Trash of the Count Family II 470 – Gray Rain Falls
Benih yang kembali bertunas.
Dan kali ini, itu terjadi di dua kota yang saling berdekatan.
Waktunya sangat mendesak.
“Ini benar-benar menajubkan!”
Di tengah situasi itu, tetap saja, Cale harus melakukan apa
yang harus dilakukan.
“Aku juga merasa mereka menakjubkan!”
Saat Hong mengiyakan dengan antusias, Raon pun semakin yakin
dan berkata dengan lantang:
“Mereka semua terluka, tapi saling memandang dengan tatapan
menyedihkan!”
“!?”
“……!”
“!!”
Cale.
Choi Jung Soo.
Sui Khan.
Ketiganya bereaksi kaget pada ucapan Raon.
Namun, di antara mereka, hanya satu orang yang tetap
tenang—dan Raon menyadarinya.
“Tentu saja, hanya Clopeh Sekka yang berbeda!”
Namun Raon tidak menjelaskan apa yang berbeda.
Dia hanya perlahan menjauh dari Clopeh, yang sedang menatap
Cale dengan mata berbinar sambil memeluk erat alat penyimpan video di
tangannya.
“………”
“………”
“………”
Cale, Choi Jung Soo, dan Sui Khan—mereka semua terdiam untuk
sesaat.
Klik.
Saat itu juga, pintu terbuka dan Ron masuk sambil mendorong
nampan berisi teko dan cangkir teh.
Chhrrr—
Ron menuangkan teh lemon ke dalam cangkir yang ada di depan
Cale.
Cale yang secara refleks melihat Ron pun terdiam.
Tatapan si kakek yang biasanya tajam itu terasa sedikit
berbeda kali ini.
Dan ketika dia menyadarinya...
“Tuan muda.”
Ron tersenyum ramah dan berkata,
“Aku tahu Tuan Muda sangat sedih karena melihat
sahabat-sahabat lamanya terluka. Tapi waktu kita tidak banyak, jadi sebaiknya
kita segera mengakhiri pertemuan ini dan berangkat ke kota berikutnya, bukan?”
“!?”
Bahu Cale bergetar hebat.
Pupil matanya sedikit bergetar.
“……”
Cale tidak mengatakan apa pun, dan Ron hanya tersenyum tipis
sebelum meninggalkan ruangan.
“Cale.”
Dengan ekspresi aneh, Sui Khan membuka suara.
“Kau belum memberitahu mereka, ya?”
Cale tetap diam.
Choi Jung Soo, yang melihat itu, menimpali sambil
mengerucutkan mulutnya.
“Sepertinya ketahuan, ya?”
“……”
Dengan wajah penuh luka kecil, Choi Jung Soo menyeringai
seakan sedang menggodanya.
“...Sahabat lama Tuan Muda kita.”
Kata-kata itu membuat Cale refleks melirik Clopeh.
“Fufufu~.”
Orang itu pun ikut tersenyum.
Sama seperti Ron.
Dia juga tersenyum seperti Ron.
“……”
Cale tiba-tiba merasa sangat kesal.
“…Sialan.”
Dia hanya merasa kesal.
‘Aku ingin menyelesaikan semuanya dulu, lalu bicara dengan
tenang...’
Tapi manusia-manusia di sekitarnya terlalu peka.
Bahkan tanpa dijelaskan pun, semuanya bisa ketahuan.
‘Apa ini benar-benar tidak apa-apa?’
Meski begitu, Cale menyadari bahwa kali ini, dia sebaiknya
mengikuti saran si kakek yang menyeramkan itu.
“Choi Jung Soo dan Ketua Tim, kalian tetap di sini dan
pulihkan kondisi kalian.”
“Aku baik-baik saja, kok?”
Meski luka-luka kecil di tubuhnya masih terlihat jelas, Choi
Jung Soo tetap tersenyum santai.
Namun ucapannya itu langsung diabaikan oleh Cale tanpa ragu.
“Cale-nim, kalau aku?”
Saat Clopeh bertanya, Cale menjawab tanpa pikir panjang.
“Kau ikut.”
“Baik.”
Tubuh Clopeh memang sempat terluka saat melawan Sekte Dewa
Kekacauan, tapi dia sudah cukup banyak pulih.
Meskipun belum sepenuhnya sembuh...
“Fufu~. Aku pasti berguna, kan?”
Benar.
Selama waktu yang mereka habiskan bersama, Cale menyadari
bahwa orang ini sangat berguna dalam banyak hal.
Cale melirik luka di lengan Clopeh yang belum sembuh dan
mendecakkan lidahnya pelan.
Tapi dia tidak memintanya untuk beristirahat.
Melihat itu, Choi Jung Soo tersenyum dan berkata,
“Padahal kondisi tubuhku dan Clopeh hampir sama. Tapi kenapa
aku nggak boleh ikut?”
Lalu ia berhenti tersenyum dan berkata serius,
“Karena aku ini Wanderer, ya?”
“……”
Cale tidak menjawab.
“Jangan-jangan... karena mereka, kelompok Kaisar Tiga, juga
Wanderer, jadi kau takut mereka akan mengenaliku?”
Choi Jung Soo berkata dengan wajah tegang. Namun...
“Pffft.”
Cale tertawa pelan.
Tawa itu membuat Choi Jung Soo terdiam.
Sebaliknya, Sui Khan yang berbicara.
“Jung Soo.”
Nada suaranya terdengar santai, tapi ada ketegasan yang mampu
menarik perhatian semua orang.
“Kau harus lihat cermin.”
Ekspresi bingung muncul di wajah Choi Jung Soo.
Sui Khan menjawab dengan santai:
“Matamu masih rusak.”
“……!”
Choi Jung Soo mengalami banyak serangan mental dari Hitellis,
tokoh utama dari Sekte Dewa Kekacauan, melalui Benda Suci.
Dia harus terus-menerus mengingat dan merasakan saat-saat
penuh penderitaan, termasuk momen kematian, berkali-kali.
Itu meninggalkan luka yang lebih dalam dari luka fisik.
“Santai saja, Cale. Aku akan jaga Jung Soo dan bawa dia nanti.”
“Ya, Ketua Tim.”
Melihat percakapan santai antara Sui Khan dan Cale, Choi Jung
Soo menutupi wajahnya dengan satu tangan.
Faktanya, setiap kali ia tertidur, dia masih sering mengalami
mimpi buruk tentang semua momen kematian yang dialaminya karena Hitellis.
‘Kupikir aku berhasil menyembunyikannya.’
Bahkan Choi Han dan Choi Jung Gun pun belum menyadarinya.
Tapi kenapa Ketua Tim dan Kim Rok Soo malah bisa tahu?
“Hehe.”
Choi Jung Soo akhirnya tertawa pelan.
Aneh, tapi tawa itu membuat ketegangan di pundaknya perlahan
menghilang.
Dia bersandar di kursinya.
Dia pun menyadari alasan kenapa Cale Henituse yang sibuk ini
sengaja mengumpulkan mereka.
Bukan untuk Sui Khan yang akan segera menerima perawatan.
“Haaah…”
Choi Jung Soo menghela napas dan berkata dengan tenang,
“Sepertinya memang nggak bisa disembunyikan, ya.”
Dengan senyum ringan, dia menurunkan tangannya yang tadi
menutupi wajah, dan menatap dua orang yang ia anggap sebagai rekan dan
keluarga.
“!”
Dan dia terkejut.
Cale dan Sui Khan...
Dua orang itu bahkan tidak menatapnya.
Mereka benar-benar tidak sedang memperhatikannya.
“Ketua Tim.”
Keduanya justru sedang terlibat percakapan mereka sendiri.
“Ya.”
“Sepertinya dia kena mental lagi.”
Cale menatap Ketua Tim Sui Khan dengan tatapan yang agak
angkuh.
“Ck.”
Sui Khan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya dan tidak
membantah.
“Cale.”
“Ya.”
“Tinggalkan Beacrox di sini.”
Senyum samar muncul di wajah Cale.
Ketua Tim Sui Khan.
Tidak, Lee Soo Hyuk—
Orang ini adalah ‘sosok kuat’ pertama yang pernah Cale temui
dalam hidupnya.
Bukan karena ia kuat secara fisik semata.
Dalam banyak hal, ia memang kuat.
“Cale.”
“Ya, Ketua Tim.”
Sudah lama sekali Cale tidak memanggilnya begitu, seperti saat
ia masih menjadi karyawan biasa, Kim Rok Soo.
“Mengenai ‘Kekuatan Unik’ itu...”
Tatapan Clopeh Sekka yang sedari tadi mendengarkan dengan
tenang mulai berubah, terasa ada aura aneh di dalamnya.
“Itu, bukankah mirip dengan kekuatan kita?”
Para pemilik kekuatan di Bumi-nya Kim Rok Soo.
Kekuatan yang mereka miliki.
Kim Rok Soo sendiri memiliki kekuatan atas Record dan Instant.
“Entahlah.”
Namun Cale tidak membenarkan perkataannya.
“Yah, kalau dipikir-pikir, sihir dan aura juga tidak jauh
berbeda dari kekuatan semacam itu.”
Kekuatan yang hanya segelintir orang bisa miliki.
Sihir, aura, kemampuan khusus, kekuatan kuno.
“Hmm.”
Sui Khan menatap langit-langit, lalu menggumamkan sesuatu.
“Aku merasa ‘Kekuatan Unik’ itu adalah kekuatan yang berada di
atas semua itu.”
Ia menyampaikan pikirannya dengan datar.
“Kekuatan yang bisa dibilang melebihi batas manusia...”
Ketua Tim Sui Khan menyadari sesuatu selama waktu mereka di Dunia
Iblis bersama Cale.
“Aku harus menjadi lebih kuat.”
Ia bukan Heavenly Demon, bukan pula Choi Han.
Namun ia memiliki kekuatannya sendiri.
Dan kini ia menemukan petunjuk untuk membuatnya lebih kuat.
Saat ia tertinggal di belakang karena cedera dan belum bisa
langsung bergabung di Telia, ia merenung.
Dan ia membuat keputusan.
“Ksatria Suci Agung itu... boleh aku urus semaunya?”
Senyum di bibir Cale makin melebar.
‘Ketua Tim sudah benar-benar memantapkan hati.’
Ia memiliki kemampuan untuk memotong segalanya.
Ksatria Suci Agung yang telah melukai Sui Khan itu, meski Cale
belum melihat wajahnya secara langsung atau menyaksikan kekuatannya secara
jelas, ia tahu satu hal—orang itu memiliki kekuatan untuk membuat luka tidak
bisa sembuh.
Entah itu kekuatan dari Dewa Kekacauan atau bukan,
‘Mereka cocok.’
Kekuatan Sui Khan dan kekuatan itu sangat serasi.
Jika Sui Khan bisa mendapatkan kekuatan itu, tidak ada yang
tahu seberapa jauh ia akan tumbuh.
“Beacrox, aku titipkan padamu.”
“Ya.”
Selain itu, Sui Khan ingin menjaga Beacrox tetap di sisinya.
Ketua Tim tampak ingin mewariskan, atau lebih tepatnya
membangkitkan, kekuatannya kepada Beacrox.
Mungkin ia melihat ‘benih’ penerus pedangnya dalam diri Beacrox.
‘Benar.’
Cale mengakui kenyataan.
‘Semua harus menjadi lebih kuat.’
Saat ini, semua orang memang harus tumbuh lebih kuat.
Itulah sebabnya pemikiran Sui Khan ini terasa begitu
menyenangkan baginya.
Cale tidak berkata panjang lebar.
“Jaga dia.”
“Ya.”
Choi Jung Soo melihat mereka dengan wajah yang santai.
Sementara itu, Clopeh menatap Cale dan Sui Khan dengan mata
yang tajam.
‘Kalau begini, aku bisa tertinggal.
Cale-nim tidak akan meninggalkan rekan-rekannya.’
Namun jika seseorang tidak cukup kuat untuk mengikuti, maka ia
tidak bisa tetap berada di sisi terdekatnya.
Clopeh tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Tatapan Clopeh, yang hanya melihat satu tujuan saat sudah
menetapkannya, kini membara seperti api.
“……”
“……….”
Sui Khan dan Cale menatap Clopeh dengan ekspresi sedikit
kesal.
Namun mereka tidak menyadari satu hal.
Di bawah meja, tangan Choi Jung Soo menggenggam erat hingga
mengepal.
Ia juga tidak berniat untuk tertinggal.
“Hmm.”
Raon, yang menyaksikan semua itu, tampak berpikir sejenak.
“Manusia.”
Ia memanggil Cale dengan hati-hati.
Dan Cale menjawab secara otomatis, seolah itu sudah biasa.
Karena ia tahu, anak kecil naga hitam ini sedang memikirkan
sesuatu.
“Anak umur tujuh tahun hanya perlu makan, tidur, dan bermain
dengan baik.”
“Begitu ya?”
“Iya.”
“Hihi!”
Raon tertawa ceria, dan Cale memberi isyarat pada Clopeh.
“Ayo.”
Klik.
Pintu terbuka.
Komandan Moll yang menunggu di koridor mendekat dengan wajah
cemas.
“Arahkan kami.”
Cale menuju ke dua kota yang berdampingan seperti kembar, Midi
dan Mika.
Secara sangat diam-diam.
***
“Si brengsek Kaisar Tiga itu gila!”
Dalam perjalanan ke kota Midi, salah satu dari dua kota Midi
dan Mika, Cale bertanya pada Komandan Moll bagaimana semua ini bisa terjadi.
Nada suara Moll meninggi.
“Kau mungkin sudah tahu, tapi Midi dan Mika adalah kota-kota
bersejarah. Mereka sudah ada sejak zaman kuno.”
“Aku tahu. Katanya ada situs peninggalan Sekte Dewa Iblis di
sana, ya?”
“Benar. Ada situs itu di antara Midi dan Mika.”
Midi dan Mika adalah kota kuno yang telah eksis sejak lama.
Meski tidak terlalu besar jika dilihat secara individu,
keduanya memiliki populasi cukup besar dan berada di peringkat menengah dalam
bidang perdagangan, budaya, dan lainnya.
Karena tumbuh bersama dan memiliki pertukaran aktif, mereka
sering disebut kota bersaudara.
“Aku tidak tahu kenapa si Kaisar Tiga gila itu ingin masuk ke
situs itu.”
Moll menghela napas panjang saat mengatakan itu, dan Cale
menanggapinya.
“Tapi aku mengerti kenapa Sekte Dewa Kekacauan menanam benih
mereka di sana.”
“Ya. Karena tempat itu menyimpan jejak Dewa Iblis.”
Baik Komandan Moll maupun penasehat Ed,
saat Cale memberi mereka peta lokasi benih,
begitu mereka melihat Midi dan Mika, mereka langsung mengerti
dan mengirim pasukan iblis ke sana.
Namun, kelompok Kaisar Tiga sudah lebih dulu tiba di sana.
Mereka mengobrak-abrik tempat itu dengan dalih mencari Cale
dan Sekte Dewa Kekacauan.
“Ada satu klan yang menjaga situs peninggalan itu. Mereka
adalah penjaga dan pengelola segala urusan di sana.”
“Hmm.”
Cale bergumam pelan saat mendengar bahwa ada klan penjaga
situs peninggalan Dewa Iblis.
‘Gambarnya mulai jelas.’
Entah kenapa, ia merasa klise familiar mulai muncul.
Moll melanjutkan.
“Kaisar Tiga mencoba memasuki situs itu, dan klan penjaga
mencoba menghentikannya. Tapi katanya, salah satu anak dari klan itu adalah ‘benih’.”
“…Astaga.”
Cale menghela napas pelan.
“Dan klan itu punya tradisi, di mana satu orang akan menjadi Imam
Agung secara turun-temurun.”
Cale bertanya santai,
“Apakah anak itu adalah calon Imam Agung berikutnya?”
“!”
Moll menatap Cale dengan terkejut.
“Bagaimana kau tahu itu…?”
“Hm.”
Cale tidak menjawab.
Ia hanya memandang jauh ke arah pegunungan yang jauh.
Tebakannya benar.
Namun...
‘Sialan.’
Perasaannya terasa begitu menjijikkan.
Kenapa harus anak-anak?
Tidak, kenapa si Kaisar Tiga brengsek itu harus
mengobrak-abrik situs peninggalan orang lain?
Itu bahkan bukan situs biasa—itu adalah situs kuno yang
dimiliki oleh satu Dunia.
Kenapa dia merasa berhak menyentuhnya?
“Kami tidak tahu pasti apa yang dilakukan Kaisar Tiga pada
anak yang memiliki benih itu. Tapi yang jelas, benih tersebut telah tumbuh...
Dan karena itu, diperkirakan banyak dari klan penjaga situs itu, termasuk para
iblis yang tengah berkunjung, ikut tertular.”
Wajah Moll mengeras.
“Dan sekarang, kedua kota itu dilanda kekacauan.”
Pihak Raja Iblis yang datang sedikit terlambat mencoba sekuat
tenaga mengendalikan situasi yang telah meledak.
Namun, kota Midi dan Mika telah tenggelam dalam kekacauan
besar.
Karena—
Moll menghela napas berat.
“Karena ada legenda yang mengatakan bahwa kehancuran Dunia
Iblis akan dimulai pada saat situs peninggalan itu runtuh.”
Dan sekarang, klan yang telah menjaga situs itu selama
turun-temurun hampir musnah.
Midi dan Mika, dua kota yang memandang situs itu sebagai
kebanggaan sekaligus tempat suci, sudah pasti terhantam kekacauan luar biasa.
“Dan kabarnya... beberapa iblis yang tidak sempat dikarantina
telah pergi ke kedua kota itu.”
Saat semua sibuk mencoba menenangkan Kaisar Tiga yang
mengamuk,
mereka kecolongan beberapa iblis yang kembali ke kampung
halaman mereka—Midi dan Mika.
Akibatnya—
“Para iblis itu akhirnya melihat wujud asli ‘Penyakit Abu-Abu’.”
Beberapa iblis yang kembali ke kota mengalami gejala penyakit
abu-abu dan kehilangan kesadaran.
Namun saat malam tiba, mereka terbangun... dan menunjukkan
kebuasan yang mengerikan.
“Sekarang, semua orang heboh. Mereka bilang kutukan abu-abu
yang bisa menghancurkan Dunia Iblis telah muncul di sana.”
Dengan kata-kata itu, Moll mendorong kursi roda Cale ke atas
lingkaran sihir.
Fwaaaash!!
Dengan cahaya terang menyilaukan, Cale, Moll, dan para anggota
rombongan mereka langsung dipindahkan menuju kota Midi.
***
Cahaya itu segera meredup.
Dan begitu Cale membuka matanya di kota Midi, ia langsung
melihat sosok yang menyambutnya.
“Cale Henituse.”
Raja Iblis menyapa dengan tenang.
“Aku akan pergi menemui Kaisar Tiga sekarang.”
Ia harus mengusir Raja Naga itu dari situs peninggalan.
“Apakah kau akan ikut?”
Tap.
Sang Raja Iblis melemparkan jubahnya,
dan jubah itu mendarat dengan lembut di pangkuan Cale yang
masih duduk di kursi roda.
“Itu jubah yang bisa menyembunyikan energimu.”
.
.

Baru dateng langsung diajak kencan
BalasHapus