Trash of the Count Family Book II 510 : Aku Turun!
“Sebentar saja.”
Cale memberi tahu Ashrifang dan Jenderal
Perry, yang dipenuhi kebingungan, agar menunggu, lalu ia fokus pada cermin itu.
“Hey. Dewa Kematian.”
Suaranya langsung terukir dalam Hangul di
permukaan cermin.
“Aku sudah menemukan Yang Mulia Raja Zed,
tapi situasinya itu…”
Wuuung! Wuuuung!
Cale, yang sudah terhubung dengan Dewa
Kematian, berusaha menyampaikan situasi secepat mungkin.
<Tunggu sebentar! Sepertinya ada yang
mendekat! Aku hubungi lagi nanti! Kirimkan pesannya dulu!>
Dewa Kematian itu kembali menghilang.
Tanpa sadar Cale mengumpat.
“Pengen mati, ya?”
Wuuung!
Cermin itu kembali bergetar.
<Maaf! Akan kubaca dalam 1 jam!
Hehe.>
Seperti dugaan, bajingan itu mengecek semua
pesan.
Hanya saja… dia tidak membalasnya.
Wajah Cale mengerut.
“……”
“……”
Sementara Ashrifang, Jenderal Perry, para
tabib, serta para pelayan menatap percakapan itu dengan bengong, Cale tetap
melanjutkan kata-katanya.
Ia harus menjelaskan apa yang sudah
diketahui sejauh ini.
“Roh Yang Mulia Raja Zed berada di dalam
tubuh seseorang yang disebut Jenderal Agung Maritim Union.”
Tubuh itu… jantungnya sempat berhenti, lalu
hidup kembali setiap kali Raja Zed terbangun.
“Tapi Yang Mulia Raja Zed tampak sulit
melakukan apa pun dengan kehendaknya sendiri di tubuh itu. Seolah-olah ia
dikurung, seluruh tubuhnya terbelenggu.”
Dan—
“Tubuh itu perlahan sedang sekarat. Durasi
saat jantungnya berhenti terus bertambah, dan menurut tabib di sini, waktu
ketika jantung sang Jenderal Agung akan berhenti sepenuhnya hampir persis sama
dengan waktu kematian Raja Zed yang kamu berikan kepada kami dulu.”
Cale meninggalkan semua detail itu dalam
pesan.
Semakin banyak informasi, semakin jelas
gambaran situasinya.
“Dan di balik semua ini, tampaknya ada
keterkaitan dengan Wanderer dari Fived Colored Blood, Kaisar Dua.”
Cale pun menyampaikan tuntutannya.
“Keluarkan cara untuk menyelesaikan ini.”
Dia meminta… tanpa tedeng-alang.
“Kalau tidak, aku tidak akan membantumu.”
Disertai sedikit ancaman mematikan.
Tentu saja, meski Dewa Kematian tak
menemukan jawabannya, Cale tetap berniat menyelamatkan Dewa menyebalkan itu.
Ia tak berniat membiarkannya lenyap.
Kata mereka, kehancuran seorang Dewa
hanyalah Hukum Perburuan—dimangsa oleh musuh alamiahnya.
Dengan kata lain, jika Dewa Kematian berada
di ambang kematian, itu berarti ada pihak yang memahami Hukum Perburuan itu…
dan sedang memburunya.
Para Wanderer Fived Colored Blood tingkat
Transparent ke atas, atau Klan Surgawi.
Tentu, Raja Iblis juga tahu informasi ini
sekarang.
Tetapi Raja Iblis yang baru mengetahuinya…
belum memiliki kekuatan pembunuh Dewa.
Artinya, hanya kamu Surgawi—yang
menyembunyikan kitab suci tentang Hukum Perburuan—dan Wanderer Fived Colored
Blood yang berhasil menemukannya, yang tahu bagaimana cara melenyapkan seorang
Dewa.
Cale sendiri punya kemampuan itu.
Sky Eating Water dan Indestructible Shield.
Ia pun dikatakan memiliki kemampuan
pembunuh Dewa.
‘Untuk sekarang, kita tunggu jawabannya
satu jam.’
Cale menunjuk sofa dan meja di sudut kamar
tidurnya.
“Kita perlu bicara.”
Dengan wajah masih linglung, Ashrifang dan
Jenderal Perry melihat Cale menunjuk ke kalender.
“Sekarang hanya tersisa dua hari sebelum Pertemuan
ke-17.”
“….!”
“!”
Setelah itu, Cale meminta bantuan kepada
Choi Han.
“Pastikan tidak ada yang bisa masuk
mendekat.”
“Baik, Cale-nim.”
Setelah memastikan keamanan, barulah Cale
memulai pembicaraan serius.
Orang pertama yang buka suara adalah
Ashrifang.
“…Dari Kerajaan mana kamu?”
Sekarang dia bahkan memakai bahasa formal.
Cale menatap Ashrifang yang tiba-tiba
berperilaku sopan itu dengan puas, lalu menjawab.
“Kami—”
Saat itu, Cale menoleh dan bertemu pandang
dengan Alberu, yang bangkit dari lantai dan berjalan ke arah mereka.
Bagaimana ia harus menjelaskan ini pada NPC
game VR New World?
Bicara yang benar.
Tatapan Alberu seperti itu. Maka Cale pun
bicara dengan sangat… benar.
“Kerajaan Kegelapan.”
“!”
Mata sang Pahlawan, Alberu, membesar dan
bergetar.
‘Eh, itu berarti aku jadi Pangeran
Kerajaan Kegelapan?! Aku ini Pahlawan! Bukannya Kerajaan Kegelapan itu milikmu
atau Eden Miru?!’
Alberu jelas punya banyak yang ingin
dikatakan, tapi Cale tetap maju tanpa malu.
“Kerajaan Kegelapan…?”
Ashrifang dan Jenderal Perry bingung,
karena ini pertama kalinya mereka mendengar nama wilayah itu.
Dengan wajah serius, Cale berkata:
“Kebanyakan orang memang tidak tahu.
Kerajaan kami baru mulai sedikit terkenal. Selama ini kami bersembunyi di balik
bayangan New World.”
“?”
“Kerajaan kami hanya akan muncul ketika
satu hal terjadi.”
“?”
“Ketika musuh yang mengancam dunia ini
bangkit.”
“!”
“Saat ini, kami sudah bekerja sama dengan 3th
Evils, 7th Evils dari 8th Evils, serta Kekaisaran Timur
dan Kerajaan Lan.”
“!”
Ekspresi Ashrifang dan Jenderal Perry, yang
dipenuhi keraguan, perlahan berubah menjadi kaku.
Mereka merasakan ketulusan dalam kata-kata
Cale yang tanpa ragu itu.
Selain itu, Jenderal Perry teringat bahwa
surat jaminan yang rombongan Cale tunjukkan di Pulau 16 berisi bukti bahwa
identitas mereka dijamin oleh Kekaisaran Timur.
“Jika kalian penasaran, kalian boleh
menanyakan tentang kami pada kekuatan-kekuatan itu. Lagipula, dalam beberapa
jam lagi kebenarannya akan terungkap.”
Benar. Seperti kata Cale, informasi itu
adalah sesuatu yang bisa diketahui siapa pun yang ingin mencarinya—tidak
mungkin disembunyikan.
“J-Jadi itu berarti—”
Ashrifang menunjuk tubuh ayahnya, sang Jenderal
Agung.
“Di tubuh ayahku… Raja Kerajaan Kegelapan…
bukan, Yang Mulia Raja ada di dalamnya?”
Meski masih sulit percaya, Cale mengangguk.
“Tidak mungkin… jadi Ayahanda adalah Raja
Kerajaan Kegelapan? Lalu berarti Kerajaan Roan adalah Kerajaan Kegelapan?”
Cale mengabaikan wajah Alberu yang tampak
ingin mengajukan seribu keberatan, dan melanjutkan penjelasannya dengan santai.
“Begitulah dugaan kami. Setelah kamu
menyebut nama Kaisar Dua, aku hampir yakin.”
Jenderal Perry bereaksi.
“Apa… atau siapa Kaisar Dua itu?”
“Hm.”
Cale menatap keluar jendela dengan wajah
serius. Langit yang mulai memerah oleh senja menyinari pulau itu.
Perlahan ia membuka mulut.
“Jika kamu mendengar kebenarannya, kamu
hanya punya dua pilihan—bergabung bersama kami, atau—”
Dalam cahaya merah senja, mata Cale
terlihat semakin gelap. Jenderal Perry tahu persis kelanjutan dari kalimat itu.
“Jika kami tahu kebenaran tapi tidak
berpihak pada kalian… kami akan mati, begitu?”
Cale menggeleng.
“Aku tidak sampai hati melakukan itu.”
Namun tatapan seriusnya membuat Perry
kembali berbicara.
“Toh, kita sudah berada di kapal yang
sama.”
“Benar.”
“Kalau begitu kami harus mendengarnya.”
“Baik.”
Menghadapi tatapan tegas Perry, Cale mulai
menjelaskan tentang para Wanderer.
“Ada sebuah kekuatan yang berusaha
menguasai dunia ini. Mereka adalah para Hunter dari Fived Colored Blood.”
“……”
“Di klan itu ada tiga orang yang disebut
sebagai kekuatan absolut. Mereka memiliki gelar ‘Kaisar’.”
“Kalau begitu… Kaisar Dua adalah?”
“Ya. Salah satu dari mereka. Dan Jenderal
Pulau 3 adalah adik angkat dari Kaisar Tiga itu.”
“…..!”
Mendengar itu, sebuah kemungkinan muncul di
kepala Jenderal Perry—dan tanpa sadar ia mengucapkannya.
“Jangan-jangan… mereka ingin memakan
seluruh Maritim Union…!”
“Benar.”
Cale menambahkan informasi dasar bagi Perry
yang mulai kesulitan mencerna semuanya.
“Dan pihak yang bekerja sama dengan Fived
Colored Blood adalah keluarga Transparent Blood serta Sekte Dewa Kekacauan.”
“Ah…”
“Selain itu, kami juga bekerja sama dengan
Gereja Dewa Matahari. Dan Yang Mulia Pangeran kami—”
Cale menunjuk Alberu dengan wajah bangga.
“Adalah Pahlawan yang diakui oleh Gereja
Matahari! Karena itu beliau melepaskan posisi sebagai Putra Mahkota Kerajaan
Kegelapan dan menjalankan tugas sebagai pahlawan.”
Cale tersenyum ceria pada Alberu.
‘Kurang lebih masuk akal, kan?’
‘Haaa…’
Alberu menghela napas panjang dan
memalingkan wajah.
“……”
Jenderal Perry menyimak semuanya, namun tak
mudah baginya memproses setumpuk informasi itu.
“Jadi… menurutmu… apa yang terjadi pada Jenderal
Agung?”
Pertanyaan itu membuat bahu Ashrifang
bergetar.
Dengan suara gemetar Perry bertanya:
“Jika roh di dalam tubuh itu adalah Yang
Mulia Raja Kerajaan Kegelapan… maka Jenderal Agung…”
Hmm.
Kali ini Cale tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, orang lain bicara.
“Situasi terbaik adalah… roh Ayahanda masih
berada di tubuh Jenderal Agung. Dan situasi terburuk—”
“Situasi terburuknya adalah,” ulang Alberu,
suaranya tenggelam dan berat.
“Tubuh itu sudah mati. Tubuh itu telah mati
sejak lama… dan Ayahanda terjebak di dalamnya.”
Alberu menatap Ashrifang.
“Bagaimana menurutmu?”
“……”
Seorang putra menanyakan hal itu pada putra
lainnya.
Bahu Ashrifang semakin bergetar. Ia
menunduk, menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Saat semua orang berpura-pura tidak melihat
getaran itu, suara lirih keluar dari sela jarinya.
“Aneh…”
Kata-kata itu entah untuk diri sendiri atau
untuk didengar orang lain.
“Beliau melihatku seperti orang asing.
Walau kehilangan kesadaran… ayah seharusnya tetap mengenali anaknya. Tapi
tatapannya… seperti pertama kali melihatku. Dan… hari ini… sorotan mata Ayah
saat melihat kalian…”
Ia tertawa hambar.
“Ha… jantung yang berhenti lalu hidup
kembali, itu pun sudah aneh. Benar… sangat aneh. Lebih masuk akal jika tubuh
yang sudah mati itu ditempati roh lain.”
Ia yang sejak tadi bergumam, tiba-tiba
mengangkat kepala menatap Cale.
Di mata yang masih basah, air mata sudah
berhenti.
Yang tersisa hanyalah kemarahan yang
menyala—penuh tekad dan kedalaman yang bergetar.
Pada akhirnya, setelah menghadapi kebenaran
yang tak bisa dihindari lagi, tatapan Ashifrang tak lagi memuat rasa takut
ataupun gentar.
“Waktu itu.”
Ia menatap Cale, namun matanya seakan
melihat sesuatu yang jauh di belakangnya.
“Aku ini, seperti yang bisa kau lihat… agak
kurang ajar dan tukang bikin masalah, kan? Jadi sehari sebelumnya aku mabuk
berat dan bersenang-senang, lalu membolos latihan pagi. Akibatnya, Ayah
memberiku larangan keluar. Padahal malam itu aku juga punya janji minum.”
“Khekhe.”
Ashifrang tertawa kecil, seolah dirinya
sendiri terasa konyol.
“Tapi meskipun aku bikin masalah, aku orang
yang cukup sopan, tahu? Makanya aku datang untuk meminta izin pada Ayah, boleh
tidak aku pergi sebentar ke janji minum itu. Maksudku, aku sudah dewasa, tapi
masih saja dapat larangan keluar dari Ayah—bukannya lucu?”
Ia tertawa lagi, seperti benar-benar geli.
“Pokoknya, aku dengar Ayah lembur sampai
larut, jadi aku menunggu. Lalu waktu beliau hendak masuk ke kamar tidur, aku
menyapanya. Bilang kalau dia akan pulang lebih awal. Tapi waktu itu… Ayah
memakai pakaian dinas untuk keluar.”
Jenderal Agung dengan pakaian luar itu
berkata kepada Ashifrang.
“Ketika aku bertanya hendak menemui siapa,
Ayah tidak menjawab. Beliau hanya mengatakan bahwa itu janji penting. Tetapi Ashifrang
menanyakan apakah beliau pergi menemui kakak perempuan mereka—karena ada
ekspresi khas pada wajah Ayah setiap kali beliau hendak menemui sang kakak.
Ha…”
Tawanya kali ini terdengar seperti sebuah
keluhan.
“Lalu Ayah bilang kakak menyuruhnya
merahasiakan pertemuan itu, dan Ayah ingin meminta saran penting darinya
terkait Pulau 7. Beliau menyuruhku melupakan semua yang kulihat hari itu. Aku
pun mengiyakannya dan pergi kembali ke rumah malam itu.”
Sebab ia tidak ingin merusak suasana hati
Ayah yang tampak senang—melupakan beban pekerjaannya dan hendak menemui sang
kakak.
“Ayah keluar dari kediaman diam-diam.
Beliau hendak menemui Kakak di suatu tempat.”
Jika Jenderal Agung ingin bergerak secara
rahasia, tak seorang pun di kediaman bisa menyadarinya.
Tak ada yang lebih kuat dari dirinya.
Semua orang mengira Jenderal Agung
beristirahat di kamar.
Kecuali Ashifrang yang melihatnya karena
urusan janji minum itu.
“Tapi besok paginya… Ayah ditemukan
tertidur di tempat tidur, seperti sekarang—dalam kondisi itu.”
Ashifrang mengusap wajah dengan kedua
tangan.
Ia tampak sangat lelah… dan sangat hancur.
“Tentu saja semuanya menjadi panik.
Terutama saat melihat kondisi Ayah ketika beliau siuman…”
Maka seperti biasa, orang pertama yang
dipanggil adalah figur tua yang dihormati setelah Ayah—Jenderal 7, kakak
perempuan mereka.
“Tapi… Kakak tidak menunjukkan tanda-tanda
bahwa beliau telah bertemu Ayah malam sebelumnya.”
Itu yang membuat Ashifrang merasa aneh.
Namun ia mengira kakaknya tidak bisa
mengungkapkannya kepada orang lain karena masalah penting terkait Pulau 7. Jadi
Ashifrang diam-diam menuju kediaman Jenderal 7.
Ia berniat bertanya.
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
“Jujur… aku pergi ke sana bukan tanpa
kecurigaan. Ada sesuatu… sesuatu yang terasa aneh. Cara Kakak memandang Ayah
yang terbaring di ruang penyucian itu… berbeda.”
Mungkin itu intuisi seorang keluarga.
Karena itu, dengan dalih ingin membantu
Kakaknya, ia pergi diam-diam ke tempat tinggal sang Jenderal.
“Dan aku mendengar ini—‘Kaisar Dua sudah
menanganinya dengan baik.’”
Ashifrang menatap Cale.
“Aku mendengar itu.”
Itu terdengar dari seseorang yang bekerja
di dekat kakaknya, lewat pintu yang tidak tertutup rapat.
Begitu ia mendengar kalimat itu, ia
merasakan kehadiran seseorang di dalam.
Tanpa sadar, ia pura-pura baru tiba dan
membuka pintu dengan keras.
“Kakak! Apa yang harus kita lakukan?!”
Seperti biasa, Ashifrang yang kekanakan dan
selalu bergantung pada kakaknya bertanya dengan manja. Melihat ekspresi lega
dari kakaknya ketika ia masuk, ia menyadari sesuatu:
Ia tidak boleh mengatakan sepatah kata pun
tentang apa yang telah ia dengar.
“...Aku tidak bisa memberi tahu siapa pun
di rumah ini. Bahkan para jenderal yang setia pada Ayah sekalipun.”
Ia tahu itu berbahaya.
Sebab Jenderal 7 adalah salah satu dari
sedikit orang yang memiliki kekuatan jauh di atas jangkauannya.
“Bagaimana bisa…?”
Jenderal Perry dari Pulau 16 tidak mampu
berkata-kata.
“Kenapa…?”
Jenderal 7 selama ini dikenal sebagai
sosok yang netral, bahkan setelah Jenderal Agung pingsan, dialah yang paling
keras menentang kekacauan di antara para jenderal yang tergiur jabatan Jenderal
Agung.
Hampir saja…
Jika ia menjadikan Jenderal 7 sebagai
sekutu…
Berbanding terbalik dengan apa yang selama
ini ia percayai, kini Jenderal Perry menerima dengan gamblang kenyataan yang
terungkap.
Bzzzttt!
Saat itu terdengar getaran.
Sebuah pesan dari Dewa Kematian.
.

Komentar
Posting Komentar