Trash of the Count Family Book II 545 : Kehancuran yang Mengerikan
Meski malam tiba, Bumi
3 tidaklah gelap.
Sebaliknya, meski
langit gelap karena bintang sulit terlihat, daratan bisa bersinar sangat megah
dengan banyaknya lampu.
-Wah...
-Gila, apaan
tuh?
Kecepatan kolom chat
mulai melambat.
-Dewa.
-Gila keren
banget.
-Edan.
Namun, cahaya dari
lampu penerangan itu berbeda dengan api.
Bukan, cahaya itu
sendiri berbeda dengan api.
Cahaya merah-emas yang
berkobar dan bergejolak itu.
Meski jelas-jelas
bersinar, wujudnya membuat siapa pun teringat pada api.
Tanpa ada pola sedikit
pun, hanya ada kebuasan tak berujung yang terus berkobar dan berkobar.
Cale Henituse yang
diselimuti oleh cahaya merah-emas itu mengendalikannya seperti api.
Cahaya dari tiang
listrik.
Lampu-lampu di sekitar
kediaman.
Bahkan cahaya dari
lampu yang disorotkan oleh mereka yang berkumpul untuk mengepung kediaman Han Taek
Soo, maupun para wartawan yang datang meliput kejadian luar biasa ini.
Semuanya terlihat
sangat menyedihkan di hadapan api tersebut.
DUAAAANG-!
Api yang berkobar itu
menabrak Han Taek Soo.
DUAAAANG!
DUAAANG!
Suara ledakan
berturut-turut menggema.
-Gila, lengan
apaan itu!
-Crazy Attention
Seeker, kamu bisa mati kena imbasnya! Menyingkir!
Lengan Han Taek Soo
yang tadi terpotong kini tumbuh kembali.
Bukan, itu bukan
lengan, melainkan gumpalan daging.
Banyak daging yang
bercampur aduk, dan bagian-bagian tubuh menempel secara acak di sana.
Benar-benar
menjijikkan.
Kuaaaaaa!
Gumpalan daging itu
melawan api Cale seolah sedang melindungi Han Taek Soo.
Timur, Barat, Selatan,
Utara.
Meskipun Cale bergerak
dan menyerang dari segala arah.
Kuaaaaaa—
Lengan itu berhasil
menahannya.
Tuk.
Pluk.
Tentu saja, daging itu
hangus terbakar dan terus berjatuhan ke lantai.
Terpotong.
Tapi daging baru
tumbuh kembali.
‘Itu bukan daging
baru.’
Cale menyadarinya
dengan jelas.
‘Tubuh asli Han Taek
Soo itu monster.’
Wujud aslinya pasti
berupa gumpalan daging yang luar biasa besar.
Dari rekaman CCTV yang
dilihat Manajer Cha saja, ukurannya cukup besar untuk memenuhi seluruh ruang
penelitian.
‘Bahkan itu pun
katanya cuma sebagian.’
Kepala Sekretaris Kang
Geun Mok. Satu-satunya orang yang pernah melihat wujud asli Han Taek Soo pernah
bilang:
“Ukurannya mungkin
lebih besar dari seekor Naga.”
Eksistensi yang
bertahan hidup lebih dari sepuluh ribu tahun memang selevel itu.
“…..”
“…..”
Cale dan Han Taek Soo
saling menatap.
Kuaaaaaa—
Sekali lagi petir api
menyambar ke arahnya, dan ketika Han Taek Soo kembali menciptakan—atau lebih
tepatnya, mengeluarkan sebagian dari tubuh aslinya untuk menahannya...
“Apa kamu mau mengulur
waktu, atau berniat memburuku pelan-pelan begini?”
Tanya Han Taek Soo.
“Entahlah?”
Saat Cale mengangkat
bahu, Han Taek Soo berkata dengan datar.
“Bodoh. Cuma
buang-buang waktu.”
“Kenapa?”
Cale balas bertanya
dengan nada menggoda.
“Kamu sendiri, kenapa
nggak melawan?”
Han Taek Soo sedari
tadi hanya bertahan.
Meski dia tahu
kekuatan Cale bisa jauh lebih kuat dari serangan-serangan ini, dia hanya
melakukan pertahanan minimal.
“Kamu sendiri kenapa
mengulur waktu?”
Mendengar itu, sebuah
senyum kecil muncul di wajah datar Han Taek Soo.
Pandangannya beralih
ke sekeliling.
Anak-anaknya yang kini
telah selesai melepaskan kulit mereka.
“---!”
“—!”
Anak-anaknya yang tak
bisa bicara itu bergerak sesuai perintahnya.
Bukan hanya menuju
musuh di koridor, tapi anak-anak itu juga bergerak menuju pasukan Ahn Roh Man
yang mendekati kediaman.
“Uweeeek!”
“Ughhh!”
Beberapa anggota
pasukan khusus—orang-orang yang telah melalui pertempuran dan latihan
keras—tanpa sadar jatuh terduduk dan muntah begitu melihat wujud anak-anak itu.
Sebagian besar
menahannya dengan paksa, tapi mereka tidak bisa mendekat dengan mudah.
-Aku nggak
sanggup lihat.
-Rasanya mau
muntah.
-Ugh.
Manusia yang secara
naluriah menunjukkan penolakan terhadap wujud asli anak-anak itu.
Eksistensi dengan
mental yang lemah.
Han Taek Soo sangat
memahami batasan manusia.
“Waktu ada di pihakku,
target kalian bukan aku.”
Ucap Han Taek Soo
dengan tenang.
Mata Cale sedikit
mengernyit.
Han Taek Soo
melanjutkan.
“Target kalian adalah
New World. Dan kalian nggak akan bisa memilikinya.”
Alasannya sederhana.
“Karena anakku yang
akan melindungi New World.”
Mantan Direktur Han Seo
Hyung.
“Anak terakhirku itu
adalah penerusku.”
Satu-satunya tangan
Han Taek Soo yang masih utuh menunjuk ke arah Cale.
“Selama nggak ada
kamu, nggak ada yang bisa menghentikannya.”
Deg. Deg.
Han Taek Soo menikmati
peringatan yang dikirimkan oleh insting dari dalam dirinya.
Peringatan bertahan
hidup yang sudah lama tak ia rasakan.
Untuk menghadapi musuh
seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah tidak melupakan tujuan.
“Waktu ada di pihakku.”
Selama New World tidak
direbut,
“Bumi juga milikku.”
Selama dia tidak
kehilangan banyak mangsa—manusia—yang ada di Bumi.
Asal tidak melupakan
esensinya, semuanya akan baik-baik saja.
Entah dia melepaskan
kulitnya, atau membuang hal-hal yang merepotkan, pada akhirnya Bumi dan New
World akan menjadi miliknya.
Han Taek Soo sangat
menyadari esensinya.
Entah itu Transparent
Co., Ltd.
Ketua Kehormatan.
Nama Han Taek Soo.
Atau Transparent Blood
Family.
Semuanya hanyalah
kulit luar.
Deg. Deg.
Selama dia tidak
melupakan esensinya dan mendengarkan insting dari dalam, dia tidak akan
kehilangan tujuannya.
Deg. Deg.
Peringatan dari dalam
dirinya perlahan mengecil.
Senyum Han Taek Soo
semakin lebar melihat ekspresi Cale yang menegang di hadapannya.
“Jadi sekarang kamu
mau menguasai Bumi pakai kekerasan?”
Tanya Cale.
Han Taek Soo
mengangguk.
“Karena itu milikku.”
Karena tempat ini akan
menjadi mangsanya, atau mangsa bagi sang Kandidat Dewa Absolut.
“……”
“……”
Han Taek Soo menatap
tajam ke arah Cale yang terdiam.
Apakah akan muncul
rasa jijik?
Atau ketakutan?
Peluangnya besar bahwa
musuh yang muncul di hadapannya akan menunjukkan salah satu dari dua emosi itu.
Pft.
Tapi tiba-tiba, Cale
tertawa.
“……!”
Tepat saat alis Han Taek
Soo sedikit terangkat.
“Mengulur waktu, ya.”
Cale bukan sedang
mengulur waktu.
Dia sedang menakar
situasi.
“Boleh juga. Ayo kita
bertarung dengan menyenangkan.”
Tidak terlihat sedikit
pun kepanikan pada diri Cale.
Baik kepanikan
terhadap kantor pusat dan sistem Transparent Co., Ltd, maupun kepanikan karena
ingin segera membunuh Han Taek Soo... sama sekali tidak terlihat.
[ Hmph! ]
Si Pelit mendengus.
[ Kalau cuma
disuruh bertahan dan bukan bertarung sih, dia pasti bisa melakukannya! ]
Kantor Pusat Transparent
Co., Ltd.
Cale hanya mengirim
satu orang rekannya ke sana.
Klatak. Klatak.
Saat wujud asli
anggota keluarga Transparent terlihat di layar ruang sistem.
“Ugh.”
“Ughhh.”
Di antara orang-orang
yang berusaha keras menahan rasa mual mereka...
Klatak, klatak.
Klatak. Klatak.
Terdengar suara aneh.
Semua mata tertuju
pada seseorang yang berdiri di dalam bayangan ruangan kantor.
Tap, tap.
Orang yang melangkah
maju dengan tenang itu berdiri tepat di samping mesin utama sistem—sebuah bola
logam hitam—seolah sedang melindunginya.
Klatak, klatak.
Suara yang mirip
dengan panduan navigasi memenuhi ruang sistem.
“Aku sudah
menyimpulkan kondisi musuh, Mantan Direktur Han Seo Hyung.”
Di salah satu layar
CCTV, terlihat wujud Mantan Direktur Han Seo Hyung di luar pintu ruang sistem
yang perlahan berubah menjadi gumpalan daging.
“Aku akan memulai
pertahanan yang sesuai.”
Necromancer Mary.
Mengikuti gerakan
tangannya, tulang-tulang mulai bergerak.
Pintu ruang sistem dan
dinding di sebelahnya...
Tulang-tulang itu
merapat menutupi semuanya.
“Kalau ini pertarungan
antara tulang dan daging, patut dicoba.”
Tulang-tulang disusun
rapat tanpa celah sedikit pun.
Tulang yang
terus-menerus keluar dari kantong ruang spasial Mary, dan masih tersisa sangat
banyak.
Meski Mary sendirian,
Cale mengirimnya ke sini karena Mary adalah yang terbaik dalam pertarungan
kuantitas.
“...Dinding tulang
putih.”
Saat Dr. Kang Tae wan
bergumam melihat dinding yang terbuat dari tulang-tulang putih itu...
“Ini tahap 1,”
Ucap Mary dengan
tenang.
“Kalau bahaya, aku
naik ke tahap 2.”
Mary memejamkan
matanya.
Deg. Deg.
Dia merasakan Mana
Mati yang berdegup di dalam dirinya.
Kalau tulang putih
berada dalam bahaya, dia akan mewarnainya dengan tulang hitam.
“Aku akan bertahan.”
Mary merasa medan
pertempuran hari ini sangat cocok baginya untuk memacu diri dan menjadi lebih
kuat demi melawan Kaisar Dua nanti.
Setelah membuka mata,
Mary menatap bola logam sistem dan berkata.
“Tolong bagikan semua
informasi secara real-time.”
Biiip!
Sistem merespons
dengan singkat.
“!”
“----!!”
Meski yang lain
terkejut melihatnya, sistem sudah mulai bergerak.
Biiiiiip—
Sistem yang telah
mengambil alih seluruh gedung kantor pusat Transparent mengeluarkan perintah
evakuasi bagi orang-orang, lalu segera menyiarkan wujud Han Seo Hyung dan
bawahannya di depan ruang sistem kepada para pengguna New World bersama siaran
si Crazy Attention Seeker.
Sambil memikirkan
pertarungannya dengan Lee Hwang nanti, Mary membulatkan tekadnya dengan tenang.
“Aku nggak akan jadi
beban.”
Di antara kelompok
Cale, orang dengan bakat yang setara dengan Choi Han—atau tepat di
bawahnya—adalah Mary.
Dia adalah orang yang
selalu bertahan dari rasa sakit yang setara dengan kematian.
Tidak peduli apakah
musuhnya sudah hidup lebih dari sepuluh ribu tahun, dia yakin bisa menahan
serangannya.
Dan Cale sedang
memikirkan hal itu.
‘Kalau bukan
disuruh bertarung, tapi cuma bertahan... Mary pasti bisa melakukannya!’
Bukan cuma dirinya
yang paham dengan situasi ini.
Yang Mulia Putra
Mahkota, Rosalyn, Raon, Eruhaben, Choi Han, dan lain-lain.
Semua rekannya punya
kemampuan untuk membaca situasi ini dan memikirkan langkah selanjutnya.
‘Aku percaya pada
mereka.’
Demi melawan Kaisar
Dua, Cale akan mempertaruhkan segalanya dan bertarung habis-habisan.
‘Untuk itu, aku
harus memercayai barisan belakangku.’
Sama seperti dia
memercayai Ketua Tim Lee Soo Hyuk, Choi Jung Soo, dan anggota tim lainnya dulu.
Pada dasarnya, seorang
supporter tidak akan bisa memberikan hasil terbaik jika tidak memercayai
rekan timnya.
Tentu saja, untuk saat
ini...
‘Walaupun aku bukan
supporter sih.’
Lebih tepat disebut
sebagai Kapten Pasukan Penyerang (Vanguard).
Peran seorang vanguard
sangatlah sederhana.
“Ayo kita bertarung
dengan menyenangkan.”
Cale berniat
melaksanakan kata-kata yang dia ucapkan pada Han Taek Soo.
Waktu menakar sudah
selesai.
Urururu—
Cale mengulurkan
tangannya ke arah langit yang sedang menangis.
Deg. Deg. Deg. Deg.
Han Taek Soo merasakan
getaran gila dari dalam dirinya.
Lepaskan kulitmu!
Lepaskan kulitmu!!
Instingnya memberi
peringatan.
Ekspresinya berubah.
“Baiklah. Ayo kita
bertarung.”
Toh, waktu ada di
pihaknya.
Han Taek Soo berhasil
selamat saat banyak manusia dan monster lain mati.
Karena itu dia yakin.
Kali ini pun dia akan
hidup.
Itu adalah bakatnya
yang telah dibuktikan oleh waktu.
Tuk. Tuk.
Kulit Han Taek Soo
mulai mengelupas.
Dan kemudian, meluap.
“Mundur!”
“Kita harus mundur!”
Choi Han dan Raon
buru-buru mundur.
Mirip seperti
gelombang abu-abu yang menyapu saat mereka pertama kali melihat Dewa Kekacauan.
Sesuatu meluap dan
menyebar ke segala penjuru.
Itu jelas merupakan
bagian tubuh manusia.
Gumpalan daging.
Sesuatu dengan wujud
tak jelas mulai menampakkan dirinya.
“---!”
Rasa penolakan yang
luar biasa membuat pikiran si Crazy Attention Seeker seolah lumpuh sesaat.
Bersamaan dengan itu,
rasa mual kembali datang.
Dia muntah.
Rasanya ingin
memuntahkan seluruh isi perutnya.
Dan di saat yang sama,
rasa takut menyergapnya.
‘Aku melihat
sesuatu yang nggak boleh dilihat.
Aku melihat sesuatu
yang seharusnya nggak ada.
Bukan.
Rasanya aku bakal
dimakan.’
“Kita harus pergi.”
Meski digendong oleh
Choi Han yang berlari mundur, si Crazy Attention Seeker tetap mengangkat
kameranya.
Makhluk mengerikan itu
menakutkan.
Menyeramkan.
Menjijikkan.
Tapi, makhluk itu
mengincar Bumi, mengincar dirinya.
Pikirannya mulai
bekerja lagi.
Si Crazy Attention
Seeker tidak menyadarinya, tapi karena dia digendong oleh Choi Han, cahaya
hitam kecil milik Choi Han ikut menyelimuti tubuhnya.
Kekuatan Unik Choi Han
yang berjalan di jalannya sendiri tidak goyah sedikit pun di hadapan Han Taek
Soo.
“Ugh!”
“Hm!”
“Uwek!”
Anak-anak rata-rata
usia 10 tahun itu dibawa mundur oleh Eruhaben.
Bahkan Raon yang
tadinya masih bertahan, begitu melihat wujud asli Han Taek Soo...
“……”
“……”
Dia terlihat
kesusahan.
Choi Han bertatapan
dengan Eruhaben.
Dari tatapan mata Naga
Kuno yang bergetar menahan sakit itu, Choi Han tahu bahwa situasinya tidak
menguntungkan.
Apakah semua makhluk
hidup secara insting merasa jijik pada makhluk itu?
‘Aku nggak apa-apa.’
Akhirnya Choi Han
menyadarinya.
Dia tidak goyah.
Paaaass!
Di sela-sela gumpalan
daging yang meluap itu... Cahaya memancar dari bawah kediaman.
‘Matahari.’
Cahaya itu pasti milik
Matahari.
Cahaya yang bersinar
sendirian di wilayah suci Dewa Kekacauan.
‘Aku harus ke sana.’
Choi Han menyerahkan
si Crazy Attention Seeker pada Eruhaben.
“Pergilah ke sana!”
Ini bukan waktunya
mengurus Klan Transparent atau para Hunter-nya.
Wujud Han Taek Soo
yang meluap menutupi seluruh kediaman dan terus tumpah keluar seolah ingin
menguasai taman dan area sekitarnya.
Gumpalan daging
sebesar gunung raksasa.
‘Aku nggak bisa
membiarkan Tuan Cale bertarung sendirian!
Aku baik-baik saja.
Aku harus pergi.’
Choi Han segera
memutuskan untuk pergi ke sisi Cale.
Namun, satu pikiran
melintas di benaknya.
‘Walau mungkin ini
cuma bantuan kecil...’
Ya. Walau kekuatannya
masih lemah, dia tetap harus membantu.
Untuk menghadapi Kaisar
Dua dan Han Taek Soo, Choi Han masih terlalu lemah.
Jarang sekali dia
merasa begini, tapi di depan musuh yang sesungguhnya ini, dia merasa lemah.
Sifat uniknya juga
belum sepenuhnya mekar.
Meski begitu, dia
berniat untuk bertarung.
Untuk pertama kalinya.
Dia ingin kembali ke
masa-masa di Forest of Darkness dulu.
Lalu, saat dia
berbalik melihat Cale...
“Ah.”
Choi Han menyadari
satu hal.
Sensasi saat itu.
Sensasi mempertaruhkan
segalanya untuk bertarung.
Fakta bahwa dia tidak
memiliki jalan mundur.
Pemandangan di
depannya menyadarkannya akan hal itu.
Urururu—
Cahaya merah-emas yang
bergejolak di antara awan di langit malam.
Cahaya-cahaya itu
berkumpul.
Dan kemudian,
“Lautan api!”
Saat Cale menurunkan
tangannya.
Kuaaaaaaa----!
Cahaya merah-emas yang
menyambar dari langit langsung digenggam oleh tangan Cale.
Cahaya yang berkobar
terang.
Api raksasa yang
menghubungkan langit dan bumi.
Itu terlihat seperti
pilar api.
Dan di pusat api itu,
ada Cale.
“Ugh.”
Erangan keluar dari
mulut Cale.
Deg. Deg. Deg!
Jantungnya berdegup
kencang.
Api raksasa yang
menghubungkan langit, bumi, dan dirinya ini...
Kobaran api yang
menyelimuti seluruh tubuh dan tangannya ini benar-benar luar biasa.
Mengendalikannya
tidaklah mudah.
Api yang berkobar liar
tak terkendali.
Kobaran api yang penuh
dengan kebuasan tanpa batas dan arogansi yang mampu membakar satu benua penuh
dead mana.
Ya, ini adalah jalan.
Jalan yang utuh yang
akan tercipta dari api, membelah lautan gumpalan daging yang meluap itu.
[ Ini benar-benar
kekuatan penuh kita. ]
Si Pelit berkata
pelan.
[ Nggak ada jalan
mundur, Cale. Kita sekarang nggak punya jalan mundur. ]
Mendengar itu, Cale
tersenyum.
Dia melemparkan
tubuhnya ke arah Han Taek Soo.
Ya, dia menembakkan
semua yang dia miliki.
Kalau dia sudah
memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya, bukankah dia harus melihat sampai
mana batasannya?
Melihat pemandangan
itu, Choi Han mencengkeram erat pedangnya.
Cale yang dulu membuat
orang merinding karena tekanan suci dan indahnya... kini hal itu tidak terlihat
dari apinya.
Yang terlihat hanya
sosok yang menerjang maju seolah jalan yang ia lalui adalah satu-satunya
jawaban, siap membakar habis rintangan sekasar apa pun.
Kebuasan itu.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Choi Han
berdetak kencang.
Dari api liar itu,
Choi Han merasakan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini terkunci di dalam
dirinya.
Kuaaaaaa----
Sebuah jalan tercipta
di antara lautan gumpalan daging yang meluap.
Jalan itu adalah api
yang terus berkobar liar dan tak beraturan.
Tapi api itu sama
sekali tidak menimbulkan rasa penolakan.
Sebaliknya, api itu
anehnya membuat jantung berdebar dan menyita seluruh pandangan.
-Woi gila,
teman-teman, sekarang ada fakta yang harus kita tahu. Kalian tahu nggak apa
makna dari api?
Seseorang mulai
menulis pesan panjang di kolom chat.
-Beliau itu udah
nyelesaiin dua insiden di New World. Beliau juga yang menyalakan api di Sea of
Despair. Kalian paham nggak maknanya?
Api adalah
cahaya pertama yang diciptakan umat manusia. Kalian ngerti nggak arti cahaya
ini? Ini cahaya pertama yang dinyalakan manusia di tengah kegelapan! Api
dinyalakan buat bertahan dari dinginnya malam! Kalian ngerti nggak maknanya?!
Woi bajingan! Sumpah, sekarang dadaku sesak saking terharunya!
-Lihat api itu!
Nggak bikin mual sama sekali! Lihat api yang membuka jalan itu!
-Woi wibu, diam!
Kita lagi nonton nih, mending kamu diam!
-Ah gila. Aku
nangis beneran.
Tes.
Si Crazy Attention
Seeker sudah menangis sambil merekam api Cale dengan kameranya.
“Hiks, ugh!”
-Crazy Attention
Seeker, kamu nangis? Aku juga nangis nih.
Tap.
Choi Han melangkahkan
kakinya ke arah Cale.
Layaknya manusia yang
pertama kali menemukan api.
Di dalam pupil matanya
yang hitam, pantulan cahaya api ikut bergejolak.
Dan Cale—
[ Khahahaha! Kita
cuma maju ke depan! ]
Woi, woi, dasar Si
Pelit!
[ Bakar semuanya!
Hancurkan! Jangan halangi aku! ]
Cale harus merasakan
sensasi menaiki kereta yang melaju tak terkendali.
Smirk.
Dan tanpa sadar, dia
menikmatinya.
Di antara gumpalan
daging yang meluap.
Han Taek Soo yang
berubah menjadi seperti gunung raksasa.
Bagian di mana
kepalanya berada.
Cale menuju ke sana.
Jalan yang ia lalui
menyapu bersih gumpalan daging itu dan membara dengan api yang menyala-nyala.
.
.

.png)
Komentar
Posting Komentar