Trash of the Count Family II 468 - Now, Let’s Start a Deal



Sebuah panggung besar seperti arena didirikan di alun-alun pusat.

Cale naik ke atas panggung itu dan perlahan mengedarkan pandangannya ke seluruh alun-alun.

‘Penuh dengan ketakutan.’

Baik rakyat wilayah, para pejabat dari istana Raja Iblis, bahkan pasukan yang sedang berjaga pun—

Semua memiliki ketakutan yang tertanam dalam mata mereka, meskipun alasannya berbeda-beda.

[ Cale. Tapi, setidaknya kau sudah menyiapkan syarat minimum untuk ritual pemurnian. ]

Tepat seperti yang dikatakan Si Pelit.

Pemurnian Kekacauan.

Yang dibutuhkan hanyalah seorang pelaksana, dan sebuah tempat di mana sebuah "pesta" berlangsung.

Tempat itu tidak harus benar-benar pesta, asal bisa menjadi tempat “di mana kegembiaraan bisa hadir dalam kekacauan.”

[ Meski tidak ada kegembiraan sekarang, ]

Benar, tidak ada tanda-tanda kebahagiaan di tempat ini.

[ Namun, tempat di mana kegembiraan dapat hadir telah disiapkan. ]

Cale melihat ke arah meja-meja jamuan yang disusun di depan warga yang memenuhi alun-alun.

‘Bisa mempersiapkan ini dalam sehari? Hebat juga.’

Mungkin tidak mewah, tapi cukup layak disebut sebagai meja jamuan.

Pasti penasihat dari pihak Raja Iblis bekerja keras untuk mewujudkan semua ini.

“…..”

Cale memalingkan wajahnya.

Tak perlu kata-kata.

Angguk.

Melihat anggukan itu, Komandan Moll naik ke atas panggung bersama beberapa anak buahnya.

Satu per satu, mereka membuka kain yang menutupi tandu.

“Hah!”

Seseorang menghirup napas dengan tajam.

Mulai dari orang-orang yang berdiri paling dekat dengan panggung, semakin banyak yang menyadari apa yang tersembunyi di bawah kain.

Atau lebih tepatnya, mereka terkejut karena dugaan mereka ternyata benar.

“Putriku~!”

Teriakan memilukan dari seorang pria pun pecah.

“Sayang!”

“Ayah!”

“Ibu!”

Dari berbagai tempat, para iblis bangkit dari tempat duduk mereka dengan panik.

Mereka semua adalah keluarga dari 51 korban infeksi sekunder.

“Astaga… ini semua benar!”

“…Kita habis, kita benar-benar habis!”

“Itu bukan cuma rumor gila? Itu nyata?”

Sebagian besar warga wilayah yang selama ini hanya mendengar desas-desus merasa ngeri melihat kenyataan di depan mata.

Wajah para korban yang tak sadarkan diri—mereka kini benar-benar menyadari situasi mengerikan yang tengah berlangsung.

“Ugh!”

“Ukh—”

Begitu kain penutup dibuka, bau busuk menyengat menyeruak ke udara—seakan ada alat penyegel yang dilepas.

Sebagian tubuh korban telah berubah menjadi abu-abu, atau bahkan hampir seluruhnya.

Pembuluh darah mereka tampak membengkak dan mengerikan, sebagian tubuh mereka tampak mulai membusuk.

“…Kalau seluruh tubuhnya berubah jadi abu-abu…”

Seorang iblis bergumam tanpa sadar, teringat pada sesuatu yang pernah ia dengar di pasar waktu itu.

“Kalau mereka meledak… semua akan tertular.”

Wajahnya langsung memucat karena ketakutan.

“Ng—ngomong apa sih! Meledak katanya!”

Iblis lain yang bangkit dari tempat duduknya menatap tajam si pembicara.

“Itu nggak akan terjadi! Nggak mungkin terjadi!”

Matanya memerah karena emosi.

Itu karena salah satu korban yang terbaring di atas tandu itu adalah putrinya.

“A-aku… aku tidak bermaksud…”

Iblis yang tadi berbicara gugup ketika semua perhatian tertuju padanya.

Pria itu pun tak bisa berkata apa-apa lagi padanya.

Ia hanya melihat sekeliling dengan penuh frustrasi dan menangis:

“Tidak! Putriku tidak akan mati!”

Namun, wajah pria itu dipenuhi dengan ketakutan dan keputusasaan, bukan keyakinan.

Ia sudah tahu bagaimana si pedagang buah itu meninggal.

Dan ia bisa menebak nasib yang akan menimpa putrinya.

Betapa menderitanya ia selama hari-hari terakhir di rumah.

Ia tak diperbolehkan bertemu putrinya, meskipun sangat ingin.

"Ada risiko penularan."

Begitu kata mereka.

Saat itu—

“Hei… jadi maksudmu kita juga bisa tertular karena para korban itu? Kenapa kita malah dikumpulkan di sini?”

Seseorang berbisik, dan seketika suasana sekitar menjadi ricuh.

Ketakutan lain pun muncul di mata para iblis.

Selama tiga hari terakhir—

Mereka tidak diizinkan keluar kota, dan nyaris dikurung di rumah mereka.

Kontak dengan dunia luar juga dilarang.

Meski begitu, rumor—atau kebenaran—terus menyebar.

Bahwa ada penyakit menular mengerikan di kota ini.

Dan karena itu, istana Raja Iblis mengirim pasukan untuk mengunci kota.

“J-jangan bilang kalau—”

Ekspresi ngeri muncul di wajah salah satu iblis.

“Kita semua—”

Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Tak sanggup mengucapkannya.

Ia buru-buru menoleh ke sekeliling.

Pasukan Raja Iblis, yang bersenjata lengkap dan memancarkan aura membunuh.

‘Jangan-jangan...’

Apakah mereka berencana membunuh semua orang di kota ini, bukan hanya mengurungnya?

Demi mencegah penyebaran wabah ke seluruh Dunia Iblis?

Pikiran seperti itu mulai terlintas di benak mereka.

“Jangan berandai-andai yang tak berguna.”

Sebuah suara dingin terdengar di tengah kekacauan.

Iblis yang duduk di samping sumber suara itu terkejut dan gemetar.

Seorang pria berkerudung.

Tatapan dinginnya membuat si iblis membeku tanpa sadar.

Namun ia lalu membuka mulut dengan wajah yang keras.

“Kau bilang itu hanya imajinasi yang tak berguna? Ini semua—”

Tapi suaranya tenggelam oleh teriakan lain.

“Tidak! Bukan begitu! Putriku tidak akan mati!!”

“Ayah!”

“Aku… aku harus menyelamatkan Ibu!”

“Aaaaargh~!”

Teriakan para keluarga korban bergema di seluruh alun-alun.

“Hei, kita harus kabur dari sini, kan?”

“Apa-apaan ini! Kenapa mereka mengumpulkan kita dekat makhluk-makhluk itu!”

Suara-suara panik dan ketakutan terus meningkat.

Alun-alun benar-benar diliputi kekacauan.

“Sialan!”

Akhirnya, iblis yang sebelumnya curiga bahwa mereka semua akan dibantai bangkit dari tempat duduknya.

Ia berpikir: Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama.

“Duduk.”

Tiba-tiba, Count Simon yang duduk di sampingnya berkata pelan.

“Apa kau bilang?”

“Sebentar lagi—”

Count Simon menghentikan ucapannya sejenak.

Ia tahu bahwa ritual pemurnian akan segera dimulai.

Ia sempat bertanya-tanya kenapa Cale Henituse belum memulai ritual itu dan malah membiarkan semua ini terjadi.

Namun, kenyataannya adalah—

ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri pemurnian itu.

“Itu adalah sebuah mukjizat.”

Begitu kata seorang kakek tua bernama Tedrick—mantan kepala desa—di desa tempat Aurora menjadi kepala sekarang, bagian dari Guild Arbirator.

Ia menjelaskan tentang ritual pemurnian Cale:

“Rasanya seperti… kedamaian.”

Sambil tersenyum lembut, seperti seseorang yang sedang bermimpi indah.

Saat Count Simon memutuskan mengikuti Cale ke Telia, Tedrick sempat berkata:

“Kau akan merasakan kehangatan dunia ini.”

Count Simon saat itu belum mengerti apa maksudnya.

“Apa maksudmu? Akan ada apa sebentar lagi? Kau… kau terlihat seperti tahu sesuatu! Katakan padaku!”

Marah karena tak mendapat jawaban, iblis di samping Count Simon mendesaknya.

Para iblis lain pun menatap curiga.

Count Simon ingin menjawab:

Akan datang sebuah mukjizat.

Tapi—

“!”

Ia tiba-tiba terdiam.

‘Apa itu tadi?’

Di tengah kekacauan alun-alun—sebuah suara terdengar.

Swaaah—

Ombak?

Swaaahhh—

Tidak, itu suara angin.

Angin yang berembus dari hutan.

‘Tidak mungkin…’

Ini bukan pantai. Ini juga bukan hutan.

Lalu suara apakah ini?

“Itu adalah sebuah mukjizat.”

Suara Tedrick kembali terngiang di kepala Count Simon.

Tanpa sadar, Count Simon menoleh ke arah asal suara angin dan deburan ombak itu.

Begitu pula orang-orang lain.

Swaaa—

Mereka yang sebelumnya menangis, yang panik, yang ketakutan—semua diam.

Terpaku oleh suara alami yang begitu sejuk dan indah.

Kemudian mereka menoleh—

Swaaa—

Dari arah pria berambut merah yang duduk di kursi roda, asap abu-abu mengalir keluar perlahan.

Namun asap itu tidak kelam.

Sebaliknya, hanya dengan melihatnya, orang-orang merasa hangat.

Itu bukan abu-abu mengerikan yang mengubah tetanggamu, keluargamu, dan temanmu menjadi monster.

Asap ini seolah membawa aroma ombak yang menyejukkan dan angin dari hutan yang lembut.

Asap itu menyelimuti mereka satu per satu.

“Ah…”

Mata Count Simon membelalak.

“Simon…”

Sebuah suara terdengar.

Suara yang sangat ia rindukan.

“Kau tak perlu tumbuh menjadi luar biasa, juga tak harus jadi hebat. Buanglah beban itu.”

Saat kecil…

Saat Count Simon menderita karena tekanan harus mewarisi Kastil Moraka…

“Simon, cukup tumbuh menjadi dirimu sendiri.”

Suara itu terdengar datar, tapi ada kepedulian terselip di dalamnya.

“Ah…”

Count Luphe…

Paman…

Saat mendengar kata-kata itu, Count Simon akhirnya merasa yakin—bahwa sekalipun ia tidak mewarisi Kastil Moraka, Count Luphe takkan pernah membuangnya.

Saat itu, betapa bahagianya ia.

Karena akhirnya, ia merasa benar-benar memiliki keluarga.

‘Ini dia…’

Count Simon tahu sekarang apa yang dimaksud sebagai mukjizat.

Ia bisa saja melihat sekeliling, namun tak melakukannya.

Ia tidak ingin melewatkan momen saat kenangan yang begitu berharga ini kembali terlintas dengan jelas.

Ia ingin menikmatinya, meski hanya sebentar lebih lama.

“Tapi Simon, kau sudah cukup besar sekarang ya.”

Tangan Count Lupe yang dulu mengusap kepalanya saat berkata demikian…

Suara itu membuat tangan itu terasa hadir kembali.

Count Simon merasakan emosi yang sudah lama hilang sejak Count Lupe menghilang—atau mungkin sejak beberapa hari terakhir.

Itu adalah kedamaian, kegembiraan, dan kebahagiaan.

Tubuhnya yang lelah juga mulai terasa ringan.

Itu bukan sekadar kenangan yang menghiburnya.

‘Tidak, ini bukan dari ingatan…’

Count Simon perlahan membuka matanya.

“Ah…”

Ia tak sadar telah menghela napas takjub.

Tempat ini—yang tadi penuh sesak oleh para warga wilayah, dan dipenuhi kebingungan serta rasa takut…

Kini diselimuti kabut abu-abu.

Wajah-wajah para iblis terlihat di balik kabut itu.

“Huk…”

“A… aaa…”

Mereka semua menunjukkan ekspresi berbeda-beda—

Sebagian tertawa, sebagian menangis, sebagian menutup mata.

Namun semuanya… tersenyum dengan penuh kebahagiaan.

Ketakutan telah sirna dari wajah mereka.

Sebagai gantinya, muncul ekspresi yang menggambarkan berbagai emosi—

Kebahagiaan, rasa haru, kegembiraan, kerinduan…

Mereka begitu tenggelam dalam emosi itu hingga tak sadar menahan napas—sebelum akhirnya, seperti Count Simon, menghela napas kecil penuh keharuan.

Swaaah—

Butiran-butiran cahaya abu-abu mulai muncul satu per satu dari tubuh mereka.

Butiran itu kecil, tapi berkilau indah.

Mereka lalu mengalir menuju kabut abu-abu—

Kabut itu, yang kini bersinar terang oleh butiran cahaya, tampak seperti galaksi abu-abu.

Swaaah—

Galaksi abu-abu itu bergerak.

Angin yang tadi berhembus, kini kembali berhembus ke arah asalnya—menuju tempat di mana kabut itu bermula.

Para warga.

Para pejabat yang dikirim dari istana iblis.

Pasukan Kerajaan.

Semuanya memandangi kabut yang menyelimuti mereka tadi, dan butiran cahaya yang berasal dari diri mereka sendiri.

Dan di ujung galaksi abu-abu itu—

Seorang pria berdiri.

Pria yang sebelumnya duduk di kursi roda, kini berdiri tegak.

Wajahnya pucat dan napasnya berat, jelas menunjukkan bahwa berdiri seperti itu saja sudah sangat sulit baginya.

Ia adalah pria berambut merah, mengenakan pakaian longgar menyerupai jubah pendeta yang menutupi seluruh tubuhnya.

Kabut abu-abu—tidak, galaksi abu-abu—mengelilinginya.

Swaaah—

Saat ia mengangkat tangannya, kabut abu-abu yang kini bersinar oleh cahaya itu mengalir ke arah 51 orang yang terinfeksi.

Mereka adalah para iblis yang tubuhnya membusuk dan tertutup abu-abu.

Galaksi abu-abu itu kemudian menyelimuti mereka satu per satu.

Pria berambut merah—Cale, akhirnya berkata:

“Yang diciptakan, akan sirna.”

Wajah-wajah para iblis yang tampak mengerikan, kini tak terlihat lagi.

Mereka telah dibungkus oleh galaksi abu-abu yang indah.

“Seperti saat awal diciptakan.”

Tak ada bau busuk.

Sebaliknya—

Aroma bunga.

Aroma makanan lezat buatan ibu.

Aroma pakaian nenek.

Aroma hutan yang dinikmati bersama ayah.

Aroma yang paling mereka sukai, satu per satu tercium di hidung mereka.

Jantung para penonton mulai berdebar.

Namun itu bukan karena takut—

Melainkan karena harapan dan kegembiraan.

Sesuatu sedang terjadi.

Dan hal itu… membangkitkan harapan dari dalam hati semua orang di alun-alun itu.

“Sebagaimana kau dilahirkan.”

Cale mengucapkan kata-kata itu dengan wajah datar dan tenang.

Komandan Moll, yang memandangi Cale, tampak kehilangan fokus dalam pandangannya.

Begitu pula para penasihat yang datang untuk mengamati, dan para bawahan Raja Iblis.

Bahkan Komandan Pasukan Utama Divisi Satu, Shiz, yang diam-diam mengamati dari atap bangunan yang menghadap ke alun-alun, pun tak bisa mengalihkan pandangannya.

Semua orang hanya bisa menatap.

Tak ada yang mencolok.

Tak ada yang mendominasi.

Hanya angin sepoi dan kabut tipis yang bisa lenyap kapan saja.

Namun pemandangan yang tercipta dari dua elemen sederhana itu tampak begitu sakral dan agung.

Dalam keheningan, emosi yang lebih panas, bergelora, dan mengharukan dari sebelumnya mengalir memenuhi alun-alun.

Itu juga merupakan sebuah kekacauan.

Kekacauan yang penuh kegembiraan.

Dan di dalam kekacauan itu, Cale kembali membuka mulutnya:

“Kembalilah ke wujud asalmu.”

Galaksi abu-abu itu menyerap masuk ke dalam tubuh para penderita yang terinfeksi… dan ke tubuh Cale sendiri.

“Ah…”

“Ibu…”

“Anakku… anakku…!”

Tuk. Tuk.

Tubuh para penderita yang terinfeksi perlahan melayang.

Dari tubuh mereka, tetes-tetes abu-abu menetes jatuh.

Tubuh yang dulu tampak mengerikan…

Perlahan mulai kembali ke wujud semula.

Wajah-wajah mereka yang sekarat kini tampak hangat.

Mereka hidup kembali.

Wajah para iblis di sekitar dipenuhi keterkejutan dan kegembiraan.

Teriakan bahagia nyaris keluar dari mulut mereka—namun mereka menahannya.

Mereka yang tadi memanggil nama anggota keluarga pun memilih bungkam.

Tuk. Tuk. Tuk.

Seperti hujan gerimis.

Tetesan abu-abu perlahan jatuh dari tubuh para penderita.

Dan semua orang menunggu—

Sampai pemandangan yang sunyi namun sakral itu selesai.

Tuk.

Tubuh-tubuh yang melayang itu satu per satu kembali turun ke atas tandu.

Kini mereka terlihat seperti sebelumnya—

Seperti yang diingat keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka.

“……”

“……”

Tak satu pun berani langsung membuka mulut.

Semuanya terasa seperti mimpi.

Pengalaman seperti ini…

Adalah sesuatu yang belum pernah mereka alami seumur hidup.

“Huuu~”

Saat itu, Cale menarik napas dalam-dalam.

[ Cale, baru separuh lengan kirimu yang berhasil dimurnikan. Rupanya kekacauan dari Paus benar-benar parah. ]

Dari kedua lengannya hingga ke tulang selangka—

Bagian tubuh Cale yang terkontaminasi hanya sebagian saja yang berhasil dimurnikan.

Ia merasa sedikit kecewa mendengarnya.

Namun tetap, Cale mengucapkan bagian terakhir dari ritual pemurnian kekacauan.

“Masih ada tahap terakhir dari ritual ini.”

Meski wajahnya tetap pucat, dan keringat dingin terus mengalir deras…

Namun dibandingkan sebelumnya, rasa sesak di perutnya agak mereda.

[ Sepertinya pencernaannya mulai membaik! ]

Mendengar si Rakus berkata begitu, Cale merasa cukup puas.

Sambil tersenyum tipis, ia mengucapkan dengan tenang:

“Nikmatilah jamuan ini, dan tolong bangun kenangan yang baik bersama.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Cale turun dari panggung tanpa kembali ke kursi rodanya.

Ia merasa kondisi perutnya sudah cukup membaik untuk berjalan sendiri.

Namun… itu hanyalah perasaan saja.

Tubuhnya terhuyung.

Kepalanya berputar.

[ Belum sepenuhnya tercerna! ]

Super Rock panik.

Cale merasa tak nyaman karena menyangka dirinya sudah membaik, tapi malah mengalami pusing seperti ini.

Ekspresinya mengeras.

Namun…

‘Kalau dilakukan beberapa kali lagi, pasti akan membaik.’

Benih-benih itu masih tersisa.

Ia sudah tahu di mana letaknya—dari mimpi Paus.

Jika ia terus memurnikan bersama benih-benih itu, pasti akan berhasil.

‘Yang penting, sekarang aku tahu bahwa ini adalah jalan yang benar.’

Cale merasa cukup puas karena telah menemukan cara untuk menyembuhkan gangguan pencernaan si Rakus.

Saat ia turun tangga dan hampir terjatuh, seseorang menyanggah lengannya.

“Terima kasih.”

“……”

Komandan Moll menatap Cale dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dan saat itu…

“……”

Raja Iblis memandang Cale, lalu berkata:

“Ikutlah.”

“Baik.”

Komandan Pasukan Utama Divisi Satu, Shiz, buru-buru mengikuti Raja Iblis yang berbalik arah.

Namun tatapannya sempat tertuju sebentar ke arah Cale, sebelum kembali ke depan.

Raja Iblis dan Shiz.

Keduanya—yang mengamati ritual ini secara diam-diam—menghilang.

“……”

Raja Iblis menjauh dengan cepat dari Cale, lalu menatap tangannya sendiri.

Tangannya gemetar halus.

Seolah ada sesuatu yang seharusnya tidak ia ingat, namun kini muncul kembali.

“……”

Di wajahnya kini bukan lagi rasa jenuh atau bosan.

Melainkan perasaan yang lain.

Namun tak ada satu pun yang menyadari hal itu.

WAAAAAA—!

WAAAA—!

Sorakan kegembiraan meledak di seluruh alun-alun.

Dan… pesta sungguhan akhirnya dimulai.

Tempat ini kini menjadi ‘ruang di mana kekacauan yang penuh kegembiraan bersemayam’.

.

.

Donasi disini : Donasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor