Trash of the Count Family II 486 – Gray Rain Falls


Itu benar-benar lautan.

“Ujungnya—”

Ujungnya tak terlihat.

Tsunami raksasa yang menjulang tinggi hingga menutupi gunung.

Komandan Moll menyadari.

‘Jadi itu hanya mainan.’

Gelombang yang pernah menghancurkan benteng sebelumnya ternyata bukanlah seluruh kekuatan Kaisar Tiga.

Itu hanyalah serangan seadanya terhadap musuh yang lemah.

Karena serangan itu berhasil ditahan dan mereka melarikan diri, Kaisar Tiga murka.

‘Tidak.’

Cale Henituse memang melarikan diri dari serangan itu, tapi sebenarnya ia tidak berhasil menahannya.

Pada akhirnya, air laut raksasa itu tetap menghancurkan seluruh benteng.

“Ah.”

Dan kini, di depan matanya, ombak yang jauh lebih besar—tidak, laut itu sendiri—sedang menerjang.

Suara deras air bercampur dengan hujan yang turun dari langit, semakin memperbesar gelombang itu.

‘Kota ini akan lenyap.’

Komandan Moll langsung mengerti.

Jika laut itu melahap mereka, Kota ini tak akan bisa bertahan.

‘Cale Henituse benar.’

Raja Iblis…

Sang Raja Iblis yang kini berjalan dengan senyum menuju Kaisar Tiga, tidak akan tersentuh oleh laut itu.

“Hei, Kaisar Tiga.”

Raja Iblis tampak bersenang-senang.

“Trik semacam ini tidak mempan padaku.”

Suara air terus menderu.

Kaisar Tiga, yang menciptakan laut raksasa di belakangnya, menatap Raja Iblis dengan senyum meremehkan.

“Hmph. Tentu saja, padamu itu tidak akan mempan!”

Raja Iblis dan Kaisar Tiga mengetahui dengan jelas apa yang ingin dicapai satu sama lain.

Namun Kaisar Tiga belum sepenuhnya memahami Raja Iblis.

“Hari ini kau akan kehilangan segalanya!”

‘Seperti aku kehilangan Naga Lautku….

Kau juga akan kehilangan para pengikutmu, rakyatmu!

Kau akan kehilangan tanah, bahkan reruntuhanmu!’

Dan Cale Henituse juga pasti akan mencoba menghalanginya, seperti sebelumnya.’

Tentang Cale Henituse, Kaisar Tiga tahu sedikit.

Karena pernah menghadapinya.

Seorang “pahlawan.”

Orang yang terobsesi dengan gelar itu.

Dilihat dari jalannya hingga kini, jelas demikian.

Orang seperti itu akan mati karena gegabah berusaha menyelamatkan semua orang.

Keberuntungan yang dulu dia miliki tidak akan mungkin terulang kali ini.

‘Begitu dia ragu sebentar saja…’

Begitu Cale Henituse mencoba menahan walau sesaat saja—

‘Dia pasti mati.’

Dia takkan bisa lepas dari laut ini.

Karena kali ini, ini adalah laut yang sebenarnya.

Kaisar Tiga tidak menahan kekuatannya.

‘Hanya dengan begitu aku bisa selamat.’

Ia adalah seseorang yang tahu cara bertarung.

Dalam situasi mengancam nyawa, seseorang harus mengerahkan segalanya agar muncul sedikit saja celah untuk bertahan hidup.

‘Dan Raja Iblis pun akan ragu.’

Karena di situ ada rekan-rekan berharga yang menemaninya hingga ia jadi Raja Iblis.

Bukankah dia juga akan ragu jika saatnya tiba untuk kehilangan mereka?

Kaisar Tiga menatap Raja Iblis yang mendekat, lalu memandang melewati bahunya, ke Mika, Midi, dan situs peninggalan.

Melihat para iblis dan manusia di atas tembok benteng itu, dia berseru:

“Laut, sapu bersih semuanya.”

Laut.

Demi engkau, seluruh air di dunia ini akan bergerak.

Laut adalah puncak dari semua air.

Yang terbesar, yang terbanyak, dan yang terkuat.

Deru air terdengar semakin besar.

Laut mulai bergerak.

Awalnya lambat.

Namun lalu—

BRAAAAKK!!

Tsunami yang tak berujung itu melaju deras menuju musuh-musuh Kaisar Tiga.

BRAAAAKK!!

Dan melihat laut yang datang, Raja Iblis berpikir:

‘Kau tidak mengenalku dengan baik.’

Kaisar Tiga tidak mengenalnya.

Senyum tipis muncul di bibir Raja Iblis.

“Hari ini kau akan kehilangan segalanya!”

Kata-kata Kaisar Tiga terdengar konyol.

‘Apa yang kumiliki?

Apakah aku punya sesuatu?’

Tidak.

‘Tak ada yang bisa kusimpan di hatiku, jadi apa yang bisa kumiliki?’

Raja Iblis.

Dia tidak punya apa pun yang berharga.

Tidak—semuanya sudah lenyap.

BRAAAAKK!!

Dia berjalan menuju laut yang datang.

Sebuah jalan terbuka.

Laut itu tak menyentuhnya.

Namun air tetap mengalir.

Meskipun Kaisar Tiga mengerahkan seluruh kekuatannya, arus raksasa itu tidak hancur oleh penolakan Raja Iblis, melainkan hanya mengalir melewati tubuhnya.

Ke kanan, ke kiri, bahkan ke atas.

Raja Iblis tidak menoleh pada laut besar yang melewatinya.

Dia hanya terus melangkah.

Menuju Kaisar Tiga.

“!?”

Melihat senyum itu, wajah Kaisar Tiga menjadi pucat.

Raja Iblis hanya berjalan.

Karena tugasnya hanyalah menangkap Kaisar Tiga.

“...Orang gila!”

Mendengar Kaisar Tiga mengumpat, Raja Iblis malah tersenyum lebih lebar.

BRAAAAKK!!

Laut itu melewati tubuhnya, menuju dua Kota.

Dia tahu apa yang akan terjadi.

Namun itu bukan urusannya.

Penasihat Ed.

Komandan Moll.

Kepala pengawal pribadi.

Para bawahan yang menemaninya hingga menjadi Raja Iblis.

Mika, Midi, dan situs peninggalan.

Para iblis, pasukan, dan tentara wilayah.

Bahkan kelompok Cale Henituse.

Mereka semua bukanlah milik Raja Iblis.

Bahkan Cale Henituse hanya memberinya sedikit hiburan, tidak lebih.

Raja Iblis tidak punya apa-apa, jadi tidak ada yang bisa hilang darinya.

‘Namun ini cukup menarik.’

Cale Henituse.

Orang yang menarik itu—apa yang akan dia lakukan?

Selama dia bisa menyaksikannya, biarlah laut itu mengarah padanya.

Untuk mengusir rasa bosan, Raja Iblis tidak peduli jika apa pun yang bukan miliknya lenyap.

BRAAAAKK!!

Karena itu, tidak ada yang menahan laut itu.

BRAAAAKK!!

Suara yang bahkan hujan deras tak bisa menyamarkan, suara yang lahir dari kekuatan alam.

Bum! Dumm!

Tanah berguncang karena kekuatannya, udara seakan berubah.

Tiba-tiba—

Klek! Krek!

Lampu-lampu menyala di Mika, Midi, dan hingga Desa Pohon Abu-abu dekat reruntuhan.

Tak seorang pun bisa tidur.

Sebelumnya karena Penyakit Abu-Abu dan proses pemurnian.

Sekarang karena suara gemuruh yang tiba-tiba muncul.

Dan kali ini, gemuruh itu berkali lipat lebih keras hingga tanah pun bergetar.

Semua orang keluar, menatap ke luar jendela dan pintu.

“!?”

“Langit~!”

Yang pertama terlihat adalah langit.

Gelap.

Lebih gelap dari sebelumnya.

Karena semua awan hujan berkumpul di sini, langit benar-benar menghilang.

Hujan turun lebih deras dari sebelumnya, seperti tak terhitung banyaknya garis putih menusuk ke tanah.

BRAAAAKK!!

Lalu mereka menoleh.

“...Ombak?”

“Laut?”

Mata mereka tak percaya.

Di balik tembok Kota, laut yang lebih besar dari tembok itu sendiri sedang datang.

Itu bukan sekadar ombak.

Sesuatu yang tak berujung itu hanya bisa disebut laut.

“A-ah…”

Seseorang jatuh terduduk.

Laut itu.

Terlihat begitu buas.

Bukan laut indah yang pernah mereka lihat saat berlibur di pantai.

Gelombang hitam pekat itu datang seolah membawa niat menghancurkan segalanya, menelan semua kehidupan.

“Sadarlah semua!”

Bahkan dalam keadaan itu, masih ada yang harus bergerak.

“Para penyihir, segera bangun perisai!”

“Pe… Penasihat! Apa perisai kita bisa bertahan?”

Penasihat Ed yang berdiri di atas tembok Midi berteriak pada bawahannya:

“Ini bukan saatnya bicara begitu!”

Laut itu.

Kekuatan Kaisar Tiga.

Itu akan menghapus segalanya.

Dan seperti biasa, Raja Iblis hanya mengincar musuh.

Ia tak pernah memikirkan sekutunya yang mungkin celaka karena musuh itu.

“Bagaimanapun juga, kita harus bertahan!”

“Karena itu, aku harus melindungi tempat ini.”

“Hubungi juga Komandan Moll!”

Mika, Midi.

Dan juga situs peninggalan.

Bagaimana bisa melindungi ketiga tempat ini dari lautan itu?

Sesaat, Ed tidak tahu harus berkata apa.

“Brengsek!”

Kata-kata kasar keluar begitu saja.

Namun, ia harus bertahan.

Demi agar Sang Raja Iblis menjadi Dewa Iblis, demi agar Dunia Iblis berdiri di atas Dunia Surgawi dan Dunia Dewa, maka para iblis harus menganggap Sang Raja Iblis sebagai Dewa sejati.

Tidak boleh ada lagi noda yang menempel pada Sang Raja Iblis.

Raja Iblis yang kehilangan dua Kota dan situs peninggalan?

Gelar semacam itu tidak boleh tersemat padanya.

Ed, sang penasihat yang hidup demi Raja Iblis.

“Bertahan sebisanya!”

Harus melindungi.

Harus menghentikan ombak itu.

Bagaimanapun caranya.

“Penasihat—”

“Dengan perisai saja tidak cukup!”

Namun para bawahannya dan para penyihir berkata,

“Itu tidak mungkin!”

Salah satu bawahan berseru penuh harap.

“Kita harus lari!”

“…Lari?”

Ekspresi menghilang dari wajah penasihat Ed.

“Ya! Melarikan diri! Bukankah kamu sendiri selalu berkata dalam situasi seperti ini, kabur adalah pilihan terbaik? Kita harus melestarikan kekuatan utama Istana Raja Iblis!”

Benar.

Ed tersadar.

“Selama ini memang begitu.”

Ia melihat para iblis di sekitarnya yang mendengar perkataan bawahannya.

Anak buahnya pun tampak menyetujui ucapan itu.

Namun, saat ia menatap wajah pasukan Raja Iblis dan prajurit wilayah yang berdiri di atas tembok benteng, Ed…

“Ha ha.”

Tawa lolos dari bibirnya.

Selama ini ia selalu mengorbankan yang kecil demi yang besar.

Dan baginya, yang besar adalah Raja Iblis dan pelestarian kekuatan utama istana.

Namun kali ini, ia malah berusaha mencari alasan untuk melindungi para iblis di sini, iblis-iblis yang remeh, yang hanya keras kepala dan penuh perlawanan.

Mengapa?

“……”

Tatapan Ed mengarah ke Mika.

Lalu ia tertawa kecut.

“Ha, haha—”

Para iblis di atas tembok benteng Mika semuanya menatap ke satu arah.

Bukan ke Raja Iblis.

Bukan pula ke Tiga Raja.

Tatapan mereka tertuju pada satu orang yang berdiri di tempat yang sama dengan mereka.

Bukan seorang iblis, melainkan…

“Cale Henituse—”

Dia berdiri di atas pagar benteng, seolah akan menghadapi lautan yang semakin cepat mendekat, seorang diri.

“…Dia tertular, ya.”

Barulah Ed menyadari.

Mengapa dirinya ingin melindungi tempat ini.

Cale Henituse.

Itu semua karena dia.

Manusia itu, meski bukan iblis, seharian penuh telah menyelamatkan para iblis dari penyakit abu-abu.

Dia memang berlagak seolah melakukan itu demi keuntungan pribadi, tapi apa yang sebenarnya bisa dia dapat?

Bantuan dari Raja Iblis?

Cale Henituse pasti sudah cukup memahami hakikat Raja Iblis.

Raja Iblis adalah sosok yang tak punya sekutu maupun musuh—hanya ada dirinya seorang.

Bantuan semacam itu tak akan banyak berarti.

Meski begitu, Cale Henituse tetap menyelamatkan para iblis.

Dan hasilnya adalah—di malam hari, di dua Kota dan situs peninggalan yang semula menaruh kebencian pada Raja Iblis, rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya kini menyala terang.

“Kalau sudah melihat itu, bagaimana bisa aku tinggal diam?”

Ed, dia juga seorang iblis.

“Bentangkan perisai!”

Ya, lakukan sebisanya.

Bertahan sebisa mungkin.

“Dan aktifkan lingkaran teleportasi benteng! Evakuasi sebanyak mungkin warga lebih dulu! Cepat!”

Wuuwuung—

Begitu perisai baru saja terbentang, Ed sadar pilihannya mungkin tak akan berakhir baik. Ia mendongak.

Gelombang raksasa menjulang jauh lebih tinggi dari tembok benteng.

Apakah karena cahaya malam? Ataukah karena dipenuhi awan hitam?

Ombak yang bergolak itu tampak hitam.

Gelombang hitam raksasa menatap ke bawah dari langit.

“Ah.”

Mati,.

Mungkin hari ini dia akan mati.

Bukan mati melawan Raja Iblis terdahulu.

Bukan mati melawan Dunia Surgawi.

Tapi mati demi menyelamatkan para iblis rendahan ini?

Sungguh konyol.

Akankah Raja Iblis hanya menertawakan kematiannya?

Lalu apa tujuannya selama ini?

Ed hanya bisa tertawa getir di tengah segala pikirannya.

“!”

Namun tawanya segera hilang.

Seluruh tubuhnya merinding.

Ia merasakan kekuatan raksasa.

Sebuah kekuatan berbeda—bahkan Raja Iblis maupun Tiga Raja tak pernah memancarkan hal seperti ini.

“Ba… Bagaimana bisa…?”

Suaranya bergetar tanpa sadar.

Cale Henituse, yang berdiri di atas pagar benteng Mika.

Dari dirinya, kekuatan raksasa itu terasa.

Namun, kekuatan itu tidak buas.

Tidak pula mengamuk.

Tetapi jelas merupakan kekuatan yang mampu membuat seluruh tubuh bergetar.

Apa itu?

Jawabannya segera datang.

“…..”

Cale yang menutup mata, merasakan hujan membasahi seluruh tubuhnya, akhirnya membuka mulut.

Pada saat yang sama, Sky Eating Water pun berbicara.

“Hentikan.”

[ Mari kita hentikan dia. ]

Ketika yang ada di darat sedang bertempur,

para pengamat dari langit—yang hanya menurunkan diri sebagai hujan—mulai bergerak.

“…..!”

Ed sadar, kekuatan besar yang membuat tubuhnya gemetar itu adalah hujan yang membasahinya.

“!!”

Dan semua iblis bisa melihat.

Sosok yang berdiri menghadang lautan hitam yang mendekat.

Kaisar Tiga pernah berpikir.

Bahwa lautan adalah puncak dari semua air.

Bahwa karena ia paling besar dan paling banyak menampung, maka ia pula yang memiliki kekuatan terbesar.

Bahwa demi lautan, semua air di dunia akan bergerak.

[ Cale. ]

Sky Eating Water berbicara sambil menyunggingkan senyum lega.

[ Aku menyukai hujan. ]

Air yang harus terkurung lama di dalam danau berkata,

[ Baik laut, darat, ataupun sungai, hujan turun di mana pun. Ia menjatuhkan dirinya. ]

Sebuah suara yang menemukan jawabannya.

[ Hanya mereka yang pernah jatuh yang tahu ke mana harus naik. ]

Karena pernah ditarik hingga ke dasar terdalam dan terkurung di sana, maka kini ia bisa mengarahkan dirinya ke langit.

[ Dan hujan pun bisa menjadi bencana. ]

Bukan hanya laut yang menakutkan.

Bahkan mereka yang tak pernah melihat laut pun tahu betapa mengerikannya hujan.

[ Kalau bencana saling bertabrakan, apa yang akan terjadi? ]

Mendengar suara tenang yang menyimpan gejolak, Cale menjawab datar sambil mengulurkan kedua tangannya.

“Kalau sekadar menahan tidak cukup, maka coba dorong balik saja.”

[ Tak masalah meski agak berat, kan? ]

“Asal bukan sakit perut, sih.”

Hujan mulai bergerak.

“Ah.”

“…Ah—”

Seruan kagum pecah di mana-mana.

Hujan yang turun dari langit kelam tidak langsung jatuh lurus ke bawah.

Ia membelok ke arah yang aneh, bergerak menuju tempat lain.

Tetesan hujan yang deras, begitu banyak hingga membentuk garis putih di udara, semuanya mengalir ke satu arah.

Hujan itu mengikuti kehendak Cale.

Hujan memilih Sky Eating Water dibanding lautan milik Kaisar Tiga.

Karena Sky Eating Water tahu apa arti dari sesuatu yang jatuh.

Shhaaaaa—!!

Dari langit gelap turunlah tirai putih.

Mika dan Midi.

Dan juga situs peninggalan.

Di hadapan mereka, di hadapan lautan yang membentang, tirai putih itu jatuh dari langit menuju tanah.

Kwaaaang!!

Lautan dan hujan mulai berbenturan.

Satu pihak ingin menyapu segalanya.

Sementara pihak lain ingin menahan lautan itu.

“...Tak mungkin.”

Wanderer Ryeon tidak dapat mempercayai pemandangan yang ada di hadapannya.

“Kekuatan apa itu?”

Melihat hujan yang menghadang lautan milik Kaisar Tiga, melihat kekuatan dahsyat yang dipancarkan oleh Cale, tubuhnya bergetar hebat.

Sky Eating Water.

Dialah kekuatan yang bahkan Dewa Perang harus mengurungnya.

Begitu besarnya kekuatan itu.

Di bawah Dewa Perang.

Di bawah sebuah danau.

Di bawah seseorang.

Sky Eating Water telah terkurung, dan ia sendiri masih belum memahami siapa dirinya.

Sky Eating Water.

Nama itu ia pilih sendiri, namun arti sebenarnya dari nama itu—

bahwa ia berniat untuk ‘memakan langit’, bisa juga dia ‘menangkap Dewa’—

namun ia sendiri belum benar-benar menyadarinya—

Batas kemungkinan yang dimiliki Sky Eating Water belum pernah dicapai siapapun, dan belum pernah terlihat oleh siapapun.

Namun kini, seolah ia mulai merasakannya.

Dan hari ini—

Setelah menghadapi Kaisar Tiga berkali-kali, dan kini berhadapan dengan lautan milik Kaisar Tiga yang kekuatannya setara dengan Dewa,

Sky Eating Water untuk pertama kalinya merasakan potensi dirinya sendiri.

“Ugh.”

Dan Cale...

‘...Sepertinya aku akan muntah lagi.’

Tentu saja bukan air, tapi kali ini sepertinya darah.

Jika masalah si rakus adalah karena ia terlalu makan berlebihan—

Maka masalah Sky Eating Water adalah...

‘Sepertinya dia akan menggunakan terlalu banyak kekuatan.’

Namun, Cale tidak bisa memintanya berhenti.

Karena entah mengapa, Sky Eating Water tampak sedang menyadari sesuatu.

Bukan sekadar berkembang, melainkan seolah-olah mulai memahami apa yang sebenarnya ia miliki sejak awal.

‘Apakah ini baik-baik saja? Apakah kita bisa terus seperti ini?’

Bagian belakang kepala Cale merinding tanpa alasan.

Sebuah firasat buruk menyelimutinya.

Kwaaaaaang—!!

Lautan dan hujan bertubrukan.

Tirai hujan yang Cale ciptakan menahan lautan itu.

Meskipun batinnya dipenuhi pikiran yang rumit, wajah Cale tetap tenang.

Dan para iblis yang menatapnya, tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.

Karena tirai putih itu turun dari langit demi Kota ini, demi mereka.

.

.

Donasi disini : DONASI

Komentar

  1. kalo raja iblis menolak segalanya krn gapunya sesuatu yg berharga, terus kenapa tangannya getar pas liat cale waktu itu ๐Ÿ‘€

    BalasHapus
    Balasan
    1. He'em!! mungkin dia juga kena kabut abu-abu yang bikin dia inget momen bahagianya kyk yg lain๐Ÿคญ.

      Hapus
    2. Di sini kan ditekankan kak kalo raja iblis bukannya bgga punya, tapi mereka udah lenyap, maksudku sesuatu yang berharga itu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor