Trash of the Count Family II 473 – Gray Rain Falls
Pendeta Timorang.
Ramalan yang ia tinggalkan sebelum kehilangan kesadaran:
“Malam ini, Kota akan diselimuti abu-abu, dan monster
abu-abu akan mencoba memakan para iblis!”
“Kota terbakar, dan jeritan para makhluk iblis menggema ke
seluruh penjuru dunia~!”
“Seorang pria berambut merah memanjat menara lonceng, namun
menara itu hancur oleh Naga Biru!”
“Hu... hujan abu-abu tidak turun, pagi telah tiba, dan Kota
diselimuti abu abu~”
Ramalan ini segera disampaikan kepada para pemimpin yang
tinggal di Midi dan Mika.
“…..”
Penasehat Raja Iblis, Ed, wajahnya seketika memucat ketika
membaca pesan dari bawahannya.
Ia merasa pusing sejenak.
Namun, ekspresinya dengan cepat kembali tenang.
Klik.
Saat ia kembali membuka pintu dan masuk, raut wajahnya
kembali seperti biasa.
“Ada apa?”
Salah satu dari Tiga Kaisar yaitu Raja Naga tersenyum masam
dan bertanya.
Penasehat menjawab seolah tak terjadi apa-apa.
“Pendeta yang menjaga situs peninggalan pingsan, begitu yang
kudengar.”
Itu memang kenyataan.
Tak bisa berbohong sembarangan.
“Hmm.”
Kaisar Tiga mendengus lalu memalingkan kepala dengan
ekspresi bosan.
“…..”
Melihat mata Raja Iblis yang menatapnya diam-diam, ia
mengeklik lidahnya.
“Tsk.”
Lalu ia pun berdiri dari tempat duduknya.
“Karena hubungan kerja sama kita, aku akan pergi dari sini.”
Negosiasi telah selesai. Tak ada yang perlu ditarik panjang.
“Dalam situasi di mana Gereja Dewa Kekacauan telah
mengkhianatimu, bukankah setidaknya kita berdua harus bekerja sama?”
Dengan senyum menyeringai, ia menambahkan:
“Jadi, tolong tetap bantu pencarian Wanderer yang disebut
Cale Henituse.”
“Tentu.”
Raja Iblis bersandar di kursi dan berkata tenang:
“Selama kerja sama tetap terjaga, kami tidak akan
mengkhianati lebih dulu.”
Perkataan pemimpin satu dunia memiliki bobot tersendiri.
Baru setelah itu, Kaisar Tiga menampilkan senyum puas dan
bangkit dari tempat duduknya tanpa penyesalan.
“Kalau begitu, aku akan melihat-lihat ke arah selatan yang
belum kujelajahi, lalu meninggalkan Dunia Iblis ini.”
Ia menambahkan:
“Tentu saja, aku tidak akan menyerang makhluk iblis.”
Kaisar Tiga berjalan keluar ruangan bersama para bawahannya.
Penasehat Ed memberi isyarat dengan matanya, dan pasukan
utama Raja Iblis mengikuti Kaisar Tiga dan rombongannya — untuk memastikan
mereka benar-benar pergi.
Klik.
Pintu tertutup.
Hanya Raja Iblis dan Penasehat yang tertinggal.
Raja Iblis berbicara:
“Transenden, ya...”
Itu adalah informasi yang diteruskan oleh Cale Henituse.
“Kaisar Pertama ingin menjadi seorang Transenden.”
Namun tentang hal ini, Raja Iblis tidak pernah mendengarnya
dari para Wanderer.
Artinya—
“Hubungan ini telah dimulai dengan kebohongan sejak awal.
Bagaimana mungkin bisa disebut kerja sama?”
Para Wanderer telah mengkhianatinya sejak awal,
dan Kuil Dewa Kekacauan pun mengkhianatinya.
Tak ada lagi yang bisa dipercaya.
“Ada apa?”
Saat Raja Iblis bertanya, Penasehat Ed buru-buru menyampaikan
ramalan sang pendeta.
“Ada dua hal.”
Setelah mendengar semua isi ramalan, Raja Iblis berbicara
dengan nada malas.
Nada itu penuh dengan kebosanan.
“Pertama, di Midi atau Mika, salah satu Kota, ada yang
terinfeksi yang bersembunyi atau disembunyikan.”
Mereka akan mengamuk di malam hari, dan Kota dipenuhi teror
dan kekacauan.
“Kedua. Kaisar Tiga belum benar-benar pergi.”
Ramalan tentang naga biru yang menyerang Cale berarti Kaisar
Tiga telah melanggar janjinya.
“Lalu, apa yang diinginkan Cale Henituse?”
Penasehat langsung menjawab:
“Ia meminta kerja sama mutlak sampai matahari terbit esok
pagi.”
“Perintahkan pasukan Raja Iblis dan para pengurus istana
yang tinggal di Midi dan Mika untuk mematuhi perintah Cale Henituse.”
“...Baik. Penasehat juga bantulah dia.”
“Aku mengerti.”
Creeeak.
Raja Iblis bangkit dari tempat duduknya.
“Ada lagi?”
Penasehat memejamkan matanya erat.
Ia merasa sulit menyampaikan bagian akhir isi catatan
tersebut.
Namun ia harus mengatakannya.
Kali ini, keputusan Cale Henituse pasti benar.
“Ia meminta Raja Iblis untuk mengawasi Kaisar Tiga.”
“Hahaha—"
Raja Iblis tertawa.
Cale memintanya untuk secara diam-diam mengawasi Kaisar
Tiga?
Yah, memang hanya dia satu-satunya yang bisa melakukan itu
saat ini.
Cale ingin agar pihak Raja Iblis mengendalikan kekuatan
Kaisar Tiga yang tak bisa dia tangani sendiri.
“Jadi, aku yang harus bertanggung jawab atas Kaisar Tiga,
ya.”
Dan jika Kaisar Tiga berulah, hanya Raja Iblis yang bisa
menghentikannya.
“Katakan padanya akan kulakukan.”
Raja Iblis setuju tanpa ragu.
“Dan pengawasan itu harus dilakukan diam-diam, kan?”
“Ya. Ia tak ingin menimbulkan kecurigaan.”
Akan sangat merepotkan jika Kaisar Tiga mencium gelagat
aneh.
Ia harus tetap tak peduli pada Kota ini, seolah tak tahu apa
pun.
Penasehat menggigit bibir melihat mata Raja Iblis yang meski
wajahnya malas, namun ada secercah ketertarikan di matanya.
Tapi Raja Iblis sudah menatap ke arah Kaisar Tiga yang
sedang berjalan keluar dari wilayah istana Mika.
Segera, sosok Raja Iblis pun menghilang.
Namun saat itu—
Ketika Raja Iblis mengejar Kaisar Tiga dan tak melihat
ekspresi wajahnya yang...
Tersenyum.
Senyuman muncul di bibir Kaisar Tiga.
“Menarik.”
K omandan Pasukan Utama Divisi Satu Raja Iblis, Shiz, bereaksi,
namun Kaisar Tiga dan bawahannya tidak peduli.
Kaisar Tiga hanya tertawa kecil dan meninggalkan Mika
bersama para pengikutnya — tanpa tahu bahwa Raja Iblis mengikutinya.
Namun ia berpikir:
'Sepertinya sesuatu akan terjadi di sini.'
Kaisar Tiga sebenarnya lebih jeli dan cepat tanggap dari
yang terlihat.
Ia percaya diri dengan penilaiannya sendiri.
Meskipun kadang membuat kesalahan, seperti gagal menangkap
Cale Henituse...
'Raja Iblis datang langsung ke Kota ini?'
Itu bukan semata karena Penyakit Abu-Abu akibat dari Sekte
Dewa Kekacauan.
Kesimpulannya jelas bagi sang Raja Naga.
Ia tersenyum makin lebar sambil mengelus janggut panjangnya.
Di belakangnya, para pengikutnya mengikuti.
Mereka adalah pengikut setia yang sudah bersama sejak di
situs peninggalan.
Namun ada dua orang yang tak hadir — mereka memang tak ikut
dari awal.
“Kakak.”
“Kenapa?”
“Kau nggak merasa Kaisar Tiga ini berfikit kita budaknya?”
“………”
Wanderer bersaudara, Cho dan Ryeon.
Karena diperintah oleh Kaisar Tiga untuk mencari Choi Jung
Gun, mereka awalnya pergi ke sisi timur Dunia Iblis dan baru sekarang tiba
dekat Midi.
“Ya kan? Dia sendiri asyik jalan-jalan ke situs peninggalan
bawa anak buah, sekarang malah nyuruh kita nyusup ke Midi buat amati situasi?”
“Pasti ada maksud tertentu.”
“Ugh.”
Cho mendesah frustrasi, tapi Ryeon merasa ini justru lebih
baik.
'Lebih baik jauh dari Kaisar Tiga.'
Lebih baik jalankan perintahnya dari tempat lain.
Ryeon pun menyelinap masuk ke Kota Midi bersama Cho.
Tak ada penjaga cukup kuat untuk mengenali mereka, jadi
mereka masuk dengan mudah.
Perintah mereka sederhana:
<Amati Midi dan Mika. Laporkan jika ada yang
mencurigakan.>
Itu adalah pesan rahasia yang dikirim Kaisar Tiga sebelum
negosiasi dengan Raja Iblis dimulai.
Dan Kaisar Tiga pun meninggalkan Mika.
Plop.
Beberapa tetes air jatuh dari ujung jarinya.
Tetesan air yang tak seorang pun sadari.
Tetesan air yang asin—
Air laut meresap ke tanah Mika.
Tetesan itu mengalir ke tempat paling ramai.
Menuju barak militer Mika, tempat berkumpulnya pasukan
wilayah dan tentara Raja Iblis.
Ssssss—
Saat itu juga, meski sang pendeta belum siuman...
Ssssss—
Empat menara kayu yang menjaga situs peninggalan tempat Dewa
bersemayam — daunnya mulai bergoyang.
Seolah merasakan sesuatu yang salah telah meresap ke tanah.
****
Dan Cale sedang menatap keluar dari jendela tertinggi istana
Midi, lalu bertanya pada orang yang masuk ke dalam ruangan:
“Apakah Raja Iblis mengejarnya?”
“Ya.”
Meski agak terganggu karena Cale menyebut Raja Iblis dengan
sangat santai, sang Penasehat tetap berbicara tenang.
Hari ini, ia harus mematuhi perintah Cale.
“Kaisar Tiga dan bawahannya sudah meninggalkan Mika menuju
selatan. Dengan kecepatan mereka, diperkirakan malam ini mereka sudah keluar
dari wilayah ini.”
“...Penasehat-nim.”
Cale bertanya pelan:
“Apakah hanya para pengikut yang bersama Kaisar Tiga?”
“Ya, seharusn—”
Jawaban yang tadinya lancar terhenti.
Ada keraguan di mata Penasehat.
Itu segera berubah menjadi kebingungan.
Cale bertanya lagi:
“Wanderer Cho dan Ryeon. Kamu tahu posisi mereka, bukan?”
Tak mungkin Penasehat istana Raja Iblis tidak tahu soal
keluarga kuat Fived Colored Blood.
Penasehat langsung menjawab cepat namun tetap tenang:
“Terakhir terdeteksi mereka bergerak ke timur. Hingga dua
hari lalu, posisi mereka masih terpantau.”
“Bagaimana dengan sekarang?”
“...Kami tidak tahu.”
Karena kekacauan akibat Penyakit Abu-Abu, mereka gagal
melacak keberadaan keduanya.
Sebagai Penasehat, ia tak bisa langsung menghubungkan mereka
dengan insiden ini.
Namun setelah mendengar ramalan itu—
“Tak boleh melewatkan satu pun variabel.”
Cale memerintahkan:
“Lacak keberadaan dua bersaudara itu. Dan siapkan diri jika
mereka telah masuk ke Kota ini.”
“Baik.”
Cale sudah mempertimbangkan kemungkinan mereka ada di sini.
Karena itu—
“Choi Han, Eruhaben-nim.”
“Ya, Cale-nim.”
“Baik, kami akan menanganinya.”
Cale mempercayakan pencarian kepada Choi Han dan Eruhaben,
yang telah memiliki pengalaman menghadapi saudara Wanderer.
“Sebelum malam tiba, tolong periksa semuanya secepat dan
seteliti mungkin.”
“Baik, Cale-nim.”
“Bagus.”
Kalau mereka yang bertindak, mereka pasti akan bisa
menemukan saudara Wanderer atau siapa pun yang menyusup.
“Perintahkan penjaga Kota dan pasukan pencari dari pasukan
Raja Iblis untuk mengikuti perintah kedua orang ini.”
“Ya.”
Cale memandangi luar jendela.
Langit biru yang masih cerah dengan cahaya matahari yang
bersinar. Di bawahnya, terlihat Mika di kejauhan, dengan Midi dan situs
peninggalan di antara keduanya.
Ia memerintahkan Penasehat:
“Jangan lakukan pencarian dengan cara mencolok.”
Mungkin saja saudara Wanderer ada di Kota ini.
“Namun, juga tidak perlu terlalu berhati-hati.”
Yang paling penting adalah menyelesaikan segalanya sebelum
malam tiba.
“Tinggalkan hanya personel minimum untuk memantau Kaisar
Tiga. Gunakan semua tentara dan staf untuk menyisir Kota. Libatkan warga jika
perlu.”
“…”
Wajah Penasehat terlihat tidak senang.
Cale berkata dengan nada dingin setelah melihat itu:
“Midi dan Mika, kudengar dahulu mendukung Raja Iblis
sebelumnya.”
“…”
Cale sebenarnya merasa ada yang aneh.
Seseorang yang akan menjadi Dewa Iblis, yaitu Raja Iblis.
Namun sang pendeta bahkan tidak menyapanya.
Itu benar-benar aneh.
Namun kini dia paham.
Alasan pendeta tidak menyambut kunjungan Raja Iblis ke situs
peninggalan, dan bahkan tidak menyapanya, ternyata ada alasannya.
Penguasa wilayah Midi dan Mika dahulu adalah pendukung Raja
Iblis sebelumnya.
Raja Iblis saat ini membunuh para penguasa itu, dan
membantai banyak makhluk iblis di kedua Kota tersebut.
Memang mereka adalah tentara, bukan warga biasa, tetapi luka
yang ditinggalkan sangat membekas.
Kedua Kota ini tidak menyambut Raja Iblis.
Bahkan, mereka tidak percaya padanya.
Cale mengetahui semua ini lewat informasi yang datang
terlambat dari Arbirator Aurora.
‘Sekarang aku tahu kenapa muncul ramalan seperti itu.’
Ia sempat mengira para pengurus dari kastil Raja Iblis telah
menanganinya dengan baik.
Ternyata tidak.
Ia belum pernah bertemu langsung dengan penguasa wilayah.
Kedua Kota ini kini hanya dikelola oleh pejabat yang dikirim
dari kastil Raja Iblis.
Ini adalah bukti mengapa wilayah Count Lupe menolak diatur
oleh pejabat dari kastil Raja Iblis.
Meskipun pihak kastil saat ini mengelola Kota dengan cukup
serius dan berupaya meningkatkan kesejahteraan,
“Tapi rasa penolakan masih kuat.”
Kedua Kota ini menyimpan kebencian tersembunyi terhadap Raja
Iblis saat ini.
Rakyatnya tidak sungguh-sungguh mematuhi para pejabatnya.
Semua ini adalah akibat dari tindakan Raja Iblis itu
sendiri.
Untuk menduduki posisi itu, ia menciptakan banyak musuh dan
menumpahkan banyak darah.
Bahkan setelah duduk di singgasana, ia terus melakukan dosa.
Namun—
“Penasehat-nim.”
Cale tetap harus melakukan tugasnya.
Hal lainnya, jujur saja, bukan urusannya.
Cale yang kini fokus hanya pada tugas di depan matanya
berkata tegas:
“Lakukan apa yang perlu dilakukan dengan benar.”
“Baik.”
Jawaban Penasehat juga tegas.
Terlepas dari berbagai situasi, tugas tetaplah tugas.
“Periksa setiap tempat secepat mungkin.”
“Baik.”
Mereka harus menemukan orang yang terinfeksi atau diduga
terinfeksi.
“Bisa jadi bukan hanya satu atau dua orang.”
Bayangan Kota dipenuhi oleh monster abu-abu saat malam?
Itu tidak mungkin hanya karena satu dua orang.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Belum jelas. Tapi yang pasti, sesuatu akan terjadi.
“Ron, Clopeh.”
“Ya, Tuan Muda.”
“…”
Ron yang selalu tersenyum lembut dan Clopeh Sekka yang
memandang dengan mata menyala-nyala—
Cale menghindari tatapan keduanya, merasa agak
terintimidasi.
“Kalian berdua urus pencarian.”
Belum ada Heavenly Demon, Choi Jung Soo, Sui Khan, atau Beacrox
yang datang.
Cale membagi tugas kepada para rekan yang sudah bersamanya.
Mereka segera bergerak cepat karena tahu betapa gentingnya
situasinya.
“…”
“…”
“…”
Kemudian Cale melihat tiga pasang mata menatapnya.
On, Hong, dan Raon.
Anak-anak dengan usia rata-rata 10 tahun sedang
memandangnya.
Cale berbicara tegas:
“Kalian ikut denganku.”
“Nyaaaawm!”
“Meeooowww!”
“Percayakan padaku, manusia!”
Anak-anak itu menjawab dengan semangat tinggi.
Cale melihat mereka dengan ekspresi campur aduk, lalu
menatap menara tertinggi di Midi.
Menara lonceng.
Kabarnya, ada menara serupa di Mika.
Keduanya disebut menara lonceng kembar.
Menurut ramalan, Cale akan memanjat salah satu dari menara
lonceng ini.
Tapi—
Di mana bom akan meledak?
Apakah Mika?
Atau Midi?
Cale tidak tahu jawabannya.
***
Midi dan Mika.
Di tengah-tengahnya berdiri situs peninggalan yang
berhubungan dengan Dewa Iblis.
Karena satu-satunya situs seperti ini, banyak makhluk iblis
datang untuk berziarah atau sekadar melihat.
Itulah mengapa industri penginapan berkembang pesat di kedua
Kota ini.
“Huff... Huff...”
Seorang tamu tetap.
Seorang kakek yang memutuskan tinggal seminggu di sini untuk
mengenang Dewa Iblis.
Kini, ia terbaring di atas ranjang dengan napas
tersengal-sengal, kehilangan kesadaran.
Ia datang sendiri untuk berwisata dan menyaksikan
pertarungan mengerikan di situs peninggalan, lalu kembali terburu-buru ke kamar
penginapannya.
Ia menyaksikan tubuh seorang anak kecil meledak.
Demi melupakan itu, ia bersembunyi di kamar dan menenangkan
pikirannya.
“Huff... Huff...”
Itulah sebabnya ia tidak bisa ditemui oleh para pengurus
yang mencari orang-orang di tempat kejadian.
Bahkan pemilik penginapan tidak tahu bahwa kakek itu pergi
ke sana.
Dan pagi ini—
Kakek itu melihat ujung kakinya mulai berubah menjadi
abu-abu, dan ia kehilangan kesadaran.
Yang terakhir menelannya adalah keputusasaan—keputusasaan
tanpa akhir.
“Huff... Huff...”
Tubuhnya perlahan membusuk menjadi abu-abu.
Tidak ada yang mencarinya—seorang pria tua yang kehilangan
keluarganya dan datang ke situs peninggalan untuk mencari penghiburan.
“Huff... Huff~”
Infeksi telah mulai menyebar pada tubuhnya.
Prosesnya berlangsung cepat.
Pagi tadi baru mulai dari ujung kaki—sekarang sudah mencapai
dadanya.
Sebelum matahari terbenam, seluruh tubuhnya mungkin sudah
abu-abu.
Ia tertidur di kamar paling ujung lantai atas dari
penginapan lima lantai itu.
Tak ada yang tahu akan bangun dalam kondisi seperti apa
nanti malam.
“A... A—”
Dan ada satu orang lagi.
Seorang pria menatap istri dan anaknya yang tertidur, lalu
keluar dari kamar.
Ruang tamu rumah itu gelap gulita, semua jendela tertutup
rapat agar tak ada cahaya masuk.
“...Sialan!”
Ia meremas rambutnya dengan kedua tangan.
Istri dan anaknya yang pergi ke situs peninggalan kini
terbaring dalam kondisi mengenaskan.
“Brengsek!”
Mereka kini menjerit setiap malam.
Ia telah mengikat mereka kuat-kuat untuk menghentikan
kejangnya.
Tapi tak tahu sampai kapan bisa bertahan.
‘Haruskah aku pergi ke istana penguasa wilayah?’
Haruskah ia pergi dan memberi tahu mereka bahwa istri dan
anaknya mungkin terinfeksi?
“Tidak.”
Itu mustahil.
Raja Iblis saat ini...
Bukankah ia membakar seluruh desanya hanya karena di sana
tinggal salah satu pengikut setia Raja Iblis terdahulu?
Kabarnya, orang yang terinfeksi diam-diam dibawa entah ke
mana.
“Tidak bisa!”
Kalau mereka dibawa—
“Tidak boleh!”
Apa yang akan terjadi pada istrinya? Anaknya?
Mereka sudah melarikan diri dari kampung halaman dan
membangun hidup baru di sini.
“Sayang, jangan percaya para penjaga dari kastil Raja
Iblis!”
Kata-kata terakhir istrinya sebelum pingsan juga terngiang
di benaknya.
Tak bisa percaya mereka.
“Huhuk!”
Pria itu terduduk di ruang tamu dan menangis.
Leher istrinya telah berubah abu-abu.
Leher anaknya yang berharga bahkan sudah sampai ke dagu.
‘Apa yang harus kulakukan?’
Ia meringkuk dalam kegelapan, terus memikirkan apa yang
harus ia lakukan.
Midi dan Mika.
Meski masih siang bolong, beberapa orang mulai membusuk
menjadi abu-abu dalam bayang-bayang.
“Huk, huk.”
Pria itu masih menangis.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu.
Terkejut, pria itu perlahan membuka pintu—dan melihat
seorang pendeta berdiri.
Seorang pria dengan jubah abu-abu longgar.
Rambut putih dan mata hijau.
Senyumnya lembut dan tenang saat ia berkata:
“Apakah ada seseorang yang butuh penyucian?”
Itu adalah Clopeh Sekka, yang sedang melakukan pencarian.
Dan di tempat lain—
“Penginapannya cukup besar, ya.”
Ron Molan, pemilik penginapan Love Hope And Adventure, juga
memulai pencariannya.
“Kamar mana yang sudah tertutup selama beberapa hari?”
Namun—
Waktu dan tenaga sangat terbatas.
“…”
“…”
“…”
Mereka yang terinfeksi dan kehilangan harapan, bersembunyi
dari tatapan orang lain dan tidak percaya pada kastil Raja Iblis, kini napas
mereka mulai berat—tanda bahwa kehancuran perlahan mendekat.
.
.

Komentar
Posting Komentar