Trash of the Count Family II 483 – Gray Rain Falls
“Ck.”
Cale mendecakkan lidahnya.
Tepat ketika perisai dan tubuh Naga Laut hendak bertabrakan.
Kwaaa––
Sisik yang terbuat dari air.
Bagian yang hampir menyentuh perisai itu seketika berubah
menjadi air lalu menyembur ke arah Cale.
Kruaa––
Naga Laut meraung, masih menyatakan bahwa dirinya tidak akan
pernah bisa dikalahkan.
Bahwa tidak ada yang bisa melukainya.
Karena ia adalah air.
Perisai itu takkan pernah bisa menggores tubuhnya.
Sang Naga Laut, salah milik Kaisar Tiga.
Tuannya selalu berkata padanya—itulah sebabnya engkau adalah
naga agung, naga yang tak terkalahkan.
Kruaaar!
Walaupun saat ini dirinya hanya terperangkap untuk sementara
oleh Naga Kuno, Wanderer pengkhianat, dan jaring sihir,
ia tetaplah naga yang tak terkalahkan.
Tidak, bahkan naga yang tak bisa terluka.
“Ini gawat!”
Terdengar suara panik dari Wanderer Ryeon.
Sss––srkkk––
Tak peduli seberapa keras ia berusaha, tubuh raksasa Naga
Laut itu tak mungkin bisa ia bekukan dalam sekali hentakan.
Yang bisa ia lakukan hanyalah membekukan sebagian, agar
tubuh Naga Laut tidak sepenuhnya berubah menjadi air dan lolos dari jaring.
Namun, meski begitu, Naga Laut tetap mengakuinya.
Luar biasa.
Karena meski hanya sebentar, ia berhasil membekukan tubuhnya
yang seluas lautan.
Dan ia pun mengakui kata-kata Naga Kuno.
Sebagiannya memang benar.
Ia adalah laut.
Meski naga, dirinya juga adalah laut.
Karena memiliki keduanya, ia bisa menjadi makhluk yang
agung.
Namun ia sempat melupakan itu, hanya terpaku pada satu hal
saja.
Sepertinya ada baiknya menerima nasihat Naga Kuno itu.
Kruaaaar––
Naga yang mendapat pencerahan itu mengaum, kali ini tanpa
menahan kekuatannya.
‘Tidak boleh!’
Ryeon terkejut.
Jika Naga Laut ini berhasil melepaskan diri dari penekanan
Naga Kuno dan lolos dari jaring hitam—
jika ia kembali menjadi air dan keluar dari perangkap ini…
‘Aku…
aku tidak bisa membuktikan kegunaanku.
Itu tidak boleh terjadi!’
Cho dan Ryeon.
Dua bersaudara Wanderer yang bila bersatu bisa melepaskan
kekuatan setara tingkat Fived Colored.
Karena kutub berlawanan ada pada keduanya, bersama mereka
menghasilkan kekuatan yang lebih dahsyat.
Namun sekarang, Ryeon yang sendirian tidak mungkin bisa melawan
Naga Laut, salah satu dari Kaisar Tiga, pemilik Kekuatan Unik tingkat Fived
Colored.
‘Ini tidak boleh terjadi…’
Wajah Ryeon memucat.
Crakk––
Sisik Naga Laut membeku semakin cepat.
Memang bukan bagian dalamnya, hanya permukaan, tapi
kecepatannya jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Keunikan Ryeon—yang bila bersama adiknya bisa mencapai
tingkat Lima Warna.
Itu berarti potensinya memang bisa tumbuh hingga ke sana,
meski ia sendiri belum menyadarinya.
Di tengah kepanikannya, terdengar suara seseorang di telinganya.
“Kau salah sangka rupanya.”
Itu suara Cale.
Ryeon mendongak.
Cale sedang menjilat bibirnya.
[ Haus. ]
Seperti seseorang yang sedang melihat makanan lezat tepat di
depan mata.
Cale tidak menahan Naga Laut ini untuk melukainya.
Ia menahannya untuk dimakan.
Tidak, untuk diminum.
Cale menempelkan perisainya pada bagian tubuh Naga Laut yang
telah berubah menjadi air setelah melepaskan sisiknya.
--–!
Mata Naga Laut membelalak.
Apa ini?
Apa yang baru saja terjadi?
Rasa merinding membuat tubuhnya membeku.
Bahkan ia tak bisa berpikir.
Namun dalam sekejap itu, ia menyadari apa yang sedang
menimpanya.
[ Gulp. ]
Perisai itu mulai meminum air.
[ Asin. ]
Sang Rakus benar-benar haus.
Walau asin, tapi inilah air yang ia dambakan.
Air yang bisa menyembuhkan gangguan pencernaannya akibat
kekacauan.
Kruaaaar––!!!
Naga Laut meraung.
Padahal si Rakus belum meminum banyak pun.
Hanya satu tegukan kecil, tapi itu sudah cukup membuat Naga
Laut merasa ketakutan.
Dimakan.
Dirinya, naga agung, lautan itu sendiri, sedang dimakan!
Kesadaran itu membawa kengerian yang tak terbayangkan.
Dan ia segera sadar.
‘Inilah dia!’
Inilah yang telah memakan pecahan dirinya, naga kecil itu!
Naga Laut segera mengirimkan pesan penuh keputusasaan dan
amarah kepada tuannya.
‘Inilah dia!
Tuanku, inilah dia!’
Naga Laut memutar kepalanya, berontak di dalam jeratan
jaring.
Tuk.
Ia melihat sosok berambut merah, menempel erat di sisiknya
dengan posisi yang sangat buruk.
‘Tuanku, inilah dia!’
Dialah yang menempelkan perisai ke sisiknya.
Ia mencoba kembali berubah jadi air, tetapi air tetaplah
sesuatu yang nyata.
Kecuali bila pecah seperti hujan, meresap ke tanah, atau
menyebar ke segala arah,
air tetaplah sesuatu yang bisa disentuh.
Sss––
Sisik yang membeku.
Jika bahkan hanya sedikit saja permukaannya membeku—
“……”
Dan bila Ryeon membekukan titik tempat Cale menyentuh—
Itu sudah cukup baginya.
Pada permukaan sisik yang beku itu, ujung perisai Cale
menancap sedikit.
Kruaaaar––!!
Naga Laut meronta, mencoba mati-matian menghindar.
Krak!
Namun Naga Kuno menahannya, dan jaring hitam semakin rapat.
Mereka tidak berniat mengalahkan naga itu, tidak pula
melukainya.
Mereka hanya ingin menahannya.
Dan itu sudah bisa dilakukan oleh Naga Kuno dan naga muda.
[ Gulp! ]
Sang Rakus mulai minum lagi.
Naga Laut, yang telah membawa hujan, air tanah, dan segala
macam air sepanjang perjalanan hingga tiba di sini.
Namun Cale tidak berniat meminum semuanya.
[ Segarnya! ]
Inilah air alami yang dicarinya.
Laut.
Ia mulai menenggak laut itu.
Air alami, kekuatan yang cukup setara untuk membasuh
kekacauan.
Itulah keberadaan yang ditunggu oleh Sang Pendeta Rakus.
[ Gulp, gulp ]
Ia meneguk tanpa henti.
“Hhoo–”
Sudut bibir Cale mulai terangkat.
Kruaaaar––
Naga Laut meronta,
“Ugh!”
Naga Kuno mengerang, seolah sulit menahan pergerakan itu.
“Ughk!”
Ryeon, sang Wanderer, hampir menggantung dengan tubuhnya
menempel erat pada naga itu, berusaha mempertahankan kekuatannya.
‘Aku masih bisa bertahan!’
Wuuuung––! Wuuuung––!
Raon terus menyemburkan lebih banyak mana hitam untuk
mempertahankan jaring sihir itu.
Di tengah semua itu—
[ Satu ekor sudah dimakan. ]
Sang “Sky Eating Water” melaporkan situasi.
[ Gulp, gulp, gulp – ]
Sang Pendeta Rakus meneguk tanpa henti.
Wuuuung––
Dan perisai abu-abu perlahan kembali ke warna aslinya,
berwarna perak.
Melihat perisai abu-abu yang kembali memancarkan kilau perak
itu…
Cale tak bisa menahan dirinya lagi.
“Kh,,,, khahahahahaha!”
Tawa pun lolos tanpa ia sadari.
––!
Dan ketika Naga Laut melihat tawa itu, kobaran api meledak
di matanya.
– Manusia! Naga Laut kehilangan kendali!
Seperti yang Raon katakan, mata Naga Laut benar-benar
terlihat horor.
Kruaaaar––!!
Dengan amarah yang tak pernah ia keluarkan sebelumnya, Naga
Laut meraung dan memutar tubuhnya.
Rontaannya kini berada di level yang berbeda dari
sebelumnya.
Tak heran.
Ia baru saja kehilangan lagi sepotong dirinya.
Tidak. Lebih tepatnya—dimakan oleh makhluk itu.
“Ugh!”
Dari keganasan itu, tubuh Ryeon terpental.
Chwaaaa––
Naga Laut mengubah seluruh tubuhnya menjadi air, menyisakan
wajahnya saja.
“Ugh!”
Naga Kuno tidak lagi punya apa yang bisa ia genggam.
Ekspresi Eruhaben dipenuhi kegetiran.
Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Kwaaa––
Tubuh Naga Laut berubah menjadi pusaran besar.
Bukan pusaran biasa, tapi pusaran laut.
Ia membesar, setinggi gunung yang ia lewati, menjulang ke
langit.
Siapa pun yang tersedot ke pusat pusaran itu akan merasa
seolah masuk ke kedalaman samudra.
– Ahh!!
Raon pun panik.
Chwaaaa––
Pusaran itu melahap jaring sihir.
Menelan jaring hitam, tubuhnya semakin besar.
Ia menyerap hujan, menyerap air tanah, menyerap
segalanya—berusaha melahap Naga Kuno, jaring, dan semua yang ada di sekitarnya.
Dan pusat pusaran itu—adalah Cale.
– Manusia!
Raon memanggil Cale.
Eruhaben pun berpikir sejenak, apakah ia harus menarik diri
sambil menyelamatkan Cale.
“…..!”
“…..”
Namun kedua naga itu bisa segera mundur tanpa penyesalan.
“Haha, hahaha!”
Karena Cale masih tertawa.
Bahkan saat ia terseret pusaran, ditarik ke pusat arus air,
ia tetap tertawa bahagia.
Ia tampak begitu senang.
Raon dan Eruhaben sudah lama tidak melihat wajah itu.
Dan mereka tahu, setiap kali Cale menunjukkan ekspresi
seperti itu, sesuatu akan terjadi.
Naga Kuno menarik Ryeon yang masih terpaku dan mundur.
“Ah!”
Ryeon akhirnya sadar dan bersuara.
“Tidak perlu diselamatkan?”
“Tidak lihat dia sedang tertawa?”
Balasan Eruhaben membuat Ryeon tak bisa membantah.
Cale masih tertawa.
Ia tampak benar-benar bahagia.
Kruaaa––
Naga Laut, meski telah menciptakan pusaran raksasa setinggi
gunung, meski tubuhnya sendiri berubah menjadi pusaran itu, meski ia melihat
kekuatan dahsyat yang ia lepaskan—
Kruaaaar––
Ia hanya bisa meraung, kali ini bukan dengan amarah,
melainkan dengan ketakutan.
[ Gulp, gulp – ]
[ Satu ekor lagi. Total sudah tiga. ]
“Khhuhuhu~”
[ Gulp, gulp – ]
[ Tambah satu lagi. ]
“Khahahahaha~!”
Cale sudah lama tak merasa sebahagia ini.
Ia menggenggam erat perisai, bertahan mati-matian.
Tubuhnya terseret pusaran, dihantam arus, wajahnya disambar
air.
Memang sedikit pusing, tapi—
‘Aku minum!’
Perisai itu, seakan ikut senang, semakin rakus menenggak
air.
Dan Cale bisa merasakan jelas.
Sky Eating Water.
Karena ia juga menyimpan kekuatan air, ia bisa merasakannya
lebih nyata.
Pusaran raksasa ini.
Kekuatan laut di dalamnya semakin menyusut.
Tubuh pusaran membesar hanya karena hujan yang menambah air.
Namun intinya terus mengecil.
[ Segar. Gulp. ]
Suara Pendeta Rakus semakin riang.
[ Cale, akhirnya dicerna. ]
Seperti yang dikatakan Super Rock, tubuh Cale mulai membaik.
Meski masih ada sisa Kontaminasi Kekacauan yang belum dimurnikan,
setidaknya gangguan pencernaan Pendeta Rakus sudah membaik.
Berkat itu, kondisi Cale pun terus meningkat.
Tubuhnya terasa ringan.
Sudah lama tidak seperti ini.
“Haahahahaha—!”
Meski tubuhnya diguncang pusaran, meski wajahnya dihantam
air deras—
“Hahahaha!”
Cale hanya tertawa kegirangan.
Saat itu, terdengar suara pelan.
[ Laut… pada akhirnya hanyalah air. ]
Itu suara Sang Sky Eating Water.
Mata Cale berkilau berbeda.
Ia bisa merasakan bukan hanya Pendeta Rakus, tapi juga Sky
Eating Water, telah memperoleh semacam pencerahan.
Kruaaaar––
[ Satu ekor lagi. ]
Cale menghentikan tawanya.
‘Sekarang yang terakhir.’
Satu ekor lagi.
Setelah itu, perisai tidak perlu lagi meneguk apa pun.
Cale kini menatap perisai yang telah kembali berwarna perak,
menunggu saatnya tiba sambil memperhatikan perisai itu meneguk potongan
terakhir seekor Naga Laut.
[ Satu ekor lagi! ]
Dan tepat ketika “Sky Eating Water” mengirim sinyal, Cale
menarik perisainya.
‘Sekarang selesai!’
Perisai itu kembali berwarna perak, bahkan kini muncul
daun-daun kecil di permukaannya.
Esensi kekacauan yang terlahir dari 43 kali ritual, ditambah
kekacauan sang Paus, serta Kekacauan Yang Terbawa Angin.
Segala kekacauan itu kini tersimpan dalam perisai, bersama
dengan lautan yang sebelumnya dimiliki Naga Laut sang Raja Naga Kaisar Tiga.
Sudah tentu perisai ini akan berkembang.
Yang membuat Cale penasaran hanyalah—akan berubah seperti
apa?
‘Hasilnya akan terlihat sebentar lagi.’
Cale sekali lagi menarik perisai itu.
“??”
Ia tertegun.
Penasaran, ia mencoba menarik lagi.
“??”
Perisai itu sama sekali tak bergeming.
Kwaaaa—
Pusat pusaran.
Tubuh Cale terguncang ke sana kemari, namun tangannya yang
menggenggam perisai sama sekali tak terlepas.
“?”
Saat ia perhatikan, benang perak yang menghubungkan perisai
itu sudah melilit erat tangannya, sehingga ia tak bisa melepaskan meski mau.
Dengan kata lain, bukan Cale yang bertahan mati-matian agar
tak terlempar—melainkan perisai itu yang tak mau melepaskannya.
Namun itu bukan masalah utama.
“…Hah?”
Perisai tetap tak bergerak.
“Heh? Hoh?”
Ini seharusnya tidak begini.
[ Glek glek. ]
Si Rakus terus meneguk.
Bahkan lebih banyak dari yang seharusnya.
“Kenapa begini?”
Cale panik.
[ …Heh. ]
Bahkan si Super Rock juga panik.
[ Glek glek. ]
Dengan susah payah Rakus bersuara.
[ Glek… Aku… berhenti… nggak bisa! Terlalu enak! Glek!! ]
Wajah Cale langsung memucat.
Jangan-jangan—
[ Indigesti kedua kalinya…! ]
(tl/n : Indigesti adalah
istilah umum untuk berbagai masalah gangguan pencernaan, yang sering kali
ditandai dengan ketidaknyamanan di perut bagian atas, seperti nyeri atau rasa
terbakar.)
Mendengar sambungan ucapan Super Rock, Cale menutup mata
rapat-rapat.
‘Fuck!
Tentu saja. Sesuatu yang berjalan terlalu lancar pasti
ada masalah!
Terkutuk!’
[ Kalau begini, Naga Laut bisa habis dimakan! ]
Suara Super Rock makin cepat, kalut, seolah mengucapkan apapun
yang terlintas.
[ Rakus, berhenti! Kalau tidak, Cale bisa menderita sakit
perut berbulan-bulan! ]
Saat itu, si Pelit, Fire of Destruction, ikut menyela.
[ Hei, kalau begini jangan-jangan bukan cuma jantung yang
terukir di perisai, tapi naga juga ikut terukir? ]
“Ah.”
Refleks Cale mengeluarkan suara kecil.
Benar juga— Indestructible Shield, si Rakus sudah pernah
menelan Kekuatan Kuno Vitality of Heart.
Dan sekarang? Sebuah pikiran tiba-tiba muncul.
Kekuatan Unik.
Bukankah itu mirip dengan Kekuatan Kuno?
Apakah mungkin sekarang si Rakus sedang menelan Kekuatan
Unik, sama seperti dulu ia menelan Kekuatan Kuno?
Cale menunduk.
Perisai perak.
[ Pohon tumbuh dengan minum air. ]
Suara tenang “Sky Eating Water” bergema di kepalanya.
[ Kalau Vitality of Heart adalah sesuatu yang dipelihara
demi melindungi, maka pohon yang waktunya tumbuh pasti membutuhkan air. ]
Tetap tenang, ia melanjutkan:
[ Namun yang satu ini adalah makhluk yang mati karena
terlalu banyak makan. Artinya, kalau terus makan, bisa mati juga. ]
…Itu berarti?
Tak lama, Cale mendengar kepastian dari ucapannya:
[ Ya. Itu bisa terjadi padamu. ]
“WTF!”
Cale spontan mengumpat.
Kruaaaahh—
Naga Laut juga meraung, berontak.
Keduanya sama-sama pucat pasi.
“Oi!”
Namun Cale masih sempat berteriak:
“Dia kan air!”
Air laut juga air, bukan?
“Masih mau diam saja?”
Mendengar pertanyaan Cale, “Sky Eating Water” tetap kalem.
[ Air yang melebihi wadahnya, pasti akan meluap. ]
‘Lalu?’
[ Kalau jumlah air melampaui kapasitas, pada akhirnya
akan mengalir keluar dari tubuhmu. ]
‘Hah?’
[ Air yang diminum berlebihan pasti dimuntahkan. Jadi
jangan khawatir. Aku akan buat jalannya keluar dari tubuhmu. ]
‘Hah?
Aku… akan muntah?
Dan kau… akan membantuku muntah?’
Mata Cale bergetar hebat.
Di saat bersamaan—
Kruaaaahhh—
Naga Laut kembali meraung.
[ Sekarang tinggal dua ekor lagi. ]
[ Artinya, perisai sebentar lagi akan berhenti. ]
Semuanya, kecuali kepala Naga Laut itu, sudah tertelan oleh
Cale.
‘Aku nggak mau muntah!’
Wajah Cale makin pucat.
****
“Arrrrggghhhh!”
Sang Kaisar Tiga meraung penuh amarah atas pemandangan yang
ia lihat lewat Naga Laut.
‘Berani-beraninya kau menelan kekuatanku!’
Mengabaikan Raja Iblis yang mengikutinya, Kaisar Tiga dengan
mata melotot berlari menuju tempat Cale berada.
Sekarang Raja Iblis bukan urusan penting.
Sementara itu, Raja Iblis berkomentar pelan:
“Pertama kalinya kulihat dia marah segila itu.”
Dengan mata berkilau penuh minat, ia pura-pura mengejar
dengan santai di belakang.
****
[ Glek. ]
Akhirnya.
[ Aku nggak bisa minum lagi. ]
Rakus berhenti.
“…..”
Cale menunduk.
Perutnya bergolak.
Ini benar-benar terasa seperti sakit perut.
“…..”
Dengan susah payah ia mendongak.
Kruaa…a…
Yang terlihat hanyalah kepala Naga Laut, melayang dengan
pusaran hujan yang kini jauh mengecil.
[ Tak habis terminum. Satu ekor masih tersisa. ]
Benar seperti kata “Sky Eating Water”—Rakus gagal menelan
semuanya.
Lautan yang penuh dengan Kekuatan Unik tingkat Fived Colored
tidak bisa ditelan seluruhnya.
Kruaaa…
Suara rengekan lirih Naga Laut.
Pusaran pun lenyap.
Ssshhh—
Hanya suara hujan yang tersisa.
Cale menyaksikan Naga Laut yang jatuh terhempas.
Kini, tanpa kepala, tubuh naga itu mengecil hanya sebesar
seekor ular kecil.
Cale sedikit merasa bersalah.
“M-Maaf—”
Ia ingin minta maaf.
“Ugh!”
Namun isi perutnya bergolak.
Rasanya akan muntah.
Tak sepatah kata pun bisa keluar.
Lalu—
“Kau!!!”
Sang Kaisar Tiga muncul, menembus gunung-gunung.
Ia tak lagi tampak seperti Dewa atau Raja Naga.
Rambut putih panjang dan jenggotnya berantakan, pakaiannya
kotor.
Matanya merah penuh amarah, tubuhnya gemetar.
“Kau! Aku akan membunuhmu!”
Mata Kaisar Tiga menyala, kehilangan akal.
—Manusia, Kaisar Tiga sudah gila!
Benar kata Raon, Kaisar Tiga kini hanyalah orang gila.
“Ughh.”
Tapi Cale masih tak bisa bicara.
Kalau buka mulut, ia yakin akan muntah di hadapan Kaisar
Tiga.
[ Sebentar lagi kau akan muntahkan semuanya. Percaya
saja. ]
Ucap “Sky Eating Water” dengan tenang.
Wajah Cale makin pucat.
‘Kacau total!’
Itulah satu-satunya kesimpulan yang bisa ia buat.
.
.

pokoknya kalau terlalu lancar patut dicurigai cale
BalasHapusSumpah raja iblisnya tengil banget sih😭😭😭 mirip cale anjir tengilnya ngeselin banget wkwkw
BalasHapus