Trash of the Count Family Book II 516 : Aku Turun!


[ Cale. ]

Dominating Aura itu, yang jarang sekali bersikap serius, terdengar.

[ Ia datang. ]

Cale tidak menanyakan apa yang datang.

[ Kematian datang. ]

Ting, ting, ting~!

Lonceng di tangan Choi Jung Soo dan Sui Khan berguncang sendiri seperti orang gila.

Brak!

Klik!

Heavenly Demon dan Choi Han lupa bahwa mereka harus berjaga, lalu masing-masing membuka jendela dan pintu untuk melihat ke dalam.

Karena mereka menyadari bahwa bahaya itu bukan datang dari luar, melainkan menuju ke dalam ruangan ini.

“…..”

Ashifrang gemetar hebat.

Tubuhnya tidak sakit.

Tidak ada rasa nyeri.

Namun ia ketakutan.

Ia tidak sanggup menatap langit, langit-langit, atau ke atas.

Sesuatu sedang datang,

dan itu terlalu menakutkan.

“……!”

Saat itulah—

Nyaaong.

Pada saat suara tangis tertahan Hong dari kelompok rata-rata 10 tahun yang diam di sudut ruangan terdengar pelan.

“Para Dewa itu, benar-benar berisik.”

Cale menggerutu dengan nada penuh kejengkelan.

“!”

Pada saat itu, Ashifrang merasakan sesuatu seperti hembusan angin.

Sebenarnya tidak ada angin yang bertiup.

Namun sesuatu telah melewatinya.

“……!”

Dan aura itu sama menakutkannya dengan aura Dewa Kematian yang sedang turun sekarang.

Tubuhnya baru bereaksi setelahnya—bulu kuduk meremang dan ia mulai gemetar.

“Ah—”

Namun ia bisa membuka mulut dan bersuara.

Ia mengangkat kepala.

Tadi ia tidak mampu menatap ke atas, tetapi sekarang ia bisa.

‘Ada sesuatu?’

Sesuatu yang tak terlihat sedang melawan aura Dewa.

Ia menoleh ke sekeliling.

Melihat wajah anak – anak rata-rata 10 tahun, Ron, Beacrox, dan yang lainnya, Ashifrang menyadari bahwa mereka, seperti dirinya, kini merasa lebih tenang.

Dan melihat ke arah mana pandangan mereka tertuju, ia pun memahami penyebab dari semua ini.

“Hm.”

Cale Henituse.

Ia memejamkan mata erat-erat.

Dari dirinya terpancar Dominating Aura yang benar-benar menakutkan.

Jika ia adalah Ashifrang yang dulu, ia bahkan tak akan sanggup menatap Cale seperti itu.

Namun karena ia tahu bahwa tindakan Cale barusan dipicu oleh satu tangisan anak ras kucing, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Cale.

Justru, perasaan yang tak ia mengerti mulai tumbuh.

‘Dia… manusia, kan?’

Situasinya membuatnya meragukan itu.

Hanya karena satu erangan anak ras kucing, ia tidak memusatkan perhatian pada ritual yang begitu penting baginya, dan malah bertindak menentang proses turunnya Dewa.

‘Bagaimana bisa begitu?’

Aura yang sedang turun dari langit ini jelas merupakan bagian penting dari turunnya Dewa Kematian.

Apakah boleh menahannya?

“……!”

Namun Ashifrang segera menyadari betapa bodohnya pikiran itu.

Tap. Tap.

Di tengah kamar tidur tempat Jenderal Agung terbaring.

Dan di sekelilingnya, tiga orang berdiri membentuk formasi segitiga.

Cale Henituse, Sui Khan, Choi Jung Soo.

Ke arah lingkaran itu, seseorang melangkah mendekat.

Putra Mahkota Alberu.

Tap. Tap.

Alberu Crossman melangkah satu per satu hingga berdiri di sisi mereka.

Saat melihat itu, Ashifrang pun mengerti.

“Ah.”

Begitu rupanya.

‘Di sana masih manusia biasa!’

Melihat ekspresi Alberu, Sui Khan, dan Choi Jung Soo, serta tubuh mereka yang menegang dan keringat dingin yang mengalir, Ashifrang menyadari bahwa pusat ritual yang sedang berlangsung itu tidak menahan aura Dewa.

“Ha—”

Ia kehabisan kata-kata.

Rasanya seperti ia baru saja melihat jati diri sebenarnya dari orang-orang yang bergandengan tangan hanya demi melindungi ayahnya dan Maritim Union.

“…….”

Terutama Alberu Crossman, yang meski tidak perlu melakukan itu, tetap berdiri di belakang Cale Henituse agar tidak mengganggu ritual dan menerima aura Dewa sepenuhnya.

Melihat pandangannya yang hanya tertuju pada Jenderal Agung, Ashifrang tak kuasa selain memejamkan mata erat-erat.

‘Aku… masih jauh.’

Saat kesadaran yang dalam itu menyelimutinya, meski hanya sesaat—

“Hey~”

Suara Cale Henituse terdengar.

Ia masih memejamkan mata.

[ Cale, memang Dewa itu berbeda… sialan! ]

Mengabaikan gumaman Dominating Aura itu, Cale membuka mulut.

“Aku sudah mengucapkan semua mantra pemanggilannya, kan!”

Setelah kalimat penanda dimulainya ritual pertama diucapkan, semua mantra lanjutan juga telah selesai dilafalkan.

Begitu kalimat ritual itu berakhir, aura Dewa Kematian yang menyelimuti seluruh langit Maritim Union mulai bergerak menuju Pulau Pertama.

Lebih tepatnya, menuju tempat ini.

Dan sekarang, tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Choi Jung Soo memang berkata bahwa mereka hanya perlu menunggu, tetapi—

Dan sekarang, benar-benar tidak ada yang terjadi.

“Kenapa tidak terjadi apa-apa?”

Melihat keadaan rombongan—termasuk erangan tertahan Hong—kejengkelan Cale melonjak tanpa batas.

“Jangan buang-buang waktu.”

Ia membuka mata dan menatap ke atas, menembus langit-langit menuju langit.

“Datang saja.”

Jangan bertindak lamban.

“Jangan sampai aku menghancurkan cermin ini.”

Mendengar ucapannya yang begitu tanpa ragu, Ashifrang terkejut.

Psssh.

“Pfftt.”

Ketua Tim Sui Khan dan Choi Jung Soo terkekeh.

Dan—

Ting ting ting~!

Lonceng itu mulai berbunyi gila-gilaan.

Tubuh Cale tersentak dan terhuyung ke depan.

Alberu terkejut dan segera menopangnya.

‘Cermin…!’

Cale menunduk menatap Benda Suci.

Tiba-tiba, cermin itu bergerak.

Bahkan sekarang pun, cermin itu seperti hendak menuju ke suatu tempat.

Cale, sambil ditopang Alberu, membiarkan tubuhnya mengikuti tarikan cermin.

[ Cale. Satukan tanganmu. ]

Cale mengangkat kedua tangannya.

Di kedua tangannya, cermin itu tergenggam.

Ting ting!

[ Berkumpul! ]

Sesuai ucapan Dominating Aura, Cale merasakan aura Dewa Kematian berkumpul dan mengalir masuk.

‘Cermin.’

Ia tahu tujuannya adalah cermin.

‘Seperti langit yang turun!’

Baru sekarang Cale benar-benar menyadari—

betapa mengerikannya hasil yang akan terjadi jika ritual turunnya Dewa Kekacauan benar-benar berhasil.

“Ghh!”

Tanpa sadar, erangan keluar dari mulutnya.

Tangan Alberu yang mencengkeram bahu Cale bergetar.

‘Sialan, Dewa gila!’

Dewa Kematian ini—benar-benar tidak main-main.

“Kuat sekali!”

Jadi ini yang disebut hanya sepertiga kekuatan?

Bahkan dalam aura ini tidak ada niat membunuh ataupun kebencian terhadap musuh.

Ini hanyalah kekuatan yang ada.

Dan ini disebut hanya turunnya sementara?

Hanya sementara?

‘Aku tidak bisa menang.’

Cale yakin.

Dewa Kematian dalam kondisi utuh—

Cale sama sekali tidak bisa mengalahkannya.

Dewa Kekacauan, Dewa Keseimbangan—

Makhluk yang disebut Dewa itu, tidak bisa ia kalahkan.

Ia merasakannya dengan jelas.

Ting ting!

Aura yang menghantamnya sekarang terasa cukup kuat untuk membuatnya berlutut kapan saja.

Itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Dewa Kekacauan, mata yang sempat ia lihat sesaat, atau keberadaan kecil itu.

Inilah Dewa yang sesungguhnya.

Karena ia merasakan kematian sedang datang.

Cale menyadari bahwa nama-nama seperti Kekacauan, Kematian, dan Harapan yang melekat pada para Dewa bukan sekadar sebutan.

Itu adalah keberadaan Dewa itu sendiri.

Dewa yang biasanya merengek dan ceroboh—

adalah Kematian.

Crack!

Di atas kediaman Jenderal Agung—

retakan tipis muncul di langit.

Langit yang terbelah.

Retakannya begitu kecil hingga bagian dalamnya pun tak terlihat.

Namun, pada saat satu kekuatan memancar keluar dari celah itu seperti petir—

Situasi darurat!
Field Maritim Union sedang diblok—zzzzzt

Dalam sekejap, sistem lumpuh.

Satu sambaran petir tak terlihat melewati atap kediaman.

Bangunan itu tidak runtuh.

Kekuatan itu tidak menghancurkan apa pun.

Ia hanya bergerak menuju tujuannya.

“Ghh!”
“Ugh!”

Di tengah dering lonceng yang mengamuk, erangan Sui Khan dan Choi Jung Soo semakin keras.

Semua orang mendongak.

Karena mereka merasakan kekuatan besar itu turun.

Ting!

Dan ketika suara lonceng pun berhenti—

Bruk.

“Ghh.”
“……”

Alberu, Sui Khan, dan Choi Jung Soo tanpa sadar berlutut dan terjatuh.

Meski Sui Khan dan Choi Jung Soo bekerja di bawah Dewa Kematian, menghadapi kekuatan Dewa secara langsung—meski hanya sepertiga dari wujud aslinya—adalah sesuatu yang terlalu berat untuk ditanggung.

“!”
“……”

Namun mereka tetap menggenggam lonceng dan menatap ke atas.

Lebih tepatnya—ke arah cermin.

Dan ke arah Cale yang masih berdiri sambil memegang cermin itu.

[ Cale. ]

Cale masih bisa berdiri.

Ia masih berdiri.

Bukan karena Dominating Aura.

[ Sepertinya… bisa dimakan juga. ]

Bukan pula suara Sky Eating Water.

[ Sepertinya bisa dimakan, rasanya seperti wine berkadar tinggi, sangat pekat. ]

Makhluk yang melontarkan omong kosong gila itu adalah—

Indestructible Shield, Dewi Rakus.

‘Hah!’

Cale terdiam, tercengang oleh situasi yang menggelikan itu.

Ting!

Saat itu, sebuah pesan sampai ke cermin.

Seperti dugaan, kau bisa bertahan!

Bersamaan dengan kata-kata itu, Cale menghela napas.

“Fuck.”

Memang tidak mungkin tidak begitu.

Pada saat satu sambaran petir tak terlihat menyentuh cermin—

Cale menangkap momen itu dengan tepat.

Paaaah—

Tak lama kemudian, cahaya yang sangat terang memancar dari cermin dan menyebar ke segala arah.

“Ugh!”
“Ghh!”

Semua orang memejamkan mata.

Namun Cale tidak.

Anehnya, matanya tidak silau.

Sebaliknya, ia bisa melihat arah ke mana cahaya yang memancar dari cermin itu bergerak.

Cahaya itu aneh.

Tak bisa digambarkan sebagai warna tertentu.

Putih sekaligus hitam, merah dan biru pada saat yang sama.

Singkatnya—warna yang tidak bisa dikenali manusia.

Cahaya yang hanya bisa dijelaskan seperti itu pun bergerak menuju kepala Jenderal Agung.

“!”

Dan dalam sekejap, cahaya itu meresap masuk lalu menghilang.

“?”

Setelah itu, sunyi.

Cale menarik kembali Dominating Auranya.

Sudah tidak dibutuhkan lagi.

Keheningan memenuhi kamar tidur.

Tak seorang pun mudah membuka mulut.

Hong, yang berada dalam pelukan Ron, memiringkan kepala, dan Raon perlahan mendekati sisi Cale.

“……”

Cale menunduk menatap Jenderal Agung yang masih memejamkan mata.

Saat itulah—

“Berhasil?”

Cale mendengar suara Alberu yang serak di sampingnya.

“Ayah?!”
Ashifrang juga bergegas mendekat.

“……”

Namun tubuh Jenderal Agung terlalu tenang.

Tidak ada perubahan apa pun.

Cale menatap Ashifrang dan Alberu masing-masing sekali.

Jiwa Raja Zed? Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya dengan baik.

Dewa Kematian telah berjanji akan mengeluarkan jiwa Raja Zed dari penjara, dan Alberu serta Cale mempercayainya.

“……”

Namun Jenderal Agung tetap diam, dan Cale mengalihkan pandangannya ke Choi Jung Soo.

“Aku akan mengeceknya.”

Choi Jung Soo mendekati Jenderal Agung.

Untuk memeriksa kondisinya.

Saat Choi Jung Soo mengulurkan tangan dan semua orang menatap—

“!”

Mata Cale membelalak.

Tiba-tiba Jenderal Agung membuka matanya lebar-lebar.

“Manusia! Dia membuka mata!”

Raon berteriak kaget, dan Cale pun bertatapan mata dengan Jenderal Agung.

Mulut Jenderal Agung terbuka.

Apakah turunnya berhasil?

Saat ketegangan memuncak—

Senyum miring.

Jenderal Agung tersenyum.

Itu senyum yang pernah ia lihat entah di mana.

“Aku… turun.”

Ah.

Dewa Kematian.

Sudut bibir yang tak tahu malu itu, ekspresi seperti itu—jelas Dewa Kematian.

Saat Cale hendak merasa lega—

Jenderal Agung melanjutkan.

“Aku turun, selesaaiii—uek!”

Uek?

“Uweeek—”

Jenderal Agung, yang dengan wajah ceria hendak mengumumkan keberhasilan turun, tiba-tiba tubuhnya terguncang dan ia mulai muntah.

“Sialan! Uwek—Ugh, tahan, ugh, uweeek~”

Mulut Cale ternganga.

Jenderal Agung muntah.

Tidak—Dewa Kematian.

Dari mulutnya, sesuatu keluar.

“Hah…”

Terdengar desahan kosong dari Alberu Crossman.

“Gila.”

Suara Putra Mahkota terdengar entah kenapa tak bertenaga.

Sekali lagi terdengar desahan kosong Alberu Crossman.

“Gila.”

Uweeek!

Dari mulut Jenderal Agung yang muntah, sesuatu terus keluar.

“……Ayahanda.”

Itu adalah Raja Zed, dalam wujud setengah transparan.

Entah pingsan atau tidak, tubuh sang Raja terkulai lemas saat dimuntahkan keluar dari mulut Jenderal Agung.

…Itu jelas Raja Zed.

“Bikin stres.”

Tentu saja, wujudnya terlihat seperti boneka lucu dari jelly.

Plok.

Raja Zed yang setengah transparan, dengan bentuk boneka lucu dan tekstur seperti jelly, panjangnya sekitar satu lengan Cale.

“Ah, lega.”

Jenderal Agung—tidak, Dewa Kematian—mengangkat Raja Zed berbentuk boneka itu dengan kedua tangannya.

“Ta-da! Aku menyelamatkannya!”

Orang tua itu, Dewa Kematian, tertawa kecil,

“Fufufu~.”

Tanpa sadar, Cale bergumam.

“Gila.”

“Gila.”

Ia menoleh.

Pandangan matanya bertemu dengan Alberu yang mengucapkan kalimat yang sama pada saat bersamaan.

Cale dan Putra Mahkota Alberu saling menatap sejenak tanpa berkata apa-apa.

****

‘Raising my own very precious omnipotent/absolute God,’

Dunia virtual New World.

Di antara semuanya, terjadi kesalahan mendadak di Maritim Union.

Akibatnya, penduduk New World dan para user pun gempar.

Ketertarikan terhadap kejadian misterius di Pulau 1—tempat Jenderal Agung yang tak sadarkan diri berada—melonjak tajam.

“……Sampai-sampai sistem menilai ini sebagai error?”

“Ya, Tuan Kaisar Dua.”

Kaisar bereaksi terhadap laporan itu.

Di tangannya, terdapat sepucuk surat yang dikirim oleh Uho, kakak angkat tertua dari Kaisar Tiga.

.

Terimakasih dukungannya. Semoga rezeki kalian melimpah~


Dukung translator disini : 
Donasi disini : Support

Komentar

  1. Wkwkwk....muntah🤣....makasih udah up kak~

    BalasHapus
  2. Wkwkk dewa Kematian masih tetap dewa Kematian. 🤣🤣

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor