Trash Of Count Family Book II 509 : Pangeran Dan Ayahnya


Namun, orang yang kepalanya paling mendadak menjadi kosong sekarang adalah Alberu Crossman.

“Aku barusan—”

‘Apa yang baru saja aku ucapkan?

Apakah aku… baru saja memanggilnya Ayahanda?’

Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas kata yang meluncur tanpa sadar.

“Ah, Alberu…”

Namun cara pria tua itu memanggilnya—

Tiba-tiba Zed Crossman, ayahnya, terlintas di benaknya.

‘Padahal wajah dan suara mereka sama sekali berbeda~

Mengapa begitu mendengar nada suara dan tatapan pria itu memanggilku, aku langsung teringat pada Ayahanda?’

Sejak si kakek yang disebut Jenderal Agung itu mulai terbata memanggilnya “Ah, A—”, entah kenapa Alberu merasakan bayangan ayahnya dalam sorotan matanya.

‘Apa ini?’

Ia tidak bisa menjelaskannya.

Bahkan Raja Zed Crossman sekalipun tak pernah memanggilnya dengan suara seputus asa itu.

‘Namun… tatapan itu saja adalah…’

Raja Zed Crossman yang dulu menatap Alberu kecil dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan…

Tiba-tiba, melihat pria tua itu, tatapan yang telah lama ia lupakan kembali muncul dalam ingatannya.

Kasih sayang untuk seorang anak.

Rasa iba untuk seorang anak yang kehilangan ibunya.

Tatapan yang tak dapat dijelaskan, bukan cinta, bukan sedih—lebih rumit dari itu.

Terlalu banyak emosi yang bertumpuk, sehingga Alberu kecil tak akan pernah mampu memahaminya.

Dan sekarang, setelah dewasa, ia akhirnya mengerti makna sebenarnya di balik tatapan yang disembunyikan oleh banyak lapis emosi itu.

‘…Kesengsaraan.’

Dan—

‘…Keputusasaan.’

“Haa…”

Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Alberu.

Tiba-tiba ia merasa sesak.

Setelah ibunya meninggal, Ayahandanya memang pernah datang menemuinya beberapa kali.

Namun setelah itu, ia dibiarkan begitu saja.

Kalau bukan karena Dark Elf Tasha, ia tak tahu bagaimana ia bisa bertahan hidup.

Sesaat, Alberu teringat masa kecilnya—malam-malam ketika ia tak bisa tidur seorang diri di istana yang nyaris kosong.

Kekosongan itu.

Dingin yang merayap di ruang yang kehilangan kehangatan.

Bahkan jika ia menyelimuti tubuhnya atau duduk dekat perapian, dinginnya tak juga hilang.

Saat itu, Alberu hanya membaca buku.

Begitulah ia bertahan.

Ia percaya bahwa suatu hari malam itu tak lagi menakutkan, bahwa pagi yang penuh cahaya matahari akan menghangatkannya.

Namun semua berubah ketika ia menyadari dirinya mewarisi darah Dark Elf—bahwa ia tidak bisa berdiri tegak di bawah matahari.

Bahkan sinar pagi pun tak lagi bisa ia andalkan.

‘Benar… aku pernah melalui masa seperti itu—’

Tuk.

Alberu merasakan sebuah tangan jatuh di pundaknya.

Saat ia melihat tangan itu yang secara refleks mencengkeram pundaknya—

“……”

Cale Henituse menatapnya tanpa sepatah kata pun.

“Ah.”

Sebuah seruan kecil lolos dari mulut Alberu.

“Ya ampun.”

Cale menghela napas, lalu mengambil sapu tangan yang dibawakan Ron dan dengan kasar mengusap keringat yang membasahi dahi serta wajah Alberu, kemudian memasukkan sapu tangan itu ke tangan Alberu.

“Barusan kamu tampak lebih lemah dari aku.”

Usai berkata begitu, Cale menepuk pundaknya sekali lagi lalu berdiri di depan Alberu.

Baru ketika Alberu melihat punggung Cale, ia mendengar suara-suara di sekitarnya.

“Alberu? Ayahanda? Apa maksudnya ini?”

Ashifrang, si bungsu dari Jenderal Agung, mendekatinya dengan wajah yang sangat bersemangat.

“Ada apa yang terjadi?”

Jenderal Perry bertanya dengan nada lembut, namun wajahnya penuh kewaspadaan.

“Jenderal Agung!”

“Yang Mulia Jenderal Agung, apakah kamu sudah sadar?”

Para tabib dan pelayan menjadi sibuk.

Mereka mencoba berbicara dengan sang Jenderal Agung, namun—

“—Uuuh… uuh.”

Tubuh pria tua itu gemetar hebat, nyaris tak mampu berdiri tegak.

Bola matanya bergerak tanpa arah, liur menetes dari mulutnya namun tampaknya ia tak menyadarinya sama sekali.

Keadaannya tiba-tiba tampak sangat serius.

“Ah.”

Di tengah semua itu, Alberu akhirnya menyadarinya.

Ia bukan mengkhawatirkan kekacauan yang sedang terjadi.

Yang lebih membuatnya terpukul adalah dirinya sendiri—bahwa ia belum benar-benar lepas dari ingatan masa lalu, dan ia kini tahu bagian mana dari dirinya yang masih lemah.

“Aku bilang, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini!”

Suara Ashifrang terdengar, tetapi Alberu mengabaikannya dan fokus menenangkan diri.

Karena—

“Apakah kamu tahu kenapa kami ingin datang ke Pulau 1, tempat Jenderal Agung tinggal?”

Kini ada seseorang di sisi Alberu yang bisa ia percayai untuk menangani urusan di depan.

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Saat Choi Han mendekat dan bertanya dengan hati-hati, Alberu menutup mata dan mengangguk.

Tap. Tap.

Di saat itu, langkah Cale Henituse maju terdengar.

“Yang Mulia Putra Mahkota Alberu Crossman yang ada di sini—Raja yang yaitu Ayahanda beliau saat ini sedang hilang.”

Cale melanjutkan perkataannya kepada Ashifrang dan Jenderal Perry dengan tenang.

‘Wow… jadi benar, dia ini Raja Zed yang asli?’

Namun hati Cale jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Dan mendesak.

“Raja? Putra Mahkota? Kenapa tiba-tiba begitu?”

Ashifrang mengerutkan kening, tidak mampu menyembunyikan rasa terburu-burunya.

Namun Jenderal Perry tetap diam, memasang ekspresi sulit dijelaskan, menunggu kelanjutan penjelasan Cale.

‘Keadaannya buruk.’

Sebenarnya Perry tidak sepenuhnya bisa memahami alasan rombongan Cale membantu dirinya dan Jenderal Agung.

Jika tujuan mereka adalah mengambil alih Maritim Union, gerak-gerik mereka terlalu… jinak untuk itu.

Suara Cale kembali terdengar.

“Itulah sebabnya kami mengumpulkan informasi di seluruh benua untuk menemukan Yang Mulia Raja.”

Dewa Kematian sudah mengatakan sebelumnya.

Raja Zed tampak beberapa kali memasuki game VR RMPAG, tetapi selain itu, keberadaannya tidak bisa dipastikan, seakan menyeberangi berbagai dimensi.

“Lalu kami mendapat informasi bahwa Yang Mulia Raja berada di Pulau 1, tempat Jenderal Agung bermukim.”

Karena itu mereka menunda urusan menghadapi Transparent Blood di Bumi 3 dan langsung datang kemari.

“Jadi kami harus ke Pulau 1 secepat mungkin, dan sekalian membantu meredam kekacauan di Maritim Union agar bisa membangun hubungan kerja sama.”

“Ke-ketika… itu—?”

Ashifrang menyadari bahwa ekspresi serius Cale bukanlah kebohongan.

Ia membuka mulut, bingung, tetapi Cale dengan cepat melanjutkan pembicaraan.

“Yang Mulia Raja Zed yang sedang kami cari… hidupnya tidak sampai tujuh hari lagi. Lebih tepatnya, kurang dari lima hari.”

“…!”

“…Huh!”

Mata Ashifrang bergetar hebat, sementara para tabib terengah kaget.

“…Ada apa?”

Jenderal Perry menatap Ashifrang dengan wajah seakan sudah menebak sesuatu.

“…Tabib.”

Ashifrang memanggil tabib itu.

Tabib mengalihkan pandangan dari Jenderal Agung yang tubuhnya menggigil hebat, lalu membuka mulut dengan wajah muram.

“Faktanya… akhir-akhir ini durasi ketika jantung beliau berhenti semakin panjang.”

Setengah hari jantung berhenti, setengah hari kembali berdetak.

Itu pun sudah bukan kebenaran sepenuhnya.

Durasi jantung berhenti semakin lama dari hari ke hari.

“Setelah mencermati polanya, kami menilai dalam waktu seminggu… Jenderal Agung akan berhenti bernapas selamanya.”

Berbeda dengan wajah murung Ashifrang, tabib menyampaikan fakta itu dengan nada datar dan profesional.

“Karena itu, jika dalam waktu itu kita gagal menyembuhkan kegil—”

Namun ucapannya terputus.

Tap. Tap.

Cale melangkah menuju tubuh tua Jenderal Agung.

Karena tubuhnya bergetar sedemikian hebat, para pelayan berusaha menahan tubuh sang Jenderal Agung agar tidak jatuh. Ketika Cale mendekat, Ashifrang refleks meraih lengannya.

“Apa yang kau—”

“Apakah kamu tidak merasakan sesuatu?”

Ashifrang terdiam mendengar kata-kata Cale.

“Tuan Ashifrang. Apakah aku terlihat seperti sedang berbohong?”

Tidak mampu menjawab, Ashifrang terdiam.

Ia punya banyak pertanyaan—asal negara mereka, rupa raja mereka, apa pun.

Tetapi satu hal jelas: tatapan Cale bukanlah tatapan seseorang yang sedang berbohong.

“Kita tidak punya waktu.”

Ia kembali melangkah, dan Ashifrang tak bisa lagi menahannya.

Setidaknya, ia menyadari secara naluriah bahwa dalam situasi ini, mengetahui secuil kebenaran pun adalah keputusan yang tepat.

“U, uh~”

Si pria tua yang sedang mengalami kejang.

Cale mendekat dan memegang wajahnya.

Para pelayan yang menahan tubuh pria tua itu tidak menghalangi Cale.

Bahkan, pria itu berusaha menatap Cale sebisanya.

Maka Cale pun berbicara.

“Yang Mulia Raja Zed.”

Jika ia mampu mendengar suara Cale, tentu ia juga mendengar ucapan Cale tentang dirinya yang akan segera mati.

Namun di mata pria tua itu, tidak ada tanda-tanda bahwa ia bereaksi terhadap kabar tersebut.

Ia hanya… ingin berbicara.

“Kheu, kheuk~”

Namun ia tak mampu mengeluarkan kata yang jelas, seolah ada sesuatu yang membelenggu dirinya.

Saat itu—

“Cale. Menyingkirlah sebentar.”

Alberu sudah berada di dekatnya tanpa mereka sadari.

Melihatnya, Cale mundur.

Satu-satunya kata yang berhasil diucapkan pria tua itu—pria yang belum bisa dipastikan apakah benar Raja Zed—adalah nama Alberu.

“Ayahanda.”

Alberu berlutut dengan satu kaki dan menggenggam tangan pria tua yang kejang di atas ranjang.

“Eu,,, uu,, kheuu~”

Pria tua itu berusaha menatap Alberu, bahkan setelah Cale melepaskan wajahnya.

Tanpa sadar, Alberu menggenggam tangan pria itu semakin kuat.

Melihat wajah dan suara yang asing itu, Alberu bertanya:

“Ayah, siapa yang melakukan ini?”

Siapa yang menyebabkan semua ini?

Siapa yang berbuat sejauh ini?

Ia tidak bertanya bagaimana cara agar tetap hidup, meski waktu sang raja tinggal sedikit.

“Eu, a ,aa —”

Pria tua itu membuka mulut, berusaha berbicara.

Kepada Raja yang pernah menampakkan kesengsaraan dan keputusasaan, Alberu mengucapkan kata-kata yang mungkin bisa membuatnya bergerak.

“Semua Hunter akan kami habisi. Kami bisa melakukannya.”

“……!”

“Ayahanda. Percayalah pada putramu.”

Alberu tersenyum—senyum yang selalu membuat Raon menuduhnya sedang menipu sesuatu.

Senyum itu… adalah senyum Putra Mahkota Kerajaan Roan yang dicintai seluruh rakyat.

Percaya diri, cerah, penuh harapan.

Sosok Pangeran yang dikatakan tak memiliki bayangan kelam sedikit pun.

“Bahkan Dewa Matahari pun mengakui keberadaanku. Percayalah pada putramu.”

Jadi… katakanlah.

“Siapa orangnya?”

“……!”

Fokus kembali pada mata pria tua itu.

Ia menatap Alberu tepat-tepat.

Namun suaranya tetap tak jelas.

“A, eu ,i i —”

Ia berusaha berbicara.

Alberu merasakan genggamannya semakin kuat.

Akhirnya, pria itu berbicara:

“Ee, Ee, Wauw, Kaisar—”

Pengucapannya tidak jelas.

Namun—

“Kaisar?”

Wajah Cale mengeras.

Alberu berkata dengan datar:

“Kaisar Pertama, maksud kamu?”

Cale teringat informasi yang ia dengar dari saudara Wanderer, Cho dan Ryeon.

“Sudah umum diketahui bahwa Kekuatan Unik Sang Kaisar Tiga adalah laut, tetapi Kekuatan Unik Sang Kaisar Dua dan Sang Kaisar Satu belum diketahui.

Dan katanya, Sang Kaisar Dua memiliki Kekuatan Unik yang bukan sekadar karakteristik alam biasa, melainkan kemampuan khusus.”

“Hanya saja, gelar yang digunakan untuk memanggilnya agak unik—‘Sumpah Jiwa’.”

‘Sumpah Jiwa, huh.’

Melihat Raja Zed yang seolah terikat pada tubuh Jenderal Agung, wajah Cale perlahan mengeras.

Apakah target pemburuan yang hendak ditangani Raja Zed adalah Sang Kaisar Dua?

“Uh, uu, uh……!”

Saat itu—

“Uhhh……!”

Sang ayahanda yang sedang berbicara tampak seperti itulah kata-kata terakhirnya; seluruh kekuatannya menghilang, tubuhnya terkulai lemas.

Ia mencoba membuka mata dan mengatakan sesuatu lagi, tetapi kelopak matanya menutup…

dan ia tenggelam ke dalam tidur yang tampak seperti kematian.

“…Tidak ada denyut nadi.”

Dari ucapan Alberu, yang memegang tangan sang ayahanda, Cale menyadari bahwa itu bukan sekadar tidur seperti mati—sang kakek benar-benar telah berhenti bernapas.

“Memang, menurut catatan, ini adalah waktu ketika beliau seharusnya tertidur.”

Sang tabib menyebutkan bahwa waktu sadar sang Jenderal Agung semakin pendek, dan bahwa sekarang memang waktunya ia tertidur.

“Haa…”

Alberu menghela napas panjang, berbeda jauh dari senyum cerahnya sebelumnya, dan langsung terduduk di lantai.

Cale, yang menyaksikannya, menoleh ketika bertemu pandang dengan Ashifrang yang sedang mendekat.

“…Barusan kau bilang Sang Kaisar Dua?”

Melihat Ashifrang, yang kini kembali pada sikap hormat setelah emosinya mereda, Cale memperhatikan ekspresinya dan bertanya singkat:

“Nama itu pernah kau dengar?”

“……”

Ashifrang ragu sejenak, melirik Jenderal Perry, lalu akhirnya membuka mulut.

“Aku pernah mendengarnya ketika diam-diam pergi ke kediaman Kakak Pertama.”

“Apa!? Maksudmu Jenderal Ketujuh!?”

Jenderal Perry, yang selama ini diam, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia memang berencana meminta bantuan kepada Jenderal Ketujuh.

Putri sulung Jenderal Agung, Jenderal Ketujuh, dikenal dekat dengan Perry.

“Bukan, maksudku… diam-diam? Untuk apa diam-diam menemui Jenderal Ketujuh—”

Semakin ia berbicara, wajah Jenderal Perry semakin pucat, seolah menyadari sesuatu.

Ashifrang mengepalkan tangannya kuat-kuat, seakan telah mengambil keputusan.

“Pada malam ketika Kakak Pertama menemui Ayah… sejak saat itulah Ayah jatuh sakit.”

“Eh? Aku belum pernah mendengar bahwa Jenderal Agung bertemu Jenderal Ketujuh. Yang kudengar, beliau ditemukan dalam keadaan koma pada pagi hari, begitu saja—”

“Begitulah kabarnya. Tapi aku! Aku jelas mendengar Ayah berkata bahwa beliau akan pergi menemui Kakak Pertama!”

Suara Ashifrang meninggi. Tubuhnya bergetar karena kecemasan.

Ia diliputi rasa takut saat mengungkapkan rahasia yang selama ini tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Pada saat itu—

Drrrttt

Suara getaran terdengar. Jenderal Perry dan Ashifrang menghentikan percakapan dan menoleh ke arah sumber suara itu.

?”

“……?”

Ekspresi kebingungan muncul di wajah mereka.

Karena Cale tiba-tiba mengeluarkan sebuah cermin yang cukup elegan, kuno, dan indah dari dalam jubahnya, lalu memeriksa wajahnya sendiri.

Bahkan mengetuk-ngetuk cermin itu.

Syiiik.

Ia bahkan tersenyum.

Aku lagi butuh cepat! Nggak ada tubuh yang bisa kupakai turun sekarang?>

Sebenernya nggak terlalu darurat sih. Aku lagi sembunyi.

Tapi mungkin dalam tiga hari ketahuan.

Dewa Kematian.

Ia berhasil menghubungi makhluk yang paling paham soal kematian.

Jenderal Agung dan Raja Zed Crossman…

Cale menatap lelaki tua yang jantungnya telah berhenti.

Rasanya, ia bisa menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini.

.

Dukung translator disini : 
Donasi disini : Donasi


Komentar

  1. Wah...apa dewa Kematian dan raja zed bakal jadi berbagi tubuh?🙃

    BalasHapus
  2. Woww Gila ide babang Cale gilaaa WKWKWKWK si Dewa Kematian mau disuruh berbagi tubuh sama raja Zed HAHAAHAH😂😂😂

    BalasHapus
  3. Ini akan jadi akting paling gilaaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor