Trash of the Count Family II 487 – Gray Rain Falls
Laut dan hujan saling bertabrakan.
Laut berusaha menyapu melampaui hujan, sementara hujan
berusaha menahan dan mendorong balik laut itu.
“…Ah.”
“Bagaimana bisa…”
Pemandangan alam melawan alam.
Iblis-iblis yang menyaksikan itu merasa bukan hanya kagum,
melainkan juga takjub.
Penasehat Ed melihat pasukan Raja Iblis, tentara wilayah,
bawahannya, dan para penyihir di sekitarnya—yang kakinya melemas atau terhuyung
saat menyaksikan pemandangan yang terjadi tepat di depan mata, di depan tembok
benteng.
‘Cale Henituse—’
Ia hanya menatap satu orang, tanpa bisa mengucapkan sepatah
kata pun kepada mereka.
Ya. Ia menatap manusia, keberadaan asing di dunia iblis ini.
‘Kamu…’
Cale Henituse.
‘Apakah kamu… sekuat ini?’
Ia salah sangka.
Ia meremehkan kekuatan Cale Henituse terlalu banyak.
Hujan yang berani menghadapi salah satu dari kekuatan Tiga
Kaisar, Laut.
“Penasehat! Pertahanan sedang berlangsung!”
“Tidak, mereka justru mendorong balik!”
Mendengar suara penuh sukacita dan harapan dari para
stafnya, penasehat Ed hanya menatap Cale.
‘Sungguh… sombong.’
Cale Henituse, dengan wajah tanpa emosi, mengulurkan tangan
ke arah laut.
Ekspresi manusia yang sombong saat menghadapi keagungan alam
itu.
‘Tidak… ini bukan kesombongan.’
Karena hujan yang melawan laut itu, diciptakan olehnya.
Jadi dia juga…
“…Apakah dia juga bagian dari alam?”
Cale Henituse. Manusia ini, disebut alam?
Ed terkejut pada pikirannya sendiri hingga tanpa sadar
menyapu lengannya.
Merinding muncul di kulitnya.
“……!”
Lalu tiba-tiba, ia melihat sesuatu.
“Gemetar?”
Kedua tangan Cale Henituse sedikit bergetar.
“Ah.”
Jadi dia sedang memaksakan diri.
‘Benarlah, Cale Henituse sedang bertahan melawan laut!’
“Ha!”
Ed merasa dirinya konyol.
Bukan karena Cale Henituse, melainkan karena dirinya yang
hanya berdiri bengong.
‘Bodoh!’
Ia mengumpat pada dirinya sendiri lalu membuka mulut.
“Apa yang kalian semua lakukan!”
Ia segera memberi perintah pada bawahannya.
“Segera hubungi kastil Raja Iblis dan panggil para penyihir!
Para penyihir membangun perisai pertahanan!”
Mereka tidak bisa hanya mengandalkan Cale Henituse.
Ini adalah Dunia Iblis.
Mereka tidak bisa bertahan hidup hanya dengan bergantung
pada seorang manusia.
“Pasukan Raja Iblis, segera mulai evakuasi warga wilayah!”
Tidak boleh terbuang, sedetik pun.
Waktu yang Cale Henituse ciptakan dengan susah payah, tidak
boleh disia-siakan walau satu detik.
“Cepat bergerak! Ini pertarungan melawan waktu! Bergegaslah
semuanya!”
Salah satu bawahannya mendekat dengan wajah ragu.
“Bukankah Tuan Cale yang akan menanganinya?”
Ed tidak mengutuk, tapi melontarkan kata-kata tajam pada
bawahannya yang tolol itu.
“Apakah matamu tidak melihat keadaan Tuan Cale?”
Sudah berhari-hari ia memaksakan diri untuk memurnikan
Penyakit Abu-abu, dan sekarang dia bahkan harus menghadapi Laut, milik Kaisar
Tiga.
Cale Henituse bisa runtuh kapan saja, dan itu tidak aneh.
Saat itu—
“Penasehat!”
Seseorang naik ke atas tembok benteng.
“Siapa?”
Ed tidak mengenalnya, tapi orang itu segera berbicara.
“Aku adalah prajurit dari Suku Pohon Abu-abu.”
Dengan wajah tegas dan suara tergesa, prajurit itu
melanjutkan:
“Situs peninggalan sedang bergetar!”
“Apa maksudmu?”
Wajah penasehat Ed langsung memucat.
“Di pusat situs peninggalan, gelombang aneh muncul!”
“Sudah dipastikan jenis gelombangnya? Apa penyebabnya?”
“Menara kayu yang melindungi situs itu menghalangi
pandangan, jadi kami tak bisa melihat ke dalam! Hanya Pendeta yang bisa masuk,
tapi beliau sedang pingsan—”
“Sial!”
Ed merasa kepalanya berdenyut karena masalah baru yang
muncul di tengah situasi yang sudah kacau.
“Sudahkah kabar ini disampaikan ke Mika?”
“Ya. Kami sudah mengirim orang pada Komandan Moll dan Tuan
Cale!”
Ed menatap tirai putih hujan yang masih bertahan melawan
laut, lalu mengalihkan pandangan.
“…Tidak mungkin.”
Wuuuuung— Wuuuuung—
Situs peninggalan Raja Iblis.
Empat menara kayu yang melindungi situs itu memancarkan
cahaya dan menciptakan penghalang.
Di dalam penghalang transparan itu, situs peninggalan
bergetar hebat.
Dan kabar itu juga sampai ke tembok Mikashi, tempat Komandan
Moll berada.
“Fuck off!”
Ia akhirnya mengumpat keras-keras.
“Kau, pimpin pasukan ke situs peninggalan Raja Iblis segera!”
Atas perintah Komandan Moll, seorang ksatria memimpin
pasukan menuju ke sana.
Mol melirik ke depan.
‘Cale Henituse pasti sudah mendengar.’
Ia mendekat ke arah Cale.
‘Sial.’
Ia bisa melihat sosok Cale Henituse.
Getaran yang dimulai dari kedua tangan kini sudah menjalar
hingga ke lengannya, membuat kedua lengan itu bergetar hebat.
Swaaahhhh—
Hujan masih turun deras, tak menghilang, justru semakin
tebal, membentuk tirai untuk menahan laut.
Kwoooaaa— Kwaaaang!
Namun laut hanya bisa meraung.
Ia tak punya alasan untuk mundur, jadi ia terus menubruk
hujan.
Berusaha melahapnya.
Karena hujan pun… air.
Kiiiieeeekkkk—
Pertarungan antara hujan yang bertahan dan laut yang hendak
menelan, sama-sama tak mundur sejengkal.
Suara aneh dan menusuk telinga terdengar dari pertempuran
itu.
“Ah!”
Saat itu, laut tiba-tiba mundur sejenak.
Ketika wajah Komandan Moll sedikit berseri,
“Sial!”
Cale Henituse mengumpat kasar, dan Komandan Moll bisa
melihat dua naga berdiri di sisi Cale.
Yang muda di antara mereka mengangkat kaki depannya.
“Lingkaran sihir sudah selesai!”
Lingkaran sihir yang ia buat bersama Naga Emas.
Rombongan Cale selalu berusaha agar tidak membiarkan Cale
menanggung segalanya sendirian.
Maka begitu melihat laut mundur, mereka tahu saatnya telah
tiba.
Kwaaaa—
Laut yang mundur kembali menghantam.
Seperti gelombang besar.
“!”
Komandan Moll terkejut pada kekuatan yang datang menghantam
seketika.
Laut itu bukan benar-benar terdorong mundur.
Itu hanya menarik diri sedikit ke belakang, lalu kembali menerjang
dengan lebih kuat, demi menghancurkan tirai hujan.
“Manusia! Aku duluan!”
Wuuuuung─ Wuuung~~!
Lalu, perisai hitam yang dibuat naga hitam terbentang di
depan tirai hujan.
Kwaaaang---!
Beberapa perisai terbentuk, namun segera dihancurkan laut,
lagi dan lagi.
Kwaaaaaa---!
Dan laut yang berhasil menembus, kembali menghantam tirai
hujan.
Drip.
Untuk pertama kalinya, darah menetes dari sudut bibir Cale.
“Manusia! Aku akan membuatnya lagi!”
Saat Raon hendak maju sekali lagi—
‘Tidak bisa begini.’
Cale sadar bahwa dengan cara ini mereka tidak akan bisa
mengalahkan laut.
[ Lebih! ]
Suara Sky Eating Water menggema.
[ Lebih! ]
Semakin begitu, tirai hujan bertambah tebal.
Namun tubuh Cale pun bergetar semakin hebat.
Drip.
Darah terus mengalir dari mulutnya.
“Keuhk.”
Bahkan ia sedikit memuntahkan darah.
‘Gila!
Ini benar-benar kuat!’
Kekuatan Unik tingkat Fived Colored sungguh luar biasa.
Seperti kekuatan Dewa.
Kekuatan alam yang Cale tunjukkan sejauh ini, yang membuat
orang menyebutnya setara dengan Dewa, ternyata hanyalah bayangan belaka
dibandingkan dengan Laut, kekuatan sejati salah satu Kaisar Tiga.
Sekarang ia sedikit bisa memahami, seberapa dahsyat
pertarungan di tingkat Dewa.
‘Tapi aku juga sudah lebih kuat.’
Laut, milik Kaisar Tiga.
Kini Sky Eating Water sedang bertahan melawannya.
Swaaahhh---
Tirai hujan semakin keras, semakin tebal.
‘Mundur.’
Laut sedikit terdorong ke belakang oleh tirai yang terus
menguat.
Benturan begitu dahsyat sehingga bagi orang lain mungkin tak
terasa jelas, tapi Cale benar-benar menyadarinya.
‘Ada harapan.’
“Ya. Ini bisa dilakukan. Sedikit lagi!”
Jika bertahan sedikit lagi, tirai hujan bisa mendorong laut
menjauh.
“Manusia, itu bukan perkataan yang pantas kau ucapkan sambil
memuntahkan darah!”
Cale hanya mengabaikan keluhan Raon.
Meski ia merasakan tatapan semua orang, ia tidak peduli.
Sebaliknya, ia fokus mendengar suara lain.
Gemuruh yang tercipta dari benturan hujan dan laut.
Di balik suara itu, Cale menajamkan telinganya.
Kalau Raja Iblis berhasil menangkap Kaisar Tiga, pasti ada
tanda.
Kalau Kaisar Tiga ditangkap, laut ini akan lenyap dengan
sendirinya.
‘Bertahan dan menahan masih bisa.’
Tapi menghancurkan atau menelan laut, itu mustahil.
Itulah batas Sky Eating Water.
‘Dan selain itu…
Awan hujan mulai menipis.’
Awan yang memenuhi langit juga sudah hampir habis.
Walaupun ada sedikit energi tambahan dari Sky Eating Water…
‘Kalau aku habiskan semuanya, aku pasti pingsan.’
Kalau sampai pingsan setelah benar-benar menahan laut, itu
masih mending.
Tapi itu harus dijadikan pilihan terakhir.
“Pasukan iblis sedang mengevakuasi rakyat ke gerbang sisi
seberang! Mereka dipindahkan ke bukit-bukit sekitar!”
Choi Han melaporkan situasi sekitar pada Cale.
Ia menatap penuh pada Cale, yang gemetaran dan berdarah,
tanpa mengalihkan pandangan.
“Ah!”
Dan Choi Han tahu lebih dari siapa pun—apa yang sedang Cale
tunggu.
“Ini dia! Kaisar Tiga!”
Suara gembira Choi Han membuat pandangan Cale bergerak.
Di balik tirai hujan dan laut—
bayangan samar Kaisar Tiga terlihat.
Darah bercucuran dari tubuhnya, wajahnya hancur lebur,
tampak seperti habis dihajar habis-habisan.
Ia terhuyung-huyung, lalu jatuh berguling di tanah.
Kuuung!
“Yang Mulia Raja Iblis menangkapnya!”
“Sudah selesai!”
Wajah para ksatria pasukan Raja Iblis pun berseri.
Mereka melihat sosok Raja Iblis, tanpa luka, berlari ke arah
Kaisar Tiga.
Melihat itu, Kaisar Tiga terhuyung bangkit dengan susah
payah.
Namun tubuhnya gemetar lemah, tampak seperti bisa jatuh
kapan saja.
“Ini…”
“Cale-nim.”
Erhaben dan Choi Han, yang melihatnya, wajah mereka
menegang.
“Cale-nim, Kaisar Tiga itu sedang bergerak ke arah kita.”
Kaisar Tiga kini melarikan diri dari Raja Iblis.
Dan arah pelariannya… ke arah mereka.
“Ya. Aku juga lihat.”
Driip.
Cale yang masih berdarah bisa melihat Kaisar Tiga
mengulurkan tangan.
Tidak peduli seberapa cepat dia berlari, dia tidak akan
sempat menyentuh laut ini.
Karena Raja Iblis sudah—
“Ke mana kau pergi?”
Pat!
Menangkap tengkuknya.
Namun meski demikian, Kaisar Tiga tidak menurunkan
tangannya.
Sebaliknya, ia menggenggam sesuatu.
“Krr…?”
Itu seekor naga laut.
Ia melemparkannya ke arah laut.
“Telanlah!”
Memberi laut itu makanan.
“Dan hancurkan!”
Menghantam, menghancurkan.
Kuaaaahhhh—!
Naga laut itu, sambil berlinang air mata karena dikhianati
tuannya, dilempar ke arah laut.
Meski ukurannya sudah tinggal sepersepuluh, di dalam
tubuhnya masih tersimpan kekuatan Kaisar Tiga.
Intisari laut itu sendiri.
Kuaaaaahhh—!
Naga laut jatuh ke dalam laut.
Dan laut pun segera membesar seketika.
Langkah berikutnya sudah jelas.
“Kemari.”
Seperti yang seseorang ucapkan—
laut mundur sejenak, lalu kembali menghantam tirai.
Kwaaaaaang!
Laut mundur lagi, lalu menghantam tirai sekali lagi.
Kwaaaaaaang!!
“Ugh!”
Perisai Raon langsung hancur.
“Keugh!”
Tubuh Cale terhuyung, tirai hujan berguncang hebat.
Swaaahhh—
Namun hujan yang turun mulai berkurang.
‘Sial!’
Kalau aku pingsan, apa tirai ini masih bisa menahan?
Wajah Cale semakin mengerut.
[ Bisa! Lebih lagi! ]
‘Ah… jinjja!’
Sky Eating Water itu tidak memiliki batas.
Hanya tubuh Cale-lah yang punya batas.
Situasi seperti ini juga pertama kalinya. S
aat wajah Cale terdistorsi kesakitan—
Kuung!!
Tanah bergetar.
“Sialan!”
Apakah sekarang tanah juga runtuh karena lautan?
Apakah tembok benteng tidak mampu menahannya?
Wajah Cale semakin mengeras.
Namun, meski darah memenuhi mulutnya, ia tetap menggigit
bibir dan melangkah maju.
‘Harus bertahan.’
Jika ia runtuh di sini, semua orang akan mati.
Benar-benar semua akan mati.
Itu tidak boleh terjadi.
Segera, Raja Iblis akan menangkap atau membunuh Samhwang,
atau membuatnya kehilangan kesadaran.
Sampai saat itu, dia hanya perlu bertahan.
“Ya, masih bisa bertarung…! Khuuk!”
Cale berseru sambil memuntahkan darah.
Kuung!
Tanah kembali bergetar.
‘Hm?’
Cale tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh dengan getaran
itu.
Karena keadaan berbahaya, ia jauh lebih sensitif dari
biasanya dan langsung menyadari anomali yang terjadi di sekitarnya.
‘Bukan di sini?’
Getaran itu bukan dari arah benteng.
Melainkan dari samping.
“—Situs peninggalan?”
Situs peninggalan Raja Iblis.
Dari sanalah getaran itu menyebar.
[ Cale! ]
Suara cemas Super Rock terdengar.
[ Ada kekuatan yang datang dari dalam tanah! ]
Kuung! Kwoong! Kuung!
Getaran semakin cepat dan terasa makin dekat.
Kuung!
Dan akhirnya, getaran itu terasa jelas dari bawah kaki.
“Ugh!”
“Jangan runtuh!”
“Apa-apaan, getaran apa ini!”
Tembok benteng berguncang. Semua orang berusaha menahan
tubuh mereka dari goyangan itu.
“Cale-nim!”
“Manusia!”
“Cale!”
Choi Han, Raon, dan Eruhaben menopang tubuh Cale yang hampir
jatuh dengan menahan lengannya dan punggungnya.
Kwaa-jik!
Sesuatu menembus tembok benteng dan menyembul ke atas.
Cale menangkap pemandangan itu dengan matanya.
Di tengah badai hujan, lautan yang mengamuk, dan situasi
yang benar-benar kacau—
Kwaa-jik!
Yang menembus batu benteng itu adalah—
‘Pohon?’
Hanya sebatang ranting kecil.
Swish…
Saat daun kecil itu bergoyang ditiup angin, ketika pandangan
Cale menangkapnya—
[ Ketemu… akhirnya. ]
Cale mendengar suara seseorang.
Suara asing yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Saat itu—
Kuung!
Situs peninggalan bergetar hebat.
Getaran yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Baik yang melarikan diri, maupun yang bertahan menjaga
tempat itu—semua terkejut dan memandang situs peninggalan itu.
Swushhh—
Empat menara situs peninggalan menghapuskan penghalangnya.
“Hahh… hahh…”
Seorang pendeta, baru saja siuman, berlari terhuyung-huyung
ke arah situs itu.
“Ramalan… telah berubah—”
Ramalan telah berubah.
“Hujan abu-abu—”
Itu bukan berarti Penyakit Abu-Abu.
Bukan kekuatan sederhana semacam itu.
Pendeta yang menyaksikan ramalan sejati menangis, memaksa
tubuh tuanya untuk berlari.
“Oh, Dewa Iblis…!”
Saat dia berseru begitu, sudah terlambat untuk melangkah
masuk ke dalam situs.
Wooo—wooooo—
Cahaya abu-abu meletup dari situs peninggalan.
Belum pernah sekali pun hal seperti ini terjadi di tempat
itu.
Para iblis dari Suku Pohon Abu-abu yang berada di dekat
pendeta membeku kaku, hanya bisa memandang pemandangan menakjubkan itu.
Cahaya abu-abu yang tertangkap di mata semua iblis itu
bergerak lurus menuju satu sosok—
[ Ketemu… ]
Cale mendengar suara aneh itu lagi.
Seakan hanya bisa terdengar oleh dirinya.
Apa?
[ Pemilik bakat Pembunuh Dewa… ]
Pembunuh Dewa?
Membunuh Dewa?
Siapa? Aku?
Aku tidak punya kemampuan semacam itu!
Lebih dari itu—suara ini adalah…
“…Dewa Iblis?”
Swush—
Melihat cahaya abu-abu yang menancap padanya, Cale mendengar
suara penuh amarah.
[ Dewa Iblis? Tak ada hal semacam itu. Yang ada hanyalah
mereka yang membunuh Dewa-Dewa arogan itu. ]
Suara itu datang dari situs peninggalan yang disebut
peninggalan Raja Iblis.
Sejak awal, Dewa Iblis tidak pernah ada.
Yang ada hanyalah Pembunuh Dewa.
Dewa Iblis sudah tidak ada lagi.
Dunia Iblis hanya menunggu lahirnya kembali sosok itu.
Namun yang mereka tunggu bukan Dewa Iblis, melainkan
Pembunuh Dewa.
[ Aku tidak akan mengakui bahwa Surgawi dan Dunia Dewa
menyebutku Dewa Iblis…! ]
Kenangan yang terlupakan dan terdistorsi di Dunia Iblis sejak
dahulu kala.
Kebenarannya: orang yang membunuh Dewa disebut Dewa Iblis.
Cahaya abu-abu menyelimuti seluruh tubuh Cale.
“Ugh!”
“Ugh, manusia!”
“Kkhh…!”
Tubuh Choi Han, Eruhaben, dan Raon terhempas jauh.
“……”
Dan Cale, yang diselubungi cahaya abu-abu itu, mendengar
suara Sky Eating Water.
[ Oh. Kekuatan-ku… semakin kuat. ]
Sky Eating Water kembali mengamuk.
[ Aku juga akan hancurkan itu! ]
Mengikuti gaya bicara Raon.
Selubung hujan berubah menjadi abu-abu.
“Oh.”
Cale terperangah.
Kekuatan Sky Eating Water yang mendapat buff dari cahaya
abu-abu situs peninggalan itu benar-benar semakin kuat.
‘Dua kali… tidak, tiga kali? Tidak—
Empat kali.’
Kekuatan Sky Eating Water meningkat empat kali lipat.
Dan ia langsung merasa, ini hanya akan bertahan selama
cahaya abu-abu itu menempel pada tubuhnya.
“Manusia, kau baik-baik saja?”
Raon yang cemas menghampiri, lalu tertegun.
“Kenapa kau tertawa begitu?”
Drip, drop…
Meski darah menetes-netes, Cale tetap tersenyum.
Untuk saat ini, situasi ini akan dipikirkan nanti.
Yang jelas, sekarang kekuatan itu menjadi empat kali lipat.
Kalau begitu—
“Oi, kalau aku pakai kekuatan ini, apakah aku akan sakit?”
Ia memastikan apakah ada efek samping.
[ Tidak ada. Wahai yang memiliki bakat. ]
“Oh.”
Luar biasa.
Berarti jawabannya sudah jelas.
Sky Eating Water bertanya dengan suara penuh semangat:
[ Jadi, kita maju? ]
“Ya, mari kita hancurkan!”
Cale menjawab dengan mantap.
Tentu saja, meski cahaya abu-abu tidak menimbulkan efek
samping, Cale gagal menyadari bahwa pemakaian berlebihan atas Kekuatan Kuno untuk
melawan kekuatan setingkat Dewa bisa berakibat fatal.
Shhhhhh—
Selubung hujan putih berubah menjadi abu-abu.
Setiap tetesan hujan memancarkan cahaya abu-abu dan menuju
ke laut.
Dari langit, tirai hujan itu menjatuhkan tubuh raksasanya ke
atas lautan.
Selubung abu-abu menelan laut.
Shhhhhh—
Dan mulai melahap lautan itu.
Shhhhhh—
Hujan abu-abu dan laut bercampur.
Saling melilit.
Saling mencoba melahap.
Whiiirrr—
Seperti pusaran, keduanya terikat jadi satu dan naik ke
langit.
Perlahan berubah menjadi abu-abu.
“Ah… Aah! Hujan abu-abu! Hujan abu-abu turun—!!”
Pendeta itu berteriak histeris penuh sukacita melihat
pemandangan itu.
Cale, tentu saja, tidak tahu apa-apa tentang itu.
Ia hanya tersenyum.
Drip, drop…
Darah menetes.
‘Kali ini aku tidak perlu lari.’
Cale hanya merasa puas dengan kenyataan itu.
Tanpa menyadari bahwa rekaman visual Clopeh Sekka sedang
bersinar terang, merekam segalanya.
.

Seperti biasa ketua sekte selalu sigap merekam terjadinya legenda.
BalasHapusAduh, kasihan banget babang Cale HAHAHAHA!!!! Gara-gara rekamannya Clopeh makin2 deh bakalan disembah beneran ini wkwkwk penyembah dan pengikutnya Cale makin banyak terus jadi Dewa dong kan kayanya syarat menjadi dewa itu salah satunya ada pengikutnya wkwkwkw babang Cale makin kuat terus entar terpaksa jadi dewa gimana? kan udah kuat banget tuh kalo di taruh di dunia manusia biasa keseimbangannya kacau banget terus nanti berantem sama dewa keseimbangan HAADEEHHHH MAKIN JAUH IMPIAN CALE UNTUK MENDAPATKAN KEHIDUPAN PEMALAS :D HAHAHAHAHAHAAH
BalasHapusb-baris terakhirnya agak mengkhawatirkan
BalasHapusKalimat terakhir adalah poin utama chapter ini AWOKAWOK
BalasHapus