Trash of the Count Family Book II 500 : Pangeran dan Ayahnya
Pemimpin Pulau ke-16 sekaligus jenderal yang termasuk dalam Jenderal
ke-17.
Perry.
Ada banyak sebutan untuknya.
“Berlaku benar.”
“Orang yang dapat dipercaya.”
Ada banyak julukan baik, tetapi juga tak sedikit yang
bernada buruk:
“Prinsipalis keras kepala.”
“Batu karang yang tak tergoyahkan.”
“Penjaga gerbang sang Jenderal Agung.”
Setelah Jenderal Agung tumbang, semakin banyak orang yang
memanggilnya dengan nada negatif.
“Nunim. Jangan khawatir.”
Mendengar ucapan sang adik, Perry menjawab dengan wajah
tanpa ekspresi.
“Kita harus menyelesaikan misi ini bagaimanapun caranya.”
“Ya. Meski harus mempertaruhkan nyawa, aku akan
melakukannya.”
Si adik menampilkan senyum kecil.
Perry terdiam sejenak.
Nyawa.
Benar-benar mungkin adiknya harus mempertaruhkan nyawanya
hari ini.
Namun ia tidak bisa memintanya untuk mundur.
“Meski, yah… seharusnya memang tak perlu sampai
mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengawasi para bajingan-bajingan bajak laut di
sekitar sini.”
Adiknya mengangkat bahu dengan nada bercanda.
Perry mengingat percakapan rahasia mereka tadi
malam—tepatnya, mengingat apa yang dikatakan adiknya.
“Bajak laut Shark dari Pulau 19 sedang bergerak mencurigakan,
Nunim. Kita tak boleh lagi menyia-nyiakan waktu.”
“Besok, saat matahari hampir tenggelam, dengan dalih
menjaga gerbang masuk, aku akan menumpas bajak laut di sekitar area itu.”
“Begitu matahari terbenam, aku akan segera menuju Pulau
7.”
Adiknya akan membawa surat resmi Perry dan pergi ke Pulau 7.
Di sanalah Jenderal Ke-7 berada—satu dari sedikit orang yang
bersama Perry berusaha meneruskan kehendak mendiang Jenderal Agung.
“Nunim, kita harus meminta bantuan kepada Jenderal Ke-7.
Kita tak bisa bertahan lebih lama. Persediaan makanan menipis, dan yang lebih
parah… bajak laut, terutama si Shark dari Pulau 19, jelas ingin menghabisi
kita.”
“Dan Nunim, kamu tahu apa yang terjadi jika pulau kita
jatuh, bukan?”
Perkataan itulah yang menjadi penentu ketika Perry masih
ragu.
‘Jika gerbang ini runtuh, laut akan menjadi kekacauan
tanpa aturan apa pun.’
Benar.
Orang-orang memang menertawakan Pulau 16 sebagai bagian dari
Jenderal Agung ke-17 namun hanya menjadi “penjaga gerbang” Jenderal Agung.
Namun Perry tahu satu kebenaran:
“Jika gerbang jatuh, maka benteng pun runtuh.”
Gerbang menuju Laut Tengah,
tempat luas dan mengerikan yang telah berubah menjadi medan
perang,
harus ia jaga.
Ia harus menjadi orang yang mempertahankan aturan yang
ditetapkan Jenderal Agung.
Karena itu…
“Nunim, jika kita membawa terlalu banyak kapal, pasti
Pulau 19 atau kelompok-kelompok dari Laut Tengah akan segera menyadarinya.”
“Aku akan membawa tiga kapal cepat saja. Nunim tahu
betapa cepatnya aku bisa bergerak, bukan?”
Untuk menghindari bajak laut Pulau 19.
Untuk menghindari makhluk-makhluk kejam yang berlayar di
Laut Tengah.
Untuk melintas hanya dengan tiga kapal.
Sang adik bersikeras.
Perry pun…
Perry harus
mengirim adiknya menuju jalan berbahaya itu.
Meski kemungkinan berhasil sangat kecil.
Meski peluang mencapai Jenderal Ke-7 hampir tak ada.
“Nunim, jelas ada mata-mata di dalam pulau. Kalau tidak,
bagaimana mungkin Pulau 19 selalu tahu jalur patroli kita?”
“Dan pasti ada kekuatan lain yang mendukung mereka.”
“Nunim, biarkan aku dan para bawahan pergi.”
Ia harus mempercayakan hal ini pada adiknya.
“Ya, Nunim. Aku akan menyelesaikan tugas ini dengan
sebaik-baiknya.”
“Baik.”
Perry berbicara dengan wajah datar.
“Siapa pun yang memiliki kewajiban menjaga laut, tidak boleh
mengabaikan kewajibannya.”
“Tentu saja, Nunim!”
Ia menepuk pundak adiknya—
Pat, pat—
seraya mengarahkan pandangan pada kapal-kapal yang sedang
dipersiapkan adiknya untuk berangkat saat senja.
“Pulau 19 dan banyak bajak laut lain sedang melakukan
perompakan di dekat gerbang masuk.”
Perry dan adiknya.
Para perwira angkatan laut Pulau 16 yang berada di sekitar
mereka semua menatap ke arahnya.
Tatapan mereka penuh tekad, namun di antara mereka pasti ada
satu atau dua yang bekerja sama dengan bajak laut Pulau 19.
“Hari ini, kita akan melakukan operasi penumpasan bajak laut
berskala besar.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, Pulau 16
mengerahkan hampir seluruh kapal tempurnya untuk menumpas bajak laut di sekitar
gerbang.
Sudah lama sekali mereka tidak melakukan operasi sebesar
ini.
“Pulau 19 pasti akan ikut campur. Karena itu, bersiaplah dan
berangkat. Mengerti?”
“Baik, Jenderal!”
“Baik, Jenderal!”
Untuk menarik perhatian Pulau 19, mereka sengaja memadati
Pelabuhan Selatan dengan kapal-kapal perang.
Pat.
Perry menepuk bahu adiknya sekali lagi, lalu mengangkat
tangan dan berbalik.
Di puncak bukit landai di pusat Pulau 16 berdiri Benteng
Tengah.
Itulah tempat ia harus berada.
Ia tidak boleh meninggalkan pulau ini.
“Hmm.”
Namun langkahnya terhenti.
“Gaju-nim.”
(tl/n : tuan/pemimpin keluarga)
Ia tak menjawab panggilan dari kepala pelayan yang
mengiringinya, melainkan berbalik.
Chwaaaar—
Terdengar suara gelombang terbelah oleh laju sebuah kapal
yang mendekat.
Sebagai anak pulau, sebagai anak laut—
Perry tak mungkin salah mengenali suara itu.
Operasi penumpasan bajak laut…
—dan sesuatu yang tak seharusnya muncul saat ini sedang
mendekat.
Operasi penumpasan bajak laut.
Meskipun Pulau 16 secara terang-terangan mengumumkan bahwa
mereka akan menggelar operasi tersebut, tidak ada satu pun kapal bajak laut
yang mendekat.
“Itu…”
Melihat kapal yang mendekat, Perry segera teringat laporan
darurat yang baru saja diterimanya.
“Kabut- …”
Kabut abu-abu bergerak mendekati Pelabuhan Selatan.
Chwaaaar—
Suara kapal membelah gelombang terdengar jelas.
“Gaju-nim, tampaknya itu kapal kabut yang dilaporkan
sebelumnya.”
Kapal itu adalah kapal yang sebelumnya diberitakan oleh
kapal penyamaran Pulau 16 yang memantau gerak-gerik para bajak laut dari luar
pintu masuk.
Sseuseuseu—
Kabut mulai tersibak.
Menghindari puluhan kapal perang yang memenuhi sisi
pelabuhan selatan, kapal itu mendekati dermaga.
‘Bencana.’
Itulah sebutan yang digunakan para bajak laut.
Mereka mengatakan kapal kabut adalah bencana yang ditakuti
semua perompak.
Perry, Jenderal Pulau 16, tidak sepenuhnya mempercayai
laporan tersebut.
Namun kalimat yang diucapkan oleh prajurit penyamaran itu
terus terngiang:
“Kami hanya mengamati dari jauh… tetapi semua kapal yang
tersentuh kabut itu berhenti total.”
Itu bukan wilayah Laut Tengah yang luas dan mematikan.
Namun kapal-kapal bajak laut yang berpatroli di luar gerbang
pun bukanlah pihak yang lemah.
Dan semuanya berhenti begitu saja?
“Jenderal, apa yang harus kami lakukan?”
Seorang bawahan mendekat dan bertanya.
Perry kemudian mulai melangkah.
“Siapkan kapal.”
Operasi yang bahkan mengharuskan adiknya mempertaruhkan
nyawa.
Untuk menyelesaikan operasi itu, tidak boleh ada variabel
tak terduga.
“Aku akan pergi sendiri.”
Sebuah kapal kecil diturunkan ke laut dan bergerak menuju
kapal kabut yang perlahan menyingkirkan kabutnya.
“……….”
Perry menatap kapal yang mendekat itu.
Tanpa bendera, tanpa awak yang layak disebut kru.
‘Sihir.’
Kapal itu bergerak dengan memanfaatkan angin yang diciptakan
oleh sihir.
Kabut di atas kapal belum sepenuhnya tersingkap, sehingga ia
belum bisa melihat jelas wajah para penumpangnya.
Namun ia bisa melihat sosok terdepan, yang berdiri di
haluan, menatap ke arahnya.
Seorang pria berambut merah.
Jadi dia pemilik kapal itu.
Saat ia menyadari hal tersebut—
“…!”
Ketika sisa-sisa kabut yang belum sepenuhnya hilang
menyentuh Perry yang berdiri di haluan,
dan ketika kabut itu melintas mengenai para prajurit di
sekitarnya—
S H U U U K —
“Berhenti.”
Perry mengangkat tangan untuk menghentikan kapalnya.
Sebenarnya, kapal itu sudah berhenti.
“……”
Ia terdiam.
Samar.
Hampir menghilang.
Namun ia merasakannya dengan jelas.
Tekanan.
Sebuah energi yang luar biasa besar menyentuh dirinya
sekejap lalu lenyap.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mata Perry yang
tak pernah menunjukkan emosi tampak bergetar.
Itu bukan sekadar tekanan.
Itu aura seorang penguasa—
seorang yang hanya dengan keberadaannya dapat menggenggam
nyawa orang lain.
‘Dia kuat.’
Pemilik kekuatan itu adalah pria berambut merah.
Dia kuat.
Mungkin itu hanya auranya dan kekuatan sebenarnya lemah…
Tapi benarkah begitu?
“Haa… haak…”
“Hff…!”
Ia melihat para prajurit pilihan yang dibawanya—meski
kapalnya kecil, isinya adalah pasukan terbaik—
tetapi mereka bahkan tidak mampu menahan tekanan sesingkat
itu.
“……”
Perry tak bisa menyalahkan mereka.
Ia sendiri hanya bisa berdiri karena aura itu sudah
menghilang.
Punggungnya basah oleh keringat, dan tenggorokannya kering
seperti gurun.
Namun ia berhasil bertahan.
Chwaa—
Kapal kabut berhenti.
Kapal Perry pun sudah berhenti sejak tadi.
Keduanya saling berhadapan dengan jarak tertentu.
“……”
Kabut tersingkap sepenuhnya, menampakkan orang-orang yang
berdiri di atas kapal kabut itu.
Karena Perry datang dengan kapal kecil, ia harus mendongak
untuk melihat mereka.
‘Luar biasa.’
Tidak banyak dari mereka yang bisa ia takar kekuatannya—
dan justru karena itu, ia tahu.
Mereka—
Semua kuat.
Di hari yang begitu penting, ketika operasi besar akan
dimulai,
justru orang-orang seperti ini yang muncul.
Segalanya terasa gelap,
namun Perry kembali menatap pria berambut merah itu dengan
mata yang tak lagi bergetar.
Kemudian ia membuka mulut dengan wajah datar.
“Siapakah kamu?”
Ia melanjutkan:
“Mohon sampaikan tujuan kedatangan kamu di wilayah ini.”
Sebagai penjaga gerbang Laut Tengah,
sebagai warga Pulau 16,
ia menjalankan aturan yang harus ditaati seseorang dalam
menghadapi pihak asing yang mendekati gerbang.
Siapa kamu?
Apa tujuan kamu menuju Laut Tengah?
Pertanyaan yang dulu bermakna besar,
tapi kini—karena perang Laut Tengah—hampir tak ada artinya
lagi.
Karena terus-menerus diserang oleh bajak laut yang tak ada
habisnya,
karena harus menahan laju Pulau 19,
karena harus berurusan dengan para pendatang asing yang
seenaknya mencoba menuju Laut Tengah—
Nama Pulau 16 terus dibanjiri hinaan.
Mereka mengatakan bahwa Pulau 16 hanyalah para penjaga pintu
yang tak pernah bertempur.
Bahwa mereka pengecut yang lemah.
Atau bodoh yang keras kepala.
Meski berbagai hinaan itu terus datang, Jenderal Perry,
pemimpin Pulau 16, selalu menyampaikan aturan Pulau 16 kepada siapa pun yang
datang menuju Laut Tengah.
Siapa kau?
Apa tujuanmu menuju Laut Tengah?
Itu harus ditanyakan.
Karena—
“Halo.”
Saat itu, pria berambut merah menyapa dengan senyum ramah.
Sikapnya yang ringan tidak cocok dengan energi besar yang ia
tunjukkan sebelumnya, membuat Perry justru semakin tegang.
“Kami memberi hormat kepada para Penjaga.”
Ia menundukkan kepala kepada Jenderal Perry dan para
prajurit di atas kapal.
“……!”
Dalam sekejap, mata Perry bergetar keras lalu kembali
tenang.
Penjaga.
Sudah begitu lama ia tidak mendengar sebutan itu.
“Jenderal Perry, kaulah penjaga laut ini—penjaga gerbang
Laut Tengah. Bila gerbang runtuh, segalanya akan runtuh.”
“Pulau 16 dan dirimu adalah penjaga benteng yang disebut
laut.”
Itulah kata-kata Jenderal Agung padanya ketika ia pertama
kali menjadi jenderal.
Kata-kata yang kini telah lama terlupakan.
“……”
Para prajurit elit di atas kapal perlahan mengubah ekspresi
mereka.
Mereka, yang tadi berusaha menstabilkan napas setelah
diterjang energi luar biasa, namun tidak menunjukkan ketakutan seperti para
bajak laut… sekarang menatap pria itu—menatap Cale—dengan mata berbeda.
Dan Cale menjawab mereka dengan cara mereka memahami.
“Kami adalah orang-orang yang hendak bertarung melawan
laut.”
Penjaga gerbang.
Orang yang berdiri di depan pintu Laut Tengah tidak membuka
gerbang untuk semua orang.
Penjaga gerbang tidak mengizinkan masuk—
mereka yang hendak melukai laut,
mereka yang hendak merompak,
mereka yang hendak melanggar aturan yang ditetapkan Jenderal
Agung.
Meski Laut Tengah dipenuhi pertikaian besar maupun kecil,
dan selalu bergolak tanpa henti,
Penjaga tetap tidak bisa memberi izin masuk kepada sembarang
orang.
Sudut bibir Perry yang selalu datar sedikit terangkat.
“Kami adalah orang-orang yang hendak bertarung melawan
laut.”
Ucapan itu terkenal.
Ketika penduduk pulau menantang lautan yang keras dan penuh
amarah, mereka selalu mengatakan kalimat itu.
Dan orang-orang ini… mereka memahami dan menghormati cara
kerja Maritim Union.
Karena itu, Perry segera kembali memasang wajah datar seolah
tadi tidak pernah tersenyum.
“Laut sedang kacau. Kendati begitu, kalian tetap akan
pergi?”
Seorang penjaga harus membuka pintu bagi orang yang berniat
menantang laut.
Laut Tengah memang sebuah benteng—
tetapi juga arena bagi mereka yang mencari kesempatan di
lautan.
“Jangan khawatir, Penjaga.”
Masih dengan wajah ramah, Cale menatap langsung Jenderal Perry.
‘Jenderal Perry dari Pulau 16. Bersama Jenderal Pulau 7,
dia adalah satu-satunya yang masih mengikuti Jenderal Agung.’
‘Sebagai penjaga gerbang, ia pasti tahu kondisi Laut
Tengah lebih baik dari siapa pun. Jika kita dapat informasi rute aman menuju
Pulau 1 darinya, segalanya akan jauh lebih mudah.’
‘Terlebih lagi, kita mungkin bisa mendapatkan cara untuk
masuk ke Pulau 1.’
Pulau 1.
Alasan Jenderal Agung yang sedang tak sadarkan diri masih
selamat hingga kini.
‘Dikatakan ada formasi sihir luar biasa di sana, bahkan
memadukan formasi dari dunia Murim.’
Jika Raon dan Heavenly Demon bekerja sama, mereka mungkin
bisa menyusup melewati pertahanan itu.
Namun jika mereka dapat bekerja sama dengan Jenderal Perry—yang
merupakan orang terdekat Jenderal Agung—hal itu akan jauh lebih mudah.
‘Dan meski tidak demikian, berteman dengan Penjaga
gerbang hanya akan menguntungkan.’
Mengingat nasihat Ron, Cale menyampaikan niatnya pada Perry,
yang masih memperingatkannya tentang kekacauan laut.
“Laut akan segera tenang.”
Itu adalah kalimat paling tepat yang bisa ia berikan.
Cale dan Alberu hendak mencari Yang Mulia Sang Raja,
sekaligus menjadikan Maritim Union sebagai sekutu.
“Itu akan terjadi sebentar lagi.”
“…!”
Mata Perry membesar ketika ia memahami makna besar yang
tersembunyi dalam kata-kata itu.
Lalu Cale melanjutkan dengan sebuah pilihan yang membuat Perry
tak bisa melakukan apa pun selain mempersilakan mereka naik ke pulau.
“Ada dua cara agar laut kembali tenang.”
Pertama—
“Seorang penguasa laut yang diakui oleh semua pihak muncul.”
Mata Cale berpaling kepada Witira.
“Hmm?”
Namun ia terkejut.
Witira sudah tersenyum lebar sambil menatapnya.
‘Kenapa dia melihatku begitu…?’
Bukankah keturunan paus seperti Witira lebih cocok menjadi
penguasa laut?
Yang kedua—
“Jenderal Agung menunjuk penerus resminya.”
Namun yang kedua itu cukup berbahaya.
Karena Jenderal Agung tak sadarkan diri, dan meski ia
menunjuk penerus, setelah masa tenang singkat, para perebut kekuasaan akan
langsung berbondong-bondong menyerang.
“……”
Perry tidak mengatakan apa-apa.
‘Kalau itu memungkinkan, kekacauan ini tidak akan
terjadi.’
Kedua jalan itu—saat ini—mustahil.
Karena itu Laut Tengah menjadi medan perang.
Dan saat itulah Cale kembali menyunggingkan senyum, lalu
perlahan mulai membuka pembicaraan berikutnya…
“Jenderal Perry. Kudengar kamu sebagai Penjaga memiliki satu
wewenang yang sangat kuat.”
Wewenang kuat yang hanya bisa dimiliki seseorang yang
menjaga pintu masuk Laut Tengah.
Satu-satunya hak yang dapat digunakan selain oleh Jenderal
Agung.
Cale menanyakannya seolah itu hanya sapaan biasa, tanpa
sedikit pun beban.
“Pemanggilan Rapat Besar. Jenderal bisa melakukannya,
bukan?”
Laut Tengah sedang kacau balau.
Saat suasana saling membunuh telah mencapai titik ekstrem…
Hanya Jenderal Perry yang dapat mengumumkan dibukanya Rapat
Besar.
“…Apa maksud kamu dengan itu?”
Ekspresi Perry mengeras. Pikirannya menjadi kusut.
Cale hanya tersenyum santai dan menjawab,
“Hanya penasaran.”
“…..”
Karena tak bisa menebak sama sekali maksud pria kuat ini, Perry
terdiam.
Ia hanya bisa menatap sosok yang tiba-tiba menerjang
hidupnya seperti badai.
Saat itu, Cale kembali tersenyum santai.
“Ngomong-ngomong, Jenderal.”
“?”
“Boleh kami masuk ke pulau dulu?”
Ia mengusap perutnya.
“Soalnya aku lapar.”
Memang benar-benar lapar.
Semalaman hanya melihat kehancuran… rasanya perut jadi makin
kosong.
“Ah—”
Perry mengeluarkan desahan singkat melihat tingkah itu.
Cale menambahkan,
“Dan boleh kami menginap semalam? Kami bisa bayar biaya
penginapan. Oh ya, besok kami akan ke Laut Tengah. kamu akan membuka pintunya
untuk kami, kan? Dan sebagai catatan, kami semua bisa menunjukkan identitas
resmi. Hahaha!”
Jenderal Perry, yang memandangi Cale yang tersenyum seakan
ia cuma orang baik biasa, akhirnya mengangguk.
Ia tak punya pilihan.
Sekuat apa pun mereka, seaneh apa pun identitas mereka…
Setidaknya mereka menghormati aturan tempat ini.
“Setelah kamu menyelesaikan verifikasi identitas di kantor
administrasi, beristirahatlah. Sebelum berangkat besok, kamu bisa mengambil
sertifikat izin berlayar.”
“Baik!”
Jenderal Perry menatap Cale yang menjawab dengan sangat
bersemangat.
Lalu ia berbalik, membawa kapal kabutnya kembali ke
Pelabuhan Selatan.
“…..”
Ia tidak menyadari bahwa Cale sempat melirik armada perang
yang memenuhi sisi timur pelabuhan.
—Manusia. Apa yang akan terjadi di sini?
Cale hanya menjawab gumaman Raon dengan senyum licik.
Pandangan Cale beralih pada Alberu Crossman.
Sang Putra Mahkota pun memasang ekspresi rumit setelah
melihat besarnya armada.
Cale dan rombongan tak mungkin tidak menyadari.
Sesuatu yang besar akan terjadi di Pulau ke-16 hari ini.
Dan sore itu—
Saat matahari mulai terbenam…
Puuuuuu—!
Suara terompet perang menggema keras.
“Mulai berlayar!”
Begitu adik Perry, Ebo, berteriak,
puluhan kapal perang meninggalkan Pulau ke-16 dan melaju ke
laut.
Pada saat yang sama.
“Ketua! Mereka sudah berlayar!”
Pemimpin Pulau ke-19, Sang Shark, tersenyum lebar mendengar
laporan tersebut.
“Tak usah pedulikan yang lain. Tangkap saja adik si wanita
gila itu. Biarkan ia terluka seberapa pun, asal jangan mati. Tidak—”
Ia bangkit berdiri.
“Aku saja yang turun tangan.”
Kapal milik Shark, yang hanya menargetkan Ebo, berangkat
diam-diam dari Pulau ke-19.
***
Dan saat itu juga—
“Manusia! Steak dari ikan juga enak!”
“Benar.”
Nyam, nyam.
Cale makan malam lebih awal sambil melihat kapal-kapal yang
berangkat.
Ia menepuk-nepuk Cermin Suci Sang Dewa Kematian, memastikan
apakah ada pesan baru.
Tok, tok.
Tak ada balasan.
“Archie.”
“Ya?”
Cale, yang ingin cepat menghabiskan makanannya dan bersiap
minum di momen penting ini, menatap Archie.
“Bisakah kamu mengikutinya dari belakang secara diam-diam?
Sekalian kumpulkan informasi.”
Apa pun yang akan terjadi di Pulau ke-16—
Cale harus mengetahuinya.
Hanya punya waktu satu hari.
Ia butuh informasi sebanyak mungkin untuk bisa mendapat
sesuatu dari Jenderal Perry.
Ia menatap Archie yang tak bergerak.
“Tidak berangkat?”
“…..!”
“Belum berdiri juga?”
“!”
Arch melompat bangkit dan langsung menuju laut.
Cale puas melihatnya.
Alberu tersenyum cerah.
“Benar, dia memang adikku.”
Tanpa Archie, para anggota lain menikmati makan malam lebih
awal dengan santai.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi malam itu—
jadi lebih baik mengisi perut sekenyang mungkin.
***
Catatan Penulis
Halo, ini Yoo Ryeo Han!
Untuk memperingati 500 bab bagian 2, aku ingin menyapa
kalian setelah sekian lama dan menuliskan beberapa kata.
Sudah 500 bab!
Aku sangat senang bisa berada di momen ini bersama para
pembaca!
Sepertinya aku akan merayakannya dengan makan daging enak!
Hahaha!
Saat bagian 2 baru dimulai, aku pikir ketika mencapai bab
500, ceritanya akan mendekati akhir.
Eh, ternyata itu pikiran yang sangat keliru! Hahaha!
Akhir-akhir ini aku benar-benar merasa bersyukur bisa terus
menulis kisah panjang ini—kisah Cale dan para rekannya.
Ini semua mungkin berkat para pembaca yang selalu bersama.
Karena itu aku sangat berterima kasih.
Aku akan terus berusaha memberikan tulisan terbaik.
Terima kasih selalu.
— Yoo Ryeo Han —
.


Awww ceritanya semakin kereeennn
BalasHapus