Trash of the Count Family Book II 518 : Kemunculan
“Bagaimana?”
Atas pertanyaan Cale, Ron menjawab.
“Kelihatan cerdas.”
Dengan wajah puas, Ron berkata demikian.
Entah kenapa melihat ekspresi itu membuat
Cale merasa canggung, jadi ia memalingkan kepala.
“Yang Mulia juga terlihat cerdas.”
Senyum cerah terukir di wajah Alberu.
Ia menjawab dengan ringan.
“Tentu saja. Aku memang pintar.”
Cale menanggapi ucapan itu tanpa ambil
pusing, lalu bertanya pada Ron.
“Kontak dari Jenderal Hinari hanya dua itu
saja?”
“Ya. Tidak ada lagi.”
Pelayan Ron.
Cale.
Alberu.
Hari ini, ketiganya mengenakan pakaian yang
sama.
“Huu.”
Cale tersenyum pada Ashifrang, putra bungsu
Sang Jenderal Agung, yang menghela napas panjang.
“Tenang saja.”
“……Siapa sekretarisku?”
Pelayan Ron mengangkat tangan.
“Aku.”
Cale, Alberu, dan pelayan Ron—semuanya
mengenakan setelan hitam, pakaian kepala pelayan sekaligus sekretaris yang
bekerja di kediaman Jenderal Agung.
Hari ini, ketiganya akan menyambut tujuh
belas jenderal yang datang ke Pulau Pertama.
“Dua orang lainnya?”
Atas pertanyaan Ashifrang, Cale membuka
mulut.
“Aku Jenderal Ketiga. Yang Mulia kami
adalah Jenderal Ketujuh.”
Uuuuu—uuung!
Pulau Pertama.
Perisai raksasa yang melindungi Jenderal
Agung yang tak sadarkan diri dan para penduduk Pulau Pertama—gabungan sihir dan
formasi—perlahan menghilang.
Plak!
Ashifrang bertepuk tangan.
Klak.
Pintu terbuka.
Di luar berdiri total lima belas orang
pengiring.
Cale dan Alberu mengambil posisi di
sela-sela mereka seolah itu sudah sewajarnya.
“Mari, Tuan Ashifrang.”
Ron pun berdiri di sisi Ashifrang, sama
alaminya.
“……”
Ashifrang, putra bungsu Jenderal Agung.
Ia menatap langit-langit sejenak sebelum
berbicara.
“Baik.”
Pelabuhan Selatan Pulau Pertama.
Banyak kapal perlahan memasuki pelabuhan
itu.
Kapal-kapal yang perlahan masuk ke sana.
Semua membawa keinginan masing-masing—para
bajingan yang ingin mengoyak pulau ini.
“…Siapa yang akan terkoyak, kita akan tahu
hari ini.”
Ia melangkah maju.
“Ayo.”
Ruangan yang mereka tinggalkan kosong
melompong.
Tak ada siapa pun.
Jenderal Agung pun tidak.
Choi Han, Raon, Mary—
Tak satu pun dari rombongan Cale berada di
sana.
****
Saat Ashifrang tiba di pelabuhan selatan,
jam menunjukkan tepat pukul sebelas pagi.
Uung. Jjeojeok!
Perisai yang bergetar hancur
berkeping-keping, memancarkan cahaya terang.
Ashifrang mengangkat tangannya.
Buuuuu—
Bersamaan dengan suara terompet, beberapa
kapal mendekati Pulau Pertama yang kini tanpa perisai.
Jumlahnya tepat tujuh belas.
Dari Pulau Kedua hingga Pulau Kedelapan
Belas.
Kapal-kapal yang membawa tujuh belas
jenderal.
Shaa—
Di kapal terdepan berdiri Jenderal Perry
dari Pulau Keenam Belas.
Dialah sang penjaga gerbang yang memicu
pertemuan kali ini.
Shaa—
“Kakak.”
“Jangan bicara yang tidak perlu.”
Tanpa menoleh pada adiknya, Jenderal Perry
berkata demikian.
“……”
Adiknya mengatupkan bibir rapat-rapat.
Jenderal Perry menatap enam belas kapal di
belakangnya.
Karena masing-masing mengibarkan panji
utama, jelas kapal siapa itu.
“Kakak, banyak juga yang cuma ampas.”
Selain itu, masih banyak kapal di laut yang
mengikuti ketujuh belas jenderal.
Di belakang kumpulan kapal itu, beberapa
kapal lain mendekat.
‘…Datang menonton, ya.’
Secara harfiah, mereka keluar ke laut
karena penasaran dengan apa yang akan terjadi di Pertemuan Besar ke-17 hari
ini.
‘Bodoh.’
Lebih baik bersembunyi di pulau-pulau
sekitar Pulau Pertama seperti yang lain, lalu mengintai.
‘Mana tahu apa yang akan terjadi di sini
hari ini.’
Namun Jenderal Perry menyingkirkan pikiran
tentang para penonton itu.
Karena salah satu orang yang berkontribusi
pada apa yang akan terjadi hari ini adalah dirinya sendiri.
“Tajam sekali tatapan mereka.”
Ia bisa merasakannya tanpa perlu melihat.
Tanpa melihat pun terasa.
Enam belas kapal yang mengikutinya.
Aura para jenderal yang berdiri di atas
kapal-kapal itu terasa jelas.
“Kakak, semuanya terlihat pasukan elit.”
Para jenderal tidak membawa banyak pasukan
atau kapal.
Paling banyak tidak lebih dari sepuluh
kapal.
Namun, tanpa perlu dikatakan pun jelas
bahwa semuanya dipenuhi pasukan pilihan.
“Pasti masih banyak kapal yang bersembunyi
di pulau-pulau sekitar.”
Selain para penonton, kapal-kapal pengikut
para jenderal juga pasti ada di pulau-pulau dekat Pulau Pertama.
‘Semua datang dengan persiapan perang.’
Hari ini, hampir tak ada kemungkinan laut
ini tidak dipenuhi darah.
Buuuuuu—
Kapal Perry berlabuh di tempat suara
terompet terdengar.
Tap.
Ia turun menginjak tanah Pulau Pertama.
Tempat yang hingga tadi malam masih ia
tinggali.
“Selamat datang, Pelindung.”
Putra bungsu Ashifrang menyampaikan salam
sebagai perwakilan Pulau Pertama, menggantikan Jenderal Agung.
“Sudah lama tidak bertemu.”
Jenderal Perry pun membalas salam singkat.
Kini tak ada waktu lagi untuk berbincang
panjang.
‘Tuan Cale Henituse.’
Di antara banyak sekretaris, tampak seorang
pria berambut hitam mengenakan kacamata.
Pandangan mereka bertemu.
Merasa puas, Jenderal Perry memalingkan
kepala.
Tap, tap.
Enam belas jenderal berjalan mendekat ke
arah ini.
Ada yang sudah lama berkuasa, ada kekuatan
baru, bahkan ada pula pendatang asing yang bukan berasal dari New World.
Ada yang baru beberapa tahun menduduki
kursi jenderal, dan ada pula yang telah bertahan puluhan tahun di posisi itu.
“…..”
“…..”
Mereka semua menatap lurus ke depan tanpa
berkata apa-apa.
“Selamat datang.”
Ashifrang menyampaikan sambutan.
Tanpa senyum.
Tak satu pun dari mereka tersenyum.
“Kalau begitu, akan aku serahkan sekarang.”
Atas ucapan Ashifrang, pandangan semua
orang tertuju pada Jenderal Perry dan dirinya.
Tap.
Ashifrang melangkah maju dan mengeluarkan
sebuah kotak kecil dari dadanya.
Klik.
Kotak itu dibuka, dan di dalamnya terdapat
sebuah kunci emas.
“Ini adalah kunci ruang Pertemuan. Atas
nama Jenderal Agung, aku yang akan menyerahkannya.”
Jenderal Perry menarik napas dalam-dalam,
lalu menghembuskannya, sebelum menerima kotak itu beserta isinya.
“Kami akan memandu kamu.”
Ashifrang berbalik dan mulai melangkah.
“Sidang akan dimulai pukul dua belas.
Selain pergi ke toilet, tidak diperbolehkan melakukan tindakan apa pun.”
Tap, tap.
Begitu ia mulai berjalan, orang-orang yang
tadinya berada di belakangnya ikut bergerak.
“Mereka adalah para pendamping yang akan
memandu para jenderal.”
Para jenderal diwajibkan datang hanya
dengan membawa satu orang bawahan masing-masing.
Dan kini, satu orang tambahan lagi berdiri
di sisi mereka.
“……”
“……”
Banyak yang menunjukkan raut tidak nyaman,
namun tak satu pun berkata apa-apa.
Tentu saja, beberapa di antaranya menatap
Ashifrang dengan tajam.
“Jika kamu tidak puas, kamu tidak perlu
menghadiri sidang.”
Sikap Ashifrang yang tegas membuat mereka
tidak membuka mulut.
Meski begitu—
“Pfft.”
Ada juga yang bersuara.
Jenderal Pulau Kedua tertawa seolah merasa
terhibur.
“Benar-benar seperti anjing pengecut yang
sudah ketakutan setengah mati.”
Pandangan Ashifrang tertuju padanya.
“Kenapa?”
Jenderal Pulau Kedua mengangkat bahu.
“Hanya bicara sendiri saja, kok?”
Ashifrang menggigit bibirnya.
Ashifrang berusaha mencegah tindakan
sembrono para jenderal dan sebisa mungkin melindungi Pulau Pertama. Namun
Jenderal Pulau Kedua mengejek sikap itu sebagai kepengecutan.
“Katanya kalau tidak ada harimau, rubah
akan mencoba jadi raja—eh, ini bahkan bukan rubah, tapi anak ular yang sok
berisik.”
“Apa katamu?”
Wajah Jenderal Pulau Kedua langsung
mengeras.
Saat Jenderal Agung masih sehat, dialah
yang paling rajin menjilat.
Kini, mendengar hinaan itu, sang jenderal
langsung menoleh ke arah suara tersebut—
“……!”
Ia pun terkejut.
Para jenderal lainnya juga demikian.
“Marilah kita menahan diri.”
Jenderal Perry, yang dikenal sopan dan
lurus seperti bambu.
Meskipun termasuk golongan muda dibanding
sebagian besar jenderal lain, ia menatap Jenderal Pulau Kedua dengan sorot mata
yang mengerikan.
“Berani-!”
Jenderal Pulau Kedua membuka mulut dengan
wajah marah, seolah tak pernah terkejut sebelumnya.
Namun Jenderal Perry mengabaikannya dan
berkata,
“Kalian semua pasti tahu.”
Ia menatap satu per satu para jenderal.
“Aku tidak kuat. Tapi setidaknya satu
orang.”
Dalam suaranya terasa tekad yang melampaui
sekadar keyakinan.
“Setidaknya satu orang bisa kutarik
bersamaku ke dasar laut.”
Pakainya rapi seperti biasa.
Ekspresinya pun tenang.
Namun sorot matanya sangat ganas.
‘Itu…’
Jenderal Pulau Kedua menutup mulutnya,
teringat pada tatapan Jenderal Agung di masa mudanya.
Tentu saja, berbeda dengan Jenderal Perry,
Jenderal Agung dulu seperti banteng liar.
Ia mengamuk di lautan dan menciptakan
aturan-aturan baru bagi Maritim Union.
“Ehem.”
Jenderal Pulau Kedua menutup mulutnya.
Sikapnya yang berpura-pura tak terjadi
apa-apa sangat cocok dengan sifat liciknya yang biasa.
“……”
Melihat suasana kembali tenang, Jenderal
Perry memberi isyarat dengan mata kepada Ashifrang.
Ashifrang mengangguk dan hendak kembali
melangkah.
“Ngomong-ngomong.”
Seseorang kembali membuka mulut.
Jenderal Perry dan Ashifrang berusaha
sekuat tenaga mengendalikan ekspresi mereka.
Jenderal Ketiga, Uho.
Wanderer, adik angkat dari Kaisar Ketiga.
Dialah yang membuka mulut.
“Harimau itu… masih hidupkah?”
Harimau.
Jenderal Agung.
Mendengar sebutan yang merujuk padanya,
ekspresi Ashifrang mengeras.
‘Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana aku harus menjawab?
Aku tak boleh memberi celah sedikit pun
pada bajingan itu.’
Saat itulah—
“Di Pulau Pertama tidak ada harimau.”
Nada suaranya lembut, namun garis katanya
tegas.
Jenderal Ketiga Uho menoleh.
Jenderal Ketujuh, Hinari.
Putri sulung Jenderal Agung.
Dengan senyum santai, ia berbicara dengan
penuh kelonggaran.
“Di Pulau Pertama memang ada banyak hewan
lain, tapi tidak ada harimau. Entah mengapa kamu mencarinya.”
Ucapan itu jelas menyindir Jenderal Ketiga,
namun karena disampaikan begitu tenang, tak terasa sedikit pun niat bermusuhan.
Ia lalu berkata kepada Jenderal Perry.
“Aku penasaran mengapa Jenderal Perry
membuka sidang ini. Mari kita pergi. Aku tidak ingin membuang waktu dengan
omong kosong.”
Sudut bibir Jenderal Ketiga terangkat
miring.
Sementara itu, Jenderal Ketujuh hanya
tersenyum dan dengan tenang mengalihkan pandangannya.
“Menarik sekali. Ha, hahaha—”
Uho tertawa terbahak-bahak.
‘Jenderal Ketujuh, begitu mendengar
bahwa Kaisar Kedua akan datang, kau jadi sangat sombong, ya. Padahal kau sudah
membuat ayahmu lebih buruk dari kematian!’
Sungguh sikap yang tak tahu malu—dan itu
menyenangkan.
‘Sebentar lagi semuanya akan mati. Lucu
sekali.’
Baik Kaisar Kedua, maupun sampah-sampah di
sini.
Semuanya akan mati hari ini.
Baik Kaisar Kedua, maupun sampah-sampah di
sini.
Semuanya akan mati hari ini.
‘Aku sendiri yang akan membunuhmu.’
Dengan tekad untuk mengakhiri hidup
Jenderal Ketujuh—yang berani menyindir ucapannya—dengan tangannya sendiri, Uho
membuka mulut.
“Aku juga penasaran. Cerita macam apa yang
akan kita bicarakan.”
Dengan wajah tenang, ia pun melangkah maju.
‘Katanya Jenderal Perry juga sudah
berada di pihak kita, bukan?’
Sekilas—
Di sisi Jenderal Perry, adiknya tidak
terlihat.
‘Mujeon, bajingan itu.’
Adik Jenderal Perry saat ini ditangkap oleh
adik angkatnya, Mujeon, dan berada dalam ancaman maut.
‘Bajingan yang cerdik.’
Jenderal Perry adalah boneka kita.
Ia tak punya pilihan lain selain
mempercayainya.
“……”
Orang yang berdiri di sisi Jenderal Perry,
disebut sebagai bawahannya—
‘Cho!’
Itu Cho, adik bungsu dari saudara Wanderer.
Ia sempat tersenyum tipis ke arah pandangan
Jenderal Ketiga, lalu berpura-pura tak terjadi apa-apa dan memalingkan kepala.
‘Semuanya berada di telapak tanganku.’
Kaisar Kedua juga akan segera tiba.
Sidang akan dimulai tepat pukul dua belas
siang.
Ia mengatakan akan langsung datang ke ruang
sidang sebelum itu.
Tap, tap.
Jenderal Ketiga melangkah dengan santai.
“Kakak.”
Putra ketiga, Soyeon, memanggilnya sambil
diam-diam menunjuk ke satu arah.
Ia menoleh ke sana, menghindari pandangan
orang lain.
Sebuah bangunan di pelabuhan.
Di sela-sela bayangannya, adiknya, Mujeon,
menundukkan kepala sedikit sebagai isyarat.
‘Sebentar lagi aku akan bertemu Kaisar
Ketiga—kakak tertua.’
Dan darah akan membasahi laut.
Uho menahan tawa yang hampir meledak.
Tap, tap.
Langkahnya terasa ringan dan tanpa ragu.
Karena masa depan yang akan terbentang
sudah jelas baginya.
Namun di mata Uho, sosok sekretaris yang
berjalan seirama dengannya sama sekali tak tercermin.
‘Sepertinya dia bahkan tak menarik
perhatiannya.’
Ia bahkan tak melirik sekretaris itu
sedikit pun.
Seolah-olah tidak ada.
Bahkan lebih rendah daripada para jenderal
yang disebut sebagai sampah.
Sekretaris itu—Cale, berambut hitam dan
berkacamata.
Saat Soyeon meliriknya sebentar, Cale
dengan patuh menundukkan kepala memberi salam.
Tak lama kemudian, Soyeon pun kehilangan
minat.
Sekretaris rendahan seperti itu bukan
sesuatu yang perlu ia pedulikan.
Uho hanya menatap lurus ke depan.
Sementara itu, Soyeon tetap waspada,
mengamati sekitar.
Uho menatap lurus ke depan.
Soyeon tetap waspada, mengamati sekitar.
Cale berjalan di sisi mereka, dengan santai
mengamati mereka berdua.
—Manusia.
Suara Raon terdengar. Ia berada cukup jauh,
dalam keadaan tak terlihat.
—Archie bertanya, kalau nanti dia memberi
sinyal, apakah kapal-kapal itu boleh dihancurkan semua?
Cale mengangguk pelan sambil menyapu
pandangan ke sekeliling.
Alberu di sisi Jenderal Ketujuh.
Cho di sisi Jenderal Perry.
Mujeon di antara bayangan bangunan.
Ron di sisi Ashifrang.
—Dan manusia, aku akan membawanya!
Cale menatap Jenderal Ketiga Uho dan Soyeon
sang Wanderer.
Tap, tap.
Cale memikirkan situasi seperti apa yang
paling menguntungkan.
Kaisar Kedua adalah musuh.
Kubu Jenderal Ketiga juga musuh.
Bahkan semua jenderal di depan mata, serta
kapal-kapal yang memenuhi laut—semuanya musuh.
Dalam situasi seperti ini, langkah apa yang
paling tepat?
Tap, tap.
Mereka tiba di depan gedung ruang sidang.
Bangunan berbentuk kubah.
Pintu besi yang tertutup rapat dipenuhi
lingkaran sihir.
“Aku akan membuka pintunya.”
Jenderal Perry kembali membuka kotak dan
mengeluarkan kunci emas.
Semua pandangan tertuju pada kunci itu.
Kunci dimasukkan ke lubang pintu besi.
Krek—
Diputar—
Klik.
Kunci itu membuka penguncinya.
Kiiiieeek—
Pintu otomatis perlahan terbuka.
“……”
“……”
Para jenderal tahu betul pemandangan apa
yang akan tersaji di dalam.
Karena sebelum Jenderal Agung tumbang,
sidang semacam ini pernah diadakan.
Kiiiieeek—
Bangunan kubah yang kokoh, gelap gulita,
seperti bunker perlindungan udara.
Di dalam ruang sidang, hanya ada sebuah
meja bundar dan kursi-kursi yang mengelilinginya.
Namun, hanya satu kursi yang berada di atas
sebuah undakan, lebih tinggi dari yang lain.
Kursi Jenderal Agung.
Tempat duduknya.
Dan juga kursi yang diinginkan oleh para
jenderal yang datang ke sini.
Ruang sidang yang gelap.
KUNG!
Begitu pintu terbuka sepenuhnya, sihir pun
aktif.
Pemandangan di dalam ruang sidang otomatis
diterangi.
Paaaat!
“……!”
“!”
“Huh!”
Melihat pemandangan itu, tak satu pun dari
mereka mampu berkata apa-apa.
“Je– Jenderal Agung—”
“Jenderal Agung…!”
Sosok yang sebelumnya tak terlihat dalam
kegelapan.
Seorang lelaki tua yang duduk santai di
atas meja bundar.
Jenderal Agung, sambil memakan buah,
tersenyum lebar.
“Selamat datang.”
Penguasa laut yang dikatakan tak sadarkan
diri.
Ia menyambut mereka—dalam keadaan hidup.
Dengan wajah yang tampak sungguh menikmati
situasi ini.
Dan pada saat itu—
Wiiiing—
Sebuah tangan yang mengandung angin
mengarah ke tengkuk seseorang.
“!”
Jenderal Ketiga, Wanderer Uho.
Adik angkat Raja Naga.
Sesaat dilanda kebingungan karena melihat
Jenderal Agung yang tampak baik-baik saja, ia merasakan hawa dingin menjalar
dan segera menoleh.
Kelalaian sesaat itu.
Ada seseorang yang menunggu tepat saat
kelalaian itu muncul.
Uho melihat sebuah tangan terulur ke arah
lehernya.
Sosok yang bahkan tidak pernah ia anggap
layak diperhatikan—bahkan tak lebih dari sampah di mata para jenderal lain.
Seseorang yang berada begitu dekat, kurang
dari satu langkah jaraknya, namun keberadaannya sepenuhnya ia abaikan.
Sriiing.
Sekretaris berambut hitam berkacamata itu
tersenyum.
Cale tersenyum cerah dan menyapanya.
“Halo.”
Sebelum Kaisar Kedua datang.
Sebelum waktu kedatangan pastinya—yang
diketahui melalui Jenderal Hinari—tiba.
Singkirkan dulu variabel yang tidak perlu.
Tangan Cale mencengkeram leher Uho.
.
.

Komentar
Posting Komentar