Trash of the Count Family Book II 574 : Campur Aduk
Mimpi adalah sebuah dunia di mana segala hal—masa lalu, masa depan,
imajinasi, dan sisi batin—bercampur aduk menjadi satu.
Itulah yang dikatakan oleh Dewa Kematian.
Tes. Tes.
Sial.
Cale bangkit berdiri sambil mencengkeram pinggangnya.
“Huu.”
Dia mengembuskan napas pendek.
Sakit.
Rasa sakitnya terasa sangat nyata.
Dia memejamkan mata.
Dia mengingat kata-kata Dewa Kematian.
“Cale, kau harus menyadari terlebih dahulu bahwa dunia ini bukan
kenyataan melainkan mimpi.”
Mulai saat itu, ‘rekan-rekan’ yang lain juga bisa menyadari bahwa mereka
berada di dalam mimpi.
“Begitu menyadarinya, mereka semua akan mencarimu.”
Katanya itu adalah hal yang pasti terjadi.
Karena Cale adalah pemilik mimpi ini.
Bagaimanapun juga, selama Cale bergerak di dalam mimpi, dia pasti akan
bertemu dengan rekan-rekannya.
‘Kasus Nomor 871.’
Cale dengan cepat memahami situasi saat ini.
Dia memanggil rekaman ingatan di kepalanya.
‘Sebelum Ketua Tim Lee Soo Hyuk tiba.’
Saat ini, ‘aku, Kim Rok Soo’ sedang bersembunyi di sebuah gedung
komersial di pinggiran Gyeonggi-do, di area yang pemulihannya belum selesai.
‘Gedung yang hancur akibat serangan monster.’
Gedung berlantai lima.
Cale sedang menyembunyikan diri di sudut terdalam di lantai tiga.
‘Aku menemukan bajingan-bajingan ini saat dalam perjalanan kembali
setelah mengantarkan dokumen ke lokasi pemulihan di pinggiran Gyeonggi-do.’
Pada saat itu, organisasi kriminal pengguna kemampuan bernama ‘Taeho’
sedang membuat masalah dengan melakukan segala macam penjarahan dan kejahatan
di wilayah Gyeonggi-do. Cale secara tidak sengaja melihat mereka menculik
orang-orang, dan setelah melapor kepada Ketua Tim Lee Soo Hyuk, dia ketahuan
saat mencoba membuntuti mereka. Lalu dia melarikan diri.
Dia baru saja berhasil bersembunyi di gedung ini dan sedang menunggu
bantuan dari perusahaan.
Smirk.
‘Saat itu aku benar-benar masih payah.’
Kim Rok Soo yang masih baru saat itu memiliki rasa tanggung jawab yang
agak canggung.
Tes. Tes.
Rasa sakitnya perlahan mulai mereda.
Dia menggenggam belati yang terjatuh.
Meskipun itu adalah senjata yang melukainya, berkat senjata ini dia bisa
bertahan cukup lama.
“Hei, Vitality.”
[ Hiks hiks. Kau terluka bahkan di dalam mimpi. ]
Begitu mendengar suara tangisan si Kakek Cengeng dari Kekuatan
Regenerasi, Vitality of Heart, sudut bibir Cale terangkat.
‘Satu sekutu berhasil didapatkan.’
Meskipun ini adalah mimpi, Cale telah masuk sepenuhnya ke dalam dunia
ini.
Srat.
Dia melihat sekeliling.
Sebuah jendela terlihat.
Meskipun sudah pecah, masih ada sisa-sisika kaca yang menempel.
Dia melihat bayangannya sendiri di kaca jendela.
‘Benar, ini Cale Henituse.’
Bukannya Kim Rok Soo, rambut merah Cale Henituse-lah yang langsung
terlihat jelas.
Berada di dunia Bumi dengan penampilan seperti ini...
‘Benar-benar mimpi.’
Apalagi dia mengenakan setelan jas karyawan baru.
Benar-benar menggelikan.
Cale tersenyum kecel melihat pakaiannya yang robek dan berantakan,
menunjukkan betapa sulitnya dia melarikan diri tadi.
“Ssssh.”
Tapi ini sakit.
Brengsek.
Kenapa rasa sakit di dalam mimpi juga terasa nyata?
‘Pertama-tama.’
Cale yang mengamati sekeliling mengambil keputusan.
‘Aku harus keluar.’
Tapi dia tidak boleh keluar begitu saja.
“Cale. Kau boleh bertindak cukup bebas di dalam mimpi, tapi akan
merepotkan jika kau mengamuk menggunakan kekuatan aslimu.”
Dewa Kematian telah memperingatkan.
“Jika terjadi situasi yang melampaui batas mimpi aslinya, mimpi itu akan
hancur.”
Mimpi hancur.
Artinya mimpi yang sedang dialami sekarang akan berakhir.
Dan jika itu terjadi...
“Kau akan pindah ke mimpi berikutnya.”
“Dan tidak ada yang tahu mimpi seperti apa yang akan muncul
selanjutnya.”
Karena itulah Dewa Kematian memberi saran.
“Jika mimpi tempatmu pertama kali membuka mata adalah situasi yang aman,
jangan hancurkan mimpi itu sebisa mungkin.”
“Ikuti saja alurnya.”
“Dengan begitu, rekan-rekanmu bisa berkumpul.”
Kumpulkan mereka, baru pindah ke mimpi berikutnya.
“Lalu barulah kita menuju ke wilayah yang lebih dalam.”
Dunia Mimpi.
Wilayah Pertama, Wilayah Mimpi Buruk, dan Wilayah Alam Bawah Sadar.
Hal pertama yang harus dilakukan Cale di Wilayah Pertama adalah
mengumpulkan rekan-rekannya.
‘Aku akan mengikuti mimpi ini.’
Cale menyadari bahwa mimpi pertama ini didasarkan pada ingatan masa
lalu, dan...
‘Ini aman.’
Mimpi ini aman bagi rekan-rekannya.
Tidak akan berbahaya bagi mereka.
Tap.
Cale bersandar di dekat jendela dan melihat ke luar.
‘Mereka sedang melakukan pencarian.’
Terlihat anggota organisasi sedang mencari-cari.
Suara mereka terdengar melalui jendela yang pecah.
“Anak baru itu, kalian harus menangkapnya! Bos bilang dia harus
ditangkap bagaimanapun caranya! Bajingan sialan, kalau dia dibiarkan, dia pasti
akan lapor! Sialan!”
Terlihat seseorang yang sedang membentak bawahannya.
‘Hmm.’
Cale memanggil ingatan Kim Rok Soo.
‘Dulu ada orang-orang yang masuk ke gedung ini untuk mencari.’
Benar.
Pasti, sekarang juga.
“Ketua!”
Salah satu bawahan buru-buru mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga
si ketua kelompok.
Ketua itu mengangguk.
“Kalian semua! Cepatlah! Percepat pencarian kalian! Cari dengan cepat!”
Dia meninggikan suaranya, menunjukkan kegelisahan.
Namun, ekspresi wajahnya saat memberi isyarat kepada bawahannya sangat
tenang.
Dan tak lama kemudian, dia mengangkat kepala dan mencoba melihat
sekeliling.
“……”
Cale dengan cepat menempel pada dinding untuk bersembunyi.
Dia menghindari tatapan si ketua.
‘Ternyata benar, mereka sudah menemukanku.’
Ketua itu hanya berpura-pura mendesak bawahannya agar mencari dengan
cepat dan bertindak seolah-olah dia sedang panik, padahal dia pasti sudah
menerima laporan dari bawahannya bahwa jejak Cale telah ditemukan.
Itu sebabnya dia makin meninggikan suaranya agar Cale lengah, dan agar
bawahannya bisa melakukan pencarian dengan leluasa.
‘Dia cukup cerdik.’
Dulu pun ia berpikir orang ini cerdik, dan sekarang pun Cale sudah bisa
menangkap gelagat seperti itu.
Pinggang yang disayat belati.
Kelengahan dan ketidakmampuan saat itu sudah cukup untuk menjadi
pelajaran.
‘3 orang.’
Saat itu, total ada tiga anggota organisasi yang datang ke lantai tiga
untuk mencari.
‘Masing-masing dari mereka setidaknya punya kemampuan kecil.’
Meski hanya bawahan tingkat rendah, kemampuan tempur mereka lebih hebat
daripada Kim Rok Soo.
Karena itulah Kim Rok Soo benar-benar nyaris mati saat itu.
‘Aku melarikan diri sampai ke lantai dua, lalu melemparkan diri keluar
jendela.
Kalau dipikir-pikir sekarang, sungguh ajaib aku bisa selamat.’
[ Cale. Sekarang kau tidak perlu melakukan itu lagi, kan? ]
Mendengar kata-kata dari Super Rock, Cale mengangguk.
Tanpa suara, Cale berdiri di depan pintu yang tertutup.
‘Bergeraklah sesuai kerangka besar mimpi ini.’
Hadapi musuh, lalu melarikan diri melalui jendela lantai dua.
Dia menempelkan telinganya ke pintu.
‘Hmm..’
Tidak terdengar apa-apa.
Jika ada Raon di sini, dia pasti akan langsung tahu.
Cale merasa agak menyesal, lalu dia terkejut sendiri.
‘Nasibku benar-benar sudah membaik, ya.’
Dia merasa takjub dengan keteledorannya sendiri.
Dia menyembunyikan tubuhnya di balik pintu sambil menahan napas.
Lalu dia menunggu.
‘Mereka akan datang.’
Musuh akan segera datang.
Sesuai rekaman...
“Woi, woi! Cepatlah! Dasar bajingan, kau yang di sana, kenapa lamban
sekali? Mau kupukul?”
Suara ketua berteriak di luar.
Di sela-sela itu.
Krak.
Cale mendengar suatu suara.
Suara yang sangat halus, tapi...
“Mereka datang.”
Anggota organisasi telah tiba.
Seharusnya ada tiga orang, tapi selain suara tadi, tidak ada suara lain
yang terdengar.
Mereka cukup hebat.
Yah, pantas saja butuh waktu lama untuk menangkap mereka.
“……”
Cale makin menahan napasnya.
Tanpa disadari, darah di pinggangnya sudah berhenti mengalir.
[ Hiks hiks. Kau terus saja terluka. ]
Dia mengabaikan kata-kata si Kakek Cengeng.
Sebagai gantinya, dia bersiap.
‘Tiga orang. Hajar secukupnya.’
Karena mimpinya tidak boleh hancur.
Hajar secukupnya, lalu melarikan diri dengan santai.
Hal sepele begini bukannya bukan termasuk “mengamuk”, kan?
Klik..
Musuh.
Musuh memegang gagang pintu dan memutarnya.
Bukan di sini, tapi di kantor sebelah.
Sebelum bersembunyi di ruangan terakhir, Kim Rok Soo telah menutup semua
pintu di lantai tiga.
Smirk.
Sudut bibir Cale terangkat, dan dia segera memegang gagang pintu.
Saat musuh sedang fokus pada ruangan sebelah...
Brak!
Dia membuka pintunya.
Dan benar saja, ada tiga orang di depan pintu.
“Eh?”
Dan Cale pun terperangah.
Dua orang memang musuh.
Tapi satu orang lagi...
Pria tinggi dengan kesan dingin yang mengenakan jaket baseball khas
organisasi Taeho itu...
“Hmm.”
Setelah menatap Cale dan mengangguk,
Buk!
“Keu-ak!”
Dia memukul tengkuk anggota organisasi di depannya sampai pingsan.
“Heh! Anak baru, kau—”
Saat anggota organisasi di depan yang sedang memutar gagang pintu
terkejut dan menoleh padanya...
Srat.
Pria itu mencabut pedang besarnya dan menghantam kepala anggota
organisasi itu dengan sisi pedangnya hingga pingsan.
Srat.
Beacrox memasukkan kembali pedang besarnya ke dalam sarungnya, melepas
sarung tangan putih yang ia kenakan di kedua tangannya, lalu mendekati Cale dan
bertanya dengan datar.
“Apa yang harus dilakukan sekarang?”
Ooh.
Cale bertemu dengan Beacrox untuk pertama kalinya (di dalam mimpi).
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
Mendengar pertanyaan Cale, Beacrox menjawab singkat.
“Begitu membuka mata, aku diberitahu bahwa aku adalah anggota baru
organisasi ini dan disuruh melakukan pencarian, jadi aku mengikuti mereka.”
“Begitukah?”
“Ya.”
“Baiklah.”
Cale maupun Beacrox bisa menerima situasi ini dengan cepat.
Cale melangkah dengan santai.
“Ada anggota organisasi di bawah juga, kan?”
“Ya. Ada tiga orang lagi di lantai dua. Di lantai empat dan lima juga
ada.”
“Bagus. Begitu keluar dari tangga lantai tiga menuju lantai dua, kita
akan melompat keluar melalui jendela koridor lantai dua yang langsung terlihat.”
“Apakah kamu melarikan diri lewat sana?”
“Iya.”
Cale menjawab dengan tenang sambil memimpin di depan.
Beacrox menatap pinggang Cale dan belati di tangannya, lalu bergumam
pelan.
“Apakah tidak sakit?”
“Ah, ini? Masih bisa ditahan. Lagipula ini cuma mimpi.”
“……”
Beacrox tidak menjawab.
Tanpa menyadari bahwa tatapan Beacrox telah meredup dalam, Cale terus
memimpin di depan.
Melangkah tegap turun ke lantai dua, dia memeriksa jendela yang langsung
terlihat lalu memberi isyarat mata kepada Beacrox.
‘Ikuti aku.’
Karena dia akan menghancurkan itu dan melarikan diri.
Tap tap tap!
Cale berlari.
Karena Kim Rok Soo langsung menghancurkan jendela dengan momentum
larinya.
“Eh!”
“Itu dia!”
“Ketemu! Ketemu!”
Anggota organisasi di lantai dua menemukannya, dan...
“Heh, anak baru! Tangkap orang itu!”
Seseorang berteriak kepada si “anak baru”, Beacrox.
Dan Beacrox berlari.
Lebih cepat daripada Cale.
“Eh?”
Cale merasakan aura mengerikan yang entah datang dari mana dari punggung
Beacrox yang mendahuluinya, dan tanpa sadar dia berteriak.
“Hei, jangan dibunuh! Nanti mimpinya hancur! Kau juga tahu itu, kan!”
Beacrox pasti sudah mendengar tentang hal itu.
Tapi aura itu sungguh tidak biasa.
Sampai-sampai Cale tanpa sadar berteriak karena Beacrox terlihat sangat
mengerikan.
Tapi itu hanyalah salah paham.
Srat.
Beacrox yang mencabut pedang besarnya menghantam jendela itu.
Kuaaaaang!
Jendela itu hancur berkeping-keping.
Cale sempat tersentak melihat jendela yang benar-benar hancur total itu.
Namun Beacrox mendekati Cale dengan wajah datar tanpa ekspresi, dan...
“Eh?”
Dia memanggul Cale di bahunya lalu melompat turun dari lantai dua.
Dugh.
Mendarat dengan ringan, dia bertanya.
“Sekarang mau ke mana?”
“Eh—”
Lama tidak bertemu, bajingan Beacrox ini jadi makin tangguh, ya?
Cale sempat bingung tapi segera menjawab.
“Ke arah sana—”
Dia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan posisi si ketua.
Awalnya dia melarikan diri dengan menaiki sepeda bekas yang ada di
sampingnya, tapi sepertinya mereka bisa pergi begitu saja.
Wuuuuush—
Angin yang diciptakan Cale berputar di pergelangan kaki Beacrox.
Tepat saat Beacrox hendak melangkah.
“Ketua! Ada seorang wanita di sini!”
Wanita?
Cale yang dipanggul di bahu turun ke tanah.
Beacrox juga berhenti.
‘Seharusnya tidak ada adegan seperti ini di sini.’
Cale berbalik.
Di luar gang di antara gedung-gedung. Dua anggota organisasi menyeret
seorang wanita menuju ke arah ketua organisasi Taeho.
“Ketua, lagipula jumlah tangkapan kita hari ini kurang, masukkan saja
wanita ini juga!”
“Woi, woi! Apa jalang ini sudah gila? Kenapa dia memakai pakaian yang
rumbai-rumbai begini!”
Kedua anggota organisasi itu tertawa terbahak-bahak.
Di antara mereka ada sosok bertubuh kecil yang terbungkus rapat oleh
jubah hitam.
“Ketua, di sini!”
“Heh, diamlah! Itu kan anak barunya!”
Ketua itu mengabaikan bawahannya.
Sebagai gantinya, dia menunjuk ke arah Cale.
“Tangkap bajingan itu!”
Anggota organisasi mulai berlari mendekat.
Namun, Cale tidak melihat mereka.
“Heh, buka tudungnya!”
“Oke!”
Dua anggota organisasi mencoba menarik tudung jubah hitam yang menutupi
seluruh tubuh sosok tersebut.
Mereka mencoba membukanya.
Dan sosok bertubuh kecil itu berusaha memegang tudungnya dengan kedua
tangannya agar tidak terbuka.
“Eh? Tapi kenapa punggung tangan jalang ini begini?”
“Ih, menjijikkan. Apa-apaan ini, apa seluruh tubuhnya juga begini?”
“Tangkap dia! Bajingan anak baru itu juga tangkap dan jual hari ini!”
“Bunuh dia!!”
Orang-orang yang berlari itu tidak terlihat di mata Cale.
Hanya saja...
“Ha—”
Hanya kedua tangan Mary yang memegang tudungnya untuk bertahanlah yang
terlihat.
“Mimpi sialan.”
Mary pasti sedang berusaha bertahan sekuat tenaga karena takut mimpinya
akan hancur atau tidak bisa menemukan Cale.
Kekuatan fisik Mary adalah yang paling lemah di antara kami.
Benar-benar lemah.
Namun dia lebih kuat daripada siapa pun.
Anggota organisasi itu tidak mungkin bisa melukai Mary.
Mary tidak akan berada dalam bahaya.
Cale tahu kenapa Mary menahan diri.
Meskipun begitu...
“Gunakan saja kekuatanmu.”
Cale mengulurkan tangannya.
“Seperti aku.”
Bahwa Mary dipaksa tudungnya terbuka di luar kehendaknya, dan
wajahnya—bukti keberlangsungan hidupnya, pembuktian agung dari
hidupnya—diperlakukan seperti itu...
Melihat seseorang meremehkan dan membicarakan hal itu benar-benar...
“Benar-benar tidak enak dilihat.”
Benar-benar mimpi yang sangat tidak menyenangkan untuk dilihat.
“Haaa. Sudah kuduga akan begini.”
Di belakangnya terdengar suara Beacrox menghela napas, tapi Cale tidak
peduli.
Wuuuuuuuush—
Angin raksasa melesat maju seperti anak panah.
Anak panah yang menembus anggota organisasi yang mendekat itu terbagi
menjadi dua, melewati Mary dengan tepat dan menerbangkan anggota organisasi di
kedua sisinya.
“Mimpi ini tidak aman.”
Bagi rekan-rekannya.
“Tidak baik untuk kesehatan mental.”
Cale mengambil keputusan, dan dia berkata kepada Mary dan Beacrox.
“Kita pergi ke mimpi berikutnya.”
Dewa Kematian pernah bilang begitu.
“Rekan-rekan yang sudah bergabung akan berpindah ke mimpi berikutnya
bersamamu.”
“Jika mimpinya hancur dan kau tidak bisa bertemu semua orang, temui
sisanya di mimpi berikutnya.”
‘Tentu saja—’
Krak—
Langit mulai pecah.
Mimpi itu hancur.
Begitu mengakui hal tersebut, Cale mulai menerbangkan para anggota
organisasi sesuka hatinya.
‘Tentu saja tidak ada yang tahu apakah mimpi berikutnya akan lebih aman
atau lebih mengerikan.’
Eruhaben, Choi Han, Dewa Kematian.
Sampai jumpa di mimpi berikutnya.
“Aku tadi baik-baik saja.”
Mary berbicara dengan terburu-buru, tapi Cale mengabaikannya.
Dan selama mimpi itu hancur, dia terus memukuli para anggota organisasi.
Wuuuush—
Kuaaaaaa—
Swaaaaaaa—
Air, api, angin.
Tanpa pilih-pilih...
“Aaaaaaaaak!”
“Keuaaaaak!”
“To-tolong!”
Teriakan para anggota organisasi makin lama makin menjauh.
Pandangan Cale mulai menggelap.
Pindah ke mimpi berikutnya.
“……”
Dan dia berpindah ke mimpi berikutnya.
Begitu Cale membuka matanya, dia langsung mendengar sepatah kata dari
Beacrox.
“Apakah kamu biasanya memimpikan hal seperti ini?”
<Taman (TK) Kanak-Kanak Roan>
Cale telah menjadi seorang anak kecil.
Dan Beacrox serta Mary versi anak-anak berdiri terbengong-bengong di
sampingnya.
“...Tidak.”
Cale menjawab dengan terbata-bata.
“Aku tidak pernah memimpikan hal seperti ini, tahu?”
Manusia memang tidak mengingat sebagian besar mimpi mereka, dan mereka
memimpikan banyak sekali hal.
“Lalu?”
Beacrox versi anak-anak bertanya dengan wajah dingin.
“...Um. Aku pernah terpikir soal TK Roan, sih.”
On, Hong, Raon.
Memikirkan pendidikan anak-anak, dia sempat berpikir sebentar apakah
Raon tidak sebaiknya dikirim ke TK agar bisa berinteraksi dengan teman sebaya
daripada hanya fokus pada pertempuran—
Sempat berpikir begitu—
Karena dia naga, TK biasa pasti sulit, pokoknya dia sempat memikirkan
banyak hal—
Tidak, bukankah wajar bagi orang tua untuk selalu memikirkan pendidikan
anak?
Tapi kenapa itu jadi mimpi?
Wajah Cale mulai memucat.
“Tuan Muda. Kamu terlihat sedang tertekan secara mental.”
Mary versi anak-anak berkata dengan nada bicara yang kaku seperti
navigasi.
“...Eh. Eh.......”
Cale yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya merasa sangat malu saat
ini.
Benar.
Dia sudah bersiap untuk menunjukkan penderitaan batin atau semacamnya
saat masuk ke Dunia Mimpi.
Tapi, yang ini, yang ini!
“Sial!”
‘Mimpi brengsek!!
Mimpi macam ini tidak pernah kualami sebelumnya!’
Sebagai catatan, manusia memimpikan hal yang tak terhitung jumlahnya.
Dan mereka tidak mengingatnya.
Srat.
Pada saat itu, pintu Kelas Batu di TK Roan terbuka.
“Senang bertemu kalian semua!”
Hup.
Mary versi anak-anak yang memakai jubah menghirup napas dalam-dalam.
Cale...
“……”
Kehilangan kata-kata.
Guru TK yang masuk itu.
Guru TK Kelas Batu itu adalah...
“Yang Mulia.......”
Itu adalah Putra Mahkota Alberu Crossman.
Beacrox versi anak-anak mengenakan sarung tangan putih ukuran anak-anak
dan berkata dengan datar.
“Ini benar-benar mimpi yang aneh.”
Wajah Cale memerah padam.
Mary berkata dengan kaku.
“Mimpi memang benar-benar kekacauan, campur aduk.”
Pada saat itu, Pak Guru Alberu menatap Cale dan tersenyum lebar.
“Cale kecil, wajahmu sekarang terlihat seperti tomat yang sudah matang,
ya! Bagaimana kalau kita menyanyikan lagu Tomat Merah?”
‘Ah.
Apa aku tidak usah menangkap Kaisar Dua saja ya?’
Cale benar-benar memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh.
.
.

Komentar
Posting Komentar