Trash of the Count Family Book II 546 : Kehancuran yang Mengerikan
Cahaya di Tengah Keputusasaan: Alberu dan Rosalyn
Saat Han Taek Soo menampakkan wujud aslinya dan gumpalan daging itu
mulai meluap...
Wung—
Alberu mencengkeram erat Pusaka Dewa Matahari yang bergetar di
tangannya, Pedang Matahari.
“Ugh!”
“Ughhh.”
Mendengar erangan Presiden Ahn Roh Man dan Rosalyn.
Di saat rasa mual memuncak dan rasa jijik yang luar biasa bersiap
menelan seluruh tubuh mereka begitu melihat gumpalan daging yang meluap itu...
Sring.
Secara insting, Alberu menghunus pedangnya.
Pedang itu bercahaya.
Namun, cahayanya berbeda dari cahaya buatan.
Saat dia menggenggamnya, terasa hangat seperti sinar mentari pagi.
“……”
Alberu menatap pedang yang baru saja ia cabut.
Dia langsung tahu apa yang harus ia lakukan.
Kedua tangannya bergerak.
Ujung pedang diarahkan ke bawah.
Brak!
Saat pedang itu ditancapkan ke tanah, sebuah getaran besar terjadi,
diikuti cahaya yang memancar dengan Alberu sebagai pusatnya.
Tapi itu hanya cahaya kecil.
Tentu saja, Matahari tidak bisa bersinar terang di malam hari.
Karena itulah cahaya yang disalurkan kepada Alberu sangat lemah.
Tapi, jika dengan cahaya ini...
‘Biarpun aku nggak bisa bertarung.’
Biarpun dia tidak bisa membawa pedang ini untuk maju menyerang musuh dan
membantu Cale Henituse,
‘Aku akan bertahan.’
Dia masih bisa bertahan.
Paaaaasss----
Cahaya yang memancar itu menyebar ke sekeliling. Jangkauannya tidak
besar.
Hanya menutupi Alberu, rekan-rekannya, dan area di sekitar mereka.
Ssssss—!
Gumpalan daging itu merayap maju tanpa suara.
“Uwek.”
“Ugh!”
Mereka yang tadi jatuh terduduk sambil muntah dan mengerang, perlahan
mulai sadar berkat cahaya hangat itu.
“Jangan dilihat!”
Perintah Presiden Ahn Roh Man sambil mendekat ke sisi Alberu, memberi
aba-aba pada pasukannya.
“Jangan lihat daging-daging itu!”
Asal tidak dilihat, mereka akan baik-baik saja.
Selama berada di dalam cahaya ini, rasa jijik dan tekanan mengerikan itu
tidak terasa.
“Sialan!”
Namun, amarah meledak di dada Presiden Ahn Roh Man.
Dia merasa sangat kesal.
Jangan dilihat?
Itu sama saja dengan menyuruh mereka menundukkan kepala di hadapan
musuh, bukan?!
Dia datang ke sini bukan untuk melakukan hal memalukan seperti ini!
‘Sial, makhluk itu nggak mungkin bisa dikalahkan!’
Wujud asli Han Taek Soo benar-benar eksistensi yang tidak bisa
ditangani. Bagaimana cara melawan benda seperti itu?
‘Kukira dia cuma sekadar Putra Mahkota...’
Presiden Ahn Roh Man adalah pahlawan yang telah mengalahkan banyak
monster di Bumi ke-3 hingga akhirnya menjadi Presiden.
Dia tahu Alberu—yang terlahir sebagai Putra Mahkota —adalah orang yang
hebat, tapi di sudut hatinya, dia sempat mengira Alberu mungkin punya sisi yang
lemah.
Namun, semakin dia mengenalnya, dia sadar mental Alberu Crossman sama
sekali tidak lemah.
Dan sekarang, dia terpaksa mengakui kekuatan mental sang Pangeran
Mahkota sepenuhnya.
‘Karena dia bertahan.’
Sambil menatap langsung monster itu, Alberu menghunus pedangnya dan
membangun area pertahanan.
“...U... ugh.”
Ahn Roh Man tidak melewatkan erangan pelan yang keluar dari mulut
Alberu.
Tubuh pria yang menggenggam pedang yang tertancap di tanah itu gemetar.
Paaaaass—
Cahaya itu menahan gumpalan daging.
Tapi sepertinya itu pun ada batasnya.
Daging-daging itu terus menyebar dari segala arah.
“Sialan!”
Ahn Roh Man tersentak saat mendengar seseorang meneriakkan isi hatinya,
dan segera menoleh.
Di sana, ada seseorang yang memaksakan diri untuk berdiri meski
terhuyung-huyung.
Seorang wanita berambut merah yang menggigit bibirnya begitu keras
hingga darah segar mengalir turun.
Mana merah bergejolak hebat mengelilinginya.
“Shield!”
Dia langsung membentangkan perisainya.
Perisai merah itu melapisi area cahaya yang dibangun Alberu.
Mata wanita itu tampak merah dan memar.
Namun, mata itu menatap lurus ke arah gumpalan daging tersebut.
Lebih tepatnya, dia berusaha keras memaksa dirinya untuk melihat daging
itu.
‘Aku nggak boleh tertinggal seperti ini!’
Saat Rosalyn melihat wajah pucat pasi Alberu dan Choi Han yang berlari
menerjang daging-daging itu.
Ditambah lagi, saat dia teringat pada Mary yang sedang bertahan
sendirian di markas musuh... Dia tidak membiarkan dirinya jatuh terduduk.
Harga dirinya tidak mengizinkan hal itu.
Bahkan jika dia tidak memiliki Kekuatan Unik, setidaknya dia harus
mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki, bukan?
Mana merahnya membantu cahaya Alberu.
“Sialan!”
Ahn Roh Man menggerakkan tubuhnya yang gemetar dan mengeluarkan alat
komunikasinya.
Lalu dia berbalik.
“Evakuasi semuanya!”
Sambil melangkah pergi, dia memberikan instruksi pada pasukan lain yang
bersiaga di kejauhan.
Di dalam cahaya ini memang paling aman.
Tapi gumpalan daging yang terus menyebar seperti gunung raksasa itu
mungkin akan menghancurkan segalanya.
Karena itu, dia harus mengevakuasi orang-orang sebanyak mungkin.
Karena itu, dia lari.
Dia menuju garis belakang.
Langkahnya semakin cepat meninggalkan medan depan, sebelum gumpalan
daging itu menutupi tempatnya berdiri.
“Mundur!”
Perintahnya pada pasukan khusus yang datang bersamanya.
“Woi, bajingan! Kalau mau muntah, muntah aja! Terus lari! Jangan jadi
beban! Keterlambatan kalian 1 detik bisa bikin satu nyawa melayang!!”
Teriaknya, sementara dia merasakan tekanan di punggungnya.
‘Datang.’
Benda itu mendekat.
Daging raksasa itu.
Benda menjijikkan itu akan menekan segalanya.
Apakah cahaya Alberu dan perisai Rosalyn sanggup bertahan dari gumpalan
daging yang luar biasa itu?
Mampukah manusia menahan beban sebuah gunung?
Gumpalan daging itu bahkan tidak melakukan serangan khusus.
Benda itu hanya memancarkan rasa jijik dan merangsek maju dengan massa
yang sangat masif.
Melarikan diri maupun bertahan, keduanya terasa sama-sama putus asa.
Saat itulah.
Sebuah suara terdengar dari belakang punggungnya.
Sang Naga Kuno tersenyum.
“Hanya bertahan saja ada batasnya.”
Naga Kuno, Eruhaben.
“Gumpalan daging itu sebenarnya adalah kumpulan daging-daging yang
dijahit menjadi satu.”
Wunggg—
Debu emas putih berputar mengelilinginya.
Debu yang jumlahnya tak terhitung itu mulai bergerak.
“Kita serang celah sambungannya satu per satu.”
Naga Kuno itu melangkah ke depan Rosalyn dan Alberu, anak-anak yang
bahkan belum hidup sepersepuluh dari usianya.
Tentu saja, karena anak-anak dengan usia rata-rata 10 tahun adalah yang
termuda, dia menyembunyikan mereka di belakang Alberu.
“Karena ini pertama kalinya, mungkin nggak akan mudah, tapi karena
kemungkinannya tinggi, aku akan mencobanya.”
Meski terlihat seperti satu kesatuan daging raksasa, pada akhirnya itu
adalah campuran, sehingga batas-batas sambungannya masih terlihat.
Dan batas itu...
‘Sepertinya aku bisa mengubahnya jadi debu.’
Atribut Eruhaben memberitahunya layaknya sebuah insting.
‘Ternyata bukan cuma bertahan, tapi ada cara buat melawannya!’
Menemukan cara untuk menghalau sebagian dari gumpalan daging yang
menyerbu itu!
Ahn Roh Man merasa lega mendengar suara Eruhaben di belakangnya.
“……!”
Dan saat itu.
Urururu—
Dia tidak mendengar suara gemuruh dari langit.
Atau lebih tepatnya, dia tidak sempat mempedulikannya.
Punggungnya terasa sangat panas.
Hawa panas yang luar biasa itu membuatnya refleks menoleh.
Padahal dia tadinya berusaha tidak melihat ke arah Han Taek Soo karena
melihatnya saja sudah membuat mual, tertekan, dan ingin menyerah.
Namun, berbeda dengan cahaya hangat fajar dari pedang Alberu, ini adalah
hawa yang sangat panas, seolah siap membakar segalanya hingga udara di
sekitarnya pun terasa ikut mendidih.
“...Ah.”
Ahn Roh Man yang berbalik kini melihat sebuah pilar api raksasa yang
menghubungkan langit dan bumi.
Seorang manusia yang berada di antara langit dan bumi.
Di dalam api itu, satu-satunya eksistensi yang bergerak, Cale Henituse,
sedang membuka jalan yang membara.
Di jalan yang ia lalui, daging-daging itu tidak lagi bisa merangsek
masuk.
“Bukan.”
Bukan begitu.
“Malah sebaliknya.”
Bukan daging itu yang tidak bisa masuk.
Tapi Cale Henituse-lah yang merangsek maju ke arah gunung daging itu.
Cale yang menerobos masuk, dan di setiap tempat yang ia lewati, api
berkobar, membakar semuanya hingga habis.
Sebuah jalan hitam legam mulai terbentuk.
Namun, di atas jalan itu, api merah-emas masih berkobar liar.
Sebuah gunung daging dan seorang manusia yang berniat membakarnya.
Seharusnya dia tertelan.
Tapi sebaliknya, jalan menuju inti gunung itu justru semakin terbuka
oleh manusia yang menggenggam api tersebut.
Cale Henituse yang maju tanpa ragu sedikit pun.
“Hm?”
Alis Ahn Roh Man berkerut.
Tanpa sadar dia menggunakan kemampuannya untuk menajamkan
penglihatannya.
Kini dia bisa melihat sosok Cale Henituse di dalam api dengan jelas.
“...Dia senyum?”
Dasar orang gila!
“Ha, haha!”
Namun, Ahn Roh Man sendiri ikut tertawa.
Dia kembali berbalik.
Berbeda dengan sebelumnya, langkah kakinya saat menjauh kini tidak
menyiratkan keputusasaan sedikit pun.
Mungkin seperti inilah wujud manusia pertama yang menyalakan api di
tengah kegelapan malam.
Hanya dengan melihat Cale Henituse, Ahn Roh Man tidak lagi merasa takut.
Baik pada masa depan, kegelapan, maupun keputusasaan.
‘Jadi ini alasannya.’
Dia akhirnya paham kenapa Alberu, Rosalyn, Choi Han, dan yang lainnya
terus menatap ke depan dan maju.
Dia paham kenapa mereka berusaha keras untuk bertahan.
Karena punggung orang yang memimpin di garis paling depan sama sekali
tidak memancarkan keraguan.
****
Menuju Kawah Keputusasaan
Blup.
Gumpalan daging yang meluap itu berguncang.
Tekanannya terasa seperti tsunami yang akan menghantam.
“Ugh.”
Alberu mengerang, dan Eruhaben yang berusaha memutus sambungan daging
pertama juga terlihat kesusahan.
Pft.
Tapi keduanya malah tertawa pelan.
Tes.
Darah menetes dari bibir Alberu, dan wajah Eruhaben sudah basah oleh
peluh, tapi mereka sama sekali tidak bersedih.
“Ya, mengamuklah sesukamu,”
Ucap Naga Kuno Eruhaben dengan tenang.
[Beraninya kau melompat masuk.]
Sebuah suara aneh terdengar.
Bukan suara satu orang.
Melainkan suara ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang berbisik
bersamaan.
Karena di dalam daging itu terdapat tak terhitung banyaknya nyawa.
Suara yang dimuntahkan oleh semua mulut itu terdengar tenang namun
sangat masif.
Dan Cale...
[ Khahahaha, Cale, abaikan saja! ]
Cale mengabaikan Han Taek Soo maupun si Pelit. Dia hanya melakukan apa
yang harus dia lakukan.
Deg, deg, deg!
Jantungnya berdetak kencang seolah tak terkendali.
[ Hiks, gawat...! ]
Kakek Cengeng Vitality of Heart berbicara dengan suara merengek, tapi
Cale hanya bergumam.
“Kan kubilang, nggak ada jalan mundur.”
Dia terus naik.
Kuaaaaa—
Diiringi suara gemuruh, setiap kali dia melangkahkan kakinya...
Pajijik!
Petir merah-emas menyambar dan daging-daging itu hangus terbakar.
‘Nggak beregenerasi.’
Jalan hitam yang dibuat Cale tetap bertahan sebagai bekas luka yang tak
bisa hilang.
‘Puncaknya.’
Jalan itu terbentuk semakin cepat menuju puncak gunung daging tersebut.
‘Semuanya mengalir keluar dari sana.’
Pusat dari Han Taek Soo ada di atas sana.
Blup.
Sekali lagi, pergerakan besar terjadi.
[Apa kau sudah mendapat izin dariku untuk bertindak lancang seperti
itu?]
Cale bisa melihat daging-daging melonjak dari sisi kanan dan kirinya.
Daging yang menyapu layaknya tsunami.
Dalam sekejap, daratan tempat Cale berpijak berubah bentuk layaknya
ngarai yang tertutup.
Seolah gunung itu memiliki kehendak sendiri dan menciptakan jebakan
kematian yang curam di depan Cale.
Pajijik!
Di saat Cale merasa tubuhnya seolah telah berubah menjadi api, dengan
cahaya merah-emas yang menyelimuti hingga ke setiap helai rambutnya...
Blup!
Tebing ngarai yang tercipta untuk menjepit Cale itu bergerak runtuh
menimpanya.
[Perlawanan yang sia-sia—]
Melihat gumpalan daging yang tumpah ke arahnya, Cale menghentakkan
kakinya kuat-kuat.
Pilar api yang menghubungkan bumi dan langit.
Daging yang terus berjatuhan ke arah pilar itu seolah tak ada habisnya.
Api Cale, atau tubuh Han Taek Soo? Seolah saling menguji batas
kemampuan, keduanya saling berbenturan tanpa ada yang mau mengalah.
Jijijik, jijiik!
Cale melesat ke atas menaiki pilar apinya. Berkat itu, dia berhasil
menghindari ngarai yang runtuh menimpanya dan kini berada di udara, menatap
langsung ke puncak gunung daging tersebut.
‘Hm!’
Cale terdiam.
‘Nggak ada.’
Sama sekali tidak ada wajah Han Taek Soo atau jejak manusia apa pun di
sana.
“Hm.”
Gumamannya keluar begitu saja.
[ Mengerikan. ]
Kata-kata Super Rock benar.
Di puncak gunung tempat daging-daging itu meluap.
Tidak ada jejak manusia di sana.
Yang ada hanyalah sesuatu yang menyerupai kawah gunung berapi.
Dari sanalah daging-daging itu terus menyembur keluar.
Itu bukan manusia, bukan monster, seolah bukan apa-apa.
[ Itu daging. ]
Suara Si Rakus (Pendeta Wanita) terdengar.
[ Itu emang daging. Dan semua itu adalah makhluk yang udah dia makan. ]
Eksistensi yang memuntahkan nyawa yang telah ia makan selama sepuluh
ribu tahun.
Saat itu, kawah tersebut bergerak.
[Apa kau sanggup menanggungnya?]
Suara pelan yang mengandung tawa.
Suara puluhan ribu orang yang
bersatu itu, meski pelan, membuat seolah bumi bergetar.
[ Cale, bentar lagi area sekitarnya bakal ketutup semua. ]
Ucap Super Rock.
[Tidak ada eksistensi yang sanggup menanggungku.]
Han Taek Soo tidak menyebut tentang siapa yang akan membunuhnya atau
melukainya.
Dia hanya bilang tidak ada yang sanggup menanggungnya.
Baik Dewa maupun Wanderer, tidak ada yang sanggup menghadapinya.
Itulah hasil dari waktu yang telah ia kumpulkan.
[Apa apimu sanggup menanggungku? Berani sekali kau. Pada dasarnya, semua
hal di dunia ini punya akhir. Tapi aku telah melewati akhir itu melalui waktu
yang tak terhitung jumlahnya.]
Gunung raksasa Han Taek Soo memuntahkan apa yang telah ia kumpulkan
tanpa henti.
[Kau tidak akan sanggup—]
Begitu kata-kata itu berakhir.
Cale bergerak.
Pahlawan Tidak Pernah Mati
“Crazy Attention Seeker, apa rekamannya jelas?”
“Siap! Terima kasih, Tuan Raon!”
Seluruh pemandangan itu disiarkan langsung ke Bumi dan New World.
Dan semua yang melihat kejadian berikutnya dibuat syok berat.
“Ayo pergi.”
Cale dan si Pelit bergerak bersama.
Pilar api yang menghubungkan bumi dan langit itu bergerak mengikuti Cale
yang melesat maju.
Sosoknya bagaikan komet merah.
[ Benar, daging ini dulu juga kayak gini. ]
Alasan kenapa Cale diam mendengarkan semua ocehan Han Taek Soo.
Karena Si Rakus menyadari satu hal dan memberitahunya.
[ Suara daging itu asalnya dari dalam. ]
Di dalam.
Bukan dari daging atau tubuh manusia yang tampak di luar, melainkan dari
kedalaman gunung raksasa itu.
[ Pasti daging itu juga punya kelemahan. ]
Cale setuju dengan ucapan Si Rakus.
‘Kalau dia emang eksistensi abadi yang sesungguhnya—’
Jika Han Taek Soo benar-benar abadi...
‘Dia nggak akan punya insting bertahan hidup.’
Informasi bahwa Han Taek Soo melepaskan kulitnya dan memperlihatkan
wujud aslinya karena didorong oleh insting bertahan hidup.
Maknanya sangat jelas.
‘Han Taek Soo juga bisa mati.’
Dan dia punya titik lemah.
Cale sadar bahwa membakar bagian luarnya yang terus-menerus disemburkan
tidak ada gunanya.
Kalau begitu...
Deg, deg, deg.
Di mana dia harus meledakkan api liar yang tak terbendung ini?
Cale, sang komet merah, melesat bagaikan angin.
[Berani sekal—]
Menuju kawah yang memuntahkan daging itu.
Mengabaikan suara Han Taek Soo, Cale masuk ke dalamnya.
‘Aku nggak akan mati.’
Cale melompat masuk ke dalam kawah tersebut.
Ke tempat di mana ribuan suara itu berasal, untuk mencari titik lemah
yang pasti ada di sana.
[ Kau ini benar-benar nggak mikir jalan mundur ya. ]
Cale mengabaikan komentar Super Rock.
Sementara itu, kolom chat dan para pengguna New World menjadi geger.
-Tidaaaak!
-Gila, dia mau bunuh diri?!
-Uweeeek
-Tutup aja layarnya, main sendiri sana!
-Uwek.
-Ini bukan waktunya kita asyik grinding!
-Log out sekarang, ayo ke kantor pusat Transparent!
-Woi. Bukannya kita harus bantuin orang itu?
-Aku cuma rakyat jelata kalau di luar New World!
Kenapa mereka panik?
-Dia hilang!
-Dia dimakan, kan?!
Karena sosok Cale tidak terlihat lagi.
Api itu pun ikut menghilang. Kawah itu telah menelan habis baik api
maupun Cale.
-Ah.
-…….
Kini yang tersisa di layar hanyalah wujud asli Han Taek Soo.
Di saat itu, semua orang menyadarinya.
-…Aku nggak sanggup nonton lagi.
Bahwa di tempat yang tadinya diisi oleh api Cale, kini hanya tersisa
teror dan rasa jijik yang dipancarkan oleh monster itu.
“Enggak!”
Di saat itulah, si Crazy Attention Seeker yang gemetar ketakutan dan
jijik tetap mencengkeram erat kameranya dan berteriak.
“Sekarang saatnya!”
Teriaknya.
“Jangan bodoh, jangan dimatikan sekarang! Ini saatnya, sekarang!”
Si Crazy Attention Seeker sudah cukup memahami Cale.
Dia adalah orang yang tidak pernah melakukan tindakan sia-sia.
Jadi, ini adalah momennya. Bukankah di film-film selalu seperti ini?
“Pahlawan... pahlawan itu—!”
Sambil gemetar hebat, menangis, dan hidungnya mimisan, si Crazy
Attention Seeker berteriak kencang.
Wujud asli Han Taek Soo dan kawah itu bersiap kembali bicara.
[Bodoh sek—]
Tapi kata-kata itu tidak pernah selesai.
Bluk, bluk, bluk!
Gunung raksasa itu bergejolak.
Gumpalan dagingnya mulai bergetar hebat.
Layaknya gunung berapi yang bersiap untuk meletus.
Si Crazy Attention Seeker sadar momennya telah tiba, dan dia berteriak
sekuat tenaga hingga tenggorokannya nyaris putus:
“PAHLAWAN NGGAK AKAN PERNAH MATIIII!”
Dan kemudian...
KUUUAAAANGGG----!
Puncak gunung itu.
Alih-alih daging, kobaran api mulai meletus keluar dari sana.
Api yang semerah lava.
Api yang menyemburkan cahaya merah-emas layaknya abu vulkanik.
[Kkkkaaaaaarrrghhh---!!]
Untuk pertama kalinya, Han Taek Soo memuntahkan jeritan kesakitan.
Jeritan yang merupakan gabungan dari puluhan ribu suara.
“Ugh.”
Cale mengernyit mendengar suara itu, tapi dia tidak bisa menutup
telinganya.
Di dasar paling bawah dari gunung daging itu...
Cale menunjuk ke arah langit dengan kedua tangannya.
Mengikuti gerakannya, petir api melesat naik dan meledak bagaikan
letusan lava.
“Ugh, uhuk.”
Seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Darah terus-menerus menyembur dari mulutnya.
Cale merasakan tekanan yang menghimpit sekujur tubuhnya.
Rasanya seolah tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
.
.

.png)
Komentar
Posting Komentar