Trash of the Count Family II 484 – Gray Rain Falls
Kaisar Tiga, Raja Naga.
Dia hampir saja kehilangan akalnya.
"Berani, ber, beraninyaa……!"
Tatapannya hanya tertuju pada Cale Henituse dan seekor ular
kecil yang tak berdaya menggeliat di hadapannya.
Swaaa—
Kaisar Tiga bergerak menembus hujan.
Setiap langkahnya mengubah pemandangan di sekitarnya dengan
cepat. Ia melesat menuruni gunung menuju MIka—tidak, menuju Cale Henituse.
"Beraninya!
‘Seorang manusia rendahan! Berani menelan nagaku? Aku ini
Raja Naga.
Berani-beraninya mencemarkan nama agungku?’
Ia menyadari bahwa Raja Iblis mengikuti dari belakang.
Bahkan tahu bahwa Raja Iblis itu punya niat terselubung.
Pasukan bawahannya yang terluka juga mengekor dari jauh,
tapi Kaisar Tiga tak peduli.
‘Berani
sekali.’
Ia menyerahkan tubuhnya pada amarah.
Namun, meski seolah akan gila, ia belum benar-benar hilang
kendali.
Ia masih menjaga sedikit kewarasan.
‘Kenapa
Raja Iblis itu sekuat ini?’
Ya, dia kuat.
Kaisar Tiga punya standar tunggal untuk menilai kekuatan:
Apakah dia menang atau kalah.
Dengan kata lain, jika bertarung habis-habisan, ia sadar
bahwa dirinya akan kalah melawan Raja Iblis.
‘Dia
menyembunyikan kekuatannya!’
Raja Iblis tidak perlu memperlihatkan kekuatannya pada Dewa
Kekacauan atau keluarga Fived Colored Bloods.
Itu hanya merepotkannya.
Namun di mata Kaisar Tiga, Raja Iblis telah menyembunyikan
kekuatan itu.
Karena ia menyerang tanpa tahu seberapa besar kekuatan
musuh.
‘Kalau
aku tahu, aku juga tidak akan melawan!’
Semuanya salah Raja Iblis.
‘Lalu, si bajingan gila itu malah berkhianat pada kami
dan Dewa Kekacauan, lalu bersekutu dengan Cale Henituse.’
Selain itu, Cale Henituse berani menelan Naga Air.
‘Maka
aku harus menangkapnya!’
Tangkap Cale Henituse,
‘Lalu
kabur!’
Untuk bisa melarikan diri, ia harus menjadikan Cale Henituse
sandera.
Raja Iblis pasti butuh Cale Henituse hidup demi
menyelesaikan Wabah Abu-abu.
Dan hanya dengan membawa Cale Henituse kembali ke keluarga
Fived Colored Blood, ia bisa membuktikan kolusi antara Raja Iblis dan Cale
Henituse.
‘Dengan
begitu, Sang Kaisar Pertama akan mengerti!’
Bahwa penyebab konflik antara dirinya, Dewa Kekacauan, dan
Raja Iblis hanyalah Cale Henituse.
Itulah satu-satunya jalan agar ia tak disalahkan.
‘Tidak,
tunggu!’
Bahkan sebaliknya—sekarang adalah masa penting, saat tujuan
besar keluarga Fived Colored Blood hampir tercapai.
Dan justru dirinyalah yang menemukan variabel penting ini.
Dirinya, Kaisar Tiga, akan dianggap pahlawan keluarga Fived
Colored Blood!
‘Ya!
Tangkap dia!
Bawa kembali, lalu biarkan dia merasakan penderitaan yang
mengerikan!’
Itulah satu-satunya jawaban.
Mata Kaisar Tiga semakin merah darah.
Langkahnya ke arah Cale makin cepat.
Cale Henituse.
Orang yang menciptakan situasi gila ini.
Ia tidak akan membiarkannya lolos.
Kraaa—ahhh—
Ular kecil yang menyusut, memeras tenaga terakhirnya untuk
berlari ke arah tuannya.
Swaaa—
Menembus hujan deras, ia menuju tuannya yang dipenuhi
amarah.
Sang Tuan pasti marah karena Cale Henituse membuat dirinya
jadi begini.
Pasti merasa kasihan padanya juga.
Ular itu berusaha keras mendekati tuannya.
Tak ada yang menghalangi.
Tuan mendekat.
Sebentar lagi tuan pasti akan memeluknya dengan penuh iba.
Kraaa?
Namun, ular itu bingung.
Hah?
Sepertinya tuannya tidak melihatnya.
Tuan yang mendekat—
Kraak!
Menginjak dan melewatinya.
Menuju Cale Henituse.
Ia tak memberi sedikitpun perhatian pada ular—tidak, pada
Naga Air itu.
Bagi Raja Naga, seekor ular kecil tak pantas ditoleh.
—!
Mata ular itu dipenuhi putus asa.
Namun Raja Naga yang hampir gila itu tak peduli.
Dan—
“Ugh!”
Cale Henituse pun merasa seakan gila.
Swaaa—
Hujan deras belum berhenti.
Waktu menuju fajar.
Kegelapan masih menyelimuti bumi.
Dan Kaisar Tiga mendekat.
Swaaa—
Tak ada suara langkah.
Satu langkah, lalu satu lagi.
Namun jaraknya menyusut dengan cepat, walau tak terdengar
jejak di air hujan.
[ Cale, mata si bajingan itu sudah terbalik! ]
Suara Super Rock bergema serius.
Cale juga melihat semuanya, tapi—
‘Urgh!’
Ia sungguh ingin muntah.
Karena itu, Kaisar Tiga dan apapun juga sulit masuk ke
penglihatannya sekarang.
—Manusia!
Jangan khawatir!
Saat itu, suara gagah Raon terdengar.
Sring!
Choi Han mencabut pedangnya, berdiri di jalan.
Dengan mata merah darah, pria berambut putih itu berlari
gila menuju mereka.
Untuk menghalanginya, Choi Han berdiri.
“Si sial, sakit apalagi kali ini?”
Di belakangnya, Naga Kuno Eruhaben dalam wujud manusia
berdiri, melindungi Cale.
—Manusia.
Sampai Raja Iblis datang, kami bisa bertahan.
Tuk, tuk.
Raon menepuk punggung Cale dengan kaki depannya yang bulat.
“Uuugh!”
Cale nyaris muntah di jalan.
“!”
“——!”
——!
Wajah Choi Han, Eruhaben, dan Raon berubah serius.
Ini pertama kalinya mereka melihat Cale seperti itu.
Sesuatu yang serius pasti sedang terjadi.
‘Aku
harus menghentikannya.’
Maka Choi Han mencabut pedangnya, menatap Kaisar Tiga dengan
wajah keras.
‘Bertahan.’
Sebenarnya, mustahil menahannya.
Kaisar Tiga jauh lebih kuat dibanding Naga Air.
Tapi meski harus dihajar habis, ia akan bertahan.
Agar tak seorang pun di belakangnya terluka.
“Berani-beraninya menghalangi jalanku!”
Suara penuh amarah Kaisar Tiga membuat Choi Han menggenggam
pedang lebih kuat.
Wuuuung—
Aura hitam naik dari pedang.
Belum sempurna, tapi jika diberi waktu, kekuatan unik itu
bisa mekar sepenuhnya.
Wuuung—
Dengan tekad Choi Han, meski masih setengah matang, kekuatan
itu muncul.
Ssshhh—
Eruhaben juga mulai bersiap, debu platinum melayang di
sekitarnya.
Bersama itu, mana hitam Raon juga berkumpul.
“Berani sekali!”
Akhirnya Kaisar Tiga mendekat ke wajah Choi Han.
“!”
“Hmm.”
—!
Raon, Choi Han, dan Eruhaben tak bisa menyembunyikan
keterkejutan.
Chwaaa—
Energi yang terpancar dari Kaisar Tiga.
Jauh melampaui Naga Air yang menelan gunung.
Itu seperti samudra yang menerjang mereka.
Padahal tak ada laut di depan mata.
Namun hanya karena ia mendekat, seolah samudra itu ikut
datang.
Di hadapan alam semesta, manusia, bahkan naga hanyalah
makhluk kecil.
Mereka merasa keberadaannya mengecil.
Seperti butiran debu di hadapan samudra.
Mampukah mereka bertahan?
—Choi
Han! Jangan khawatir! Aku akan melindungimu juga!
Wuuuung—
Di depan Choi Han, sebuah perisai hitam terbentuk.
Terus tercipta, siap melindunginya kapan saja.
Ssshh—
Dari belakang, debu platinum berbisik:
“Jika kau bergerak, aku ikut serta.”
Dukungan dua naga membuat Choi Han sadar—
Ia bukan lagi butiran debu di hadapan samudra.
Ia adalah manusia yang berdiri kokoh di tanah.
‘Benar.
Aku adalah manusia itu.’
Tak seperti dulu saat terombang-ambing tanpa arah, kini aku
punya tanah tempat berpijak.
Wuuu—uuung—
Pada saat aura pedangnya berubah halus, bahkan sebelum ia
menyadarinya—
Ia sudah mengambil keputusan.
Untuk membelah samudra yang menggunung di depannya.
Saat pedangnya diayunkan menuju samudra itu,
debu platinum ikut meluncur bersama.
Lalu perisai hitam berdiri di depannya.
“!”
Choi Han membeku.
Boom!
Tubuh Kaisar Tiga melintasinya begitu saja.
Melewati perisai Raon yang dibuat khusus untuk menahan
Kaisar Tiga.
Tubuhnya melayang, ditopang derasnya hujan.
Membuat jalan cepat ke tempat yang ia inginkan.
Gerakannya anggun, seolah berjalan di atas air.
Dengan mudah, ia melewati Choi Han dan Eruhaben, yang
barusan ingin menahannya.
Energi samudra itu lenyap seketika.
Boom!
Dan ia berdiri tepat di belakang Raon dan Cale.
“!”
Mata Raon membelalak.
Perisai—
Ia segera hendak memanggilnya.
Tapi dibanding lawan yang sudah bersiap sejak awal, ia
terlambat.
Chwaaaaa—
"Tidak boleh!"
Eruhaben tanpa sadar berteriak, buru-buru berbalik sambil
menembakkan debu platinum.
Chwaaaaa—!!
Namun air yang sudah melonjak tinggi lebih dulu menghantam
Raon, mendorongnya jauh.
“Ugh!”
Raon terpental.
Eruhaben yang terkejut segera merengkuhnya dalam pelukan.
“Choi Han!”
Ia sadar maksud Kaisar Tiga dan segera memanggil Choi Han.
Tapi bahkan sebelum dipanggil, Choi Han sudah bergerak.
Chwaaak!
Cahaya hitam meledak dari pedang, mengarah pada Kaisar Tiga.
Namun Kaisar Tiga sudah bergerak secepat air, berpindah ke
tempat Raon tadi.
Tepat di belakang Cale.
“Khukhu. Tertangkap.”
Ia mengulurkan tangan ke arah Cale.
‘Sekarang sandera ini kubawa, lalu kabur dari Dunia Iblis!’
Ia bisa melihat wajah Cale yang kaget berbalik menatapnya.
Wajah itu membuat hatinya lega.
Heh, keadaannya buruk sekali.
Entah kenapa, lawan di hadapannya tampak sangat lemah.
Tak bisa bahkan memunculkan perisai seperti sebelumnya,
hanya pucat pasi ketakutan.
Bagus.
Amarah dan kelegaan bercampur.
Dengan itu, Kaisar Tiga mencengkeram kerah Cale Henituse.
‘Sekarang bawa dia, lalu kabur dari Raja Iblis!’
“Khuek!”
Suara tercekik keluar dari Cale.
Tubuhnya terhuyung ke depan, terseret oleh cengkeraman itu.
Kaisar Tiga menunduk dengan tawa mengejek.
Ia melihat tubuh Cale tersentak, punggung terangkat-angkat,
tak berdaya di genggamannya.
“…..!”
Namun Kaisar Tiga segera menoleh ke arah gunung.
Gunung yang hancur lebur karena Naga Air.
Di puncaknya, seseorang berdiri menatap ke bawah.
Itu adalah Raja Iblis.
“…Pemandangan
yang tidak kusukai.”
Suara rendahnya terdengar sampai sini. Dengan kekuatannya,
hal itu tak aneh.
Benar, ini jawabannya.
Kaisar Tiga yakin.
Raja Iblis tak bisa membunuhnya sekarang.
“Huhu.”
Ia tersenyum ramah, seolah-olah rambut putih awut-awutan dan
penampilannya tak memalukan.
“Sekarang semuanya akan kembali ke tempatnya.”
Ia bisa merasakan tatapan penuh kebencian dari rekan-rekan
Cale, serta pasukan Raja Iblis yang bergerak ke arahnya.
Namun, itu semua tidak penting.
Kecil semacam itu bisa dibunuh dengan sekali kibasan tangan.
Yang penting hanyalah:
Cale Henituse ada di genggamannya.
Dan Raja Iblis tak bisa menyentuhnya.
“Lepaskan manusiaku!”
Anak naga meraung marah, seolah hendak menyerbu.
Tapi ia tak bisa benar-benar maju.
Kaisar Tiga menarik kerah lebih kencang.
“Keugh!”
Tubuh Cale terangkat paksa.
Kaisar Tiga mengangkat tangannya lebih tinggi.
Tubuh Cale terangkat ke udara.
“Ugh, kuugh.”
Tubuh Cale bergetar hebat, melayang tanpa bisa menjejak
tanah.
Wajah pucat pasi, tubuh gemetar, mulut terkatup rapat tanpa
bisa berkata.
Pemandangan itu terasa sangat menggelikan.
‘Berani-beraninya makhluk ini kabur dari samudraku.
Sekarang akhirnya ada di tanganku.’
Hasil akhirnya memuaskan, apapun prosesnya.
Senyum terukir di bibir Kaisar Tiga.
“Bagaimana menurutmu, Raja Iblis?”
Ia melontarkan senyum kemenangan pada Raja Iblis yang mulai
menuruni gunung menuju tempat ini.
Namun ia tidak lengah.
Segera kabur.
Sebelum Raja Iblis melakukan sesuatu, segera lari.
Dengan membawa Cale Henituse.
Kaisar Tiga mencengkeram lebih keras.
“Keugh!”
Cale memberontak.
Semua orang melihatnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
‘Aku akan melarikan diri lewat air—’
Namun pikirannya terputus.
Ketegangannya memuncak ketika—
“Uuh…”
Cale, yang tergantung di genggamannya, bergumam sesuatu.
Apa katanya?
Kaisar Tiga mengernyit.
Cale berusaha bicara.
“Mo… munt—”
‘Munt?’
“M-muntah… mau… muntah~”
‘Hah?
Apa maksudnya?’
Dalam situasi segenting ini, dia bilang mau muntah?
“!”
Wajah Kaisar Tiga menegang.
Cale Henituse.
Pria yang sedang ia cengkeram.
Dari tubuhnya, sesuatu mulai bangkit.
Tubuhnya bergetar keras.
Namun bukan karena Kaisar Tiga.
….Samudra!
Dari dirinya terasa lautan.
‘Ini seperti ekuatanku!’
Apa ini?
Apa yang terjadi?
Kaisar Tiga tak sempat berpikir.
Karena Cale tak memberinya waktu.
Karena Cale sendiri pun tak sempat berpikir.
[ Semua persiapan selesai. ]
Suara Sky eating Water terdengar.
[ Sekarang bisa dimuntahkan. ]
Wajah Cale semakin pucat.
Muntah saat dicekik Kaisar Tiga?
Sepanjang hidupnya sudah melakukan hal gila, tapi ini
keterlaluan.
[ Butuh waktu cukup lama. ]
[ Bagaimanapun, kau menelan naga air raksasa itu. ]
[ Untuk memuntahkan kelebihan itu semua, butuh waktu. ]
‘Baiklah… lakukan sesukamu…’
Cale pasrah.
Ia menyerah.
Wajahnya dipenuhi cahaya keputusasaan.
“Keugh!”
Tubuhnya berguncang.
[ Air memang tertahan, tapi jika diberi jalan, ia akan
mengalir ke mana saja. ]
Suara Sky eating Water membawa pencerahan.
[ Jika ada jalan ke tanah, ia mengalir ke tanah. ]
[ Jika ada jalan ke langit, ia mengalir ke langit. ]
[ Benar, air bisa mengalir ke mana pun. ]
“Keugh!”
Cale memutar tubuhnya.
‘Ah, sial!
Benar-benar gila!’
Ia merasa seolah seluruh pembuluh darah bergerak.
Bagaimana harus menjelaskan ini?
“Graaaah!”
Tubuhnya tersentak keras.
Kedua tangannya terjulur ke depan, tanpa sadar.
Seolah hanya itu satu-satunya jalan.
[ Sudah selesai. ]
Sky eating Water menuntaskan jalan itu.
“Keueegh!”
Cale akhirnya memuntahkan.
Chwaaaaa—!!
Dari kedua tangannya, air memancar deras.
Namun itu bukan sekadar air.
Itu adalah samudra.
Air yang berisi esensi samudra.
Air yang dulu membentuk naga air raksasa.
Kini, semua energi itu terkonsentrasi, dipadatkan, hanya
menyisakan intinya.
Melesat cepat, keras, tajam.
Seperti panah atau tombak.
“!”
Dan itu mengarah pada Kaisar Tiga.
Sejak memiliki samudra, Kaisar Tiga belum pernah merasakan
samudra menghunuskan bilahnya padanya.
Bagaimanapun, dialah Raja Naga.
Tapi kini—
Samudra mengarah padanya.
Menyerangnya.
Cepat dan dahsyat.
Dalam sekejap, ia tak bisa memahami kenyataan ini.
Baik secara situasi maupun waktu,
serangan mendadak itu langsung menghantamnya.
“Hooooeeekkkkk!”
“Aaaargh!”
Kaisar Tiga dan Cale berteriak bersamaan.
Kaisar Tiga dihantam tajamnya samudra,
sementara Cale merasakan kelegaan luar biasa,
seperti rasa lega setelah darah kotor dikeluarkan dengan
tusukan tajam.
“……”
“……”
Dan semua yang menyaksikan hanya bisa berdiri terdiam tanpa
kata.
.
.

Ngakak bgt please ToT, kaisar tiga diserang muntahnya cale
BalasHapusSemua orang membeku dengan ulah cale
BalasHapusLAWAK BANGET PLS ASTAGA
BalasHapusHuwaaaaaa selalu tak terduga wkkkk. Ngakak pollll
BalasHapusUDAH KUDUGAA😭😭😭🤣🤣🤣🤣 cakep banget ngetawain chapter inii tolong😭😭😭😭😭
BalasHapusJujur gak ekspek tapi ini emang cale banget sihh 😭😭😭😭
BalasHapus