Trash of the Count Family Book II 576 : Campur Aduk


Menjadi karakter dalam sebuah mimpi buruk.

Dewa Kematian telah memperingatkan berulang kali.

“Tergantung pada intensitas mimpi buruknya, kau mungkin tidak bisa mengenali kenyataan. Jangan sampai terseret ke dalam mimpi buruk dan menjadi karakternya.”

Choi Han tidak sepenuhnya memahami arti dari kata-kata itu.

Cale, sang pemilik mimpi, juga tidak tahu pasti.

Bagaimana mungkin orang lain bisa menjadi karakter di dalam mimpi buruk Cale?

“...”

Namun saat ini, Choi Han tidak bisa merasakan apa-apa.

“...”

Jajaran batu nisan yang tak terhitung jumlahnya mulai terlihat.

White Star.

Begitu banyak rekan dan hubungan yang dia temui saat bertarung melawan bajingan mengerikan itu kini terbaring di hadapannya.

Wilayah Henituse, tempat pertempuran pertama terjadi.

Meskipun mereka nyaris berhasil merebut kembali tanah itu dari Clopeh Sekka dari Aliansi Utara... baik Wilayah Henituse maupun Forest of Darkness, semuanya telah lenyap.

Yang tersisa hanyalah tanah gersang yang dipenuhi batuan tandus.

Di atas tanah itulah ribuan batu nisan didirikan.

Karena ada banyak batu, mereka membuat nisan dari batu-batu tersebut.

Orang-orang yang Choi Han kenal, atau mereka yang tidak dikenalnya namun merupakan sekutu... semuanya telah menuju ke jalan peristirahatan abadi di tempat ini.

“...”

Yang tersisa, ya, tidak ada yang tersisa.

White Star.

Setelah akhirnya berhasil menghabisi bajingan itu, satu-satunya yang tersisa hanyalah kenyataan bahwa White Star pun tak lebih dari sekadar bidak catur, serta petunjuk bahwa ada musuh lain yang menanti.

Begitu melihat petunjuk itu, Choi Han merasakan kebencian yang mendalam terhadap dunia ini.

‘Mengapa kau membawaku ke tempat seperti ini?’

Desa tempat ia merasakan kedamaian setelah keluar dari Forest of Darkness hancur lebur dengan kejam oleh 'Arm'.

Setelah itu, ia bertarung bersama rekan-rekannya melawan Arm dan White Star, berharap kedamaian akan datang di akhir pertempuran ini.

Namun, mengapa kedamaian tidak kunjung datang meskipun perang telah usai?

‘Kenapa kau membawaku ke tempat yang begitu mengerikan ini?

Mengapa aku harus kehilangan segalanya setiap saat, tidak pernah bisa menemukan ketenangan jiwa, dan mengapa aku, sampai akhir, benar-benar sampai akhir, tidak bisa bahagi—'

“Bangun dari mimpimu.”

Choi Han mengangkat kepalanya. Seorang pria berambut merah sedang menatapnya dan berbicara kepadanya.

'Siapa dia?'

Namun, ia segera kehilangan minat.

Siapa pun orang itu, itu bukan urusannya.

Dia juga tidak ingin tahu siapa pria itu.

Dia tidak ingin mengenal siapa pun lagi, tidak ingin menjadi lebih dekat dengan siapa pun.

Karena dia akan kehilangan mereka lagi.

Cukup.

Dia benar-benar ingin menyudahinya.

Dia lelah.

Namun, Choi Han harus bertahan.

Orang-orang yang membuatnya seperti ini—tidak, dirinya tidak masalah.

Orang-orang yang telah membuat rekan-rekannya, orang-orangnya menjadi seperti ini... dia pasti akan menghancurkan dunia ini.

Dunia memanggilnya seorang pahlawan.

'Mungkin orang itu juga salah satu dari mereka yang ingin sok kenal denganku.'

Tapi apa gunanya menjadi pahlawan setelah kehilangan segalanya?

Mereka yang mati tidak bisa bicara, dan di antara mereka yang selamat, tidak ada yang bahagia.

Lock.

Anak itu kehilangan seluruh keluarganya dan bertahan hidup sendirian.

Dia berhasil membalas dendam, tetapi sekarang dia tidak memiliki keluarga lagi.

Mengapa?

Karena terus kehilangan rekan yang sudah seperti keluarga sendiri, kata 'keluarga' menjadi sesuatu yang teramat krusial baginya.

Dia kini hanya mengejar kekuatan yang kejam dan ganas yang ditujukan semata-mata pada musuh.

Rosalyn.

Dia menjadi terkenal karena sihirnya, tetapi sihir itu hanya menyisakan darah di kedua tangannya.

Karena dia cerdas, dia tahu bahwa kedamaian setelah lenyapnya White Star ini hanyalah sementara, dan dia merasa tercekik karena tahu ada pertempuran lain yang menanti.

Lock, Rosalyn, dan dirinya sendiri.

Dunia memuji mereka sebagai pahlawan, tapi...

'Lalu kenapa?'

Tidak ada apa-apa yang tersisa.

Nama sebagai pahlawan—sama sekali tidak berharga.

‘Bagiku, itu hanya...’

Ya, hanya...

“Hei. Choi Han.”

Ah. Siapa pria berambut merah ini?

Ya, kalau diperhatikan lagi, wajahnya terasa familier.

Di mana aku pernah melihatnya?

Karena telah melewati pertempuran yang tak terhitung jumlahnya, ingatannya tentang pria di depannya ini terasa begitu jauh.

Siapa dia?

Siapa dia sampai terus-menerus mengajaknya bicara seperti ini?

‘Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya... hanya...

Rasanya aku akan mati tercekik oleh beban yang diberikan oleh dunia yang bahkan tidak bisa kubuang ini.

Sederhana saja, aku hanya ingin kehidupan yang bersahaja—'

“Hei. Choi Han.”

Ah. Pria ini lagi—

“Kau harus membayar harga makananmu.”

Pria ini—

Bukan, orang ini—

“Aku akan meninggalkanmu sendirian?”

Pupil matanya yang kering dan dipenuhi kebencian bergerak perlahan.

Tatapan Choi Han tidak lagi tertuju pada rambut merah itu, melainkan ke bawahnya. Menuju sepasang mata Cale.

Sepasang mata jernih yang sedang menatapnya.

“...Harga makanan.”

“Benar, Choi Han, kau harus membayar harga makananmu.”

Ah. Tidak, bagaimana bisa... orang ini.

“Bangunlah dari mimpi.”

‘Bagaimana bisa aku melupakan orang ini?’

Baru saat itulah sosok Cale terpantul sepenuhnya di mata Choi Han.

Menjadi karakter dalam sebuah mimpi buruk.

Maknanya adalah memikul beban hidup dari karakter tersebut.

“Ugh...!”

Sesaat, Choi Han tanpa sadar menutup mulutnya. Rasa mual yang hebat melonjak naik.

“Haa... haa...”

Keringat dingin bercucuran di dahinya dalam sekejap.

Mengerikan.

Ini benar-benar mimpi buruk yang mengerikan.

Kehidupan Choi Han di dalam mimpi buruk Cale adalah kehidupan yang benar-benar tidak ingin dia alami lagi.

Rumah.

Keluarga.

Sebuah kehidupan di mana segalanya direnggut darinya.

Pahlawan?

Kemenangan?

Hal-hal seperti itu sama sekali tidak penting bagi Choi Han.

Dia tidak menginginkan kehidupan di mana dia dipuji dan diperlakukan dengan istimewa oleh orang-orang.

Kehidupan yang dia inginkan adalah—

“Kau baik-baik saja?”

“...Ya.”

Kehidupan yang sekarang ini.

Kenyataan tempat ia hidup saat ini.

Kehidupan yang memiliki keluarga dan rumah.

Dia tidak akan pernah melepaskannya.

Dug. Dug.

Detak jantung Choi Han mulai mereda.

Meski hanya sesaat, dia telah mengalami sepenuhnya kehidupan Choi Han di dalam mimpi buruk itu.

Jika, bagaimana jika—

'Bagaimana jika aku kehilangannya?'

Para Hunter dari keluarga Five Colored Blood.

Kaisar Dua, kandidat Dewa Absolut, dan bahkan Kaisar Satu.

Serta Dunia Para Dewa.

Bisakah dia melindungi kehidupan ini di tengah semua pertempuran itu?

Jika dia tidak bisa melindunginya, maka dia—

Dug. Dug.

Detak jantungnya sama sekali tidak mau tenang.

Meski hanya sesaat, emosi dari kehidupan mengerikan yang dialaminya telah tertanam dalam-dalam di lubuk hatinya.

‘Jangan sampai.'

Kedua tangannya mengepal erat dengan sendirinya.

'Sama sekali jangan sampai hilang.'

Keluarga ini, rumah ini, dan kedamaian ini tidak boleh terlepas saat ini.

Karena itu—

'Aku harus menjadi lebih kuat.'

Choi Han menggigit bibirnya sambil merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang dan menolak untuk tenang.

“Choi Han, kau benar-benar baik-baik saja?”

“Ya.”

‘Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa.’

“Aku baik-baik saja.”

Harus begitu.

‘Dan aku harus menjadi lebih kuat untuk melindungi kedamaian ini apa pun yang terjadi.

Harta karunku yang berharga. Aku tidak akan pernah melepaskannya.’

“Begitukah?”

Melihat Choi Han menjawab dengan tegas, Cale menepuk-nepuk pundaknya lalu melangkah pergi.

Karena itu, dia melewatkannya.

“Pasti—”

Choi Han bergumam lirih, matanya tidak bisa beralih dari ribuan batu nisan yang ada di hadapannya.

Kedua tangannya yang mengepal erat sampai memutih.

Mimpi buruk ini.

Sama sekali tidak boleh menjadi kenyataan.

Mimpi buruk ini, apa pun yang terjadi, tidak akan kubiarkan terwujud di dunia nyata.

Choi Han terus mengulanginya di dalam kepala, hampir seperti sebuah obsesi.

“Hmm.”

Cale, yang tidak menyadari kondisi Choi Han, melihat sekeliling dan menilai situasi.

“Eruhaben-nim, sejak awal kamu baik-baik saja, ya?”

Naga Kuno Eruhaben melihat sekeliling dengan ekspresi aneh sebelum mengangguk mendengar ucapan Cale.

“Benar. Sepertinya aku bukan karakter dalam mimpi buruk ini.”

Cale tidak memiliki jawaban khusus untuk kata-kata itu.

Naga Kuno Eruhaben.

Sosok seperti apa dia awalnya di dalam novel?

Cale tidak tahu.

Karena dalam bagian yang dia baca, tidak ada aksi dari Eruhaben.

“Hmm. Namun—”

Eruhaben hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia segera menutup mulutnya kembali.

Karena dia muncul di dalam mimpi buruk ini, Eruhaben juga melihat sebuah ingatan.

Itu memang ingatannya sebagai Naga Kuno.

Namun, tidak ada Raon.

Tidak ada On, tidak ada Hong, dan tidak ada Cale.

Ya, terasa sangat hampa.

Dalam ingatan ini, kehidupan Naga Kuno Eruhaben dipenuhi dengan banyak kekosongan, dan juga terasa sia-sia.

Itu hanyalah kehidupan sebatang naga kuno yang tinggal menunggu kematiannya.

Emosi dari karakter Eruhaben terasa sangat mati rasa.

'Tentu saja, itu ingatan yang renggang.'

Seolah-olah dia bukan karakter utama dari mimpi buruk ini, Eruhaben bisa segera sadar dengan sendirinya berkat ingatan yang renggang tersebut.

Cale tidak perlu membantunya menyadari kenyataan.

“Aku juga baik-baik saja.”

Menyusul kemudian, Mary juga menyadari kenyataan dengan sendirinya dan berbicara dengan tenang.

“...Ini adalah mimpi buruk.”

Mary hanya berbicara sampai di situ lalu menutup mulutnya.

“Benar, kan?”

Cale merasa lega melihatnya, meski dia menunjukkan senyuman yang agak samar.

“...”

Mary menatap sosok Cale dengan lekat, lalu menepuk pelan pundak Cale yang hendak berbalik menuju rekan lainnya.

“Hmm?”

Saat Cale berbalik, Mary berkata dengan datar,

“Ini adalah mimpi buruk.”

“Benar, kan?”

Tepat ketika Cale merasa heran mengapa Mary mengulangi kata-kata yang sama, gadis itu melanjutkan dengan tenang,

“Artinya ini hanyalah mimpi. Ini bukan kenyataan.”

Ah.

Cale menghela napas pendek sebelum akhirnya menyunggingkan senyum.

“Benar. Ini bukan kenyataan.”

Dia menyazarinya sekali lagi, barangkali orang dengan kekuatan mental terkuat di antara kelompok Cale adalah Mary.

Seseorang yang bertahan hidup di Gurun Tanah Kematian dan berjalan di jalur Necromancer atas kehendaknya sendiri.

Namun, dia yang tetap mengetahui keindahan langit malam dan kebahagiaan dunia adalah sosok yang benar-benar luar biasa.

'Mungkin karena mengetahui hal itu, Mary sangat dibutuhkan saat menghadapi Kaisar Dua.'

Bahkan jika mengesampingkan fakta bahwa Mary adalah seorang Necromancer, dalam pertempuran melawan Kaisar Dua yang mengincar jiwa manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam keputusasaan, kekuatan yang dimiliki oleh Mary sebagai seorang manusia mungkin adalah sesuatu yang istimewa. Kekuatan mentalnya yang mengakar kuat dan kokoh pasti tidak akan goyah oleh Kaisar Dua.

'Di sisi lain, Choi Han... sejujurnya aku agak khawatir.'

“Kau baik-baik saja?”

Mendirgarkan pertanyaan Cale, Beacrox yang sedang terduduk di tanah dengan kepala tertunduk mulai mengangkat wajahnya.

“Ya.”

Beacrox menjawab dengan datar, meski tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.

“Kau ikut tersadar setelah mendengar aku menyuruh Choi Han bangun dari mimpinya?”

“Ya.”

Kata kunci pertama untuk Choi Han adalah 'Bangun dari mimpimu'.

Jika dia masih belum sadar setelah mendengarnya, barulah Cale akan mengungkit tentang 'harga makanan'.

Beacrox sempat berkata bahwa menyamakan semua kata kunci menjadi 'Bangun dari mimpimu' saja sudah cukup karena repot jika berbeda-beda.

Sebagai informasi, kata kunci untuk Naga Kuno Eruhaben-nim adalah

“Karena saya sudah kembali muda, debu-debu ini rasanya agak konyol.”

“Kau bilang dia pasti tidak akan gagal terbangun jika mendengar kalimat itu, kan?”

Hanya saja, jika bisa, Cale tidak ingin menggunakan kalimat itu.

Karena rasanya itu adalah kalimat berbahaya yang bisa membuatnya babak belur dihajar jika salah mengucapkannya.

Cale menapan Beacrox dengan lekat sebelum akhirnya mengangguk.

“Kau baik-baik saja.”

Dengan wajah cuek seolah-olah Cale baru saja menanyakan hal yang sudah jelas, Beacrox mengganti sarung tangan putihnya dengan yang baru.

Melihat hal itu, Cale berbalik menuju tujuan terakhirnya, Dewa Kematian, sementara Beacrox yang ditinggalkan melirik ke arah Cale sambil menahan napas dalam-dalam.

'Sialan.'

Ini benar-benar mimpi buruk yang mengerikan.

Wilayah Henituse telah lenyap.

Selain itu, Cale di dalam ingatan tersebut hanyalah seorang tuan muda bajingan yang hidupnya dangkal lalu mati begitu saja.

Sosok itu bukanlah Cale yang sekarang, bukan pula Tuan Muda yang dikenalnya, melainkan murni seorang bajingan seperti yang digambarkan di atas kertas.

'Ini juga cuma mimpi buruk yang omong kosong.'

Mimpi yang sama sekali tidak mungkin menjadi kenyataan. Beacrox tidak bisa menghilangkan perasaan muak yang mengganjal di hatinya.

'Ngomong-ngomong—'

Beacrox merasakan emosi yang aneh saat menatap punggung tegap Cale.

'Jadi ini mimpi buruknya?'

Beacrox segera menyadari esensi dari mimpi buruk ini.

Ini bukan sekadar tentang masa depan tragis yang berbeda dari kenyataan saat ini.

'Keberadaan Cale.'

Sebuah dunia di mana Cale yang merasuki tubuh ini tidak ada.

Dan tidak ada seorang pun yang mengingat Cale yang seperti itu, ditambah lagi dengan dunia yang telah hancur lebur.

“...Sial.”

Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat.

Bagaimana tidak?

Akhir dari mimpi buruk ini bukan sekadar dunia tanpa dirinya.

Melainkan dirinya tidak ada, dan dunia pun ikut hancur.

Itulah mimpi buruk pria ini.

'Ha!'

Benar-benar mencengangkan. Pria ini saat ini pastilah—

'Jika itu adalah dunia yang bahagia meskipun tanpa dirinya, dia tidak akan menganggapnya sebagai mimpi buruk.'

Beacrox bisa merasakan kenyataan itu dengan sangat jelas.

Mimpi buruk ini benar-benar menunjukkan esensi dari manusia bernama Cale Henituse dengan sangat baik.

Sisi aslinya, dan bahkan keinginannya.

Keinginan untuk bersama dengan dunia ini, serta keinginan agar dunia ini bahagia.

'Menyebalkan.'

Sebenarnya berapa banyak beban yang ingin dia pikul seorang diri dalam hidupnya?

Dia benar-benar manusia yang konyol dan luar biasa.

“Huu.”

Dia mengembuskan napas.

Perasaannya sedikit lebih tenang.

Beacrox berusaha keras menahan sudut bibirnya yang anehnya terus ingin terangkat naik.

'Sialan!'

Kata-kata kasar rasanya ingin meluncur, tetapi anehnya suasana hatinya justru membaik.

Cale Henituse.

Mengetahui seberapa besar pria ini menyayangi dunia ini, menyayangi Wilayah Henituse... Serta seberapa besar keinginan dirinya sendiri untuk hidup bersama orang-orang di sekitarnya di dunia ini.

Karena dia bisa merasakan hal itu, Beacrox merasa... sampai ke tingkat yang menyebalkan—

'Membuatku lega.'

Hatinya menjadi tenang.

Sungguh menyebalkan dan sialan, tetapi setelah berhadapan dengan mimpi buruk ini dan mengetahui isi hati Cale Henituse yang sebenarnya, perasaannya menjadi tenang.

Karena itu sama.

‘Karena dia sama denganku.

Benar-benar menyebalkan—'

Namun, ada satu hal lagi yang mengganggu pandangannya.

'Ada apa dengan bajingan itu?'

Choi Han.

Kondisi bajingan itu terlihat tidak beres.

'Mimpi buruk di dalam mimpi buruk.'

Bukankah dia sedang tenggelam ke dalamnya?

Beacrox menghela napas, bangkit berdiri dari tempatnya, lalu berjalan mendekati Choi Han.

Hal yang harus diperhatikan bukan hanya satu atau dua saja.

Dan hal itu berlaku sama bagi Cale.

“Hei. Kenapa kau tersenyum?”

Mendengar kata-kata yang dilontarkan Cale, Dewa Kematian memasang ekspresi tidak terima.

“Tidak, aku hanya tersenyum karena merasa tersentuh, apa itu juga tidak boleh?”

Dia benar-benar terlihat tidak terima.

“Melihatmu membangunkan Choi Han dan anak-anak lainnya, itu terlihat sangat menyentuh di mataku~”

“Bohong.”

Cale jelas-jelas sudah memeriksa sekeliling sebelum mendekati Choi Han.

“Kau sudah tersenyum sejak awal.”

Sejak awal, Dewa Kematian memang terus tersenyum kecil.

Rambutnya yang berwarna abu-abu keperakan berkibar tertiup angin, dan Dewa Kematian dengan santai menyisir rambut itu dengan tangannya sambil bergumam.

“Kelihatan, ya?”

“Ya.”

Mendengar jawaban datar Cale, Dewa Kematian mengedikkan bahunya.

Dia melihat sekeliling Wilayah Henituse yang telah hancur lebur dan menyerupai kuburan raksasa setelah kehilangan fungsinya sebagai sebuah wilayah kekuasaan, lalu mulai berbicara.

“Manusia pada akhirnya akan menunjukkan esensi mereka di hadapan kematian.”

Sepasang matanya yang kelam menatap Cale, melewati Beacrox, hingga akhirnya tertuju pada Choi Han.

Saat senyuman samar terlintas di sudut bibirnya, suara cuek Cale terdengar.

“Jika kau ingin menyampaikan wahyu, lakukan di depan para pengikutmu, dan carilah cara untuk pergi ke alam bawah sadar.”

Mendengar kata-kata kejam Cale, Dewa Kematian merengek pelan.

“Huuung.”

“Hah. Jangan membuatku kesal.”

“...Iya...”

Meskipun Dewa Kematian berdiri dalam wujud aslinya, Cale sama sekali tidak berkedip.

'Dia sudah menjadi lebih kuat.'

Bajingan ini benar-benar telah berkembang.

Sementara Eruhaben dan yang lainnya secara naluriah tidak berani mendekat, Cale tidak terlihat tidak nyaman sedikit pun.

“Mimpi buruk itu gigih.”

Ini berbeda dari ranah mimpi pertama.

Berbeda dengan mimpi biasa yang akan hancur dan berlanjut ke mimpi berikutnya begitu melenceng sedikit dari jalurnya, mimpi buruk akan mempertahankan jalurnya meskipun ada perubahan besar, dan terus-menerus berusaha menenggelamkan targetnya ke dalam rawa.

Mimpi buruk itu seperti jebakan yang datang tanpa henti.

“Namun, jelas ada celah di dalam mimpi buruk.”

“Apakah kali ini kita juga harus mencari celah dan pergi ke ranah bawah sadar?”

“Benar. Dan dari ranah mimpi buruk inilah yang bisa disebut sebagai dunia mimpi yang sebenarnya.”

Seringai.

Dewa Kematian tersenyum dan menambahkan.

“Karena mulai dari sini, ada bajingan-bajingan yang melintas masuk dan keluar.”

Saat kita bermimpi buruk, terkadang kita menghadapi segala macam keberadaan aneh yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Apakah itu benar-benar ciptaan imajinasi kita?

Ataukah itu suatu keberadaan yang melintas masuk ke dalam mimpi kita?

“Mulai dari sini, semuanya saling terhubung.”

Karena itu, target awal mereka.

“Mulai sekarang, kita akan mencari Kaisar Dua.”

Kaisar Dua.

Jalan menuju ranah bawah sadar tempat dia berada akan dicari mulai dari sini.

“Karena dunia mimpi saling terhubung, pasti ada jalan yang bisa mencapainya entah bagaimana caranya.”

Dewa Kematian memperingatkan.

“Namun, ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik.”

Dia menatap rekan-rekannya satu per satu lalu berkata.

“Jangan sampai tersesat karena jatuh ke dalam mimpi-mimpi tak terhitung yang saling terhubung ini. Jika kau tersesat, kau tidak akan bisa ditemukan kembali.”

Dan yang terpenting.

“Terutama di alam bawah sadar, jangan pernah masuk sendirian. Tempat itu tidak memiliki jalan, tidak memiliki pemisah apa pun, dan murni merupakan ranah kekacauan.”

Plak.

Dewa Kematian meletakkan tangannya di atas pundak Cale dan berkata.

“Oleh karena itu, tetaplah berada di sisi Cale Henituse, sang titik awal mimpi. Karena sebuah jalan tidak akan ada jika tidak memiliki permulaan.”

Dia mendorong Cale sedikit ke depan.

“Mari kita selidiki mimpi buruk ini terlebih dahulu. Tentu saja dengan menjadikan tempat ini sebagai titik awal.”

Dunia di mana Cale Henituse yang dirasuki oleh Kim Rok Soo tidak ada.

Menjadikan tempat ini sebagai titik awal, Cale memutuskan untuk mulai mencari jalan menuju Kaisar Dua dengan sungguh-sungguh.

“Tuan Muda.”

Beacrox yang entah sejak kapan sudah mendekat berkata dengan datar.

“Ada sebuah penginapan di sebelah sana.”

Wilayah Henituse yang telah hancur.

Di tempat yang seharusnya menjadi Kastil Penguasa Wilayah di tengah ribuan makam ini, hanya ada sebuah penginapan kecil yang berdiri.

Itu adalah tempat peristirahatan kecil bagi mereka yang datang untuk memberikan penghormatan kepada orang-orang yang telah tiada.

“Ayo pergi.”

Cale melangkah ke sana untuk menyiapkan tempat tinggal yang akan menjadi titik awalnya.

Dan,

“!”

Matanya tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sedang duduk sebagai pemilik penginapan.

Cale tanpa sadar berteriak.

“Pencuri...!”

Jour Thames.

Ibu Cale.

Keluarganya, Keluarga Baron Thames, adalah keluarga yang telah melakukan penelitian tentang waktu dan kehidupan.

Cale telah menyerap setengah dari kekuatan 'Lingkar Tahun Kehidupan' milik Jour Thames.

Dan orang dari keluarga itu.

Hilsman palsu yang pernah menyamar sebagai Wakil Kapten Ksatria dari Keluarga Duchy Henituse, sekaligus orang dari Keluarga Thames, keluarga pihak ibu Cale.

Manusia yang sedang duduk di kursi pemilik penginapan dengan rambut merah dan wajah yang persis seperti Wakil Kapten Hilsman!

Manusia yang telah merampok brankas Cale...!

“...Uangku...!”

Tepat saat Cale berteriak seperti itu.

Tap!

Choi Han langsung melesat maju dari tempatnya.

“Sialan! Padahal aku sudah bersembunyi dengan baik!”

Hilsman palsu, kakak laki-laki dari Jour, ibu kandung Cale, mulai melarikan diri dengan tergesa-gesa.

Hilsman palsu yang sempat mengobarkan kebenciannya terhadap para Hunter dengan menyebutkan tentang pembantaian para Hunter.

Cale akhirnya bertemu dengannya tepat di saat ia sedang mencoba untuk menangkap Kaisar Dua.

 .

.

Support aku selalu disini : Saweria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Trash of the Count Family Book II 581 : Jangan Tersesat

Trash of the Count Family Book II 579 : Jangan Tersesat

Trash of the Count Family Book II 584 : Jangan Tersesat

Trash of the Count Family Book II 580 : Jangan Tersesat