

Mary juga bisa melihat pemandangan di luar jendela lorong.

Sesuatu yang tidak mungkin terlewatkan.

Keberadaan yang sangat besar.

“...Tuan Eruhaben.”

Mary melihat Naga Kuno Eruhaben.

Matanya berbinar.

Pada saat itu.

Choi Han berkata dengan tenang kepada Cale.

“Karena beliau tidak tahu koordinat teleportasi ke sana, beliau terbang dengan tubuh aslinya terlebih dahulu. Dari sini ke kantor pusat tidak butuh waktu lama.”

Saat itu juga.

Kantor pusat Transparent.

Ku-ung!

Seekor Naga Emas raksasa mendarat di atap kantor pusat.

Lalu tubuh raksasanya bergerak menyusuri dinding luar dan langsung mencapai lantai 17.

“Kakek Goldie! Itu anak buah Kaisar Dua!”

Nyaaaaaong!

Nyanyaaaong!

Tentu saja, di atas punggung Naga Kuno itu ada anak-anak rata-rata usia 10 tahun juga.

Choi Han melanjutkan laporannya pada Cale.

Rosalyn pun mendekat ke sisi mereka.

Hanya tersisa dua orang rekan Cale di tempat ini.

“Dan Yang Mulia Alberu juga sudah pergi.”

Uung.

Sambil memegang pedang yang masih memancarkan cahaya matahari, dan memegang Benda Suci yang mengandung kekuatan Dewa Matahari, Alberu memecahkan jendela lorong lantai 17 dan langsung masuk ke koridor.

“Sudah kuduga. Fived Colored Blood tidak akan tinggal diam.”

Begitu Alberu yakin Cale akan menang melawan Han Taek Soo, dia langsung bergerak.

Karena dia berpikir Fived Colored Blood tidak akan membiarkan kejatuhan Han Taek Soo dan Transparent Blood.

Hoeekk!

Meski memuntahkan darah, Cale...

“Kh-kh.”

Dia tertawa.

Sekarang dia benar-benar tidak perlu khawatir lagi tentang apa yang ada di belakangnya.

Tepat saat rasa lega mulai muncul.

“!”

Mata Cale membelalak,

Houekkk!

Dia memuntahkan darah.

Dan Imoogi cahaya api mulai berguncang hebat.

[Kuaaaaaaakh-----!]

Gumpalan daging Han Taek Soo, keberadaan yang sudah seperti racun lama yang hidup lebih dari sepuluh ribu tahun dan menumpuk begitu banyak karma, melakukan perlawanan terakhirnya.

Dan di dalam kepala Cale, Si Pelit berbicara.

[ Cale, um. Maafkan aku. ]

Apa?

Jangan-jangan mereka gagal menangkap Han Taek Soo?

[ Sepertinya aku harus bersama dengan Han Taek Soo. ]

Hah?

Apa maksudnya itu?

[ Kamu juga tahu kan, akhir dari kehancuran adalah ledakan. ]

Apa maksudnya itu?

Sejak kapan akhir dari kehancuran adalah ledakan?

Saat wajah Cale mulai berkerut ngeri,

[ Aku akan meledak bersama Han Taek Soo. Dengan begitu, sepertinya pemurnian juga bisa dilakukan. ]

Ah.

Cale mendesah.

Imoogi cahaya api melonjak ke langit.

Urururu—

Langit menangis.

Pemandangan yang seolah petir menyambar terbalik dari tanah ke langit.

Untuk disebut petir, Imoogi merah keemasan yang terlalu besar itu akhirnya...

Boom!

Meledak bersama dengan racun yang berusia lebih dari sepuluh ribu tahun.

Langit diwarnai dengan warna merah keemasan.

“Uweek.”

Dan Cale mulai memuntahkan darah terus-menerus.

.

Dukung translator disini : 
Donasi disini : THR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor