Trash of the Count Family II 472 - Gray Rain Falls
“Wahai Penyelamat, aku adalah Timorang, Pendeta dari Klan
Pohon Abu-abu.”
“Hmm…”
Cale sebenarnya bukan tipe orang yang suka menghormati orang
tua.
“Merupakan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan kamu.”
Namun, di hadapannya berdiri seorang perempuan tua yang
tampak berusia setidaknya delapan puluh tahun lebih, dengan bekas darah kering
yang menempel di sudut bibirnya.
“Hmm. Sesepuh… tidak, Pendeta-nim.”
Tanpa sadar, Cale pun berbicara dengan sopan.
“Wahai Penyelamat, silakan panggil aku Timorang saja.”
‘Apa-apaan? Bagaimana mungkin aku memanggil nama seorang
sesepuh yang jelas-jelas sudah melampaui usia delapan puluh?’
Walaupun aku seenaknya memanggil nama seorang paman, Choi
Han, yang sebenarnya jauh lebih tua dariku, tapi itu lain perkara.
Ini beda.
Cale sebenarnya punya banyak hal untuk dikatakan, tapi ia
menahannya dan berbicara tenang.
“Um, aku… bukan Penyelamat, sebenarnya.”
Setidaknya, ia perlu meluruskan fakta terlebih dahulu.
“Fufu~.”
Namun, Pendeta itu justru tersenyum untuk pertama kalinya.
Kerut-kerut halus menghiasi ujung matanya.
Wajah yang sebelumnya tegang, kini memancarkan sedikit
kedamaian.
Dan ia bertanya pada Cale:
“Wahai Penyelamat, kamu ingin aku menunjukkan tempat di mana
klan kami yang menjadi korban Kekacauan berada, bukan?”
‘Hah. Aku bilang bukan Penyelamat! Nenek ini susah sekali
diajak bicara!’
Ketidaksabaran terselip di wajah Cale, namun ia akhirnya
hanya membuka mulut:
“Ya. Tolong tunjukkan jalannya.”
Bagaimanapun, yang terpenting sekarang adalah memeriksa para
iblis yang telah terinfeksi Penyakit Abu-Abu.
Ia perlu memahami kondisi mereka terlebih dahulu.
“Fufu~.”
Nenek itu kembali tersenyum samar, lalu mengangkat tongkat
kayu dan melangkah.
Swiishh.
Daun hijau yang masih segar bergoyang di tongkat itu, sempat
menarik perhatian Cale sejenak.
“Ada aroma pohon, ya.”
Ucap Cale tanpa berpikir panjang.
Pendeta Timorang yang berjalan di depan sempat terhenti
sebentar, lalu melanjutkan langkah sambil berkata:
“Yang menjaga bumi ini adalah pohon.”
Entah mengapa, kalimat itu terasa menghujam dalam benak
Cale.
‘Bukankah Klan Pohon Abu-abu disebut-sebut menjaga
reruntuhan milik Raja Iblis?
Tapi kenapa ia bilang menjaga bumi?’
Rasa heran sempat muncul, namun Cale memilih bungkam.
“Pendeta-nim.”
Tiba-tiba, Komandan Moll yang sejak tadi diam, angkat
bicara.
“Aku dengar, kamu melarang kami memeriksa anggota klan yang
terinfeksi Penyakit Abu-Abu. Mohon izinkan kami agar—”
Namun, ucapannya terputus.
“Diam!”
Tatapan Pendeta tua itu seketika berubah tajam dan
berbahaya.
Sekejap, Cale teringat bagaimana tatapan itu seakan tak
gentar bahkan di hadapan Kaisar Tiga Naga maupun Raja Iblis sendiri.
“!”
Komandan Moll terhenyak, buru-buru menutup mulutnya.
Ia memang Komandan Pasukan ketiga, namun Pendeta klan ini
tetap mendapat penghormatan tinggi dari para iblis.
Pendeta itu menatap tajam Komandan Moll dan berteriak
lantang:
“Berani-beraninya kau, yang membawa jejak Dewa lain di
tubuhmu, membuka mulut di tanah ini!”
“....!”
Wajah Moll seketika memucat.
Tanpa sadar, ia melirik cemas ke arah Cale.
Cale menatap balik, lalu dengan tenang berkata:
“Ah. Aku tahu kau punya sebuah Benda Suci. Meski aku tidak
tahu Dewa siapa.”
“!!”
Mata Moll membelalak, pupilnya bergetar hebat.
‘Bagaimana dia bisa tahu? Bahwa aku membawa Benda Suci
Dewa?’
Pendeta yang memperhatikan reaksi itu hanya mendengus
pendek.
“Hmph, sungguh konyol. Aku kira ‘Tangan di Belakang’ hanya
berarti menusuk punggung orang lain. Ternyata kau bahkan menusuk punggungmu
sendiri hingga tak bisa melihat ke depan.”
Lalu ia kembali berbalik pada Cale, kali ini dengan sikap
penuh hormat.
“Wahai Penyelamat, kami sudah lama menanti kedatangan kamu.”
Tongkatnya bergerak di udara.
Swiisshh—
Angin bertiup lembut.
Di dekat reruntuhan dan pintu masuk Desa, seluruh dedaunan
bergoyang serempak.
Swaaah—
Suara dedaunan yang saling bergesekan memenuhi udara.
Tadadak—
Dan setelah sejenak hening, terdengar langkah kaki mendekat.
“Segala sesuatu akan kami bantu. Jangan khawatir.”
Para iblis dari Klan Pohon Abu-abu membuka gerbang Desa,
memberi jalan bagi Cale untuk masuk.
“Pendeta-nim.”
“Ya, wahai Penyelamat.”
Sambil memandang mereka yang tampak menunggu kedatangannya,
Cale bertanya:
“Apakah kamu bisa melihat masa depan?”
Ia hanya melontarkan pertanyaan itu karena merasa firasatnya
kuat.
‘Bukan begitu? Dia Pendeta, tahu soal keberadaanku… dan
dari pengalaman sejauh ini, rasanya memang begitu.’
“Seperti yang aku duga, kamu sudah menyadarinya. Sungguh
luar biasa.”
Pendeta itu menatapnya dengan wajah kagum, seolah
benar-benar terpesona.
‘Terlalu berlebihan.’
Cale merasa reaksinya agak kelewat, tapi si Pendeta tetap menunjukkan
ekspresi itu.
“Aku tidak bisa melihat semua masa depan.”
Mendengar itu, Cale menjawab cepat,
“Sepertinya hanya sebagian masa depan saja, ya?”
“Benar. Aku sesekali melihatnya lewat mimpi. Dan aku melihat
kamu, wahai Penyelamat, menurunkan hujan abu-abu di reruntuhan ini dan di dua Kota.
Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku katakan.”
“Hujan abu-abu…”
Cale teringat, ketika menggunakan ‘Pemurnian Kekacauan’,
pada tahap akhir akan muncul tetesan abu-abu dari tubuh para korban yang terinfeksi.
‘Tapi… masa disebut hujan?’
Itu jelas bukan hujan.
Namun setelah berpikir sejenak, Cale menyimpulkan:
‘Mungkin karena itu mimpi ramalan. Jadi digambarkan
secara simbolis.’
Bagaimanapun, yang jelas ia memang akan melakukan pemurnian,
dan tetesan abu-abu itu akan muncul.
Artinya, ramalan sang Pendeta cukup akurat.
“Baiklah. Kalau begitu, mari kita segera temui para korban.”
Cale tak ingin membuang waktu.
“Ya, wahai Penyelamat.”
Pendeta Timorang memberi isyarat kepada seorang anggota
klan, yang kemudian memandu Cale dan Komandan Moll.
“Ah, sebentar lagi rekan-rekan aku juga akan datang ke
sini.”
“Ya, aku mengerti.”
Pendeta memberi isyarat lain pada anggota klannya, lalu
mengikuti di belakang Cale.
‘Ini akan menjadi ramalan terakhirku.’
Pendeta teringat kembali mimpi terakhirnya, seraya
membayangkan punggung Cale yang kini sebagian tertutup oleh tubuh Komandan
Moll.
‘Belum pernah aku melihat mimpi yang begitu jelas.’
Pendeta Klan Pohon Abu-abu secara turun-temurun selalu
memiliki sebuah kekuatan khusus.
Kekuatan itu adalah kemampuan melihat masa depan.
Dan kebanyakan masa depan yang diperlihatkan selalu terkait
dengan bencana besar yang menimpa klan maupun reruntuhan yang mereka jaga.
Bencana—tentu berarti malapetaka dan kehancuran.
‘Abu-abu…’
Namun mimpi kali ini tidak menunjukkan Kaisar Tiga.
Andai saja ia tahu mereka akan datang, ia pasti sudah
menyiapkan pertahanan agar tidak terjadi masalah pada klan.
Tidak hanya itu, bahkan peristiwa benih yang seharusnya
ditanamkan kepada calon Pendeta Agung berikutnya, juga tipu daya yang
direncanakan oleh Sekte Dewa Kekacauan—semuanya tak muncul dalam mimpinya.
Padahal, jika tahu sebelumnya, ia pasti bisa mencegahnya.
‘Namun yang kutemukan hanyalah Penyelamat… dan hujan
abu-abu.’
Mimpi itu tidak jelas.
Penuh dengan lambang dan kiasan.
Meski begitu, mimpi ini adalah yang paling jelas sepanjang
hidupnya.
‘Langit yang kelam dan suram. Hujan abu-abu turun di atas
reruntuhan, serta kota Midi dan Mika.’
Dan di puncak menara lonceng tertinggi, berdiri seorang pria
berambut merah yang menjadi pusat semua itu.
Para iblis berseru memanggilnya Penyelamat.
Penyelamat yang menyelematkan reruntuhan dan dua kota itu.
Hanya setelah itu, Pendeta Timorang akhirnya bisa merasa
sedikit lega, dan melangkah lagi dengan tubuh renta yang lelah.
Membentangkan segel penyegelan selama dua hari penuh di
hadapan Kaisar Naga bukanlah hal yang mudah.
Di jantung Desa Klan Pohon Abu-abu, berdirilah sebuah tempat
perawatan.
Bangunan dua lantai itu kini penuh sesak dengan para korban
yang terinfeksi.
“Ini, daftar para pasien.”
Karena masih siang, para korban hanya terbaring tak sadar,
tubuh mereka perlahan diliputi warna abu-abu.
Di sebuah ruang periksa yang kosong—satu-satunya ruangan
tanpa pasien—seorang tabib dari klan serta seorang pejabat yang dikirim dari
Istana Raja Iblis menyerahkan dokumen itu kepada Cale dengan wajah penuh cemas.
Sraak.
Cale membalik lembaran-lembaran itu, meneliti daftar pasien.
Suasana ruangan sangat tenang.
Di belakangnya, Moll berdiri sambil melirik dokumen.
Sementara itu, sang Pendeta, dijaga oleh seorang prajurit
klan, sudah tertidur lelap di kursi sudut ruangan.
Tidak ada yang menegurnya.
Siapa yang bisa menyalahkan wanita tua yang sudah seharusnya
pensiun dari tugas Pendeta, namun tetap bertahan karena calon penerusnya tewas
bahkan sebelum benihnya bersemi?
Dialah yang seorang diri menghadapi Kaisar Tiga dan para
pengikutnya demi melindungi klannya.
Tidurnya kini, tak seorang pun berani mencela.
Sraaakk.
Suara halaman yang terus dibalik membuat pejabat itu akhirnya
membuka mulut.
“Semua korban dari Kota Midi dan Kota Mika yang sempat
mengalami kejang sudah kami pindahkan ke tempat perawatan ini.”
Dua ratus lebih pasien memenuhi setiap ruangan di lantai
dua.
“Hmm.”
Cale hanya bergumam pendek.
“Sedangkan mereka yang dicurigai terinfeksi saat ini
dikarantina di fasilitas terpisah di kedua kota tersebut.”
Syukurlah, setidaknya.
Meski telat bergerak setelah ulah Kaisar Tiga, pihak Istana
Raja Iblis bergerak cepat untuk penanganan susulan.
“Kalau begitu, pemurnian bisa kita lakukan besok pagi.”
Sekarang masih sore.
Tak ada pasien gawat darurat.
Besok pagi, setelah mereka tenang, pemurnian bisa dilakukan.
Cale menutup dokumen, menyimpulkan, lalu menambahkan:
“Tentu saja, dengan syarat Kaisar Tiga benar-benar mundur
hari ini.”
“....Ya.”
Pejabat itu menjawab tegang, sementara Moll mengangguk.
Dengan Raja Iblis yang sudah turun tangan, mundurnya Kaisar
Tiga hanya soal waktu.
[ Sebentar lagi, lengan terakhir juga akan dipulihkan. ]
Bisikan Super Rock bergema, namun Cale hanya diam.
Meski rasa tidak nyaman di perutnya sudah agak reda, pusing
yang kadang datang membuatnya kesal karena harus terus ditopang.
“Hanya perlu bertahan malam ini.”
Ucap Cale sambil menyerahkan dokumen kembali pada tabib
klan.
Wajah orang-orang di ruangan itu perlahan merekah,
terselimuti cahaya harapan.
“....”
Moll hanya menatap diam-diam.
“!”
Namun tiba-tiba, ia terkejut dan menoleh ke belakang.
Bukan hanya dia.
“Apa itu?”
Cale juga mendadak menoleh ke samping, merasakan gelombang
energi aneh.
“Huhk!”
Pendeta yang terbungkus kabut abu-abu mendadak membuka
matanya lebar-lebar.
Prajurit dan tabib di sampingnya buru-buru berlutut.
“Ramalan…!”
Ucap tabib terbata.
Cale langsung menyadari apa yang sedang terjadi.
‘Ramalan?’
Wajahnya menegang.
‘Kenapa ramalan muncul justru sekarang?!’
Segalanya berjalan sesuai rencana.
Tinggal pemurnian besok.
Namun tiba-tiba ramalan baru saja muncul.
Cale merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya.
Pertanda buruk.
“Ma—malam…!”
Tubuh Pendeta Timorang basah kuyup oleh keringat.
Gemetar, ia memaksa mulutnya bergerak.
Kabut abu-abu perlahan memudar.
Ia tahu harus segera mengucapkan apa yang dilihatnya sebelum
kabut itu lenyap.
Hujan abu-abu.
Namun lebih dari itu, mimpi kali ini jauh lebih jelas.
Dan ia akhirnya menyadari…
Bahwa hujan abu-abu hanyalah pertanda akan malapetaka hari
ini.
“Malam ini…! Kota akan diselimuti abu-abu…! Dan monster
abu-abu akan memangsa para iblis!”
Cale menghela napas berat.
“Kota akan terbakar…! Jeritan para iblis akan memenuhi
langit—!”
Tatapan sang Pendeta beralih pada Cale.
“Pria berambut merah memanjat menara lonceng…! Namun menara
itu hancur oleh Naga Biru…!”
Tubuhnya semakin gemetar.
“Hujan abu-abu tak turun… fajar menyingsing… dan kota
tertutup abu-abu… abu-abu… abu…”
Akhirnya, ia pingsan.
Setetes darah mengalir di sudut bibirnya.
“Tak pernah sekalipun ada ramalan yang mengungkap begitu
banyak hal…”
Ucap tabib dengan suara bergetar, sambil mendekati sang
Pendeta yang pingsan di pelukan prajurit.
Ia tahu, harus menyampaikan ini pada Cale—bahwa ramalan ini
tak boleh diabaikan.
Pendeta itu mengorbankan dirinya demi menyampaikan
kebenaran.
“....”
Cale memandang sekilas Pendeta yang tak sadarkan diri, lalu
menoleh dingin ke arah pejabat.
“!”
Tatapan itu membuat tubuh si pejabat mengecil, dan Cale
berbicara dengan suara rendah:
“Data ini… akurat?”
Ia mengangkat dokumen tadi.
“Korban dan yang dicurigai terinfeksi, di Midi dan Mika…
semuanya sudah benar-benar terjaga, kan?”
‘Sial.’
Cale menahan sumpah serapah yang hampir lolos dari bibirnya.
Ia tahu.
Ramalan itu benar.
Terlalu tepat untuk diabaikan.
‘Malam ini.’
Dan pasti di salah satu Kota: Midi atau Mika.
Para korban akan mengamuk.
Dan saat itulah Kaisar Naga akan muncul.
“F, Fuck them…”
Cale akhirnya melontarkan umpatan.
“....Ini… ini gawat!”
Wajah Moll pucat pasi.
Namun Cale hanya menatapnya dingin.
“Kenapa bengong?”
“H-hah?”
“Sekarang bukan waktunya melamun.”
Cale memilih bergerak, bukan takut.
Jika malam ini, masih ada waktu.
Ramalan sudah diberitahu—artinya mereka bisa bersiap.
‘Ya.’
Masih mungkin dilakukan.
Dibanding cobaan sebelumnya, ini pun bisa diatasi.
“Pe… Pendeta-nim!”
Saat itu, Pendeta yang disangka sudah pingsan, kembali
membuka mata dengan susah payah.
Tatapan mereka bertemu, dan ia berbisik lirih,
“Kamu… harus bertahan… dan… tetap hidup…!”
‘Apa…?’
Wajah Cale menegang.
[ …Hm. Ini sih pertanda
buruk. ]
Bisikan Super Rock terdengar, menyetujui firasat yang sama.
Sementara itu, Sang Rakus mengeluh lirih:
[ Tubuhku gatal… ]
Rasanya seperti sesuatu ingin tumbuh keluar.
Sakit, sesak, dan anehnya lapar.
Seolah ada yang kurang.
Ia ingin sesuatu yang segar, yang bisa meredakan rasa sesak ini.
Namun tak tahu apa itu.
Lalu terdengar lagi bisikan lirih:
[ Lapar… ]
Namun Cale tak mendengarnya.
Karena pikirannya hanya terfokus pada satu hal:
“Keparat… Kita harus segera kembali ke Kota Midi!”
Rasa was-was memenuhi dadanya.
Mereka masih punya waktu.
Namun detik-detik itu amat berharga.
.
.

Komentar
Posting Komentar