Trash of the Count Family II 482 - Gray Rain Falls
Kruaaah—
Begitu melihat Eruhaben, sang naga raksasa, Naga Laut segera
bangkitkan tubuhnya yang sebesar gunung, seolah menyeret seluruh pegunungan
bersama dirinya.
****
“.....!”
Dan pada saat yang sama, Sang Kaisar Tiga Raja Naga
mendapati dirinya tanpa sadar berhenti bergerak ketika melihat naga emas itu.
Berbeda jauh dengan sekadar sepersepuluh dari wujud
kembaran, ini adalah Naga Laut yang dikirim sepenuhnya.
Naga itu adalah perwujudan dari Kaisar Tiga.
Itulah sebabnya amarah dan emosi kuat yang dikirim Naga Laut
juga tersampaikan padanya.
Pandangannya pun beralih ke arah Raja Iblis.
"Keugh!"
"Kuhek, kuheok!"
Anak buahnya terhantam mundur tanpa daya di bawah serangan
Raja Iblis.
‘Tapi mereka tidak mati.’
Ya, Raja Iblis membiarkan para pengikut Kaisar Tiga tetap
hidup.
Bahkan ia tidak menyerang Kaisar dengan kekuatan penuh.
Ia bahkan memberi waktu agar Naga Laut bisa lewat.
Ya, itu berarti ia memang sengaja membiarkannya.
Kaisar Tiga mengira dirinya berhasil mengelabui
(menyisihkan) Raja Iblis, tapi nyatanya tidak.
“Ha!”
Kaisar Tiga meledakkan tawa, namun berbeda dengan tawanya,
janggut panjangnya bergetar hebat.
Wajahnya penuh amarah.
Mata yang tampak seakan akan menyemburkan api.
Senyuman tipis muncul di wajah Raja Iblis yang tercermin di
bola matanya.
“Sekarang
baru kau sadari?”
Begitu Raja Iblis mengucapkannya dengan nada datar,
Kaisar Tiga akhirnya menyadari letak kegagalannya.
“Kau
pengkhianat busuk!!”
Shuaaah—
Dari tubuh Kaisar Tiga, arus air melonjak tinggi.
Kepada dirinya yang demikian, Raja Iblis tetap berkata
dengan nada tenang:
“Jika
kau terlambat, nagamu akan lenyap.”
“.....!”
Kegelisahan yang tertutup oleh amarah.
Itu pun sudah disadari Raja Iblis sejak awal.
“Ya,
ini adalah pertarungan melawan waktu.”
Raja Iblis merentangkan kedua lengannya.
Untuk menuju Mika, harus melewati tempat ia berdiri.
“Kaisar
Tiga, engkau yang disebut Raja Para Naga—
‘Mampukah kau…’
“Lepas
dari tanganku.”
Bisakah kau melakukannya?
“Hanya
dengan begitu, kau bisa menyelamatkan nagamu.”
Jika kehilangan naganya,
“Bukankah
kau bukan lagi Raja Naga?”
Gelar itu, sebutan yang selama ini begitu Kaisar tiga
banggakan, akan kehilangan maknanya.
Raja Iblis berkata pada Kaisar Tiga Raja Naga:
“Kaisar
Tiga, cepatlah.”
****
Setelah menerima kabar melalui cincin sihir—bahwa Cale
Henituse bisa menyerap kekuatan laut Naga Laut milik Kaisar Tiga—Raja Iblis
mengubah rencananya.
Lebih tepatnya, hanya dari satu kalimat yang disampaikan
Cale melalui penasihat Ed, pikirannya langsung berubah.
“Mau
ikut berburu?”
“Ah.”
Raja Iblis menengadah. Hujan yang membasahi wajahnya terasa
segar.
Kesegaran itu menunjukkan betapa tubuh dan hatinya sedang
membara.
‘Sudah
lama.’
Betapa menariknya ini.
Sejak terakhir kali bertarung satu lawan satu melawan Raja
Iblis generasi sebelumnya, sudah lama ia tidak merasakan gairah semacam ini.
Benar, ia harus hidup di tengah perang.
Hanya dengan itu keberadaannya memiliki arti.
Kedamaian dan ketenangan takkan pernah bisa ada dalam
hidupnya sejak lahir.
Ia menghapus pikiran itu.
Swaaah—
Hanya menyisakan panas yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh
hujan. Ia menundukkan kepala perlahan.
Wooooo—woooo—
Aura aneh menyelimuti Raja Iblis.
Itulah alasan kenapa Kaisar Tiga tak berani menyerang meski
ia tampak santai.
Bertolak belakang dengan sikapnya, tubuh dan auranya sudah
seperti berdiri di pusat pertempuran.
Raja Iblis berkata pada buruannya:
“Ayo,
enyahkan aku.”
Wajah Kaisar Tiga menegang.
Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan kekuatan sejati Raja
Iblis.
Yang mungkin, bahkan itu pun belum seluruhnya.
Barulah ia mengerti kenapa Kaisar Pertama, Sang Wanderer
Pertama, selalu memperingatkan tentang Raja Iblis.
Raja Iblis tersenyum.
“Enyahkan
aku.
Hanya dengan begitu kau bisa pergi menyelamatkan nagamu,
bukan?”
Dan di sisi lain, Raja Iblis pun dapat melihat kekuatan asli
Kaisar Tiga, atau setidaknya sebagian darinya.
Shuaaah—
Berlawanan dengan hujan yang turun, air dari bumi melonjak
ke langit.
Samudera merangkul Kaisar Tiga.
Ia membuka mulutnya.
“Raja
Iblis, engkau memang kuat.”
Ia mengakui yang harus diakui.
“Tapi
aku akan membunuhmu, dan juga membinasakan orang-orang yang menggenggam
tanganmu.”
Namun melihat sosok Kaisar Tiga yang tak mundur, justru
menyalakan api amarahnya semakin besar, Raja Iblis menyunggingkan senyum lebih
dalam.
“Memang
harus begitu adanya.”
Namun matanya tak ikut tersenyum.
‘Kau
berniat kabur.’
Meski tampak marah dan seperti hendak menghabisinya, Raja
Iblis tahu.
Orang ini akan lari.
Ia akan bergegas mencari Naga Lautnya.
Karena itu adalah kekuatan berharganya, bagian dari dirinya.
‘Ya,
Kaisar Tiga.’
Atau lebih tepat,
‘Buruan,
cobalah melarikan diri.’
Di sana sudah menunggu perangkap untukmu.
Senyum kecil muncul di sudut bibir Raja Iblis.
Ia melangkah maju,
Kaisar Tiga pun ikut melangkah.
Kwaaaaa—!!
Di tengah jalan, di dalam hutan yang melingkupi,
Suara gemuruh maha dahsyat menggema, menelan bahkan suara
hujan badai.
****
Dan di hadapan Mika, naga melawan naga.
Kwaaaaang—!!
Ledakan gemuruh terdengar.
Bahkan derasnya hujan dan pekatnya kegelapan seolah tertelan
oleh dentuman itu.
“Heooh—”
“N,
Naga! N… naga!!”
Mika dan Midi, para penduduk di dalam benteng hanya bisa
mendengar suara gemuruh tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, mereka yang berada di istana penguasa bisa melihat
jelas pemandangan di luar dinding kota.
“Tenang!
Jangan bertindak gegabah! Aktifkan sihir penuntun!”
“Baik,
Tuan Penasihat!”
“Pertahankan
penjagaan ketat di dinding Midi! Selain pasukan minimum untuk melacak yang
terinfeksi, sisanya siagakan dalam kondisi perang!”
“Baik!”
“Dan
Mika! Pasukan di dalam tetap siaga, tapi jangan ada yang keluar melewati tembok
tanpa perintah!”
“Ya!”
Penasihat Ed terus memberi instruksi sambil matanya tak
lepas memandang benturan dua naga raksasa di luar tembok Mika.
“Ha,
naga memanglah naga.”
Naga Laut milik Kaisar Tiga Raja Naga.
Tentang seberapa kuat ia, penasihat Ed sudah punya gambaran.
Kalau bukan karena tahu Cale telah menyerap kembaran naga
itu, ia takkan pernah mengusulkan untuk melawannya.
“Luar
biasa…”
Namun sekarang, naga itu—
Kruaaah—!
Kwaa-jik!
“Tak
kusangka Naga Kuno itu…”
Naga Laut yang begitu besar, seakan bisa menyapu gunung
sekaligus, sedang berhadapan dengan Naga Kuno.
Tubuh Naga Kuno memang lebih kecil dibanding Naga Laut raksasa
itu.
Namun ketika tubuh mereka saling berbenturan, Naga Kuno
justru—
‘Dia menang.’
Ya, Naga Kuno sedang menguasai Naga Laut.
‘Padahal ia bahkan tak bisa menggunakan sihir.’
Ed tak kuasa menahan rasa kagumnya.
“.....!”
Cale hanya menyilangkan tangan di dada, matanya tak lepas
dari Eruhaben.
Flaaap—
Eruhaben melebarkan sayapnya, terbang tinggi ke langit.
Lalu segera menjatuhkan diri ke bawah.
Kwaaaang!
Dengan dentuman keras, tubuh panjang Naga Laut tertekan di
bawah cengkeraman Eruhaben.
‘Hebat sekali.’
Eruhaben sama sekali tak memedulikan tubuh aslinya.
Ia benar-benar bertarung dengan Naga Laut itu, menghantamnya
dengan tubuhnya sendiri.
“Manusia!
Kakek Naga Goldie luar biasa hebat!”
Raon berseru penuh kagum.
Kruaaahh—!!
Naga Laut meraung marah, menampakkan taring pada Eruhaben
yang menindihnya.
Wujud naga timur itu melesatkan ekornya untuk menghantam
Eruhaben.
Flaap—
Namun Eruhaben segera melesat tinggi, menghindar dengan
cekatan.
“Kakek
Naga Goldie, kau lincah sekali! Dan sangat kuat! Tubrukannya keras!”
Cale pura-pura tak mendengar kosakata Raon yang aneh, dan
justru menimpali:
“Bukan.
Itu karena ia cerdik.”
“Hmm?”
“Eruhaben-nim
memang bijaksana.”
“Hmm?”
Raon memiringkan kepala bingung, namun saat itu suara
Eruhaben terdengar:
“Dasar
naga palsu. Sebagai naga, itu saja yang bisa kau lakukan?”
Cale menghela napas kagum.
‘Luar
biasa.’
Pengalaman panjang memang tak bisa diremehkan.
Lebih dari sekadar cerdik—ia licik dalam arti positif.
Eruhaben sejak awal sudah menyiapkan panggung pertempurannya
sendiri.
“Luar
mungkin rupamu meniru naga dengan baik, tapi dalamnya palsu. Tak heran kau tak
bisa mengeluarkan kekuatanmu! Hahaha!”
Eruhaben kembali menghantam Naga Laut.
Kwaaang!
Kali ini, Naga Laut sudah menunggu, menggunakan tubuh
panjangnya untuk melilit Eruhaben.
Flaap—
Tapi Eruhaben menghindar lagi.
“Hmph,
untuk disebut naga, kau terlalu lambat.”
Kruaaahh—!!
Naga Laut tak bisa lagi menahan amarahnya.
Siapa dirinya?
Naga Laut, naga tunggal yang dipelihara oleh Raja Naga,
penguasa samudera.
Diciptakan dari penguasa yang bahkan disebut Raja Para Naga.
Dan kini, Naga Kuno itu berani menyebut dirinya palsu?
“Pantas
saja. Kau lahir dari makhluk yang mengaku Raja Naga, padahal tak pantas. Wajar
kalau kau bahkan tak tahu siapa dirimu.”
Eruhaben mengklik lidahnya.
Kruaaahh—!! Kruaaahh—!!
Amarah Naga Laut pun benar-benar meledak.
‘Berani-beraninya!
Tak hanya menghina dirinya, tapi juga tuannya!
Ia takkan membiarkan itu.
Naga Kuno ini harus mati.’
Dan ia akan membuktikan bahwa dirinyalah naga sejati!
Flaap—
Eruhaben kembali melambung, lalu menukik.
Saat itulah Naga Laut menunggu kesempatan.
Dan akhirnya tubuhnya bergerak.
Tubuh agung yang takkan pernah menua, berbeda dengan tubuh
rapuh si Naga Kuno.
“Keugh!”
Tubuh raksasanya melilit Eruhaben dengan cepat.
Kecepatan itu sama sekali berbeda dengan sebelumnya.
Dalam sekejap, ekor hingga seluruh tubuhnya membelit rapat
tubuh Eruhaben, lalu menekan dengan kekuatan menghancurkan.
“Krugh—!”
Suara keluar dari mulut Naga Kuno, membuat Naga Laut merasa
puas.
‘Lihatlah!
Naga Kuno ini kalah.
Yang mengalahkannya adalah aku, naga sejati ciptaan Raja
Naga!’
Naga Laut mulai larut dalam rasa bangga dan kepuasan atas
kemenangannya.
Namun pada saat itu—
“Bodoh.”
Suara datar Eruhaben menusuk telinganya.
Meski wajahnya meringis kesakitan, mata Naga Kuno itu tetap
tenang.
Di dalamnya tersimpan kedalaman pengalaman.
“Kau
bukan naga.”
Mata Naga Laut kembali berkobar oleh amarah, dan lilitannya
mengencang.
Namun—
Sruung—
Ia mendengar suara aneh, sangat dekat.
Wooo~wooo—
Suara samar.
“Heheh.”
Tawa polos terdengar setelahnya.
Atas.
Sumber suara itu datang dari atas.
Naga Laut mendongak.
Swaaaah—
Hujan deras turun dari langit.
Namun yang terlihat bukan lagi hujan.
Sebuah jaring raksasa, terbuat dari mana hitam, turun dari
atas.
“Tertangkap!”
Sihir Raon.
Jaring hitam itu menutupi Naga Laut dan Eruhaben sekaligus.
Naga Laut mencoba menghindar, namun—
Crack!
Kaki depan dan belakang Eruhaben mencengkeram tubuhnya
erat-erat.
Naga Laut meronta, tapi Eruhaben tak melepasnya.
Meski tubuh Naga Laut lebih besar, Eruhaben bertahan dengan
seluruh kekuatan.
Kruaaahh—!!
Naga Laut meraung, berusaha lepas.
Namun Naga Kuno itu menahan, cukup lama agar jaring hitam
itu bisa menutupi mereka berdua.
Dengan tubuh mudanya yang diremajakan, itu bukan masalah
besar bagi Eruhaben.
Swaaak!
Jaring turun.
Menutup kedua naga raksasa itu.
Semakin Naga Laut meronta, semakin erat jaring hitam itu
melekat padanya.
Itu tak bisa dihindari.
Karena Raon, dari udara, sedang mengendalikan tiap helai
jaring satu per satu.
Dalam hal menguasai sihir yang ia ciptakan sendiri, hampir
tak ada yang bisa menandingi Raon.
“Berhasil!”
Dan memang peran Raon sudah ditentukan.
Ia hanya perlu menciptakan waktu.
Sedetik saja.
Waktu singkat agar Naga Laut terikat rapat.
Maka ia mengeluarkan sihir dengan bebas, tanpa ragu.
“……”
Sebab, di sisi Cale kini ada Choi Han yang berdiri menjaga.
Dengan Choi Han melindungi, Raon tak perlu khawatir dan bisa
menuangkan seluruh mana untuk menciptakan jaring hitam raksasa.
Dan begitu pandangan Choi Han serta Raon bertemu pada Cale—
“Mulai.”
Cale melepaskan tangan yang terlipat, lalu mengangkatnya
memberi sinyal.
Sssskk—
Naga Laut yang meronta mendengar suara aneh.
Seseorang mendekat melewati celah jaring.
Seorang perempuan.
Naga Laut mengenalnya.
Pengendali es.
Mata naga melebar.
Bawahan Raja Naga kini mengulurkan tangan padanya.
Melalui celah jaring, tangannya menyentuh tubuh Naga Laut.
Dan dari balik bahunya, Naga Laut melihat Cale semakin
dekat, membawa perisai besar di punggungnya.
---!!
Saat itu, firasat buruk melintas.
“Air
laut pun bisa membeku.”
Suara tenang Wanderer Ryeon terdengar.
“Agak
sulit, memang.”
Tapi hanya butuh sekejap.
Tak perlu membekukan seluruh tubuh naga.
Cukup sebagian, sekadar untuk mencegahnya kabur.
Srak—
Naga Laut menatap tubuhnya yang membeku di bagian yang
disentuh Ryeon.
Sesaat ia bahkan lupa meronta.
Di momen itu, Naga Kuno berkata datar:
“Kau
bukan naga.”
Sejak pertama kali melawan Naga Laut itu, Eruhaben
merenungkan dan akhirnya menyadari.
Alasan Naga Laut itu kuat bukan karena ia naga.
“Bodoh.
Kau lupa pada hakikatmu.”
Hakikat Naga Laut itu adalah laut.
Kekuatan alam yang luas dan dahsyat.
Namun ia malah mengurung dirinya dalam bingkai ‘naga’.
Benar, naga adalah makhluk agung dan sempurna.
Tapi makhluk ini, yang tak tahu betapa agung hakikatnya
sendiri, dan justru ingin menjadi sesuatu yang lain—
Eruhaben sengaja menyebutnya “naga palsu”, agar ia makin
jauh dari hakikat aslinya.
Air bisa mengalir ke mana saja.
Artinya, Naga Laut bisa kabur ke mana pun.
Air itu cukup kuat untuk melanda gunung.
Artinya, ia bisa berubah menjadi samudera kapan saja.
Dan itu harus dicegah.
Dengan kesadaran itu, Naga Kuno berkata ia sendiri yang akan
turun tangan.
Lalu ia menyiapkan panggung ini.
Naga Kuno.
Jaring hitam.
Es.
Tiga hal yang cukup untuk menahan Naga Laut sejenak.
Woooong—woooong—
Perisai abu-abu berkilau samar dengan cahaya perak.
Dan itu sudah cukup waktu baginya untuk mengincar tubuh Naga
Laut.
Kruaaaahh—!!
Perisai Cale menghantam tubuh Naga Laut.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perisai tak
dipakai untuk bertahan, melainkan untuk menyerang.
Indestructible Shield.
.
.

Komentar
Posting Komentar