TOTCF 458 - The Gray Shield
"Mau kabur? Atau mau terus bertarung?"
“Ho.”
Dari mulut Ksatria Suci Agung keluar tawa pendek seperti
helaan napas.
“Dari apa kalau mau kabur?”
Atas pertanyaan itu, Cale menunjuk ke luar jendela.
“Dari mereka.”
Seekor naga biru terlihat.
Yang dimaksud ‘mereka’ oleh Cale jelas adalah pasukan Raja
Iblis dan Keluarga Fived Colored.
“Kalau bertarung lebih lama... maksudmu melawanmu?”
“Iya.”
Cale menunjuk ke dirinya sendiri.
“Bertarung di sini maksudnya terus melawan kami.”
“Hm.”
Ksatria Suci Agung menurunkan pedangnya dan membuka mulut.
“Bagaimana kalau kita bertarung bersama melawan mereka?”
“Hoho.”
Kali ini Cale yang tertawa sinis.
Ia harus tetap berpikir jernih.
“Jangan omong kosong.”
Sekalipun Sekte Dewa Kekacauan telah mencoba menjebak sang
Hunter dan Raja Iblis...
...pada akhirnya, semua usaha mereka gagal.
“Dari sudut pandang kalian, aku adalah penghalang terbesar.
Kalian pasti akan mencoba menyingkirkanku dulu.”
Musuh dari luar selalu lebih diutamakan daripada masalah
internal.
‘Kalau Ksatria Suci mundur dari sini, itu adalah skenario
terbaik.’
Bagi Cale, pilihan terbaik adalah kalau Ksatria Suci Agung
membawa para Ksatria Sucinya pergi.
‘Kalau tidak, kami harus bertarung tiga lawan satu.’
Tapi jika Sekte Dewa Kekacauan mundur dari tempat ini,
setidaknya Cale akan mendapat waktu untuk bersiap.
“Hm.”
Ksatria Suci Agung memandangi sekeliling.
Dengan senyum samar di bibirnya, dia tampak sedang menunda
waktu.
‘Situasinya tidak pasti.’
Akan sangat disayangkan mundur begitu saja.
‘Strategi besar untuk melawan Dunia Iblis sudah gagal.’
Rencana besar untuk menghadapi Dunia Iblis sudah hancur.
Karena—
“Kenapa? Kau sedih?”
Menanggapi pertanyaan Cale, Ksatria Suci hanya tersenyum.
Melihat ekspresi misterius itu, Choi Han menggigit bibir.
Boom!
Naga semakin mendekat.
Lalu,
Boom!
Benteng mulai bergetar.
Sedikit lagi dan musuh akan merobohkan tempat ini.
Choi Han tak bisa menyembunyikan kecemasan dalam hatinya.
Saat itu—
“Rencanamu awalnya ada dua, kan?”
Suara Cale terdengar sangat tenang.
Sambil menginjak lembut kepala Paus yang pingsan, dia
melanjutkan.
“Pertama, menguasai Dunia Iblis lewat Wabah Abu-abu.”
Dan yang kedua—
“Kedua, menggunakan aku sebagai tumbal untuk menurunkan Dewa
Kekacauan.”
“!”
Mata Ksatria Suci Agung memancarkan cahaya aneh.
Melihatnya seperti itu, senyum tipis muncul di wajah Cale.
“Kau juga mau merusak rencana kedua?”
“Whoa.”
Ksatria Suci Agung benar-benar kagum.
“Kau sedang mengancamku menggunakan dirimu sendiri?”
Atas pertanyaan Ksatria Suci Agung, Cale hanya mengangkat
bahu.
“Bukan ancaman. Aku justru sedang mempertimbangkan
kepentingan kalian.”
Senyum miring di bibir Cale terasa saangat menjengkelkan.
“Kalau aku gagal melarikan diri dan tertangkap mereka,
menurutmu apa yang akan terjadi?”
Mungkin Raja Iblis tidak akan membunuhnya langsung, tapi
Keluarga Fived Colored pasti akan menghabisinya.
Cale adalah penyebab runtuhnya tiga Keluarga Hunter.
“Aku pasti akan mati dengan sangat mengenaskan kalau
tertangkap.”
Ekspresi rekan-rekannya langsung memburuk, tapi Cale dengan
santai berbicara pada Ksatria Suci Agung.
“Kalau begitu, rencana kedua kalian juga hancur, kan?”
Cale menangkap poin penting.
“Kalian harus memastikan aku tetap hidup, dan dalam kondisi
baik. Supaya bisa dijadikan tumbal untuk Dewa Kekacauan. Itu satu-satunya misi
kalian yang tersisa.”
“Astaga.”
Ksatria Suci Agung menghela napas panjang.
Satu-satunya misi yang tersisa dari Dewa Kekacauan memang
hanya itu: menyerahkan Cale Henituse.
Semua yang lain sudah gagal.
Tapi digunakan seperti ini?
Cale berbicara dengan penuh percaya diri.
“Jadi, lakukan apa pun untuk menjaga hidupku.”
Bahkan Heavenly Demon dan Kepala Pelayan Hitellis yang
tadinya sibuk bertarung, kini berhenti dan memperhatikan.
Hitellis khususnya menatap dengan ekspresi tidak percaya.
Mata ketiganya melihat Cale seolah-olah berkata, “Apa-apaan
bocah ini?”
Tapi masalahnya adalah—
‘Dia tidak salah.’
Semua yang dikatakan Cale Henituse benar adanya.
Cale menekan kaki ke bawah.
Tek.
“Ugh, uhk...”
Paus yang pingsan mengerang.
Namun Cale tetap melanjutkan dengan tenang,
“Kalau tidak, aku mati di sini.”
“Daebak...”
Heavenly Demon terkesan.
‘Dia benar-benar mengancam secara sempurna.’
“Apa menurutmu aku takut mati?”
Heavenly Demon merasa ada kegilaan di mata Cale.
‘Anak ini sungguhan.’
Dia benar-benar tidak takut mati.
Betul.
Itu terlihat jelas.
‘Memang, bertahan hidup itu penting. Tapi tidak sama
dengan takut mati.’
Heavenly Demon benar-benar terkesima dengan ancaman Cale
yang terdengar tulus.
Saat itu,
Cale tidak melewatkan sosok yang sedang diam-diam mencoba
kabur.
“Komandan Moll.”
“!”
Orang yang coba keluar diam-diam itu tertangkap oleh Cale.
Cale menyeringai padanya.
“Kau tahu kan, aku sudah ambil kekuatan Paus?”
Cale dengan ramah menjelaskan.
“Jadi kalau aku mati, jantungku berhenti berdetak, kau tahu
yang akan terjadi, kan?”
Cale memulai ancaman baru.
“Wabah Abu-abu akan menyebar ke seluruh Dunia Iblis.”
Sama seperti saat Paus mati.
Kalau Cale mati, efeknya akan sama.
“Dan sekarang, tak ada Paus atau Saint yang bisa memurnikan
penyakit itu dalam satu kali usaha, kan?”
“Dan apa Sekte Dewa Kekacauan akan membantu pasukan Raja
Iblis untuk membersihkan itu?”
“….!”
Mulut Komandan Moll terbuka lebar.
‘Apa-apaan ini orang?!’
Sungguh pemikiran seperti itu terlintas sejenak dalam
pikiran Moll.
Namun, Cale sangat puas dengan keadaan ini.
Selama ini mereka yang suka mengancam—apa Cale tidak boleh
melakukannya juga?
“Komandan Moll. Kalau itu terjadi, kepada Raja Iblis, para
iblis akan mati. Banyak sekali. Dan kau pikir kabar itu tidak akan tersebar?”
Cale menunjuk rekan-rekannya.
“Walau aku mati, mereka pasti akan menyebarkan semua bukti
bahwa ini salah Raja Iblis. Clopeh Sekka.. Kamu merekamnya kan?”
Cale memanggil Clopeh.
Dan Clopeh tanpa ragu mengeluarkan alat perekam suara dari
kantongnya.
“Semua suara sudah direkam dari tadi.”
Memang tak bisa merekam video karena sedang bertarung, tapi
suara tetap terekam.
“!”
Komandan Moll kembali berpikir.
‘Orang ini benar-benar gila!
Siapa yang kepikiran merekam suara di tengah
pertempuran?!
Dan kenapa Cale Henituse tahu itu dan menggunakannya
seolah hal yang wajar?
Choi Han dan anak-anak usia rata-rata 10 tahun memandangi
Clopeh dengan wajah lelah, tapi Clopeh sangat bangga bisa membantu Cale.
“Hahaha!”
Heavenly Demon tertawa terbahak.
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di tengah pertarungan
ini, tapi...
...ini sangat menghibur baginya.
Cale tersenyum tenang dan berkata:
“Kalian… harus menjaga aku tetap hidup.”
Itu adalah ucapan yang terdengar seperti perintah penuh keyakinan.
Dan itu memang kenyataan.
Cale memerintahkan Ksatria Suci Agung:
“Karena itu, kau harus mundur dari sini.”
Lalu menjelaskan lebih detail.
“Bawa pergi dia yang bermata tiga dan para Ksatria Suci.
Sekalian, alihkan perhatian musuh juga.”
Tuk, tuk.
Cale menendang tubuh Paus sambil berkata:
“Siapa tahu, dengan begitu, aku bisa tetap jadi tumbal dan
Paus juga bisa selamat.”
“WTF! Ini... benar-benar—”
Ksatria Suci Agung kehabisan kata-kata.
Padahal, sebenarnya dia sudah tahu apa yang harus dikatakan.
Namun, tidak bisa mengucapkannya.
Cale yang tidak ingin berlama-lama, langsung berpaling pada Komandan
Moll.
“Dan Moll, kau segera keluar diam-diam dan hentikan pasukan
Raja Iblis agar tidak menyerang kami.”
Awalnya Cale memanggilnya dengan sopan “Komandan”, tapi kini
seperti memerintah teman sebaya.
Moll tak bisa berkata apa-apa.
“Dengan begitu, Raja Iblis masih punya kesempatan untuk
bicara denganku nanti. Lagipula hanya aku yang bisa menghancurkan benih Wabah Abu-Abu.”
“Whooaa.”
Moll benar-benar kagum.
Cale melambai ringan ke dua orang itu.
“Ayo. Cepat pergi.”
Dan mereka berdua—
“…..”
“…..”
Terdiam di tempat.
Cale mengerutkan dahi karena kelambanan mereka.
“Kenapa?”
Nada suaranya mulai ketus.
“Mau bertarung? Mau coba?!”
Waktunya benar-benar tidak banyak.
Kenapa dua orang ini begitu lamban dan bodoh?
"Kau mau lihat aku mati?"
Komandan Moll memejamkan mata erat lalu membukanya lagi.
Orang ini bukanlah penjahat, tapi juga bukan Saint.
‘Kekacauan.’
Lebih baik Moll anggap Cale adalah kekacauan itu sendiri.
Ya. Orang ini gila seperti kekacauan.
"Hahaha!"
Ksatria Suci Agung akhirnya tertawa dan berkata,
“Kali ini aku akan mengikuti kehendakmu.”
Ia memberi isyarat pada Hitellis dan para Ksatria Suci, lalu
melanjutkan,
“Cale Henituse. Nanti aku akan datang untuk mengambil tubuh
sehatmu itu.”
Atas ucapan itu, Choi Han memandang sang ksatria dengan
tatapan tajam. Tapi si ksatria hanya menoleh sekilas lalu mengabaikannya.
Tatapannya seolah berkata “Kau masih jauh.”
Choi Han menggigit bibir.
Hari ini, dia kalah.
Kesadaran itu terpatri dalam benaknya.
‘Lain kali.’
Lain kali dia akan melampaui pria itu.
Namun Ksatria Suci tak lagi memikirkannya.
“Makanlah dengan baik, tidur nyenyak, dan jaga tubuhmu
dengan pikiran yang sehat.”
Setelah berkata demikian, Ksatria Suci Agung membalikkan
badan tanpa ragu.
‘Orang ini juga gila’, pikir Komandan Moll.
Merespons ancaman Cale dengan santai seperti itu, dia juga
bukan orang biasa.
Saat itu—
"Oh, jangan khawatir soal kesehatanku. Tapi hanya
kalian yang mundur, ya?"
“Hmm?”
Ksatria Suci yang hendak mundur dengan elegan, berhenti dan
menoleh.
Cale tersenyum dan berkata,
“Ketua Tim kami.”
Ia menunjuk Sui Khan.
“Kelompok Ksatria Suci yang membuatnya seperti itu,
tinggalin saja.”
Di tengah kekacauan pun, Cale tidak lupa.
“Kalau kau ajak mereka pergi juga, aku mati.”
“.....”
Ksatria Suci Agung menghela napas lalu kembali melangkah.
Itu berarti ia setuju.
Sambil membelakangi, dia berkata,
“Memang tak mungkin membawa mereka.”
Dia memberi tahu satu fakta pada Cale.
Karena harus menjaga nyawa Cale, dia harus memperingatkan
bahaya musuh.
“Mereka pasti bentrok dengan Kaisar Tiga. Mereka tak akan
selamat.”
“.....”
Ekspresi Cale menjadi rumit.
Cale yang menyamar seperti Kaisar Pertama dan kelompok
Ksatria Suci yang pergi mencari Sui Khan—
Mereka kemungkinan besar tertangkap di antara pasukan Raja
Iblis dan para Wanderer, dan berakhir buruk.
Ksatria Suci Agung yakin akan hal itu.
[ Cale, pasti Kaisar Tiga sangat kuat. ]
kata Super Rock.
Cale tidak menanggapi dan hanya menatap Komandan Mol.
"Ehhem."
Komandan Moll berdeham dan mulai melangkah pergi.
“Silakan ikut aku.”
Clopeh perlahan mendekat ke sisi Komandan Moll.
Lalu Clopeh menatap Cale seolah mengatakan, “Aku keren,
kan?”
Namun Cale mengerutkan kening.
"Ngapain?"
Clopeh, yang terkejut, langsung berhenti.
“Eh?”
Cale memberi isyarat agar Clopeh mendekat.
Kuunggg---
Tepat saat itu, naga menyentuh tembok benteng untuk pertama
kalinya.
Hanya menyentuh.
Namun benteng langsung terguncang hebat.
Krek.
Temboknya mulai retak.
Meski begitu, Cale tetap menyelesaikan satu per satu yang
perlu dilakukan.
"Baiklah, aku yang pergi?"
“Iya.”
Heavenly Demon menggantikan posisi Clopeh.
Clopeh tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya dan menatap Heavenly
Demon.
Namun Heavenly Demon menepuk bahunya dan berkata,
“Tak mungkin aku menyusahkan orang yang sedang terluka.”
“!”
Mata Clope bergetar.
Clopeh menatap Cale dengan wajah terkejut, dan Cale berkata
dengan datar,
"Istirahat saja."
“Ah...”
Ekspresi Clope dipenuhi rasa haru, tapi Cale tak peduli.
Dia bahkan tidak melihat ke arahnya.
"Cale-nim."
"Aku tahu."
Choi Han yang mendekat hendak mengatakan sesuatu, tapi Cale
sudah tahu maksudnya.
"Ikat orang ini."
Cale menyerahkan Paus kepada Choi Han, lalu membuka jendela.
-Aku akan mengawasi Komandan Moll dan Ksatria Suci Agung,
kata Heavenly Demon melalui transmisi suara.
Whoosh!
Cale melompat keluar jendela.
Tap.
Kakinya menyentuh halaman belakang.
"Tuan Cale Henituse...!"
Count Simon, pemilik Kastil Moraka, bersama Kepala Pelayan
tua muncul di hadapan Cale.
Tap-tap.
Cale menepuk pundak Simon saat melewati mereka.
"Kami akan beri waktu. Kumpulkan sebanyak mungkin
pelayan."
Lalu dia menambahkan,
"Karena kita akan langsung melakukan teleportasi
massal."
Count Simon tertegun saat melihat tangan Cale yang menepuk
bahunya berubah abu-abu—tanda telah ter-Kontaminasi Kekacauan.
Dan setelah Cale lewat, seekor naga kecil muncul di
depannya.
"Count Simon! Bergerak cepat!"
Wuuu—Wuuu—
Mana berwarna hitam pekat, berbeda dari mana dunia iblis,
mulai berkumpul di sekitar Raon.
Di halaman belakang yang luas itu, mana untuk teleportasi
mulai terkumpul.
"Ah!"
Wajah Simon tampak cerah, namun segera suram kembali.
KRRRRRAK!
Guncangan kali ini berbeda dari sebelumnya.
"Ah..."
Sebagian tembok benteng mulai runtuh.
Tak lama lagi naga biru akan menerobos masuk ke bagian utama
dan sayap kastil.
"Manusia!"
Cale mengangkat tangan asal-asalan sebagai respons pada
panggilan Raon.
Sekarang, satu-satunya yang bisa menggunakan sihir di
kelompok mereka adalah Raon.
"Fokus saja ke teleportasi."
Cale menghentakkan kakinya dan berkata,
"Aku akan menahan mereka sebisaku."
Ya.
Baik pasukan Raja Iblis maupun Sekte Dewa Kekacauan tidak
bisa menyerang Cale sekarang.
Kaisar Tiga memang kuat, tapi mungkin Cale bisa menahan
sebentar.
Whoosh!
Dengan angin di sekelilingnya, tubuh Cale melesat.
Choi Han mengikuti di belakangnya.
On, Hong, dan Sui Khan tetap di belakang bersama Choi
Jungsoo, sesuai isyarat Cale agar mereka tidak ikut.
"Sudah lama kita bertarung berdua seperti ini."
“Ya, Cale-nim.”
Cale menangkap tekad di wajah polos Choi Han dan tersenyum
tipis.
Tap.
Dia mendarat di atas tembok.
Sedikit jauh dari bagian tembok yang mulai runtuh.
“.....”
“.....”
Cale menatap langsung ke mata Kaisar Tiga.
[ ...Cale, ]
kata Super Rock.
[ Banyak Wanderer lain juga di sana. ]
Benar.
Selain Cho dan Ryeon, ada Wanderer lain di samping Kaisar
Tiga.
[ Kita kalah jumlah. ]
Super Rock berbicara dengan nada yang sulit.
[ Dan Kaisar Tiga itu... kelihatan sangat kuat. Naga biru itu juga kayaknya nggak bisa ditahan
lama. ]
Sekilas saja, naga biru itu terlihat sangat kuat.
Dan Cale ingat jelas si Wanderer es dan magma.
Bahkan Choi Han akan kesulitan menghadapi keduanya
sekaligus.
Swoosh---
Meski tak ada air, suara ombak terdengar.
Di samping naga biru—terlihat sosok-sosok yang sebelumnya
tertutupi tembok.
Ular-ular air.
Bawahan Kaisar Tiga.
Masing-masing panjangnya minimal lima meter dan menatap Cale
dengan kepala terangkat.
[ Hmm... ]
Super Rock mengerang.
[ Ini gawat. ]
‘Yah...’
Cale terdiam karena terlalu kaget.
Saat itu, Kaisar Tiga tersenyum dan berkata:
"Kau takut?"
Dan seolah menjawab panggilan tuannya, naga biru membuka
mulutnya.
Krrraaawwr---!!
Suara auman buas menggelegar.
Kaisar Tiga memakai pakaian ala dewa gunung, rambut
panjangnya diikat rapi, dan janggut panjang membuatnya tampak seperti tetua
sekte bela diri.
Dan di sampingnya berdiri naga biru yang menatap Cale.
[ Itu... naganya... kelihatan gila kuatnya... ]
Kata suara Dominating Aura.
Saat itu—
-Manusia!
Raon memanggil lagi.
Tidak bisa.
Kalau Raon ikut bertarung, mungkin lebih mudah bertahan...
...tapi tidak ada lagi yang bisa melakukan teleportasi.
Itu tidak boleh.
Cale menggeleng pelan.
Itu sinyal bagi Raon agar fokus pada tugas awal.
Namun—
-Manusia!
Raon tetap melanjutkan.
-Aku berhasil menghubungi Kakek Goldie! Dia dengar kabar dan
langsung datang!
‘Eh?’
Cale terkejut.
Di Dunia Iblis ini, mana abu-abu berbeda dari mana biasa.
Tapi karena atribut ‘Present’-nya, Raon masih bisa
menggunakan sihir.
Pengguna sihir dari dunia lain pasti akan kesulitan
menyesuaikan diri dengan mana Dunia Iblis.
Entah butuh waktu adaptasi, atau tak bisa pakai sihir sama
sekali.
Tapi...
Cale menatap naga biru yang begitu besar.
Sekali saja dia menabrak, tembok akan runtuh.
Tapi—dia pernah melihat naga yang lebih besar dari itu.
Naga itu sungguh besar.
Dan benar-benar kuat.
Usianya pun paling tua.
Dan—dia sudah awet muda lagi.
Flash!
Terdengar suara sihir di belakangnya.
-Manusia! Guild Arbirator Aurora bilang akan teleportasi ke
koordinat ini!
Raon tidak menyebut siapa yang datang.
Tapi Cale sudah tahu.
“Heh.”
Senyum miring muncul di bibir Cale.
Senyuman itu tertangkap oleh Kaisar Tiga.
Dengan posisi santai, Cale berkata:
“Takut apanya, kampret!”
‘Memang cuma kamu yang punya naga?
Aku juga punya teman naga!
Malah lebih kuat kalau bertarung dengan wujud aslinya!’
Dari belakang, suara-suara yang sangat familiar terdengar.
“Tuan Muda, kau sudah terkontaminasi abu-abu ya.”
“Kacau sekali tempat ini.”
Suara Ron yang dingin dan suara netral Beacrox.
Dan satu sosok lain telah mendarat di samping Cale dan Choi
Han.
Seseorang yang menatap naga biru dengan sorot penuh
kesombongan.
Begitu melihat naga itu, dia langsung berkata:
“Apa ini? Cuma tiruan naga, bukan naga sungguhan.”
Naga Kuno Eruhaben.
Dengan tatapan sangat sinis, kini dia menatap Kaisar Tiga.
“Apa liat-liat? Kau yang bikin anak-anakku kayak gini?”
‘Ah...’
Bagus.
Cale merasa hatinya tenang.
.
.

Berasa di bela emak ya cale
BalasHapus"anak-anakku" ceunah
BalasHapusoverall status : hectic bgt yah jadi cale
BalasHapuskacau memang๐๐ป๐๐ป
BalasHapusOhmygodddd, lucu bangettt anjengggg. That's "anak anakuuuu" jiakhhhhhhhhhh. Ortu bucinnnnnn. Goldieeeee we're loveeeee youuuu ๐ญ๐ญ๐ญ
BalasHapusAwwww mereka kembaliii kekekekeek
BalasHapusKereeenn sihhh
BalasHapus