Trash of the Count Family II 469 - Gray Rain Falls
Telia, salah satu dari sedikit kota besar di Dunia Iblis.
Waktu telah melewati tengah hari, senja mulai merayap, dan
malam semakin dekat.
Waaaaa—
Teriakan riuh dari luar terdengar hingga ke dalam, membuat
Komandan Moll melirik keluar jendela sejenak.
“Masih saja ramai,” gumamnya.
Alih-alih menjawab, yang lain hanya mengarahkan pandangan
mereka ke luar jendela.
Dari ruang rapat yang terletak cukup tinggi di dalam kastel
bangsawan, terlihat bahwa lampu-lampu mulai menyala satu per satu di alun-alun
pusat, pasar terdekat, dan wilayah lain.
Para iblis tampak tertawa dan berbincang dengan riang.
"………."
Count Simon menatap pemandangan itu dengan tatapan kosong.
Namun ia segera tersadar oleh suara dingin yang menyusul.
“Mari kita akhiri urusan dengan Count Lupe sampai di sini.”
Itu adalah Ed, penasehat Raja Iblis.
Simon pun menoleh. Saat menatap wajah datar Ed, bibir Simon
menegang. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi seseorang lebih dulu berbicara.
“Kalau begitu, kami anggap serangan Raja Iblis terhadap
Count Lupe akan dihentikan.”
Aurora dari Arbirator berbicara dengan suara tajam dan
dingin.
“Serangan, katamu? Bagaimana mungkin Raja Iblis menyerang
bawahannya sendiri, Count Lupe? Pilihan kata yang tidak pantas.”
Ed membalas dengan cepat.
Aurora hanya tersenyum sinis.
“Kita sudah sejauh ini. Jangan berpura-pura menjaga muka
lagi.”
Mata Aurora bersinar tajam.
Ed juga menghela napas kecil lalu ikut tersenyum sinis.
“Baiklah. Kalau begitu, wahai benih pengkhianat.”
Alis Aurora sedikit terangkat mendengar ucapannya.
“……….”
“……….”
Keduanya saling menatap dalam diam.
Namun ekspresi Ed mulai menggelap begitu Aurora kembali
bersuara.
“Mulai sekarang, tidak akan ada lagi iblis yang diberikan
sebagai bahan percobaan pada keluarga Transparent Blood.”
Tatapan Aurora tertuju pada dokumen di hadapannya.
Pagi ini.
Begitu matahari terbit, Cale melancarkan ‘Pemurnian’.
Setelah itu, Aurora segera menerima otoritas dari Cale dan
mengadakan negosiasi tanpa henti dengan Ed, Count Simon, dan Komandan Moll di
ruang rapat hingga saat ini.
“Juga, tidak ada lagi dukungan, baik dalam bentuk militer
maupun sumber daya lainnya, untuk Dewa Kekacauan dan para Hunter.”
Dengan ini, saat Cale berperang melawan Keluarga Hunter
Fived Colored Blood di New World, Dunia Iblis takkan dapat membantu mereka.
“Selain itu, Count Simon akan secara resmi menggantikan
posisi Count Lupe, dan kami akan mendukungnya sepenuhnya.”
Karena Count Lupe, Simon kini berada di pihak Cale.
Maka kekuatannya perlu diperkuat.
“Dan pihak Raja Iblis akan menunda konflik dengan Arbirator
sampai semua Keluarga Hunter musnah.”
Cale menganggap Aurora sebagai sekutunya.
Karena itu, ia memastikan mereka punya waktu untuk bertahan
di Dunia Iblis.
Aurora juga memegang bukti kejahatan mengerikan yang
dilakukan Raja Iblis.
“Namun begitu juga sebaliknya—Arbirator juga menunda
serangan terhadap pihak Raja Iblis sampai semua Keluarga Hunter dimusnahkan.”
Tentu, Aurora pun sepakat menghentikan serangan terhadap
Raja Iblis.
Ini bukan kesepakatan buruk bagi mereka.
Mereka mendapat waktu untuk tumbuh dan memperluas kekuatan.
Karena Simon ada di pihak Cale, dan bekerja sama dengan
Aurora, maka Aurora pun kini memiliki pijakan untuk memperluas pengaruhnya.
Kini, pihak Raja Iblis tidak bisa sembarangan menyentuh
mereka.
“……….”
Aurora berhenti membaca isi perjanjian yang masih banyak
tersisa.
Lalu ia menatap Ed, yang kini berwajah kaku.
“Kenapa wajahmu begitu?”
Sudut bibirnya terangkat mengejek.
“Bukankah ini semua adalah keinginan Rajamu sendiri?”
Karena Raja Iblis pada dasarnya telah memutuskan untuk
mendukung perdamaian yang diinginkan Cale, maka Ed pun tak punya banyak
pilihan.
“……….”
Ed memejamkan mata lalu membukanya kembali.
Tuk.
Aurora mendorong peta yang ada di atas meja ke arah Ed.
Salinan peta itu sudah diserahkan kepada anak buah Ed.
“Hubungi kami begitu kau mendapat informasi.”
“……….”
Pandangan Ed tertuju pada peta itu.
“Benih.”
Peta itu menunjukkan lokasi benih Penyakit Abu-Abu yang
telah menyebar.
Itu adalah peta yang diberikan oleh Cale.
Saat ini, anak buah Ed sedang bergerak ke berbagai wilayah
membawa salinan peta itu untuk menyelidiki lokasi yang ditandai.
Kiiik.
Aurora berdiri dari tempat duduk, diikuti oleh Simon.
Ed menggigit bibirnya.
Aurora, yang sebelumnya hanya bersembunyi.
Simon, yang sebelumnya tak berarti apa-apa.
Kini mereka menjadi sosok yang tak bisa disentuh sembarangan
oleh pihak Raja Iblis—dan kekuatan mereka akan terus bertumbuh.
Mereka akan menjadi benih kekacauan di masa depan.
“Sampai jumpa.”
Aurora dan Simon pergi lebih dulu ke malam yang mulai turun.
“Hoo…”
Tinggal sendirian di ruang rapat, Ed menyandarkan tubuhnya
ke kursi dan menghela napas panjang.
Pandangan matanya beralih ke Komandan Moll.
“Kenapa ekspresimu begitu?”
Moll masih menatap keluar jendela dengan wajah kosong.
“Entahlah.”
Mendengar jawabannya, Ed mengeklik lidah lalu mengeluh
pelan.
“Kenapa Raja Iblis begitu bereaksi terhadap omongan manusia
itu?”
Saat itulah—
“Kau belum mengalaminya sendiri, ya?”
“Hah?”
“Kau belum merasakannya sendiri, ya?”
“Apa maksudmu?”
Ed menoleh ke arah Moll dengan heran.
Moll berdiri membelakangi jendela senja, menatap Ed dengan
mata yang aneh.
Ada cahaya aneh berkilat dalam matanya.
Sesuatu yang tak bisa dijelaskan apakah itu rasa ingin tahu,
kegilaan, atau sekadar ketertarikan.
“Penasehat.”
Moll berkata pelan.
“Tugasmu adalah melaksanakan keputusan Raja Iblis dengan
sebaik-baiknya.”
“……Siapa bilang aku tak tahu itu?”
Ed menggerutu, namun tetap mengangguk.
“Aku tahu apa yang diinginkan Raja Iblis. Beliau
menginginkan perang yang bisa mengusir kejenuhan. Tapi manusia itu—”
“Penasehat.”
Moll menyela pelan.
“Kau masih belum mengenal manusia itu, ya.”
“…Kau pikir aku tak mengenal Cale Henituse?”
Bagaimana mungkin tidak mengenalnya?
Ia telah menyaksikan sendiri saat Cale berhadapan langsung
dengan Raja Iblis.
Melihat proses pemurnian yang dilakukan Cale.
Dia adalah sosok luar biasa.
“Penasehat. Karena akhir-akhir ini kau hanya berurusan
dengan para Hunter, mungkin pandanganmu mulai menyempit.”
Kiiik.
Moll berdiri dari kursi, menepuk pundak Ed, lalu
melanjutkan:
“Kau juga akan segera tahu.”
Ed bertanya pada Moll yang hendak pergi.
“Apa, sebenarnya, yang belum aku ketahui?”
Cale Henituse.
Dia memang manusia yang hebat.
Itu tak terbantahkan.
Namun dia bukan Dewa.
Bukan pula pemilik kekuatan besar.
Yang bisa ia lakukan kini tidak banyak.
“Moll, aku ingin kau menjawab.”
Karena Moll tampak seperti akan langsung pergi tanpa menjawab,
sang penasehat bicara lagi dengan nada frustrasi.
Moll yang hendak membuka pintu pun akhirnya menoleh dan
menatapnya.
Di balik pundak sang penasehat, terlihat para iblis yang
benar-benar menikmati festival, membagikan sukacita mereka.
“Cale Henituse,”
Ucap Mol, mengutarakan pemahaman yang ia raih.
“Dia adalah seorang pahlawan.”
Sang penasehat hanya memandangnya dengan ekspresi heran
seolah berkata, "Siapa yang tak tahu itu?"
Moll mengabaikan reaksinya dan melangkah keluar.
Ia masih bisa mendengar suara penasehat yang bergumam kesal:
Si keras kepala dan kaku itu, yang tak mengenal siapa pun
selain Raja Iblis…
“Masih belum mengerti, ya.”
Seorang pahlawan.
Cale Henituse adalah pahlawan sejati.
Dia sendirian, tapi tidak pernah benar-benar sendiri.
Wuuu—uuuuu—
Moll merasakan getaran Benda Suci di dalam jubahnya. Ia
meninggalkan kastel dan menyatu dalam keramaian para iblis yang masih berpesta
meski malam telah tiba.
Dengan mengenakan jubah dan menutup wajah dengan tudung,
suara-suara para iblis menyambut telinganya.
“Itu adalah sebuah mukjizat, sungguh!”
“Benar! Benar-benar mukjizat!”
“Kudengar Penyakit Abu-Abu itu ulah para bajingan dari Sekte
Dewa Kekacauan, ya?”
“Tapi katanya pria itu bukan pendeta, kan?”
“Iya! Tapi katanya beliau bisa melakukan pemurnian seperti
itu!”
“Itu sungguh indah… Kenangan seumur hidupku.”
Para iblis berbincang tentang momen sakral yang mungkin tak
akan pernah mereka alami lagi seumur hidup.
Tempat yang kemarin masih terasa tegang kini penuh
kehangatan dan kebahagiaan.
Selama beberapa tahun terakhir, Moll tak pernah merasakan
suasana seperti ini di Dunia Iblis.
“Tapi, kira-kira… beliau baik-baik saja nggak, ya?”
“Iya, tadi waktu beliau turun dari tempat suci, tubuhnya
tampak goyah.”
“Itu bukan hal mudah dilakukan. Apalagi bukan dengan
kekuatan suci. Pasti tubuhnya terbebani.”
Tak ada satu pun iblis yang merasa takut untuk membicarakan
tentang Cale Henituse.
Tak seperti Raja Iblis—yang bahkan nama dan keberadaannya
saja jarang disebut sembarangan—Cale dibicarakan dengan bebas.
Bukan hanya karena Raja Iblis itu kuat dan ditakuti, tapi
juga karena ia bisa jadi Dewa Iblis suatu hari nanti.
“Tapi ngomong-ngomong tentang ‘abu-abu’ itu—”
“Hmm?”
“Ada perasaan aneh, ya nggak sih?”
“Kau juga merasakannya?!”
“Iya. Karena energi mana di Dunia Iblis juga berwarna
abu-abu… Lalu semuanya dibalut warna abu-abu juga. Entahlah.”
“Aku ngerti maksudmu. Tapi jangan bicara terlalu banyak.
Pasukan Raja Iblis juga ada di sekitar.”
“Iya, kau benar.”
Obrolan kecil itu pun sampai ke telinga Komandan Moll.
Dewa Iblis yang mungkin akan datang.
Pasukannya.
Apa sebenarnya yang tak bisa mereka ucapkan di hadapan
mereka?
“……”
Moll tidak mendekat dan menegur para iblis itu.
Wuuu~ Uuuung~~
Ia hanya merasakan getaran dari Benda Suci di dalam jubahnya.
Benda yang diwariskan secara turun-temurun dalam
keluarganya.
Itu adalah milik Dewa yang telah dilupakan.
Dewa itu masih ada.
Karena Dewa tidak bisa lenyap.
Namun dilupakan… sama saja dengan kehilangan kekuatan.
“Dewa para pahlawan…”
Dewa yang tergssegel entah di mana di Dunia Surgawi.
Dewa yang menghilang setelah membuat perjanjian dengan Kaum
Surgawi dan beberapa Dewa lainnya.
Moll, satu-satunya keturunan hidup dari keluarga yang
mewarisi darah pahlawan yang dahulu menyelamatkan Dunia Iblis di masa lalu—ia
kembali menyebut nama yang hanya bisa ia ucapkan saat masih kecil, di dalam
rumah keluarga.
“Dewa Pengorbanan…”
Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar suara Moll di
tengah hiruk-pikuk festival di alun-alun pusat.
Tangan yang selalu berada di belakang orang lain, orang yang
tidak segan menyerang dari belakang.
Moll yang memilih untuk tidak lagi percaya pada keberadaan
Dewa itu, dan memilih mengikuti Raja Iblis yang mungkin akan menjadi Dewa
Iblis…
Namun kini hatinya tidak bisa berhenti bergetar.
****
“Ini aneh.”
Cale mengetuk cermin sambil mengambil cangkir teh dengan
tangan satunya.
“Hei manusia, kau tak bisa menghubungi Dewa Kematian?”
“Iya.”
Sebelum datang ke kota besar Telia, Cale sempat menyempatkan
diri mengirim pesan kepada Dewa Kematian.
"Kita perlu bicara."
Isinya sebenarnya cukup penting, jadi ia meminta bertemu
langsung. Tapi tak ada balasan. Bahkan belum dibaca.
“Hmm.”
Cale berpikir sejenak.
Dari samping, Raon menyodorkan pai apel kecil yang sudah
dipotong sangat halus.
Tanpa sadar, Cale mengambil potongan kecil itu dan
memasukkannya ke dalam mulut.
“!”
Mata Raon bersinar.
Dalam mata biru gelap si naga kecil terlihat bahwa separuh
tangan kiri Cale—yang sebelumnya kelabu—telah kembali seperti semula.
Pemurnian Kekacauan.
Dalam ritual itu, manusia tidak pingsan.
Dan dia bisa memurnikan tubuh mereka sendiri.
Informasi itu kini tertanam kuat dalam benak naga kecil.
“Kurasa aku harus coba kirim pesan lagi.”
Tanpa mengetahui itu semua, Cale kembali mengirimkan pesan.
“Benar.”
Melihat wajah Dewa Kematian juga tak banyak gunanya.
Yang penting dia tidak mati dalam setengah tahun ke depan.
“Kaum Surgawi mengkhianati Dewa Keseimbangan. Bersekutu
dengan Dewa Kekacauan.”
Dengan ringkas dan padat, Cale merasa puas dengan pesan itu
lalu mematikan layar Benda Sucinya.
Kemudian ia membenamkan tubuh ke sofa.
“Manusia. Jadi, apa kita akan mulai bereskan benih-benih
itu?”
“Ya.”
Bersihkan semua benih kekacauan.
‘Mungkin aku harus berkeliling Dunia Iblis…
Tapi untuk saat ini, aku harus memulihkan tubuhku dulu.’
Bagaimanapun, Keluarga Fived Colored Blood sudah tahu mereka
ada di sini, jadi mereka tidak akan mencari Cale di New World lagi.
Selama itu, New World pasti bersiap untuk melawan Keluarga
Fived Colored Blood.
Dan rekan-rekan serta sekutu yang ada di Bumi 3 akan mulai
merencanakan dan mempersiapkan penghancuran Keluarga Transparent Blood.
Setelah urusan di Dunia Iblis selesai...
Lanjutkan dengan menghancurkan Keluarga Transparent Blood,
ambil kendali Transparent. Ltd.
Lalu, cari orang yang akan menjadi Dewa Absolut di New World
dan hentikan dia sebelum menjadi Dewa.
Kemudian, lawan para Wanderer dari Keluarga Fived Colored
Blood.
“Wah…”
Cale tak sadar ia menggumam kagum saat merinci rencananya.
‘Rencananya rapi dan sederhana, ya.’
(tl/n : WTF!!!!!!)
Tapi… akankah semua berjalan sesuai rencana?
Apakah mungkin menghadapi Dewa Absolut dan para Wanderer
Keluarga Fived Colored Blood?
Kalau dipikir realistis…
Ekspresi Cale mengeras.
‘Dengan kekuatan kita sekarang, semua akan mati.’
Bahkan saat menghadapi Kaisar Naga, Cale hanya bisa bertahan
dan kabur.
Lalu sekarang dia mau menang melawan Keluarga Fived Colored
Blood?
Tak bisa dibiarkan seperti ini.
Harus ada langkah tambahan.
Munch munch.
Sambil mengunyah potongan pai apel, Cale kembali tenggelam
dalam pikirannya.
“Hihi~”
Raon menatap pemandangan itu sambil tersenyum polos.
Meski Cale masih tampak lemas, wajahnya pucat, tubuhnya
panas dan kekuatan belum pulih…
Raon tersenyum ceria saat melihat Cale.
Meskipun Cale masih tampak pusing, lemah, wajahnya pucat,
dan tubuhnya panas karena demam…
‘Manusiaku jelas mulai membaik!’
Raon bisa melihat bahwa kondisi Cale berangsur pulih.
Merasa lega, Raon mengepakkan sayapnya dan berkata,
"Sebentar lagi semuanya datang, kan?"
"Iya, semuanya akan datang."
Di dalam ruangan hanya ada Cale dan Raon.
Yang lainnya telah keluar untuk menyambut rombongan yang
akan segera tiba di kastel Telia.
"Jadi, hari ini kau akan menyembuhkan Sui Khan,
ya?"
"Benar."
Salah satu yang datang adalah Ketua Tim Sui Khan.
Cale mengingat, Aurora mengatakan dia akan membawanya.
Dalam pertempuran yang terjadi di Kastel Moraka sebelumnya…
Akibatnya, para ksatria suci dari Sekte Dewa Kekacauan,
termasuk satu Ksatria Suci Agung, tertangkap oleh pasukan Raja Iblis.
Lebih tepatnya, mereka diserahkan kepada pasukan Raja Iblis
setelah kekacauan yang ditimbulkan oleh Kaisar Tiga.
Ksatria Suci Agung itu…
Orang yang telah melukai Sui Khan dan membuat lukanya tak
kunjung sembuh.
Mereka akan segera bertemu orang itu.
Dan setelahnya, Sui Khan akan menjalani perawatan.
"Hihi! Semuanya berkumpul!"
Raon bersorak bahagia.
Namun kegembiraannya hanya berlangsung sekejap—
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
"Manusia! Mungkin itu Aurora!"
Wajah Raon berseri-seri, dan bahkan sebelum Cale sempat menjawab,
ia sudah melayang ke pintu dan membukanya.
“...?”
Raon memiringkan kepala, matanya membelalak.
Cale pun membuka mulut.
“Siapa itu?”
Alisnya berkerut.
“Maafkan aku.”
Yang masuk adalah Komandan Moll.
Dengan tergesa, ia masuk ke dalam malam dan membuka gulungan
peta.
Peta yang menunjukkan lokasi penyebaran benih kekacauan,
yang sebelumnya telah ditandai oleh Cale dengan titik merah—jumlahnya sepuluh.
Namun kini, dua titik merah yang saling berdekatan telah
dilingkari.
“……”
Perasaan tak enak mulai muncul dalam diri Cale.
“Jangan-jangan…”
Apa dua benih itu telah tumbuh?
Tanpa kehadiran ‘Kekacauan yang Dibawa Angin’ sekalipun,
bisa tumbuh secepat ini?
Kalau begitu, kenapa mereka butuh Benda Suci?
Pikiran Cale mulai kacau ketika—
“Benihnya telah tumbuh di dua tempat ini.”
Kalimat yang sudah ia duga akhirnya terucap.
Wajah Cale langsung mengeras.
“Dan… Kaisar Tiga ada di sana.”
‘Apa?!’
Tatapan Cale langsung tertuju pada Moll, yang mengangguk
serius.
“Benih tumbuh karena Kaisar Tiga.”
Apa maksudnya?
Apa lagi yang dilakukan orang gila itu, yang dulu mencari
Cale dan Choi Jung Gun seperti orang kesetanan?
[ Hmm. ]
Saat kepala Cale dipenuhi kebingungan…
[ Aku lapar. Sepertinya perutku mulai mencerna. ]
Suara si “Rakus Segalanya” mulai terdengar.
Perasaan mual yang sempat membuatnya berhenti, kini mulai
reda, dan nafsu makannya kembali muncul.
Tentu saja, rasa mualnya belum benar-benar hilang.
Ia telah melahap semua inti kekacauan yang dimiliki oleh
Kuil Dewa Kekacauan, mulai dari ritual ke-43 dalam Primodial Night Tanah Suci
New World, hingga kekacauan sang Paus.
[ Tapi sekarang tubuhku gatal. Kenapa, ya? ]
(tl/n : jangan-jangan alergi(?))
Ia merasa lapar, tapi tubuhnya juga terasa gatal.
[ Rasanya seperti… daun akan tumbuh dari tubuhku. ]
Si dewi yang berelemen pohon, Indestructible Shield,
menyampaikan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada Cale.
[ Kekacauan ternyata… enak juga. Aku lapar. ]
Cale, yang bahkan belum sembuh sepenuhnya dari gangguan
pencernaan, hanya bisa menghela napas saat mendengar suara si Rakus.
Dengan pasrah, ia pun menyuapkan potongan pai apel ke
mulutnya.
Munch munch.
Raon memperhatikan dengan mata berbinar.
“Apa yang dilakukan Kaisar Tiga sampai benih bisa tumbuh?”
Tanya Cale sambil mengunyah.
Lalu ia menambahkan,
“Apa aku harus langsung pergi ke sana?”
Moll menjawab pertanyaan terakhir lebih dulu.
“Ya, tolong. Kita mungkin harus memusnahkan dua kota itu.
Oh, dan Kaisar Tiga… Raja Iblis memutuskan untuk mengusirnya dari kota itu.”
Wuuuung—
Moll berpura-pura tidak mendengar getaran samar dari Benda
Suci milik Dewa Pengorbanan, dan menunggu jawaban Cale.
Sebuah ketegangan aneh menyelimuti dirinya.
“Huft.”
Cale akhirnya menghela napas.
Moll sedikit terkejut oleh helaan napas itu, namun Cale
hanya berkata dengan nada datar:
“Kita bicarakan di jalan saja.”
Ia langsung berdiri dari sofa.
“Ugh.”
Namun karena tiba-tiba bangkit, rasa pusing kembali
menyerangnya dan tubuhnya sempoyongan.
Moll pun segera menopangnya, dan dengan wajah serius
berkata:
“Kau ini sungguh…”
“Apa? Aku kenapa? Aduh, kepalaku…”
Cale menerima bantuan Moll dengan sangat alami, seolah itu
adalah hal biasa.
Memang, ia sudah terlalu sering ditopang oleh Ron, Choi Han,
dan lainnya.
“………”
Moll menatap Cale tanpa berkata apa-apa.
– Manusia! Tatapan mata Moll itu aneh!
– Seperti campuran Clopeh dan Choi Han!
Apa maksudnya itu…
Cale hanya mengabaikan komentar Raon.
Lalu ia memerintah Moll seolah-olah itu sudah seharusnya:
“Panggil semua rekan kita.”
Legenda ‘Hujan Abu-abu’ yang akan menyelimuti Dunia Iblis
dan hati para iblis…
Akan segera dimulai.
Tentu saja, Cale sendiri belum mengetahui hal itu.
Dan pada saat yang sama—
Sui Khan yang terluka, Choi Jung Soo, dan Clopeh Sekka tiba
di Kastel Telia.
.
.

"Sederhana" Katanya...
BalasHapus