Trash of the Count Family Book II 523 : Lautan Keputusasaan
“Celaka.”
Dewa Kematian yang selama ini bersembunyi,
tiba-tiba berdiri tegak.
Pandangan matanya terangkat ke langit.
Langit yang sebelumnya dipenuhi gemuruh,
kini sunyi senyap.
“Pak Kepala Departemen, ada apa?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Choi Jung
Soo, yang memanggil jabatan saat bekerja.
Dewa Kematian—yang sedang berinkarnasi di
tubuh Jenderal Agung—menjawab dengan wajah tanpa ekspresi.
“Tidak merasakannya?”
Ekspresi yang biasa ia perlihatkan saat
mengeksekusi kematian.
Melihat itu, Choi Jung Soo langsung menutup
mulutnya.
“……!”
Sesaat kemudian, pandangannya jatuh ke
lengannya sendiri.
Seluruh tubuhnya meremang.
“Pak Kepala Departemen… apa yang sedang
terjadi?”
Dewa Kematian tidak menjawab.
Ia hanya menutup mata, lalu berkata,
“Asisten Choi. Ketua Tim Lee. Pergilah
selamatkan orang-orang.”
Ekspresi Choi Jung Soo dan Lee Soo Hyuk
berubah.
“Aku akan tetap bersembunyi dengan baik.”
Dewa Kematian berbicara dengan suara serius
tanpa sedikit pun nada bercanda.
“Namun, jika kalian tampak akan mati, aku
akan turun tangan. Ingat itu.”
Setelah itu, ia terdiam.
“……!”
“Ayo.”
“Baik, Ketua Tim.”
Ketua Tim Lee Soo Hyuk dan Asisten Choi Jung
Soo segera bergerak.
Keduanya yang sebelumnya bersembunyi di
hutan kecil milik Jenderal Agung Pulau 1, dengan cepat menuju ke tempat
rekan-rekan mereka berada.
Dan Jenderal Agung yang tersisa
sendirian—Dewa Kematian—duduk di bawah pohon sambil bergumam,
“Aku mendengar jeritan dari begitu banyak
sesuatu yang dulu adalah jiwa.”
Ia mengirim sebuah pesan kepada
satu-satunya orang yang memiliki hak untuk memahami kehendaknya.
Wuuung—
Dan pesan itu tiba dengan cepat.
Wuuung. Wuung.
Cale merasakan cermin di dadanya—Benda Suci
milik Dewa Kematian—bergetar hebat,
namun ia tidak sempat memeriksanya.
—Manusia! Itu apa?!
Pertanyaan panik dari Raon, yang berada
agak jauh, juga tak mampu ia jawab.
Krek—
Sesuatu yang terlihat di antara tubuh yang
terbelah.
Itu jelas jantung.
Tidak.
“…Bukan jantung.”
Meski terbungkus oleh sesuatu yang
lengket—itu—
“Tulang.”
Tulang berbentuk jantung.
Drip.
Drip.
Cairan lengket itu jatuh satu per satu,
memperlihatkan tulang berbentuk jantung sepenuhnya.
Pada tulang itu terukir begitu banyak huruf
yang tak dapat dikenali.
“Dingin…”
Bersamaan dengan itu, Cale merasa dingin.
Bulu kuduknya berdiri di sekujur tubuh.
Padahal cuaca saat ini hangat.
Ini bukan dingin karena suhu.
Bukan pula karena angin—bahkan tidak ada
angin yang bertiup.
Tubuhnya hanya bereaksi terhadap sesuatu
yang memancar dari jantung itu.
[ Ugh! Harus menghindar! ]
Tepat saat Sound fo Wind menjerit seperti
teriakan—
Flaap!
Kepakan sayap yang kuat terasa.
Cale melihat Bone Dragon terbang ke
arahnya.
“Tuan Muda!”
Mary, sang Necromancer, terbang begitu
tergesa hingga tudung kepalanya terlepas.
Wajahnya yang dipenuhi garis-garis hitam
seperti jaring laba-laba menampilkan kepanikan dan keterkejutan yang jelas.
“Menghindarlah!”
Tidak ada ketenangan sedikit pun dalam
suaranya.
‘Pertanda buruk.’
Saat Mary merasakan tulang yang terbuka
itu, ia merasakan firasat terburuk sepanjang hidupnya.
Kematian—
tidak, sesuatu yang bahkan melampaui
kematian.
Karena itu—
“Mary!”
Meskipun Cale berteriak kaget, Mary tetap
bergerak.
Kwaaaanggg!
Bone Dragon menerjang Kaisar Dua.
Naga hitam raksasa itu membentangkan sayap
dan menghantamnya secara langsung.
“Huhuhu.”
Suara rendah Kaisar Dua menyentuh telinga
mereka.
Suara kecil—namun terdengar seolah berbisik
tepat di samping telinga.
“Necromancer yang cerdas.”
Hwiiii—
Cale, dengan angin terikat di tubuhnya,
menarik Mary keluar dari atas naga hitam.
“Kalian berdua cepat tanggap.”
Di sela-sela tulang naga hitam—
Tatapan Kaisar Dua yang menatap lurus ke
arahnya, seolah mengamati dengan saksama, membuat Cale merinding.
[ Uugh… jeritannya… sakit… kepalaku…
telingaku, rasanya mau pecah……! Harus kabur, harus kabur— ]
Sound fo Wind semakin tak mampu menahan
rasa sakit dan penderitaannya.
Pencuri yang bahkan tidak gentar saat
tenggelam di laut.
Ini adalah pertama kalinya ia bereaksi
seperti ini.
“Tu—Tuan Muda, huruf-huruf di tulang itu… bukan huruf biasa…………!”
Mary berkata dengan suara gemetar.
Ia tidak bisa yakin sepenuhnya, tetapi
merasa setidaknya harus menyampaikan kemungkinan itu.
“Sepertinya itu… sesuatu yang mirip jiwa~”
Pada saat itu—
Senyum tipis.
Cale melihat Kaisar Dua tersenyum, dan—
Krek.
Dia bisa melihat Kaisar Dua mengubah
tangannya sendiri seperti cakar dan mengoyak tubuhnya.
Bahkan tanpa itu pun, tubuhnya—kulit
luarnya—perlahan meleleh.
“Ah—”
Dan tulang yang tersingkap.
Pada tulang itu, terukir tak terhitung
banyaknya huruf, memenuhi seluruh permukaannya.
Apakah semuanya itu… jiwa?
Saat Cale menyadari bahwa huruf-huruf
itu—bukan ribuan, melainkan puluhan ribu—kemungkinan terukir di seluruh tulang
tubuhnya, rasa ngeri yang tak tertahankan menyergapnya.
“Semua itu… makanan?”
Menanggapi ucapan Cale, Kaisar Dua—yang
kini nyaris hanya menyisakan wajah—menatapnya.
Dalam waktu bahkan tidak sampai 30 detik,
dialah yang menciptakan seluruh situasi ini.
“Kau tahu banyak,” katanya.
Hingga akhir, Kaisar Dua terus
mengamatinya.
Namun, ada seseorang yang menghalangi
pandangannya.
Mary, yang berada dalam pelukan Cale,
mengangkat kedua tangannya dan berkata,
“Berkumpul.”
Klak, Klak.
Ratusan monster terbang bertulang bergerak
serempak menuju Kaisar Dua—
lebih tepatnya, menuju naga hitam yang
menyelubunginya.
“Kalau begitu, hasilnya kita lihat nanti saja.”
Meninggalkan kalimat itu, Kaisar Dua
menutup mata.
Wajahnya pun meleleh, menyisakan tulang
semata.
Pada saat yang sama—
“!”
Tubuh Cale bergetar.
Dan Sound fo Wind berteriak dengan putus
asa,
[ Kita harus kabur!! ]
Cale langsung bertindak.
“Raon! Kabur!”
Ia melepaskan Mary dari pelukannya.
—Mengerti, manusia! Aku akan segera kembali!
Raon membawa On, Hong, dan Mary untuk
melarikan diri.
Bahkan saat menjauh, Mary masih sempat
menyampaikan satu kalimat kepada Cale,
“Tidak boleh meledak! Aura mengerikan itu tidak boleh keluar!”
Aura yang tak terlihat dan tak
terdengar—namun sangat mengerikan.
Mary merasakannya dengan jelas.
Jika tubuh itu… jika tulang itu hancur
sepenuhnya…!
Penjara jiwa.
Jika itu hancur, jiwa-jiwa yang terkurung
di dalamnya akan keluar ke dunia.
Namun, jiwa-jiwa itu tidak normal.
“Sial.”
Cale langsung memahami apa jiwa-jiwa itu.
“Huhuhu, ini makanan, tapi sepertinya harus kupakai sekarang.”
Makanan yang dimaksud Kaisar Dua.
Untuk… Dewa Absolut…!
Jiwa-jiwa itu pasti disiapkan sebagai
makanan bagi anak yang akan menjadi Dewa Absolut.
Dewa Absolut juga memakan jiwa!
Makhluk itu juga memakan jiwa—
namun bukan jiwa biasa.
Pemandangan yang dilihat Kang Geun Mok, Ketua
Asisten keluarga Transparent Blood, sekitar 50 tahun lalu, saat ia bertemu anak
yang akan menjadi Dewa Absolut.
Kata-katanya kala itu—
“Tujuh lubang itu semuanya berada dalam bayangan anak itu. Di dalam
lubang-lubang itu terdapat banyak jiwa. Bahkan jumlahnya pun tak sanggup aku
pahami.”
Kebahagiaan, kemarahan, kesedihan,
kegembiraan, cinta, kebencian, hasrat.
Tujuh emosi.
“Aku hanya… merasakannya. Setiap lubang itu seperti satu dunia
tersendiri.”
“Masing-masing terasa seperti dunia.”
Tujuh lubang yang menampung tujuh emosi.
Namun, yang tersisa bagi jiwa-jiwa di
dalamnya pada akhirnya hanya satu emosi—
emosi sejati yang dipaksakan selamanya
kepada mereka.
Keputusasaan.
Kang Geun Mok berkata bahwa bahkan di
lubang kebahagiaan dan lubang cinta,
yang ia lihat hanyalah keputusasaan.
“Anak itu menapakkan kakinya di atas ketujuh dunia itu, menyimpannya
dalam bayangannya.”
“Ia tampak seperti Dewa neraka yang berdiri sendirian di atas
neraka.”
Yang terkurung di dalam penjara jiwa Kaisar
Dua disebut sebagai makanan.
Klak!
Klak!
Monster-monster tengkorak menutupi naga
hitam.
Namun, di celah yang sangat kecil—
Cale melihat rahang Kaisar Dua yang kini
hanya tersisa tulang, bergerak.
Krek.
Ia tidak mendengar apa yang dikatakannya—
namun seolah bisa mendengarnya.
“Sampai jumpa.”
Seolah itulah yang diucapkan.
“Bajingan!”
Umpatan kasar meluncur tanpa sadar dari
bibir Cale karena rasa sesak.
Ia seakan dapat melihat apa yang akan
segera terjadi.
Krak!
Tulang itu pecah.
Huruf-hurufnya terbelah.
“Tidak boleh. Harus dihentikan.”
Mary, yang sedang melarikan diri, berusaha
sekuat tenaga membuat monster tengkorak menutupi naga hitam, tetapi—
Krak.
Tidak ada cara untuk menghentikan tulang
Kaisar Dua yang hancur di dalamnya.
“Tidak bisa menjangkaunya.”
Benang-benang hitam yang menjulur dari naga
hitam—
benang yang mengendalikan tulang—
tak peduli seberapa keras Mary berusaha,
tak mampu menyentuh tulang Kaisar Dua.
Psssst—
Hancur sebelum sempat menyentuh.
“Ah…”
Ini adalah pertama kalinya Mary merasakan
ketidakberdayaan seperti ini terhadap tulang.
Namun, ia bahkan tak sempat tenggelam dalam
rasa itu—
napasnya menjadi sesak karena membayangkan
apa yang akan segera terjadi.
“Ah… sudah hancur.”
Tulang-tulang itu—huruf-huruf itu—hancur.
Penjara runtuh.
Pintu penjara terbuka.
Jiwa-jiwa keluar.
“Itu bukan jiwa.”
Namun, itu bukan jiwa seperti yang dikenal
Mary.
Bukan jiwa pada umumnya.
Grrrooooaaaa—
Kkhhaaaaaaargh—
Jeritan mengerikan mulai menyebar ke
langit.
Langit yang cerah.
Langit siang hari dengan matahari bersinar—
namun raungan itu menyebar ke segala arah.
“Hk—”
“Ugh!”
Raon dan Hong, yang melarikan diri bersama,
gemetar dan menarik napas tajam.
Mary menunduk menatap lengannya.
Pembuluh darah hitam seperti benang
menjalar dan menonjol,
seluruh lengannya dipenuhi merinding.
Itu adalah penolakan naluriah.
Berbeda dengan kekuatan kematian yang
kemarin menutupi Pulau 1 dan laut Maritim Union.
Ini adalah perasaan saat berhadapan dengan
sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemui.
Kiiiaaaaa—
“Ugh!”
Mendengar erangan Hong, Mary segera menutup
telinga On dan Hong.
“Tidak ada gunanya.”
Jiwa tidak bisa disentuh.
Tidak ada cara untuk menghalangi jiwa.
Krak—
Tulang-tulang Kaisar Dua remuk
berkeping-keping.
Tuk. Tuk.
Serpihan tulang yang hancur halus seperti
pasir jatuh ke bawah.
Naga hitam Mary pun,
pasukan monster tengkorak pun,
tidak mampu menghentikan serpihan sekecil
pasir—
apalagi jiwa-jiwa yang keluar dari penjara.
“Ribuan—tidak, puluhan ribu.”
Berapa banyak huruf—berapa banyak
penjara—yang ada di sana?
Puluhan ribu jiwa keluar serempak dari
penjara, menyebar melewati celah-celah tumpukan tulang Mary.
Grrrooooaaaa—
Kkhhaaaaaaargh—
Ratapan terdengar jelas.
Kini, suara makhluk-makhluk yang tak
terlihat dan tak bisa disentuh itu terdengar terang benderang.
Syaaar—
Saat itu, satu arus air melesat menuju
tumpukan tulang Mary.
Air membentuk bola raksasa, mencoba
membungkus tulang Mary dan serpihan tulang Kaisar Dua yang mengalir seperti
pasir.
“Tuan Muda!”
Terlihat Cale berusaha melakukan sesuatu.
Wuuung!
Dan itu belum semuanya.
Dengan cermin artefak dewa di tangannya, ia
berusaha sekuat tenaga menghentikan keadaan.
Wuu—wuu—
Perisai peraknya terangkat,
kedua sayap perisai itu terbentang,
menyusul air menuju tumpukan tulang.
Belum selesai.
Kugugugu—
Tanah berguncang.
Pulau bergetar.
“Ah… batu.”
Mary menyadari bahwa Cale bahkan menarik
batu, berniat membangun makam raksasa di langit.
Air.
Kayu.
Tanah.
Tiga unsur itu mencoba mengubur tulang dan
jiwa.
Saat itulah—
“Hahahaha!”
Terdengar tawa yang jernih.
Mereka menoleh.
Wanderer Wind.
Dalam situasi genting, mereka sempat
melupakannya.
Ia berniat menuntaskan perintah terakhir
Kaisar Dua.
Klik.
Klik.
Perintah yang diberikan Kaisar Dua dengan
rahang yang hanya tersisa tulang.
“Laut.”
Syaaaaa—
Angin raksasa melesat menuju tumpukan
tulang—ke arah air, kayu, dan tanah.
Di antara alam, anginlah yang tercepat.
“Ugh!”
Angin Cale langsung mengarah ke Wind,
namun—
Kuaaang!!
Di tengah gemuruh dahsyat itu, angin Wind
tidak berhenti.
Ia adalah pengikut dekat Kaisar Dua—pemilik
Kekuatan Unik angin kelas Transparent.
Ia belum pernah mengerahkan seluruh
kekuatannya.
Dan sekarang, ia memperlihatkan sebagian
dari kekuatan itu.
Ada alasan Kaisar Dua selalu membawanya.
Syaaaaa—
Angin merembes ke celah tumpukan tulang
Mary.
“Ah—tidak boleh!”
Teriakan Mary sia-sia.
Saat Wind mengarahkan jarinya ke tumpukan
tulang seolah menembakkan peluru.
Saat air, kayu, dan tanah menutupi tumpukan
itu—
mulut Wanderer Wind terbuka.
“Boom.”
Dan angin meledak.
Kuaaaaaaaaa——
Dengan gemuruh yang berada di tingkatan
berbeda dari sebelumnya, badai angin mengamuk.
Tulang Mary bertahan.
Air, kayu, dan tanah pun bertahan.
Namun—
“Perintah selesai dilaksanakan.”
Sebuah celah tercipta.
Grrrooooaaaa—
Kkhhaaaaaaargh—
Jiwa-jiwa keluar dari tumpukan tulang.
Wuuuu—
Dan mereka terbawa oleh angin yang ganas.
Mereka melaju jauh ke timur, barat,
selatan, dan utara.
“Sebagai catatan, keberadaan alam tidak bisa menghalangi jiwa. Angin
milikku sedikit berbeda, sih.”
Wanderer Wind berkata demikian sambil
melarikan diri menumpang angin, tersenyum ke arah Cale.
Ucapannya memang benar.
Syaaaaa—
Sesuatu yang terbawa angin itu menembus
air, perisai, dan batu yang menyusul menutupinya.
Seolah bukan bagian dari dunia ini, ia
melintas seperti hantu.
“Itu bukan jiwa yang normal.”
Setelah berkata demikian, Wind menjauh
dengan sangat cepat.
Bahkan saat makin menjauh, ia masih
memandang Cale dengan tatapan meremehkan.
‘Aku memang tak tahu kehendak tuanku, tetapi—’
Berani-beraninya ia membiarkan tubuh
tuannya dihancurkan.
Itu tidak bisa dimaafkan.
“……”
Cale menatap angin yang menyebar ke segala
arah—dan jiwa-jiwa tak kasatmata yang terkandung di dalamnya.
Grrrooooaaaa—
Kkhhaaaaaaargh—
Raungan itu semakin menutupi langit, dan
puluhan ribu jiwa melaju ke bawah.
Arah tujuan mereka dapat diketahui lewat
aliran angin.
Timur, barat, selatan, utara.
Menuju laut yang mengelilingi Pulau 1.
Mereka pasti menuju ke sana.
Jiwa-jiwa yang menjerit.
Tak satu pun yang tidak menjerit.
Menyaksikan itu, Cale menarik kembali
perisai, air, dan batu.
“Aku tahu.”
Cale juga tahu.
Dengan tiga hal itu, mustahil menghentikan
jiwa-jiwa tersebut di tumpukan tulang Mary.
Mereka hanya bisa dikurung di penjara jiwa
Kaisar Dua.
Wuuung.
Ia menatap cermin yang bergetar halus.
Pesan-pesan sebelumnya memenuhi
permukaannya.
〈Itu bukan lagi jiwa. Jangan keliru
menganggapnya sebagai jiwa.〉
〈Lakukan pemurnian.〉
〈Dengan begitu, mereka akan musnah.〉
Jawaban dari Dewa Kematian.
Itu bukan apa pun, cukup murnikan dan
musnahkan.
〈Yang tersisa hanyalah ‘kesedihan’.〉
〈Sebenarnya, itu bahkan tak bisa disebut
jiwa. Mereka hanyalah makhluk-makhluk malang yang pernah menjadi sesuatu,
terperosok dalam ‘keputusasaan kesedihan’.〉
〈Hanya pemusnahan eksistensi yang dapat
memberi mereka ketenangan.〉
Puluhan ribu—sesuatu yang dulu adalah
manusia.
〈Cale Henituse.〉
〈Jangan ragu.〉
〈Jangan merasa iba.〉
Pemurnian.
Cale memiliki cara untuk melakukan
pemurnian.
Dan itu adalah kekuatan yang sangat
dahsyat.
Entah itu mana kematian atau kekuatan apa
pun yang kuat, pada akhirnya selalu ia murnikan—terbakar tanpa henti.
[ …… ]
Namun, bahkan si Kikir Fire of Destruction dan
Cale sama-sama sulit membuka mulut.
Wuuung.
Pesan lain dari Dewa Kematian datang.
〈Apakah kau mendengar jeritan
kesedihan—yang bukan jiwa dan bukan apa pun itu?〉
〈Mereka kini berada di neraka.〉
〈Mereka harus dikeluarkan dari neraka.
Bahkan aku, Dewa Kematian, tak bisa melakukannya.〉
〈Hanya akhir yang dapat memberi mereka
kedamaian.〉
Wuuung.
Wuuung.
〈Aku memohon.〉
“Sialan.”
Tujuh neraka yang konon diciptakan oleh
Dewa Absolut.
Hari ini, untuk pertama kalinya, Cale
benar-benar merasakan apa arti jurang neraka itu.
Cale menutup mata, lalu membukanya kembali.
Grrrooooaaaa—
Kkhhaaaaaaargh—
Mangsa yang dulu adalah jiwa—puluhan ribu
yang terperangkap dalam kesedihan dan keputusasaan.
Mangsa itu menghantam laut,
dan keputusasaan mulai menelan lautan,
seolah neraka hendak terbentang.
[ Cale! Bajingan-bajingan Hunter itu
akan kubakar sampai ke jiwa mereka! Pasti! Tanpa kecuali! Kaisar Dua
terutama—tak akan kubiarkan! Bagaimana bisa mereka melakukan ini?! Ini bahkan
lebih kejam daripada para bajingan alkemis! Membuatnya bahkan bukan jiwa lagi,
lalu bilang pemusnahan?! ]
Mendengar teriakan si Kikir Fire of
Destruction, Cale membuka mulut.
“Kita lakukan pemurnian.”
Memandang laut biru di bawahnya, mata
cokelat gelap Cale menyala—
berkobar seperti api raksasa.
.

Komentar
Posting Komentar