Trash of the Count Family II 476 - Gray Rain Falls
Cale puas karena berhasil menangkap saudara Wanderer, Cho
dan Ryeon.
“Ada apa denganmu?”
Namun dia juga merasa bingung.
Adik dari saudara itu, si Cho, tiba-tiba mendekat ke arah Cale
dan langsung duduk di lantai.
“Hey!”
Lalu ia memegang ujung celana Cale.
“Tunjukkan lagi yang tadi!”
Dia mulai merengek.
Cale merasa konyol.
“Woy, bisa lepasin nggak?”
Dia mencoba melepaskan tangan Cho yang memegang celananya.
“Astaga, jinjja!”
Cho ternyata sangat kuat, sedangkan Cale lemah.
“…..”
Dan Ryeon, si kakak, hanya menatap kejadian itu dengan
ekspresi sangat rumit.
Tapi ekspresinya juga tampak kosong, seolah tidak akan bisa
menjawab apapun jika ditanya.
“Kenapa dia begini?”
Akhirnya Cale bertanya pada Eruhaben.
“Huft.”
Naga Kuno itu menghela napas dan menggelengkan kepala.
“Begitu aku bilang akan membawanya padamu, dia langsung
menurut.”
Saudara Wanderer Cho dan Ryeon, masing-masing memiliki
keunikan tingkat Transparent, dan jika mereka bersatu, kekuatannya setara
dengan tingkat Fived Colored.
Meskipun Cale tidak tahu detailnya, dia tahu bahwa kedua
saudara itu sangat kuat.
Sejujurnya, dengan kondisi sekarang—Choi Han yang belum berkembang
sepenuhnya mengenai Kekuatan Uniknya, Eruhaben yang tak bisa menggunakan sihir,
Raon yang masih muda, dan hanya Clopeh—tidak mungkin mereka bisa mengalahkan
dua saudara itu.
Tapi saat mereka menghalangi pelarian saudara itu, mereka
juga menarik para kuat dari istana iblis untuk menangkap mereka.
Sebelum matahari terbenam, jika mereka bisa menghentikan dua
saudara itu, maka satu variabel besar bisa dieliminasi.
Matahari hampir terbenam.
“Hmm.”
Eruhaben berbicara dengan wajah tak enak.
“Aku rasa… dia ingin melihat ibunya.”
“Hah? Ibu?”
Cale menurunkan pandangannya dengan bingung.
Cho, si bertubuh besar yang sedang merengek sambil memegang
celananya, tampak sangat tidak menyenangkan.
–Hmm, manusia. Hmm. Tidak!
Aneh sekali, Raon tidak menyuruhnya menghancurkan seperti biasanya.
“Kamu lihat ibumu tadi, ya?”
Saat Cale bertanya, Cho berhenti dan menatap Cale.
Sekarang dia bahkan sudah berbaring dan merengek seperti
anak kecil.
“Tunjukkan.”
Dia berkata dengan wajah serius.
Di dalam ekspresinya terkandung harapan yang sangat dalam
dan putus asa.
Cale menatap itu diam-diam dan menjawab:
“Enggak mau.”
“…..”
“Kalian kan Wanderer.”
“…..”
“Kalian itu Wanderer.”
Cho tak bisa berkata apa-apa.
Memang benar dia seorang Wanderer.
“Kalau aku tunjukkan sekali lagi, kamu akan mengkhianati
Klan Fived Colored Blood? Tentu tidak, kan?”
Apa yang dikatakan Cale adalah sesuatu yang tak bisa
diputuskan sembarangan.
Lebih jujurnya, mengkhianati klan hanya karena satu ilusi
adalah hal yang tak masuk akal.
“…..”
Cho tidak bisa berkata apa-apa.
Namun genggamannya pada celana Cale justru semakin kuat.
Sampai-sampai tangannya bergetar.
“…..”
Ryeon hanya menatap tangan adiknya itu.
Kemungkinan besar, adiknya juga melihat suara dan
pemandangan yang sama dengannya.
Momen kebahagiaan sesaat sebelum kehidupan penuh penderitaan
mereka dimulai.
“Cale Henituse.”
Ryeon tahu, betapapun kekanak-kanakan dan keras kepala
adiknya, pada akhirnya adiknya akan mengikuti kehendaknya.
Adiknya tidak akan bisa melawan dirinya sendiri.
Karena itu para tetua klan selalu memberikan perintah pada
Ryeon.
Ryeon menyadari semua itu dan membuka mulutnya:
“Untuk urusan kali ini, aku akan mengikuti kehendakmu. Jadi,
tolong tunjukkan sekali lagi.”
“!”
Cho menatap kakaknya, Ryeon, dengan kaget.
Cale menatapnya dengan ekspresi datar dan berkata:
“Memangnya keinginanku apa?”
“……Kehendakmu adalah untuk memurnikan Kontaminasi Kekacauan oleh
Sekte Dewa Kekacauan. Tanpa ada gangguan apa pun.”
Tatapan mata Ryeon perlahan berpindah dari adiknya lalu ke Cale.
“Aku tidak akan menghubungi Kaisar Tiga. Aku juga tidak akan
memberitahu siapa pun kalau kamu punya kekuatan Dewa Kekacauan.”
Dulu, mereka kehilangan segalanya saat masih kecil,
hidup dalam pelarian sampai dewasa, lalu mati.
Dan menjadi Wanderer.
Bahkan di Dunia Dewa pun, hanya mereka berdua yang saling
memegang tangan.
Untuk bertahan hidup, mereka harus menjadi kuat.
Berkat itu, hidup jadi lebih mudah dan nyaman,
tapi mereka tetap hanya berdua dan tak pernah merasa
bahagia.
Karena mereka kehilangan cara untuk bahagia sejak kecil.
Ryeon melangkah maju dan mengulurkan kedua tangan.
“…Kalau kamu tetap tidak percaya, kamu boleh mengikatku.”
Tatapannya beralih ke adiknya.
Ada satu kesalahan yang dibuat oleh Klan Fived Colored Blood.
Mereka pikir Cho selalu menurut padanya?
Kalau begitu, demi adiknya, dia bisa melakukan apapun.
Benar-benar apapun.
Nyawa, hidup, semuanya bisa dia korbankan.
Ryeon melihat dalam kabut abu-abu itu:
suara dan wajah ibu, ayah, dan adiknya yang tertawa dengan
polos dan bahagia.
Jika itu bisa kembali,
tak apa dia dibunuh.
Jadi—
“Tolong tunjukkan sekali saja lagi.”
Pada Cho.
Adik laki-lakinya.
Adik yang memeluknya saat dia mati lebih dulu.
Buatlah dia merasakan kebahagiaan sekali lagi.
Bagi Cho dan Ryeon,
kebahagiaan sesaat yang mereka lihat dalam pemurnian Cale
adalah satu-satunya kenangan bahagia sepanjang hidup mereka.
Cho dan Ryeon.
“……”
Cale menatap mereka diam-diam, lalu berkata:
“Choi Han, ikat mereka.”
Ia menunjuk dua Wanderer, Cho dan Ryeon.
“Ikat mereka rapat-rapat, jangan sampai bergerak. Dan Clopeh,
kamu awasi mereka.”
“Baik, Cale-nim.”
Choi Han bergerak, dan Clopeh tersenyum kecil.
“Cale-nim. Dengan kekuatanku, aku tidak bisa mengalahkan
mereka.”
Mendengar itu, Cale memutar kursi rodanya dan membalikkan
badan sambil berkata:
Dengan suara datar, dia berkata:
“Sampai besok pagi—tidak, selama kita berada di Dunia Iblis,
aku akan terus melakukan pemurnian. Kalau kalian ingin melihat itu, kalian
harus terus mengikutiku.”
Cho dan Ryeon menatap punggung Cale.
“Yang perlu kalian awasi cuma satu: pastikan mereka tidak
menghubungi siapa pun. Dan kalau mereka kabur, segera beri tahu aku.”
Cale menambahkan satu kalimat:
“Oh, dan untuk saat ini, satu-satunya orang yang bisa melakukan
ritual pemurnian dari Sekte Dewa Kekacauan itu hanya aku. Kalau kalian
meninggalkanku, kalian tidak akan bisa melihatnya lagi.”
“……!”
Mata Cho bergetar, dan Ryeon yang melihatnya hanya bisa
menghela napas.
“Cepat ikat aku. Aku akan memakai alat pengekang kemampuan
atau apa pun itu.”
Dia ingin memasang borgol pada dirinya sendiri.
Tentu saja, itu karena:
“Setelah urusan ini selesai, aku akan melarikan diri.”
Dia tahu bahwa jika dia sungguh-sungguh ingin, dia bisa
melepaskannya dengan mudah.
Saat Cale berjalan menjauh ke arah Komandan Moll, Ryeon yang
sedang memperhatikan itu, bertatapan dengan Clopeh yang sedang mengikatnya
sementara Choi Han mengikat Cho.
“!”
Dan dia terhenti sejenak.
Tatapan orang ini aneh.
“Bisakah kau bersumpah kepada Dewa Kematian tentang apa yang
baru saja kau katakan pada Cale-nim?”
Ada alasan kenapa Cale mempercayakan kedua orang ini kepada Clopeh.
Dia selalu menyelesaikan segalanya dengan bersih, dan bukan
orang yang mudah goyah oleh emosi atau kisah sedih.
Bahkan, dia bisa memanfaatkan emosi dan kisah orang lain
jika perlu.
“Tapi, ngomong-ngomong...”
Clopeh bertanya dengan nada lembut:
“Apa enaknya berada di sisi Kaisar Pertama?”
“-?”
“Sepertinya bahkan kenangan bahagia pun tak bisa dibuat, ya?”
“……!”
Orang yang lihai dalam pengkhianatan dan tipu muslihat itu
mulai berbicara dengan tenang.
Pemandangan ini berbeda dari saat dia dulu masih menjadi
ksatria pelindung dan berada di penjara, ketika Necromancer Mary membicarakan
tentang kebesaran Cale.
“Jangan bicara sembarangan.”
Walaupun Ryeon menunjukkan ekspresi tegas, Clopeh tetap
tersenyum.
Seorang wanita cerdas dan pintar—dia tentu tidak akan
terjebak dalam trik murahan seperti ini.
‘Tapi kalau aku terus bicara tanpa henti...’
Dan,
‘Nanti mereka akan tahu.
Mereka akan tahu.
Keagungan Cale-nim.’
Dari arti dari legenda yang sedang dia bangun.
‘Orang-orang yang berada di sisi Cale-nim memang sering
terluka dan mengalami kesulitan. Kadang merasa cemas, kadang tidak merasa
bahagia.’
Namun setidaknya, mereka tidak pernah menganggap diri mereka
malang.
Tidak seperti dua kakak-beradik yang ada di depan matanya
ini.
“Fufufu~.”
Clopeh merasakan itu lebih jelas daripada siapa pun.
“……”
“…….”
Saat Cho dan Ryeon menatap Clopeh dengan ekspresi tak
nyaman, Eruhaben bertanya pada mereka:
“Apakah Kaisar Tiga menyelundupkan kaki tangannya lagi ke
sini?”
Ryeon menggelengkan kepalanya.
“Sejauh yang aku tahu, hanya kami berdua. Dan Kaisar Tiga
hanya ingin tahu apa yang terjadi di pihak Raja Iblis.”
Dia berkata jujur tanpa menyembunyikan apa pun, dan bahkan
menyerahkan surat rahasia yang dibawanya.
Kalau sudah memutuskan untuk bekerja sama, lebih baik
dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Lagi pula, ada banyak orang licik dan cerdas di kelompok
ini.
“Hmm.”
Eruhaben mempercayai perkataan Ryeon.
Namun,
‘Untuk berjaga-jaga, lebih baik diperiksa lagi.’
Dia, bersama Choi Han, memutuskan untuk melanjutkan
pencarian.
Karena Cale belum memerintahkan untuk menghentikannya.
Cale juga masih belum benar-benar merasa aman.
****
“Hooh.”
Senyuman muncul di bibir Kaisar Tiga.
Seperti seorang pertapa, dia dengan anggun mengangkat
sedikit ujung lengan bajunya.
Ada sepuluh titik kecil berbentuk tetesan air.
Salah satunya bergetar halus.
“Hmm.”
Dia menutup matanya.
Seolah sedang menikmati rasa makanan.
“Ah.”
Seruan kecil terdengar.
Kota Mika.
Air laut yang dia tinggalkan di bawah tanah saat pergi dari
tempat itu.
Air laut yang menyerap cairan lain yang meresap ke dalam
tanah.
Air itu bertemu dengan cairan lain.
Cairan itu mirip air biasa, tetapi terasa sedikit berbeda.
Bentuknya aneh.
Tetesan air itu berwarna abu-abu.
“Ha, haha~”
Tawa keluar dari mulut Kaisar Tiga.
Orang-orang sering berkata bahwa dia lebih pintar dari
kelihatannya.
Kontaminasi Kekacauan yang ditemukan di peninggalan kuno.
Bencana ganas yang sampai dijuluki sebagai “Tiga Kejahatan”.
Sikap Raja Iblis yang mencurigakan dan pengusiran halus
Kaisar Tiga.
Dan terakhir, tetesan air berwarna abu-abu.
Kaisar Tiga tahu apa arti dari tetesan air abu-abu itu.
Setelah hidup sangat lama dan dekat dengan Sekte Dewa
Kekacauan, dia tahu kekuatan khusus dari Sekte itu.
Air laut yang menyerap cairan-cairan tersebut. Berdasarkan
fragmen-fragmen itu, dia menyimpulkan beberapa hal.
“Raja Iblis itu telah menguasai Sekte Dewa Kekacauan.”
“Apa?”
Jika Kontaminasi Kekacauan telah dimurnikan, itu berarti
Paus dari Sekte Kekacauan telah bergerak.
Sang Saint telah mati.
Dalam situasi itu, berarti Raja Iblis telah menguasai Paus
yang sebelumnya menghilang.
Tentu saja, kemungkinan mereka bekerja sama sangat kecil.
‘Sekte pernah berkhianat terhadap Dunia Iblis.
Tapi sekarang, Paus mereka menyucikan polusi?’
Apa artinya itu?
‘Raja Iblis telah menelan bulat-bulat Sekte itu.’
Dia tidak tahu caranya.
Tapi pastinya, dia telah mengikat Sekte itu dengan rantai
yang kuat dan menempatkan mereka di bawah kendalinya.
Karena itulah, upacara pemurnian bisa dilakukan lagi oleh Sekte.
“Dan dia menyembunyikannya dariku, dan dari keluargaku.”
Padahal sebelumnya mereka sepakat untuk tidak saling
mengkhianati.
“Ini menarik.”
Dunia Iblis—dia pikir Raja Iblis dan pengikutnya telah
melepaskan ambisi mereka dan mundur.
“Tapi ternyata mereka memperluas pengaruh mereka di balik
layar?”
‘Hmm.’
Kaisar Tiga tenggelam dalam pikirannya.
Apa yang harus dia lakukan dengan informasi ini?
Anak-anak bodoh seperti kakak-beradik itu tidak akan cukup.
Cho dan Ryeon si Wanderer.
Mereka yang hanya mengandalkan satu sama lain dan tak punya
tempat bersandar.
Mereka memang mudah dikendalikan.
Tapi sulit untuk mengandalkan mereka dalam urusan serius.
Tok. Tok.
Dia dengan santai mengetuk tetesan air di lengannya, lalu
kembali menurunkan lengan bajunya.
“Ayo pergi.”
Dia mulai berjalan kembali ke arah Kota Mika.
“Yang Mulia, kamu akan kembali lagi ke sana?”
“Ya.”
Dia menjawab pertanyaan bawahannya dan mulai bergerak menuju
Kota Mika dengan cepat.
Dan saat itu, dari kejauhan, seseorang yang sedang bersandar
pada pohon perlahan berdiri.
Tap. Tap.
Raja Iblis menepis daun yang menempel di bahunya, lalu
menatap ke langit.
Sinar senja mulai muncul dari ujung langit.
Langit akan segera memerah.
Swish.
Dengan gerakan ringan, tubuhnya menghilang ke dalam bayangan
pohon bersama suara kecil.
Namun, arah tubuhnya bergerak sama seperti arah yang diambil
Kaisar Tiga.
“!”
Kaisar Tiga menghentikan langkahnya.
“…..”
Para bawahannya juga terkejut dan ikut berhenti, mereka
hendak membuka mulut karena bingung, namun ekspresi wajah Kaisar Tiga membuat
mereka tak bisa berkata apa pun.
Saat keheningan menyelimuti—
“Keluarlah.”
Kaisar Tiga berkata begitu, dan...
“!!”
“!”
Para bawahannya melihat bayangan pohon di tepi jalan
bergerak dengan aneh.
Bayangan itu bergerak berlawanan arah dengan matahari.
Bayangan tersebut memanjang dan membesar—
Sesesese—
Seseorang muncul dari dalamnya.
Itu adalah Raja Iblis.
“!”
Bawahannya terlalu terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa.
“Ha!”
Kaisar Tiga tertawa tak percaya.
“Jadi kau mengikutiku.”
Fakta bahwa dia tidak menyadari itu membuat Kaisar Tiga
sendiri kesal.
Dan dia bisa merasakan betapa kuatnya Raja Iblis.
“Kau ingin menghalangiku?”
Raja Iblis berdiri di hadapannya tanpa berkata apa pun.
Wajah Kaisar Tiga mulai berkerut.
Sesesese—
Daun-daun beterbangan tertiup angin, namun tak ada satu pun
yang bergerak atau berbicara.
Ketegangan memuncak.
Namun Raja Iblis hanya berdiri dengan ekspresi bosan.
Berbeda dari wajah Kaisar Tiga yang mulai berkerut.
“…..”
Namun, di balik wajahnya, sorot mata Kaisar Tiga menunjukkan
kilatan yang tidak biasa.
Pat. Pat.
Kaisar Tiga mengetuk lengan bajunya, tepat di tempat dia
sebelumnya mengetuk tetesan air.
Kaisar Tiga, yang sering disebut lebih pintar dari
kelihatannya.
Tetesan air laut yang tertinggal jauh di dalam tanah di
bawah barak Kota Mika mulai bergerak mengikuti perintah tuannya.
Sesesese—
Bentuk tetesan itu berubah menjadi ular kecil tipis,
dan ular itu menuju satu arah—
Menuju situs peninggalan Dewa Iblis.
Menuju Suku Pohon Abu-Abu yang tinggal di dekat sana.
Menuju klinik yang berada di dalam Desa suku tersebut.
Kaisar Tiga, yang kini dibayang-bayangi oleh Raja Iblis,
tidak berniat menyerah begitu saja.
Dia adalah seseorang yang tahu betul cara menggunakan
kekuatan kecil untuk menimbulkan kekacauan, dan tahu cara memanfaatkannya
dengan efektif.
****
“Kami akan segera memulai pemurnian di Desa Pohon Abu-Abu.”
Setelah kekacauan di barak Kota Mika agak mereda, Cale
datang ke Desa Pohon Abu-Abu dan langsung menyampaikan rencana ke depan.
“Mulai saat itu, kami akan terus melakukan pemurnian tanpa
henti.”
Entah itu Kota Mika, Midi, atau situs peninggalan—
mereka akan menyucikan semuanya sebelum masalah muncul.
“Ini bukan pekerjaan yang terlalu sulit.”
Cale berkata begitu sambil duduk di kursi roda.
Bukan Ron, tetapi Clopeh yang menuangkan teh untuknya.
Cale mengangkat cangkir itu.
Segera, pemurnian kedua akan dilakukan di tempat ini.
Menjelang senja, sebelum malam tiba—upacara pemurnian
terakhir hari itu.
Dia menyesap teh lemon.
“!”
Dan berhenti sejenak.
[ Bukan ini, aku mau yang lain! ]
Dewi Rakus mengeluh.
Tapi ada yang aneh, ini bukan sekadar rengekan biasa.
[ Rasanya sesak banget, pengen yang segar!! ]
Nada suaranya terdengar putus asa.
[ Ini persis kayak waktu aku kehausan karena kebanyakan
makan tanah! ]
‘Hah?’
Jantung Cale terasa seperti jatuh.
‘Bukannya dia mati gara-gara makan tanah?’
Tanah yang tercemar oleh Mana Mati.
Dan sekarang dia bilang rasanya sama seperti waktu itu?
Bukankah itu berarti dia seperti… sebelum mati?
[ Yang segar! ]
[ Dengan begitu, aku pikir aku akan mencerna dengan benar
dan tumbuh!! ]
[ Rasanya seperti daun-daun akan tumbuh!! ]
Cale tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud si Rakus.
Namun kemudian—
[ Kekacauan! ]
Dia mengucapkan dengan jelas apa yang diinginkannya.
[ Air yang menyegarkan dan bersih, sekuat kekacauan! Tapi
bukan dari mana mati atau kekacauan—dari alam!! ]
‘Ah.’
Saat Cale menyadari sesuatu—
Super ROck berkata pelan:
[ Cale, sepertinya Rakus ingin mencerna kekacauan yang
ada di dalam dirinya, tapi butuh kekuatan lain yang setara sebagai penyeimbang.
Dan itu harus dari alam. ]
‘Hmm. Jadi itu artinya: air dari alam?’
Tiba-tiba, sangat tiba-tiba, seseorang terlintas di benak
Cale.
“...Uh, hmm. Sekarang, Kaisar Tiga ada di mana ya?”
Kekuatan Unik dia kan laut.
Memang agak asin, tapi itu kan kekuatan alam murni setara Dewa?
“Hah?”
Orang-orang tampak bingung mendengar perkataan mendadak dari
Cale.
Tok tok tok.
Seorang prajurit dari Suku Pohon Abu-Abu masuk.
Karena Kepala Pendeta masih belum sadar, dia yang
menggantikan tugas itu.
“Semua sudah siap.”
Ckiiiik—
Clopeh mendorong kursi rodanya.
Cale menuju klinik Suku Pohon Abu-Abu.
Di lapangan luas di depan klinik,
sudah ada orang-orang yang menanti pemurnian dari Cale,
menanti keajaiban abu-abu.
.
.

Komentar
Posting Komentar