Trash of the Count Familly Book II 511 : Aku Turun!
Jenderal Perry mengatupkan mulut
rapat-rapat dan menatap Cale.
Ia teringat Cale yang sebelumnya berbicara
pada cermin, menyuruhnya mencari cara.
‘Dewa Kematian—’
Soal itu benar atau tidak, ia menyingkirkan
dulu ke belakang pikiran dan hanya diam menunggu.
Menunggu jawaban yang akan Cale dapatkan.
“Hmm.”
Cale menghela napas sambil menatap cermin.
Lalu ia menatap Ashifrang.
Merasa sesuatu dalam tatapan itu, Ashifrang
bertanya dengan bibir bergetar.
“......Apakah Ayah sudah mati?”
“Hmm. Itu—”
Cale tidak bisa menjawab dengan benar.
Bang!
Dua tangan Ashifrang menghantam meja.
Ia mengira Cale tidak tega mengatakannya
karena ayahnya memang sudah mati.
“Keparat!”
Tak mampu menahan amarah, ia dan Jenderal
Perry menundukkan kepala, menahan tangis yang hendak pecah.
Bagi mereka, Sang Jenderal Agung adalah
panutan hebat dan juga seperti ayah.
“Kuugh.”
Rintihan tertahan keluar dari mulutnya.
“Uh. Hmm.”
Cale, yang heran dengan reaksi mereka,
kembali membuka mulut.
“Ehm, katanya beliau bisa saja masih
hidup?”
“!”
“?”
Ashifrang, yang tadi menghantam meja sambil
marah, dan Jenderal Perry, yang menangis sampai ingus keluar, kini menunjukkan
wajah linglung.
Cale melihat isi pesan yang ditinggalkan
Dewa Kematian dan melanjutkan.
〈Jika New World sudah menjadi dunia yang
benar-benar lengkap, aku bisa memastikan apakah Sang Jenderal Agung mati atau
tidak, tapi sekarang itu mustahil.〉
“Dewa Kematian juga berkata bahwa ia tidak bisa memastikan kematian
Sang Jenderal Agung.”
〈Namun jika Kaisar Dua terlibat, ada satu
hal yang bisa diperkirakan.〉
〈Aku mungkin akan mati sebentar lagi,
karena aku menemukan sesuatu, dan Kaisar Pertama, Kaisar Dua, serta orang-orang
dari Kaum Surgawi sedang memburuku〉
〈Kau tahu Hukum Perburuan? Huhu, ini
informasi besar, tahu?〉
‘Huh.
Aku sudah tahu.
Dasar dewa ketinggalan zaman.’
Cale menghela napas dan fokus pada kalimat
berikutnya.
〈Kaisar Dua memiliki ‘kemampuan memakan’.〉
Ia memiliki bakat godslayer, kemampuan
untuk memakan sesuatu.
Dan sesuatu yang ia makan adalah—
“Kaisar Dua memiliki kemampuan untuk memakan jiwa.”
〈Itu adalah jiwa.〉
〈Dia memakan jiwa, dan menggunakan jiwa
yang dimakan itu untuk berbagai kemampuan turunan.〉
“Memakan jiwa? Betapa mengerikannya—”
“Phew.”
Jenderal Perry dan Ashifrang tampak
terkejut, tetapi Cale tetap melanjutkan.
Mulai sekarang, isinya sangat penting.
〈Jika tubuh Sang Jenderal Agung hancur,
itu berarti Kaisar Dua telah sepenuhnya mencerna jiwanya.〉
“Namun, jika tubuh Sang Jenderal Agung tetap utuh, itu berarti
jiwanya terpenjara dalam tubuh Kaisar Dua.”
〈Dan jiwa Raja Zed yang berada dalam tubuh
Sang Jenderal Agung itu~〉
“Penjara Jiwa.”
〈Disebut Penjara Jiwa, salah satu
kemampuan Kaisar Dua.〉
“Itu adalah metode di mana sebuah tubuh dijadikan penjara penuh
mantra dan kutukan, dan jiwa lain dimasukkan ke dalamnya—hingga jiwanya
kehilangan kewarasan dan hancur perlahan dalam siksaan.”
Mata Cale dan Alberu saling bertemu.
“Untuk menyelesaikan ini, jiwa itu harus dikeluarkan dari tubuh
tersebut, lalu dimasukkan kembali ke tubuh aslinya yang tidak musnah.”
Mengeluarkan jiwa Raja Zed yang
terperangkap dalam tubuh Sang Jenderal Agung, dan menempatkannya kembali ke
tubuh aslinya.
〈Ada dua cara untuk mengeluarkan jiwa dari
penjara: memasukkan jiwa lain ke dalamnya, atau menghancurkan penjaranya.〉
“Jadi, cara yang bisa kita ambil sekarang…”
Cale meletakkan cermin dan menatap mereka
yang sedang melihatnya.
“Pertama, sebelum Raja Zed meninggal, kita harus mengeluarkan jiwanya
dari tubuh Sang Jenderal Agung.”
Ashifrang dan Perry hanya mendengarkan.
Berbeda dari keduanya, ekspresi Alberu
makin aneh.
“Dan kita harus merebut kembali jiwa Sang Jenderal Agung dari Kaisar
Dua. Lalu mengembalikannya ke tubuh Sang Jenderal Agung.”
Nod. Nod.
Ashifrang dan Perry mengangguk patuh.
Ekspresi Alberu semakin aneh.
“Dan saat ini, orang yang terhubung dengan Kaisar Dua adalah Jenderal
7. Kita harus menggunakan dia untuk mengetahui lokasi Kaisar Dua, atau
memancingnya datang.”
Itu juga benar.
“Hanya saja Kaisar Dua sangat kuat. Selevel Dewa. Serius. Aku mungkin
bahkan tidak sebanding dengannya.”
Ashifrang yang tak percaya, ikut
menunjukkan wajah serius karena ekspresi Jenderal Perry yang mengeras.
“Jadi aku ingin mengusulkan sesuatu.”
Cale bertanya dengan wajah serius.
“Bolehkah aku menurunkan Dewa Kematian ke dalam tubuh Sang Jenderal
Agung?”
Menyelamatkan Raja Zed.
Memberi tempat pelarian untuk Dewa
Kematian.
Menyelamatkan Sang Jenderal Agung.
Menyelesaikan masalah Maritim Union dan
bekerja sama dengan mereka.
‘Dan kalau bisa, menghabisi Kaisar Dua.’
Kalau begitu, musuh yang tersisa hanya Klan
Trasnparent Blood, Kaisar Tiga, Klan Fived Colored Blood yang kehilangan Kaisar
Dua, dan sekte Dewa Kekacauan.
Wuuung!
Dewa Kematian, yang mendengarkan semua ini
lewat pesan, menjawab.
〈Ya! Itu dia! Itu akan berhasil!〉
〈Aku akan turun dan menyelesaikan
semuanya!〉
Cale menyelesaikan gambaran besar itu.
“.....”
“.....”
Saat Ashifrang dan Jenderal Perry ternganga
mendengar penyebutan penurunan Dewa…
“Aku sudah menduganya.”
Putra Mahkota Alberu Crossman hanya
menghela napas.
Lalu—
“…Tidak Buruk.”
Ia menampilkan senyum yang cukup indah.
Itu adalah malam dua hari sebelum Kompetisi
ke-17.
“Di hari acara, Sang Jenderal Agung akan muncul dalam keadaan
ditempati oleh Dewa Kematian.”
Dengan senyum ramah, Cale menjelaskan
gambaran rencananya kepada dua orang penghuni pulau yang masih melongo.
****
Dan malam itu.
Piiii—
Kabin terdalam kapal induk tempat Jenderal
7 tinggal. Ia sudah tiba di laut depan Pulau 1, tempat Sang Jenderal Agung
berada.
Bukan hanya dia.
Meskipun masih tersisa satu hari penuh
setelah malam ini—
Swoooosh—
Swoooosh—
Kapal dari 18 pulau lainnya, lebih dari dua
pertiganya, telah tiba dan berlabuh di laut depan Pulau 1.
Begitu pertahanan Pulau 1 dibuka, mereka
akan langsung menuju ruang kompetisi.
Swoooosh—
Swoooosh—
Ketegangan memenuhi lautan.
Namun kapal Jenderal 7 tetap sunyi.
Piiiiii—
Di kabin terdalam itu, ruang kerja Jenderal
7, alat komunikasi visual mulai berkilat.
Begitu bunyi itu terdengar dua kali,
tatapan Jenderal 7 beralih ke arah alat komunikasi.
〈Noona!〉
Si bungsu yang kekanak-kanakan.
Satu-satunya yang tinggal di sisi ayah mereka, Sang Jenderal Agung.
Mendapat pesan dari adiknya, ekspresi Jenderal
7, Hinari, mengeras.
“Jenderal, ada apa?”
Meski asistennya menunjukkan kebingungan,
ia menyentuh alat komunikasi dengan ujung jari gemetar.
Isi pesan itu terlihat jelas oleh tiga
orang yang berada di ruangan.
〈Kami menemukan cara menyembuhkan Ayah.〉
Ruangan itu hanya diisi tiga orang:
Jenderal 7 Hinari dan dua orang
kepercayaan.
“Tidak masuk akal—!”
Salah satu asistennya berseru tanpa sadar.
Namun pesan itu berlanjut.
〈Jenderal Perry membawa seseorang yang
bisa menyembuhkan Ayah. Masalahnya katanya berkaitan dengan jiwa.〉
Bang!
Jenderal 7 Hinari berdiri dengan kasar.
Kursinya terjatuh ke belakang, tapi ia tak
memedulikannya.
“Jiwa?”
Hinari melihat sendiri bagaimana Kaisar Dua
memakan jiwa Sang Jenderal Agung.
Karena itu, ia tahu lebih daripada siapa
pun bahwa kondisi Sang Jenderal Agung terkait erat dengan jiwa.
Namun orang yang dibawa Perry itu berbicara
tentang jiwa?
“Jenderal! Fakta bahwa Jenderal Perry masuk ke Pulau 1 sebelum Pertemuan
Agung ke-17 adalah variabel besar!”
Asistennya menambahkan hal penting yang
membuat Hinari semakin terpukul.
‘Jenderal Perry—’
Ia merasa seakan mendapat petunjuk untuk
jawaban atas tindakan-tindakan Perry selama ini.
‘Apa yang harus kulakukan?’
Tapi ia tak tahu tindakan apa yang harus
diambil segera.
Terlalu tiba-tiba.
Saat itu—
〈Metode penyembuhannya terlihat cukup
dapat dipercaya, tapi aku tetap cemas, jadi aku menghubungi Noona!〉
Pesan dari Ashifrang.
“....”
Mata Hinari bergetar.
〈Bisakah Noona datang dan melihatnya
bersamaku?〉
〈Toh Jenderal Perry juga masuk secara
diam-diam sebelum kompetisi. Noona juga bisa masuk diam-diam kan?〉
〈Ini soal keluarga. Noona yang harus
melihatnya.〉
Ashifrang meminta Noona-nya datang
diam-diam ke Pulau 1.
Alasan yang sangat bagus.
〈Jenderal Perry ingin menyelesaikan
perawatan sebelum kompetisi dimulai. Cepatlah datang!〉
〈Kata penyembuh yang dibawa Perry, Penjara
Jiwa itu bisa dihancurkan. Tapi aku tidak paham detailnya, jadi Noona yang
dengarkan.〉
‘—Seorang penyembuh yang mengetahui tentang Penjara Jiwa?’
Wajah Jenderal 7 Hinari berubah dingin.
‘Bukankah Kaisar Dua berkata penjaranya tak bisa dihancurkan?’
Ia mengambil keputusan dan segera membuka
mulut.
Waktunya genting.
Harus cepat namun sempurna.
‘Ashifrang belum tahu tentang pembunuh
itu.’
Ia tidak mencurigai Hinari, itulah sebabnya
ia menghubungi.
Begitu pula Jenderal Perry.
“Tarik kapal perlahan ke belakang. Cari sebuah kapal nelayan. Kita
masuk ke Pulau 1 lewat jalur rahasia.”
Ia akan pergi ke Pulau 1 secara diam-diam.
“Dan hubungi Kaisar Dua. Katakan padanya bahwa ada seorang penyembuh
yang bisa menghancurkan penjara jiwa.”
Ia menambahkan:
“Katakan bahwa ini harus dicegah. Sang Jenderal Agung tidak boleh
bangun.”
Tatapan dinginnya menatap pesan dari
adiknya.
“Sang Jenderal Agung hanya bisa beristirahat dengan tenang bila aku
mewarisi posisinya.”
Posisi Jenderal Agung adalah milikku.
Jenderal 7 Hinari menggigit bibir,
mengingat ayahnya yang tak pernah menyampaikan bahwa ia akan menyerahkan posisi
itu kepadanya.
Piiii—
Piiii—
Tak lama kemudian, Jenderal 7 mengirim
pesan melalui alat komunikasi visual yang diberikan oleh Kaisar Dua—alat yang
konon menghubungkan mereka berdua.
Kaisar Dua memberi alat komunikasi yang
hanya bisa dipakai mengirim pesan.
〈Kaisar Dua. Jenderal Perry membawa
seorang penyembuh yang bisa menghancurkan Penjara Jiwa. Penyembuh itu katanya
akan segera mengobati Sang Jenderal Agung. Ini berbeda dari yang kamu katakan.
Apa yang akan kamu lakukan?〉
〈Kamu berjanji akan membantu aku menjadi Jenderal
Agung. Jadi cepat beri jawaban.〉
Orang yang membaca pesan itu—
“Haha—”
Tertawa.
“Aku tahu Jenderal 7 itu rakus, tapi… benar-benar bodoh.”
Tok.
Jenderal3, Uho, meletakkan alat komunikasi
visual itu di meja.
“Sebuah bidak biasa, dan dia bahkan belum menyadarinya.”
Alat komunikasi yang bisa tersambung ke
Kaisar Dua itu…
Beberapa hari sebelumnya, Kaisar Dua
memberikannya kepada anak angkat tertua dari Kaisar Tiga, Uho, sambil
menyuruhnya mengurus urusan yang tertunda.
Anak ketiga, Soyeon, ikut berbicara:
“Tapi kalau Penjara Jiwa disebut-sebut, bukankah tetap harus
dilaporkan kepada Kaisar Dua?”
“Itu benar. Tapi tetap saja rencana kita tidak berubah.”
Uho menyeringai.
“Bagaimanapun juga, baik Jenderal 7 maupun Sang Jenderal Agung,
keduanya akan mati pada hari kompetisi.”
Membayangkan lautan yang akan memerah oleh
darah membuatnya kembali bersemangat.
Namun ia segera menenangkan diri.
“Ketiga, hubungi si bungsu. Ada sesuatu yang janggal.”
Bukankah si bungsu, Wanderer Mujeon, yang
berpura-pura mengadakan Kompetisi ke-17 menggantikan Jenderal Perry?
Tapi sekarang Jenderal Perry sudah masuk ke
Pulau 1 bersama penyembuh yang tahu soal Penjara Jiwa?
Ini harus dikonfirmasi.
“Jika Mujeon menangani masalah ini dengan buruk, ia harus dihukum.”
Ekspresi Uho, si anak kedua, berubah dingin
saat menyebut adiknya.
Tak lama kemudian, pesan yang dikirim oleh
Soyeon, sang wanderer ketiga, menuju Mujeon—
***
Wuuuuung—
“Ah. Jadi begini kejadiannya?”
—dan Cale.
Dengan salah satu ujung bibir terangkat,
Cale menatap ke bawah.
Di bawahnya, Wanderer Mujeon berlutut,
kepala tertunduk diam-diam.
“……”
Mujeon hanya diam.
Karena ia tahu bahwa semua informasi telah
jatuh ke dalam telapak tangan Cale Henituse.
“Menarik sekali.”
Dengan suara datar dari Cale, Mujeon hanya bisa mengecilkan tubuhnya ketakutan.
.

Komentar
Posting Komentar