Trash of the Count Family Book II 522 : Lautan Keputusasaan
Wii—
Tubuh Cale yang diselimuti angin melesat
cepat menuju Kaisar Dua.
Syaa—
Cale menatap hanya Kaisar Dua, meluncur di
sepanjang rantai air yang digenggamnya.
Crrr—
Di tangannya, terbentuk lagi sebuah tombak
air.
[ Targetnya perut, kan? Sepertinya
memang ada sesuatu di tubuh bagian atas itu. ]
Pada pertanyaan Sky Eating Water, Cale
mengangguk.
Dewa Kematian bilang, Jenderal Agung
dikurung dalam penjara jiwa di dalam perutnya.
Namun—
“Tentu saja itu hanya dugaan. Bisa jadi
bukan di perut. Dan aku juga belum tahu bagaimana cara mengeluarkan jiwa itu.”
Dewa Kematian tidak sepenuhnya yakin.
Ia menambahkan dengan nada dingin,
“Hm. Haruskah perutnya disobek? Atau
dipukul saja sampai dia memuntahkannya, seperti aku dulu?”
Mengingat kata-kata kejam itu, Cale
memutuskan untuk melakukannya satu per satu terlebih dahulu.
[ …Aku mendengar suara. ]
Sound of Wind berbicara.
[ Ada suara dari dalam tubuh bagian
atas. ]
Cale berpikir,
Jiwa Jenderal Agung?
Namun ia tak punya waktu untuk merenung
lama.
[ Kalau begitu, kita pukul perutnya? ]
Situasinya genting.
Sky Eating Water berbicara, dan Cale
melepaskan tombak air dari tangannya.
Syaaaaa—!
Tombak air melesat cepat menuju Kaisar Dua.
Cale pun mendekat dengan kecepatan yang
sama.
Ia menarik tangannya.
Chaeng—!
Rantai air bergetar hebat.
“Celaka.”
Kaisar Dua buru-buru melepaskan rantai air
dari tangannya.
Namun tombak air sudah tiba tepat di depan
hidungnya.
Kwaaaang!
Dentuman dahsyat menggema saat tombak air
hancur berkeping-keping.
Seperti dugaan.
Di antara cipratan air yang tercerai, Cale
melihat Kaisar Dua tetap tak terluka.
Dia melindungi perutnya.
Dan memang, dengan satu tangan, ia menutupi
perutnya.
“Hm.”
Saat alis Cale terangkat tipis oleh rasa
deja vu yang aneh—
Di antara percikan air yang pecah, kedua
orang itu saling menatap.
Senyum kecil terbit.
Kaisar Dua tersenyum.
“Kau sudah mengetahui cukup banyak.”
Langkah mantap.
Ia melangkah maju sekali lagi, sambil
memiringkan kepala ke satu sisi.
“Tapi… Kaisar Dua hari Jumat. Apa
maksudnya?”
Sebelum Cale sempat menjawab—
Flap.
Lengan jubahnya yang lebar berkibar tertiup
angin.
BOOM!!
Dentuman keras menyusul.
“!”
Kening Cale berkerut.
Uuu—uuung—
Tepat di hadapannya, perisai berwarna perak
terbentang.
[ Sangat cepat. ]
Seperti kata Super Rock, Kaisar Dua memang
sangat cepat.
Cale nyaris saja tertinggal; ia baru sempat
mengerahkan perisai.
Senyum tipis terbit di wajahnya.
Krek—
Ia menatap perisai yang retak namun belum
pecah, lalu melemparkan kata-kata ringan ke arah Kaisar Dua di baliknya.
“Maksuud Kaisar Dua hari Jumat? Ya, kau
yang ada di depanku ini. Dan bukankah ada Kaisar Dua di hari-hari lain juga?”
Senyum kecil kembali muncul.
Kaisar Dua tersenyum lagi.
Dan sebelum senyum indah itu lenyap—
Kwaaaang!
Ia mengulurkan tangan.
Dan menggerakkan kakinya.
Kwaang! Boom! Kwaaaang!
Dentuman demi dentuman meledak
berturut-turut.
[ Kuat sekali!! ]
Kaisar Dua menghantam perisai Cale tanpa
henti.
Setiap tinju dan tendangannya membuat
perisai bergetar, retak, dan berderak.
[ Cale, ini kekuatan murni. ]
Seperti yang dikatakan Super Rock, setiap
gerakan Kaisar Dua adalah kekuatan fisik murni.
Bahkan Toonka, Archie, dan siapa pun yang
pernah ditemui Cale sejauh ini—tidak ada satu pun yang memiliki kekuatan
sebesar ini.
[ Perisai yang sudah diperkuat sampai
retak?! ]
Super Rock tak bisa menyembunyikan
keterkejutannya.
Cale pun sama.
Air milik Tiga Kaisar dan kekuatan Dewa
Kekacauan.
Entah bagaimana, semuanya “dimakan” oleh
Dewi Rakus. Indestructible Shield itu benar-benar telah menjadi sangat kuat.
Namun, hanya dengan kekuatan fisik murni,
sampai bisa meretakkannya—!
Kwaaaang! KWAANG! BOOM!
Serangan yang tak henti-hentinya
menghujani.
Cale tetap diam, bertahan di dalam perisai.
[ Sangat cepat. ]
Sound of Wind.
Seperti kata si pencuri, Kaisar Dua
benar-benar cepat.
[ Apa sebenarnya makhluk itu? ]
Fire of Destruction, si pelit, berbicara
dengan nada tercengang.
[ Katanya kemungkinan besar jalur
necromancer, kan? Tapi bertarung jarak dekat sebaik ini, kecepatannya gila,
kekuatannya juga tak masuk akal. Itu mungkin? Ditambah lagi kemampuan aslinya
memakan jiwa? ]
Si pelit menghela napas.
[ Untuk sekarang, fokus saja pada Cale.
Baru kita bisa tahu. ]
Kwaaaang! KWAANG! KWAANG!
Di tengah semua itu, dentuman yang
mengguncang langit terus berlanjut.
Kaisar Dua tanpa henti menghantam perisai.
Perisai itu tak bergeming.
Dan di bawahnya—orang-orang yang tak
terhitung jumlahnya.
“Hah—”
“…Apa yang sebenarnya sedang kulihat?”
Setiap suara yang terdengar bagai runtuhnya
sebuah gunung—dentuman yang luar biasa.
Hanya segelintir yang benar-benar bisa
melihat keadaan Cale dan Kaisar Dua.
Namun, bukan hanya dentuman itu yang
mengejutkan mereka.
Syaaaaa—!
Gelombang angin raksasa bergerak.
Sss—ssst—
Menembus angin itu, gumpalan kabut raksasa
terus maju. Kabut merah menyebar dari pulau, melampaui laut, menuju Wanderer
Wind yang mengendalikan angin.
Keretak—keretak.
Dan menghiasi langit—pasukan monster
terbang bertulang yang melesat tanpa ragu di dalam kabut merah.
“Ini… pasukan—”
Itu sudah setara dengan sebuah legiun.
Kekuatan militer raksasa.
“Langit—”
Mereka yang seumur hidup memandangi laut
tak mampu berkata apa-apa melihat pertempuran yang kini terjadi di langit.
Bagaimana mungkin hanya segelintir orang
menciptakan situasi seperti itu?
“Jenderal, bukankah kita harus kabur?”
Seseorang dari para pengikut bertanya
kepada jenderal pulau mereka.
“Dalam situasi seperti ini?”
Ia tak bisa menjawab.
Karena tanah pun tak kalah genting.
Kwaaaang!
Arena.
Bangunan kubah raksasa itu kini runtuh.
Syaaa—
Dari celah kehancuran, air menyembur ke
atas.
Krek—krek!
Air itu membeku seketika.
Berubah menjadi pilar es.
Menyusuri pilar es itu, seorang pendekar
berambut hitam melesat naik.
Uuuuuuung—
Pada pedangnya, cahaya hitam samar
berkilau.
Dalam sekejap mata—pendekar itu menghilang.
Kwaaaang!
Dentuman kembali terdengar.
Lalu sekali lagi.
Kali ini, api yang menyerupai lava
menyembur ke langit.
“Gila!”
Jenderal.
Para jenderal yang datang membidik posisi
itu kini tak berani bergerak sembarangan.
Ini bukan pertempuran.
“Ini bencana—bencana!”
Sebuah malapetaka sedang berlangsung.
Kekuatan yang tak mungkin ditanggung oleh
satu individu kini saling menghantam—di darat dan di langit.
“Jenderal, setidaknya laut masih aman! Kita
harus ke laut!”
Tak seorang pun membantah.
Karena saat ini, hanya laut yang masih
tenang.
“Tutup mulutmu.”
Namun, sang pengikut terpaksa terdiam.
Karena ia melihat ke arah pandangan sang
jenderal.
Arah tempat Jenderal 7 Hinari dan Jenderal 16
Perry berada.
“……”
Alberu mengangkat kepala ke langit sambil
memastikan Jenderal 7 Hinari terikat sepenuhnya.
“Apakah ini tidak apa-apa? Haruskah kita
mengevakuasi orang-orang?”
Atas pertanyaan Jenderal Perry dari Pulau 16,
Alberu berbicara ke udara kosong.
“Tolong tanyakan.”
—Baik.
Eden Miru, Half Blood Dragon yang
bersembunyi dalam keadaan tak terlihat, menjawab.
Barulah kemudian Alberu menanggapi sisa
pertanyaan Jenderal Perry.
“Mereka sedang mengamati.”
“Apa?”
Apakah ini tidak apa-apa?
Untuk pertanyaan itu, Alberu menjawab tanpa
ragu.
“Cale Henituse, saat ini, sedang menilai
situasi.”
Cale Henituse pasti memendam pertanyaan
yang sama dengannya.
“Ini aneh.”
Kwaaang. KWAANG!
Di tengah dentuman tanpa henti—melihat
Kaisar Dua yang menyerang perisai tanpa ragu, sementara perisai itu tetap
bertahan kokoh meski gerakannya secepat angin—
“Mengapa Kaisar Dua bertarung dengan tubuh
fisik?”
Alberu mengutarakan keraguannya.
“Cale Henituse akan menemukan jawabannya.”
Dan Alberu mempercayai Cale.
Sebagai jawaban atas kepercayaan itu—
“Ah.”
Cale melontarkan seruan pendek.
Senyum terangkat di sudut bibirnya, dan ia
segera berbicara.
“Kaisar Dua.”
Kwaaang!
Seolah tak mendengar panggilannya, Kaisar
Dua terus melancarkan serangan.
Di tengah retakan halus yang terus muncul
pada perisai, Cale bertanya,
“Tubuhmu itu terbuat dari tulang apa?”
[ Ah. ]
Super Rock tak kuasa menahan seruan.
Kwaaaang!
Namun serangan Kaisar Dua tetap berlanjut,
seakan hendak menghancurkan perisai.
“Kekuatanmu, kecepatanmu—semuanya buatan,
bukan?”
Mary menilai peluang jalur necromancer
sebesar 80%.
Cale mempercayai penilaian Mary.
Seperti perut Kaisar Dua yang terbuat dari
tulang—
“Tubuh unggulmu itu disusun dari banyak hal
yang dikumpulkan.”
Cale sampai pada kesimpulan.
Seperti Bone Dragon tempat Half Blood
Dragon pernah bersemayam—
“Dan kau punya beberapa tubuh seperti itu.”
Kaisar Dua telah menciptakan banyak tubuh
semacam itu.
“Dan hari ini, kau adalah Kaisar Dua hari
Jumat.”
Kwaaaaaaang!
Dengan dentuman yang tingkatnya sama sekali
berbeda dari sebelumnya, Cale menarik kembali perisainya.
Kaisar Dua menerobos mendekat.
“Kau benar-benar telah memahami banyak hal
tentangku.”
Sambil tersenyum tipis, Kaisar Dua
melayangkan tinju ke arah Cale.
Syaaaa—!
Namun air memancar dan menghalangi di
antara mereka.
Sraak—
Menerobos dinding air, Kaisar Dua kembali
mendekat.
Wii—!
Cale mundur tergesa sambil mengaitkan
angin.
Melihat itu, Kaisar Dua berkata tenang,
“Kau tahu, bukan? Jika tertangkap olehku,
jiwamu akan direnggut.”
“Sepertinya kau menyelidikiku?”
Bertolak belakang dengan nada bertanyanya
yang tenang, gerak Cale tampak sangat mendesak.
[ Cepat. ]
Seperti kata Batu, Kaisar Dua terlalu
cepat.
[ …… ]
Sound of Wind tak berkata apa-apa, namun
ketidaksenangannya terasa jelas.
[ ……Aku tertinggal. Tapi suara dari
dalam kapal itu aneh. ]
Pada saat Sound of Wind mengucapkan
kata-kata yang tak jelas maksudnya—
“Benar. Aku memang sedang menyelidikimu.”
Krek.
Terdengar suara tulang patah dari suatu
tempat.
“Hm!”
Cale kini berhadapan langsung dengan Kaisar
Dua, yang sudah berada tepat di depan hidungnya.
Angin yang dipasangkan oleh Wanderer Wind
hanya memberi bantuan kecil agar ia bisa berdiri di udara.
“!”
Pandangan mereka bertemu tepat di depan.
Kaisar Dua mengulurkan tangan.
“Aku juga ingin tahu lebih banyak
tentangmu.”
Senyum kecil kembali terbit di sudut
bibirnya.
Dengan suara berbisik, ia berkata,
“Kenapa… sekarang kau tidak membidik
perutku?”
“……!”
Wajah Cale mengeras.
Pada awalnya, Cale memang membidik perut
Kaisar Dua.
Namun, sejak suatu titik tertentu, Cale
bahkan tidak lagi melirik ke arah sana.
‘Ini aneh!’
Saat ini, Cale merasakan kejanggalan dalam
setiap tindakan Kaisar Dua.
Bukan soal apakah dia seorang necromancer,
atau mengapa kemampuan bela dirinya begitu luar biasa.
‘Sikapnya… seolah ingin mundur.’
Di awal, dia tidak berniat bertarung dan
justru mencoba mundur.
Namun pada suatu titik, dia malah menyerbu
Cale tanpa pandang bulu.
‘Dan dia cerdas!’
Yang terpenting, Kaisar Dua tampak jauh
lebih berhati-hati dan penuh kecurigaan dibanding musuh mana pun yang pernah
Cale hadapi.
Dia lebih mirip seorang ahli strategi
daripada petarung murni.
Tapi justru dia menyerang seperti ini?
Seolah-olah benar-benar mengajak bertarung.
Itu terlalu janggal.
Karena itulah Cale sampai pada satu asumsi.
‘Pasti ada maksud lain!’
Apa yang paling dibutuhkan Kaisar Dua saat
ini?
Tubuhnya sendiri?
Dia bisa memakai tubuh dari hari lain.
Jiwa Jenderal Agung?
Jika tidak bisa menelan Maritim Union,
secara logis tidak ada alasan baginya untuk bergerak hanya demi jiwa Jenderal
Agung.
‘Aku.’
Yang dia butuhkan adalah Cale.
‘Variabel yang muncul karena diriku, dan
pemahaman atas situasi saat ini.’
Untuk itu, dia harus memahami Cale.
Seperti Cale yang mengamatinya dari balik
perisai,
dia pun mengamati Cale.
Mengobservasi.
Dan jawaban atas pemikiran itu keluar dari
mulutnya.
‘Kalau kau tahu jiwa Jenderal Agung ada
di sini, kenapa tidak membidiknya?’
Tangan Cale tertangkap oleh Kaisar Dua.
Dia menarik tangan Cale ke arah perutnya
sendiri.
“Aku ingin tahu tentang jiwamu.”
Krek.
Bersamaan dengan suara sesuatu yang patah,
Cale melihat mata hijau Kaisar Dua berubah secara aneh.
“Kaisar Dua pasti punya cara menekan
jiwa selain menekan tubuh. Baru setelah itu dia memakan jiwanya. Jadi
hati-hati!”
Peringatan dari Dewa Kematian dengan suara
ceria.
Cale menutup matanya.
Menghindari tatapan mata hijau itu.
“Baik.”
Mata itu.
Dia tidak boleh menatap mata itu.
Karena kini dia telah menyadari satu hal.
Shaa—!
Dari tangan Cale yang dicengkeram Kaisar
Dua, air menyembur keluar.
Air yang mengandung kekuatan luar biasa,
mengarah ke langit.
“Jiwa akan membeku sampai mati!”
Tak lama kemudian, gelombang air raksasa
menghantam Kaisar Dua.
Kwaaang!
Kaisar Dua terdorong mundur.
“……”
Dia melepaskan tangan Cale.
Senyum di sudut bibirnya justru semakin
dalam.
“Cerdas.”
Shaaaaaa—
Arus air besar terus mengalir ke arahnya.
Dua rantai meluncur seperti ular hidup,
menghantam Kaisar Dua.
Kring!
Naga air yang bersembunyi di balik lengan
baju Cale muncul.
Ia menaiki rantai itu dan membuka mulutnya
ke arah Kaisar Dua.
Kiiiii—
Dalam sekejap, tubuh naga air membesar dan
membidiknya.
Seolah seekor imoogi melintasi langit
menuju dirinya.
“Hehe.”
Namun Kaisar Dua justru tertawa.
“Bukan sekadar cerdas—kau juga licik.”
Wajah Cale tetap kaku.
“Dan juga cepat tanggap.”
Cale mengabaikan ucapannya dan berteriak,
“Telan dia!”
Itu bukan perintah untuk naga air saja.
“Raon, tahan dia!”
Perintah yang lebih spesifik pun keluar.
“Blokir tangannya!”
Krek.
Dengan suara aneh, tangan Kaisar Dua
bergerak menuju perutnya sendiri.
Pada saat melihat itu, Cale langsung
menyadari.
‘Dia mencoba menghancurkan penjara
jiwa!’
Penjara tempat Jenderal Agung berada.
‘Dia mencoba menghancurkannya sendiri!’
Perasaan tidak enak menjalar.
Entah kenapa, seluruh tubuh Cale merinding.
“Sebenarnya, cara untuk melihat jiwamu
tidak hanya satu.”
Kaisar Dua tersenyum tipis sambil berkata
demikian.
“Aku akan mengembalikan jiwa Jenderal Agung
kepadamu.”
Lalu dia memiringkan kepalanya ke satu sisi
dan melanjutkan,
“Sebagai gantinya, aku harus mengenalmu
lebih dalam, bukan? Barulah hitung-hitungannya seimbang, bukan begitu?
Fufufufufu~.”
Bersamaan dengan tawa ringan itu—
Krek.
Jari Kaisar Dua yang tertekuk secara aneh
menusuk dadanya sendiri.
Pluk.
Darah mengalir.
“Dengar—!”
Tiba-tiba, Cale mendengar suara Wanderer
Wind yang jarang sekali terdengar panik.
[ Bukan satu orang! ]
Makhluk yang peka terhadap suara karena
tidak bisa melihat.
Sound of Wind, sang pencuri, berteriak
penuh keterkejutan.
[ Ada jeritan… jeritan tak terhitung
jiwa! ]
Sound of Wind tersiksa.
Namun Cale tidak mendengar apa pun.
Meski begitu, dia tahu—sesuatu sedang
terjadi.
“Huhuhu, ini memang makanan, tapi
sepertinya harus kupakai sekarang.”
Tanpa ragu, Kaisar Dua mengoyak tubuhnya
sendiri.
Dari perut atas hingga ke bawah leher.
Sebuah sayatan vertikal.
Barulah Cale menyadari.
“Bukan perut… jantung.”
Informasi yang bahkan Dewa Kematian tidak
yakin sepenuhnya.
Bukan perut.
Penjara itu ada di jantung.
Dan dari celah yang terbelah itu—
Bersama darah, sesuatu terlihat.
Sesuatu sedang keluar dari dalamnya.
[ Aaaa—! Jiwa-jiwa… jiwa-jiwa itu sedang
menderita! ]
Sound of Wind menjerit dengan putus asa.
Pada saat itu, tubuh Cale merinding hebat,
hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sesuatu yang menyembur keluar dari tubuh
Kaisar Dua.
Bukan perut—melainkan jantung yang
terekspos.
Dari jantung itu, sesuatu merayap keluar.
Tidak.
Banyak sesuatu.
Tak terhitung jumlahnya.
Mereka tidak terlihat.
Tidak terdengar.
Namun bisa dirasakan.
Sesuatu yang mengerikan—
sesuatu yang benar-benar mengerikan—
telah muncul ke dunia.
.
.

.png)
Aku tahu aku harunya menabung beberapa minggu tapi aku tdk tahan.dan ini yg terjadi😭.tapi makasih udah up kak~
BalasHapusAKU NUNGGUIN DARI JUMATTTT, MAKASIIII UDA UPPPP😞😞😞😞
BalasHapusMaapkan 🥲🥲🥲 karna aku sempat sakit 3 harian 🥲🥲🥲🥲
HapusTerima kasih telah update padahal baru sembuh. Istirahat yang cukup ka. Karena saat ini sedang musim flu juga.
BalasHapusSelamat tahun baru. Dan sehat selalu kaka dan keluarga ❣️