Trash of the Count Family Book II 519 : Kemunculan
Jenderal 3 Uho.
Itu bukan upaya untuk meraih lehernya.
Cale jelas memegang leher Uho.
‘Ada kabar bahwa Kaisar Dua akan tiba
sekitar tengah hari.
Dia menerima pesan dari saudari
Wanderer, Ryeon,
dan sebelum itu, dia akan mengurus Uho
terlebih dahulu.’
Mata Cale dan Uho saling bertemu.
“!”
Cale menyampaikan sapaan seolah berkata
halo.
Bagi Jenderal 3 Uho, yang bahkan menganggap
para sekretaris dan para jenderal sebagai sampah,
Cale hanyalah keberadaan seperti debu.
Seseorang yang tak perlu diperhatikan
tiba-tiba mencoba merebut lehernya.
Dan dia bahkan membiarkan lehernya diraih.
"Bagaimana—"
Itu tak bisa dihindari.
Merinding menyelimuti tubuhnya.
Aura yang membungkus seluruh tubuh Uho,
sebuah aura absolut yang mencekik tubuhnya,
seolah ingin menguasai bahkan napasnya.
‘Kaisar Dua?’
Dalam sekejap, yang terlintas di kepala
adalah Kaisar Dua… dan para Dewa.
Ini bukan aura seperti taring tajam
binatang buas yang siap menerkam.
Dia sudah sering berhadapan dengan jenis
aura itu.
Itu adalah aura yang ia rasakan dari
orang-orang yang akhirnya berlutut di hadapannya.
Namun ini… berbeda.
‘Penguasa—’
Aura ini menyelimuti dirinya dengan begitu
alami hingga tak terasa sebagai ancaman atau niat membunuh.
Aura itu hanya mendekat… dan mencekiknya.
Karena itu—
Siik.
Jenderal 3 Uho dapat berhadapan dengan
manusia berambut hitam berkacamata yang menggenggam lehernya sambil tersenyum.
Bagaimana kekuatan seperti ini bisa muncul
dari tempat ini?
Pertanyaan itu untuk pertama kalinya
muncul,
namun secepat itu juga ia menyingkirkan
rasa panik dan mencoba menemukan akal sehatnya kembali.
‘Aku harus lepas.’
Tak peduli siapa orang ini, dia harus lepas
dulu.
Dilihat sekilas saja, genggamannya tidak
terlihat kuat.
Lehernya bahkan tidak tercekik.
“Kh…!”
Saat itu, terdengar erangan tertahan dari
adiknya, Soyeon.
“!”
Mata Uho melebar.
Di balik bahu Cale, pemandangan itu
terlihat jelas.
Apa yang ia lihat mengguncang kepalanya.
‘Cho…!’
Wanderer Cho.
Wanderer yang saat ini bekerja di bawah Kaisar
Tiga.
Orang itu menyerang Soyeon.
Dan memanfaatkan momen itu, dari sudut
ruangan, seseorang melesat keluar —
Mujeon!
Itu adalah adik angkatnya sendiri, Mujeon.
Baik Mujeon maupun Cho…
Bukankah mereka semua bawahan Kaisar Tiga?
Apa yang sedang terjadi?
Ada sesuatu yang tak masuk akal.
Kebingungan muncul lebih dulu dibanding
rasa panik.
Namun tubuh Uho sudah bergerak sesuai
naluri.
Tindakan pertama: menepis tangan yang
menggenggam lehernya.
“Berani sekali.”
Tatapan dingin berputar di mata Uho yang
mengarah pada sekretaris itu, dan jawabannya segera muncul.
Tak!
Dengan ringan Uho menepis lengan Cale.
Benar saja, lawannya lemah secara fisik.
Siik.
Namun meski genggamannya terlepas begitu
mudah, Cale malah tersenyum.
‘Seperti yang kuduga.’
Dan seolah itu sudah sewajarnya, Cale
memberikan jawaban tersendiri melalui senyumannya.
“!”
Uho mengarahkan pandangannya pada tangan
Cale yang lain.
Karena dari tangan itu, terasa aura yang
luar biasa besar.
[ Dia mengendalikan hujan, ya? ]
Dari Wanderer Mujeon, Cale mengetahui bahwa
Kekuatan Unik Uho berkaitan dengan hujan.
Sepertinya saudara keduanya menyembunyikan
sebagian kekuatannya.
Tapi ia menjadikan hujan biasa sebagai
keunikan dirinya.
Sky Eating Water menunjukkan rasa tertarik.
[ Kau pasti menyukai bom air, bukan? ]
Dan hasil dari rasa ingin tahu itu
terungkap di tangan Cale.
Ketika Uho lengah karena Cale yang hanya
dianggap sekretaris,
ketika ia dibuat terkejut sekejap oleh Dominating
Aura itu,
ketika ia buru-buru menepis tangan yang
mencekik lehernya,
tangan lain Cale sudah lebih dulu bergerak
ke arah perutnya.
Chwaaaaa—
Air memancar keluar dari tangan itu.
Bukan sekadar semburan air biasa.
Bukan pula aura kekuatan besar seperti
dalam situasi pertempuran penuh.
Tidak berlebihan, tidak juga kurang.
“Kh..! ”
Namun kekuatan itu cukup untuk menciptakan
tombak yang akan melemparkan Uho pergi.
Chwaaaaa—
Tombak air itu mencengkeram Uho layaknya
kail dan melesat ke depan.
Kuwaaaang—!
Tubuh Uho terangkat, terhempas bersama
tombak air, lalu menghantam permukaan keras.
Bang!
Bukan ke lantai.
Tapi ke meja bundar besar yang berada di
tengah ruang rapat — Pertemuan Agung.
Tubuhnya terbenam tepat di bagian tengah
meja itu.
“Aduduh, hati-hati.”
Jenderal Agung itu tersenyum sambil cepat
menyingkir.
“Kh…!”
Uho segera bangkit.
Namun sebelum ia sempat bereaksi lebih
jauh, semuanya sudah terlanjur terjadi.
Bang!
Tubuh Soyeon menghantam dinding ruang rapat
dan meluncur jatuh ke bawah.
“Mujeon…!”
Soyeon menatap Uho… tidak, menatap Mujeon,
adik angkatnya.
Karena ia sedang merasakan sebuah
pengkhianatan yang sulit dipercaya.
“Apa-apaan ini, mendadak begini?!”
“Apa yang sedang terjadi di sini!?”
Jenderal Pulau ke-16 Perry.
Jenderal Pulau ke-7 Hinari.
Keduanya mengarahkan senjata pada para
jenderal yang tampak bingung dan kacau.
Bukan hanya mereka.
Ashifrang, putra bungsu Jenderal Agung,
bersama para pasukan elit mereka, muncul dan menodongkan senjata ke para
Jenderal dari pulau lain beserta para pengikutnya.
Terlebih dari itu—
“Silakan coba melarikan diri.”
Jenderal Agung berkata sambil tersenyum.
Namun senyuman itu bukan seperti senyuman
seorang Jenderal Agung biasanya.
Ada sesuatu yang membuatnya terasa
mematikan.
Tidak, seluruh situasi ini memang sudah
terlalu mematikan.
“!”
“…..!”
Aura itu.
Aura besar yang sebelumnya sempat menguasai
seluruh ruangan kini kembali membumbung.
Tok.
Frame kacamata yang sudah retak jatuh ke
lantai.
“…..!”
Cale meraih, membungkuk, dan mengambil
frame kacamata itu.
Drip.
Setetes darah mengalir di pipinya.
Perih.
“Ternyata, memang berbeda, ya?”
Jenderal 3 Uho,
meski terkejut oleh serangan tiba-tiba itu,
tidak kalah begitu saja.
Saat Cale melemparkannya dengan tombak air,
satu tetes hujan yang ditembakkan Uho melesat melewati pipi Cale.
[ Itu hampir jadi masalah besar. ]
Seperti kata si Super Rock.
[ Hujan yang tak terlihat, ya… ]
Satu tetes hujan itu tidak terlihat.
Karena terlalu cepat.
Tetes itu menargetkan mata Cale.
[ Aku sudah bilang untuk memalingkan
kepala, kan? ]
Seandainya Sky Eating Water itu tidak
menyadarinya, mata Cale mungkin sudah tertembus.
Sussssshh—
Dominating Aura menyebar ke seluruh penjuru
ruangan.
Para jenderal mundur selangkah tanpa sadar
ketika aura itu mengarah pada mereka.
Itu adalah reaksi naluriah.
Setiap langkah Cale terasa, dan setiap
langkah itu membuat para jenderal mundur lebih jauh.
Jika Cale melepaskan aura penguasa itu
sepenuhnya, mereka takkan mampu bergerak,
bahkan takkan mampu berdiri—hanya akan
jatuh terduduk di tempat.
“……”
“……”
Dengan harga diri yang menahan kepala
mereka tetap tegak,
mereka hanya bisa mengatur napas yang
terasa sesak dan berusaha menyembunyikan bulu kuduk yang berdiri.
Sementara itu, Cale dan Jenderal 3 Uho
masih saling menatap.
Dan semua itu terjadi hanya dalam hitungan
detik.
“Di mana kakak sulungmu?”
“Kaisar Tiga?”
Di Pertemuan Agung ke-17, saat sebagian
besar orang yang seharusnya hadir di ruang sidang mulai mundur keluar,
Cale berdiri di depan pintu yang terbuka
dan tersenyum.
“Kenapa? Bahkan di saat seperti ini, masih
ingin melihat bagaimana situasinya berjalan?”
Mata adik ketiga, Soyeon, berkobar marah
mendengar itu.
Ia selalu waspada dan penuh kecurigaan,
tapi sikap seolah mengejek kondisi kakak sulungnya membuat darahnya mendidih.
“Berani sekali kau bicara begitu— Kakak
sulung—!”
Namun Jenderal 3 Uho tetap tenang.
“Dia ditangkap di Dunia Iblis, ya?”
Uho melirik Wanderer Mujeon dan Cho satu
per satu.
Lalu ia membuka mulut sambil menatap Mujeon
yang tertunduk.
“Aku mengenali wajah itu.”
Meski warna rambut berubah, dengan melihat
warna mata dan bentuk wajahnya secara dekat, ia bisa memastikan.
“Cale Henituse.”
Soyeon terbelalak.
“Ah…!”
Cale bertepuk tangan pelan.
“Lebih pintar dari yang kukira.”
Uho dengan cepat membaca alur situasi.
“Kau lebih pintar daripada keadaan yang kau
ciptakan.”
“Kaisar Tiga bagaimana?”
“Entahlah. Masih hidup? Atau sudah mati?”
Jawaban Cale membuat Soyeon menggertakkan
gigi menahan emosi yang memuncak.
Kemarahan bercampur kecemasan menyala dalam
matanya.
‘Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana caranya keluar dari sini?’
Ia belum memahami keseluruhan situasi, tapi
satu hal pasti:
Cale Henitus telah menjatuhkan Kaisar Tiga.
Apakah itu masuk akal atau tidak, bukan
prioritasnya.
Yang terpenting adalah merespons keadaan
yang ada—itulah sifat Soyeon.
“Soyeon. Sudah terlambat.”
Uho berkata pelan, membuat Soyeon terdiam.
Ia takut Uho akan menyalahkan dirinya
karena ingin kabur.
Soyeon menoleh dengan mata penuh rasa
takut.
“Hmm?”
Namun Uho… tersenyum.
“Gelombang kekuatan kemarin, yang
mengguncang sistem… itu darimu, bukan?”
Pandangan semua orang mengarah ke sumber
perhatian itu.
Jenderal Agung mengeluarkan suara kagum
kecil.
“Menarik.”
Cale tersenyum melihat Uho menatapnya tanpa
gentar.
“Benar-benar pintar, ya?”
Uho tetap datar.
“Karena ini bukan sesuatu yang dilakukan
oleh sekadar manusia biasa.”
Ia berdiri dari atas meja, merapikan
bajunya.
“Nama Cale Henituse cukup terkenal.
Mengganggu pandangan kami.”
Tok tok.
Ia menepuk bagian bajunya yang bersentuhan
dengan tombak air tadi.
“Tak sehebat itu.”
Aura Cale memang kuat,
tapi kekuatan yang ia perlihatkan barusan
belum mencapai tingkat yang benar-benar menakutkan.
Dunia Iblis. Sang Raja Iblis mengkhianati mereka.
Dan sesuatu yang cukup besar untuk merusak
sistem telah terjadi di dunia ini.
Mengapa Dunia Iblis, yang bahkan bersekutu
dengan Dewa Kekacauan dan sang Hunter, memilih untuk mengkhianati?
“Seorang Dewa, ya.”
Uho berkata, dan Soyeon tertegun.
Berbeda dengan Soyeon yang penuh gejolak,
Uho tetap tidak terguncang.
Di balik bahu Cale, para jenderal dari Maritim
Union terlihat semakin mundur.
Benar.
Para sampah itu mundur.
Mereka tidak pantas berada di sini.
“Mereka telah menangkap Kaisar Tiga.”
Di Dunia Iblis, kemungkinan besar Raja
Iblis bekerja sama dengan seorang Dewa untuk mengendalikan keadaan.
“Dan sekarang mereka ingin menangkap Kaisar
Dua dengan memanfaatkan kami.”
Uho melihat sosok Mujeon—pengkhianat
lainnya—di balik bahu Cale, dan mengangguk tipis.
“Benar. Wanderer tidak akan berkhianat
kepada manusia biasa.
Hanya kepada seorang Dewa mereka takut
kehilangan nyawa.”
Situasinya, setidaknya… terasa masuk akal.
“Gelombang kekuatan kemarin… jelas
berbeda.”
Sangat berbeda.
Kaisar Tiga tidak memiliki kekuatan yang
cukup mengerikan untuk menimbulkan ketakutan hanya dengan keberadaannya.
Dan itu bukan aura Cale Henitus.
“Siapa kau sebenarnya?”
Uho menatap sosok di hadapan mereka—sosok
yang mengenakan kulit dan nama Jenderal Agung, namun bukan dirinya.
"Sepertinya dari pihak Dewa
Keseimbangan. Aku ingin kau memberitahukan namamu. Bukankah kau berniat untuk
membunuhku juga? Tidak ada alasan untuk tidak memberitahu namamu di depan orang
yang akan kau bunuh, kan?"
"Keugh... K-Kakak..."
Suara Soyeon bergetar hebat.
Ucapan Uho terdengar seperti jawaban yang
benar baginya. Karena itulah ia ketakutan.
‘Apa aku akan mati di sini?’
"Hoho."
Saat itu, Uho melihat Soyeon dan tersenyum.
"Adik kecil. Kenapa wajahmu seperti
itu?"
Ia benar-benar tertawa setulus hati.
Seolah tak mampu memahami perasaan Soyeon.
Tak lama kemudian, seakan sudah tak
tertarik lagi, ia mengalihkan pandangan dari Soyeon dan menatap Jenderal Agung.
Pada Jenderal Agung yang tidak tersenyum,
ia bertanya:
"Siapa kau?"
Sementara itu, di sudut bibir Uho, senyum
semakin melebar tanpa bisa dikendalikan.
"Hoo..."
Jenderal Agung menghela napas dan
mengulurkan tangan.
Ujung jarinya menunjuk seseorang.
Cale, yang berdiri di pintu sambil memegang
gagang pintu.
Menunjuk ke arahnya, Jenderal Agung
berkata:
"Aku. Bawahannya dia."
Hening memenuhi ruangan.
Benar-benar sunyi.
"...?"
Bahkan Uho pun,
"...?"
bahkan Cale sendiri tidak mengerti apa
maksud dari ucapan itu.
Namun tanpa tahu bahwa Cale tidak memahami,
Uho membuka mulut.
"Omong kosong apa itu? Jangan
bercanda. Kekuatan kemarin—kekuatan sebesar itu, satu-satunya yang bisa
menghabisi ‘Kaisar Tiga’ adalah Dewa. Tapi kau bilang kau bawahan manusia
itu?"
"Ya."
Sang Jenderal Agung, si lelaki tua itu,
mengangguk.
Melihat itu, ekspresi Uho untuk pertama
kalinya terdistorsi.
"Ha! Kau bilang manusia itu membunuh ‘Kaisar
Tiga’ juga?!"
"Ya."
Mendengar jawaban itu, Cale terkejut.
‘Tunggu, aku kan nggak membunuh siapa
pun?
Dan Kaisar Dua masih dikurung, kan?’
"Si gila itu, si Raja Iblis yang kau
bilang… bergerak mengikuti perintah manusia rendahan seperti itu?"
"Ya."
‘Padahal aku nggak pernah ngasih
perintah ke Raja Iblis mana pun, loh?’
"Manusia itu yang memanggil Kaisar Dua
untuk dibunuh? Dengan menjadikan Maritim Union sebagai tumbal?"
"Ya. Ya."
‘Tidak, aku bahkan tidak yakin bisa
membunuh Kaisar Dua di sini!
Dan aku tidak pernah berniat menjadikan Maritim
Union sebagai tumbal!’
Cale punya banyak hal yang ingin dikatakan.
"..."
Tapi di situasi sekarang, dia tidak bisa
membantah.
"..."
Kalau dia membantah, Soyeon malah akan
semakin ketakutan dan memandangnya seperti monster.
"..."
Dan Uho sedang menatapnya seolah tidak
percaya.
Dengan pelan, Uho membuka mulut:
"......Kakakku dikalahkan oleh
manusia?"
Begitu kata itu diucapkan, Cale langsung
membuka mulut dan menjawab datar:
"Hei. Jangan pura-pura kaget."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
"...?"
"...?"
Soyeon dan Dewa Kematian pun terdiam dengan
wajah penuh tanya.
Cale tersenyum kecil sambil menatap Uho.
"Kau sama sekali nggak peduli apakah ‘Kaisar
Tiga’ mati atau tidak."
Wanderer yang mendengar melalui siaran transmisi.
Wanderer yang menangkap ucapan itu.
"Kau cuma sedang mencoba mengulur
waktu."
Mata Soyeon membelalak.
Dia menyadari bahwa Uho sedang menunda
waktu sampai Kaisar Dua datang.
Namun sayangnya, wajah Soyeon mengeras
ketika Cale melanjutkan:
"Kau ingin melihat pertarungan antara
Kaisar Dua dan Dewa, kan? Kekacauan yang terjadi."
Wajah Uho menegang.
Ia menunduk.
"Melihat seluruh dunia dilumuri darah.
Itu yang ingin kau lihat, bukan?"
Sky Eating Water berbisik:
[ Tapi kenapa dari tetesan hujan tercium
bau darah? Ini seperti darah. Kental. ]
Wanderer kelas Transparent, Uho.
Ia adalah saudara angkat pertama dari Kaisar
Tiga.
Dan kekuatannya… menurut informasi dari
orang terdekatnya, Mujeon, kekuatan itu terlalu besar untuk sekadar disebut
kelas Transparent.
Darah…
Kekuatan tersembunyi seperti apa yang
dimilikinya?
Cale, yang menyimpan kata darah dalam
benaknya, membuka mulut.
“Kau itu, selama bisa melihat perang yang
meledakkan darah di mana-mana, semuanya terlihat baik buatmu. Jangan
berpura-pura.”
Uho mengangkat kepalanya.
“Ketahuan, ya?”
Ia tersenyum.
“Jadi benar, memang kau, ya?”
Saat itu juga—
Kuang!!
Cale melangkah masuk dan pintu Pertemuan
Agung tertutup.
Tengah hari.
Masih ada sepuluh menit sebelum pukul 12.
Wuuuuung—
Aula Pertemuan Agung bergetar.
Itu adalah sihir.
—Manusia! Sudah kukurung!
Aula berbentuk kubah.
Seluruhnya diselimuti barikade sihir hitam.
Itu adalah sihir Raon.
Sraaahhh—
Pada saat bersamaan, air mulai membanjiri
lantai kubah.
[ Mengurung mereka di dalam air? Semudah
itu. ]
Sky Eating Water berbicara dengan santai.
[ Tinggal berpura-pura jadi Kaisar Tiga,
kan? ]
Suara Raon menyusul.
—Sepuluh menit sebelum jam dua belas! Ini
waktu ketika Kaisar Dua akan tiba!
Kaisar Dua.
Dialah yang meragukan tindakan Kaisar Tiga.
Sebelum datang ke sini, dia bukan hanya
menghubungi Tiga Jenderal, tapi ia juga menggerakkan satu bidak rahasia.
〈Jenderal Hinari. Aku
salah menyebut waktu sebelumnya. Aku akan tiba sepuluh menit sebelum Pertemuan
Agung dimulai, jadi bersiaplah.〉
Jenderal ke-7, Hinari.
Dia pertama kali menerima pesan dari Jenderal
Tiga, lalu menerima pesan lain dari Kaisar Dua.
Dua pesan. Dua arah. Dua niat.
‘Dan satu-satunya orang yang mengetahui semua ini… adalah Cale
Henituse.’
Ia mengangkat kepalanya.
Musuh yang sibuk mencurigai satu sama lain,
saling mengawasi, tanpa sadar tengah berjalan masuk ke dalam jebakan.
Di kejauhan…
Sebuah titik kecil mendekat dari langit.
Sebuah kapal terbang mungil, semakin dekat.
“……”
Di sisi Hinari,
berdiri Alberu Crossman, Putra Mahkota,
menyamar sebagai sekretaris.
Tatapannya juga mengarah pada kapal itu.
Pada titik yang datang menembus langit.
“Yang Mulia, tolong sesuaikan
suasananya.”
Di bibir Alberu, senyum lembut mengembang.
Aula berbentuk kubah.
Di dalamnya, Cale — yang sedang bersiap
memainkan peran Kaisar Tiga — melepaskan aura air tanpa henti.
Siapa pun yang melihatnya akan berpikir:
bahwa lautan sedang bersiap untuk
berperang.
Dan Kaisar Dua…
akan merasakan air itu.
Akan merasakan lautan itu.
Akan merasakan bahwa perang sudah dimulai.
.
.

Wow......pusing ngikutin pikiran cale nim.makasih udah up kak
BalasHapus