Trash o the Count Family Book 2 490 : Dewa Kematian
Hukum Perburuan
Cale tidak mengucapkan kata-kata yang mengambang di ujung
lidahnya, hanya menatap Wanderer bernama Ryeon.
“Karena yang mengatakan itu adalah seorang Hunter, rasanya
maknanya jadi berbeda, ya?”
Keluarga Hunter yang telah memburu makhluk abadi—dan Ryeon
adalah salah satu dari anggota keluarga Fived Colored Blood, salah satu
keluarga Hunter tersebut.
Sambil tersenyum tipis, Cale berkata dengan santai:
“Kelihatannya kau sudah memilih pihak, ya?”
“.....”
Ryeon tidak menjawab sepatah kata pun.
Cara membunuh Dewa.
Dengan membicarakan hal itu, Ryeon pada dasarnya telah
menyatakan bahwa ia dan Cho telah memutus hubungan dengan keluarga Fived
Colored Blood.
Karena pada saat itu, Kaisar Tiga menatap Ryeon dengan
pandangan seolah ingin membunuhnya, tak mampu menahan amarahnya.
“Kenapa kau gemetaran begitu?”
Meski Cale mengejek, Kaisar Tiga tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya menatap tajam ke arah Ryeon.
“.....”
Dan tubuh Ryeon bergetar halus di bawah tatapan itu.
Namun...
“Lanjutkan saja.”
Ketika Cale berkata demikian, Ryeon pun membuka mulutnya.
Namun, ketika Kaisar Tiga mulai bicara—
“Kau tak takut pada Kaisar Pertama?”
“!”
Ryeon tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Ia terdiam, kehilangan kata-kata.
Pada saat itulah—
“Di Surgawi ada tempat suci bernama 'Sayap Langit'!”
“...Cho!”
Ryeon memandang adiknya dengan panik.
Namun sambil menggenggam tangan Ryeon, adiknya, Cho, menatap
tajam ke arah Kaisar Tiga dan melanjutkan:
“Secara resmi, tempat suci itu telah ditutup. Tapi di sana
tersimpan informasi tentang 'Hukum Perburuan'. Kaisar Pertama mendapatkan
informasi tentang pemusnahan Dewa dari sana!”
“Cho, kau bajingan~!”
Kaisar Tiga berseru marah pada Cho.
“Apa?!”
“!”
Namun Cho malah membalas dengan melawan.
Ketika Kaisar Tiga, Ryeon, dan bahkan Cale terlihat
kebingungan sesaat, Cho langsung melontarkan kata-katanya tanpa henti:
“Kau ini sudah kalah telak dari manusia biasa dan Raja
Iblis, masih berani mengomel ingin membunuh kakakku?! Siapa kau sebenarnya?!”
“Dasar gila!”
Apa pun yang dikatakan Kaisar Tiga, Cho menatap Cale.
Ia tidak peduli pada makian Kaisar Tiga.
“Hei!”
“Apa?”
“Kau akan menyelamatkan kami, kan?”
“Iya.”
Tanpa sedikit pun ragu, Cale menjawab.
Cho malah terlihat terkejut.
Tapi Cale, yang sebelumnya menyaksikan ketegasan dalam
pertanyaannya, juga mengingat mata Cho yang bergetar hebat karena ketakutan,
kemudian berkata:
“Jelaskan lebih lanjut.”
“B-baik...”
Cho menelan ludah dan melanjutkan.
“Tapi sebelumnya, bisakah kau tutup mulut orang itu dulu?”
Sambil menunjuk ke mulut Kaisar Tiga.
Cale melirik diam-diam ke arah Raja Iblis, dan Raja Iblis
mengangguk.
“Mmmph, mmph!”
Segera, mulut Kaisar Tiga dibungkam, dikekang oleh alat yang
bahkan tidak bisa dilepaskan oleh para Dewa.
Ia harus diam mendengarkan percakapan mereka dalam keadaan
seperti itu.
Meski matanya memerah karena marah, tak ada satu pun yang
peduli.
Benar-benar tak ada.
Meskipun ia adalah Kaisar Tiga dari keluarga Hunter, salah
satu dari tiga besar yang bisa mempengaruhi Dunia Surgawi, Dunia Iblis, dan
berbagai dimensi lainnya, tak satu pun dari mereka peduli.
“Manusia, makanlah!”
Munch.
Cale menerima potongan steak dari Raon dan mulai
mengunyahnya.
“.....”
Mata Kaisar Tiga perlahan kehilangan cahaya, bukan karena
amarah, tapi karena keputusasaan.
Cho yang melihat itu menghela napas dan mulai menjelaskan
dengan serius.
“Semua informasi tentang Hukum Perburuan dipegang oleh
Kaisar Pertama. Aku akan bicara hanya berdasarkan apa yang kami tahu.”
Tempat suci Sayap Langit di Dunia Surgawi.
“Meski tampak seperti tempat suci yang ditutup, pada
kenyataannya tempat itu adalah area yang paling dijaga ketat oleh kaum Surgawi.
Kabarnya, Kaisar Pertama menyusup ke sana dan mempelajari Hukum Perburuan. Di
sana pula dia menemukan cara membunuh Dewa.”
Alis Cale terangkat sedikit.
“Mempelajari...?”
Ungkapan itu terdengar aneh.
“Kami juga tidak tahu banyak tentang prosesnya. Tapi bagian
yang dikatakan kakakku tadi berasal dari teks yang tertulis di sana—”
“Tiada yang abadi.”
“Setiap makhluk hidup memiliki musuh alami. Dewa pun
demikian.”
“Hukum alam yang menciptakan dunia dan para Dewa, serta
menabur benih yang dapat membunuh Dewa ke dalam alam. Benih itu tak memiliki
bentuk, namun ia adalah hukum yang diciptakan oleh kebenaran. Ketika
kesombongan Dewa melewati batas, hukum itu akan bangkit.”
“Itulah yang disebut dengan Hukum Perburuan.”
Cale mengingat kembali kata-kata yang diucapkan oleh Ryeon.
“Dewa tidak musnah meskipun jantungnya tercabik.”
Memang, bahkan Dewa kematian yang hancur lebur tidak bisa
mati begitu saja.
“Jadi bagaimana caranya membunuh Dewa? Jawabannya ternyata
cukup sederhana.”
Senyum menyeringai.
Sudut bibir Cho tertarik ke atas.
“Kita hanya butuh kekuatan dari benih yang mengandung
kemungkinan tertentu.”
Kebenaran menciptakan dunia, menciptakan Dewa, dan menabur
benih yang dapat membunuh Dewa.
Benih itu mulai tumbuh saat Dewa menunjukkan kesombongan,
melewati batas, dan dari situlah kemungkinannya mulai berkembang.
“Lalu, apa kemungkinan itu?”
Saat Cale bertanya, Cho menatapnya tajam.
Tatapan yang seolah sedang menganalisisnya membuat dahi Cale
berkerut.
Sebelum Cale sempat bicara, Cho sudah lebih dulu membuka
mulutnya:
“Cale Henituse. Menurutmu, kenapa nama hukum ini harus
'Hukum Perburuan'?”
Cale terdiam sejenak.
Kenapa namanya harus “Hukum Perburuan”?
Satu langkah. Dua langkah.
Cho mendekatinya.
Kemudian ia menatap meja di hadapan Cale.
Menatap makanan yang tengah dimakan Cale, lalu membuka
mulutnya.
“Cale Henituse, Hunter. Kenapa kita berburu?”
Ah.
Seketika, Cale merasakan hawa dingin merayapi punggungnya.
Ia mulai memahami sesuatu.
Kenapa hukum ini dinamai seperti itu.
Suara rendah Cho sampai ke telinga Cale.
“Apa menurutmu alasan paling dasar, paling naluriah, dan
paling dasar kenapa pemburu memburu mangsanya?”
Tatapan Cho masih terarah pada makanan di atas meja.
Dan Cale pun sadar.
Itulah jawabannya.
Jawabannya ada di ujung pandangan itu.
Cho mengucapkannya pelan:
“Untuk memakannya.”
Itulah alasan sejati kenapa Hunter berburu.
“Itu karena untuk memakannya.”
Tatapan Cho yang semula tertuju ke meja makan kini beralih
kepada Cale.
“Cale Henituse, kau bilang kau memiliki bakat untuk membunuh
Dewa, bukan?”
Cho berbisik seolah merapal mantra.
“Itu artinya, kau punya kemampuan untuk memakan Dewa.”
Cale mendengar suara seseorang menahan napas di belakangnya.
Mungkin itu Edna, kepala pengawal.
Namun, kata-kata Cho yang barusan menguasai seluruh
perhatian Cale, membuatnya tak bisa peduli pada hal lain.
Bakat untuk membunuh Dewa.
Itu berarti—potensi untuk memakan eksistensi para Dewa.
Cho menatap Cale dengan intens, seakan ingin menembus
pikirannya.
“Dewa tidak mati meskipun jantung mereka dicabik. Tapi kalau
mereka dimakan? Jika seluruh eksistensinya dimakan habis?”
Jika itu terjadi—
“Maka eksistensinya akan musnah. Menghilang. Tidak akan ada
lagi.”
“Hoo-hoo.”
Kali ini, dari belakang, Cale bisa mendengar tawa Raja
Iblis.
Tawa yang entah terdengar heran atau justru bersemangat,
namun mengandung gairah yang sulit dijelaskan.
Sementara itu, tatapan Cale menjadi semakin dalam dan
serius.
Melihat itu, Cho berkata tenang sambil melangkah mundur:
“Dengan kata lain, kau punya kemungkinan untuk memakan
Dewa.”
Kapan reruntuhan Dewa Iblis menunjukkan reaksi terhadap
Cale?
Saat itu terjadi, ketika Sky Eating Water—"Sky Eating
Water”—melampaui batas Cale dan mencoba menentang Kaisar Tiga, reruntuhan itu
merespons Cale.
‘Dan juga…’
Sky Eating Water.
Nama kekuatan itu diberikan oleh dirinya sendiri—untuk
melawan langit, untuk mengalahkan para Dewa, lebih tepatnya: Dewa Perang.
Dewa Perang menyebut kekuatan itu sebagai “Water of
Judgement”, menciptakan batas untuknya, lalu mengurungnya di bawah danau.
Sulit menyebut itu sebagai “Menghemat Kekuatan”.
Apa yang dilakukan Dewa Perang lebih tepat disebut sebagai
penindasan dan pembatasan.
‘Mengapa ia sampai melakukan itu…?’
Pertanyaan itu selalu terngiang di benak Cale, dan hari
ini—mungkin ia mulai menemukan jawabannya.
Dewa Perang.
Dewa terkutuk yang belum pernah ia temui, namun saat ini
mendukung Dewa Kekacauan dan turut membuat kekacauan di dunia para Dewa.
Mungkin saja, dia tahu tentang Hukum Perburuan.
Dan karena itu—dia melakukan semua itu pada Sky Eating Water.
‘Semuanya masih asumsi... tapi bukan tanpa dasar.’
Cale memutar pikirannya, menyusun kemungkinan.
Orang-orang yang mengawasinya menunjukkan ekspresi yang
beragam.
“Hmm…”
Terutama Cho, sang Wanderer, diam-diam menelan ludah sambil
terus mengamati Cale.
“Jadi benar ada, ya. Kamu memang punya kekuatan untuk
memakan Dewa!”
Kalau tidak, tak mungkin Cale menunjukkan ekspresi yang
penuh makna seperti itu.
“Lihat saja alisnya yang mulai berkerut!”
Ekspresi Cale semakin serius.
Cho, penasihat Edna, bahkan Kaisar Tiga pun ikut menegang
melihat perubahan itu.
[Hehe…]
Pada saat itu, Cale mendengar suara Sky Eating Water dalam
kepalanya.
Suaranya jernih, namun kosa katanya jauh dari anggun.
[Jadi, aku benar-benar bisa membantai Dewa ya? Termasuk
si brengsek Dewa Perang itu? Wahahaha!]
‘...Huh.’
Berisik.
Cale mendesah panjang menghadapi tawa meledak-ledak yang tak
ada solusi itu.
Dan saat itu pula—
“Apakah kau akan membunuh Dewa?”
Hmm?
Cale menyadari tatapan Raja Iblis yang tertuju padanya.
Ia menyadari bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu.
Tatapan Raja Iblis yang tajam—membuatnya terlihat seolah
siap menyerang kapan saja.
Cale pun spontan menjawab apa yang terlintas di benaknya:
“Kau gila? Untuk apa aku bertarung melawan Dewa?”
Alis Raja Iblis sedikit terangkat.
Tanpa ekspresi, namun tetap menyampaikan tekanan yang jelas.
Lawan di hadapannya ini—adalah orang yang menghajar Dewa
seperti mengibaskan debu saat hujan.
Cale, yang teringat bagaimana Raja Iblis sebelumnya
menghajar Kaisar Tiga tanpa ampun, buru-buru menambahkan:
“Maksudku, memang aku
ada urusan dengan Dewa Kekacauan dan beberapa Dewa lainnya. Ya… aku belum bisa
bilang secara pasti apa yang akan aku lakukan…”
Semakin ia bicara, semakin terdengar rumit.
“Pokoknya, sebisa mungkin, aku tidak mau bertarung. Aku
hanya ingin hidup damai.”
Damai.
Betapa indahnya kata itu.
Kalau bukan karena masalah dengan para Hunter dan Dewa
Kekacauan, ia pasti sudah kembali ke Forest of Darkness di wilayah Henituse
untuk tidur, makan, dan bersantai.
“Ah, jinjja... Semakin kupikirkan, semakin aku merasa
dirugikan.”
Cale benar-benar merasa tidak adil.
“Apa ada orang yang mencintai perdamaian sebanyak aku?”
‘Kenapa aku harus menderita seperti ini?’
Rasa kesal mulai mendidih dalam dirinya.
“.....”
“.....”
Tak ada seorang pun yang menjawab.
Cale tidak peduli.
Ia tetap bicara kepada Raja Iblis, yang kini menatapnya
dengan tatapan berbeda dari sebelumnya—penuh rasa ingin tahu.
“Tapi tenang. Aku pasti akan memberimu panggung pertempuran
yang tidak akan membosankan. Memang, tak ada pilihan lain.”
Cale menatap Raja Iblis seakan bertanya, “Puas sekarang?”
Lalu ia menoleh ketika merasakan sentuhan di lengannya.
“Manusia! Kalau sedang stres, makanlah!”
“Ini juga enak, loh!”
Munch. Munch.
Cale pun memasukkan makanan yang diberikan Raon dan Hong ke
dalam mulutnya.
Sang pelayan pribadi, Ron, menatapnya dengan senyum puas
lalu menyerahkan serbet.
Sambil menyeka saus di sudut bibirnya, Cale berkata:
“Besok aku akan mulai proses pemurnian lagi.”
Ah.
Seketika, penasihat Edna menanggapi.
“Maksud kamu, pemurnian keliling seluruh negeri?”
Hmm.
Cale sempat mengira itu terdengar seperti “tur konser
nasional”, dan buru-buru mengusir bayangan absurd itu dari pikirannya, lalu
menjawab:
“Iya. Jadi, malam ini kita harus pergi ke reruntuhan Dewa
Iblis.”
Reruntuhan Dewa Iblis.
Cale harus menyelidiki lebih dalam tentang cahaya abu-abu
itu—kekuatan yang mampu memperkuat dirinya tanpa efek samping.
Penasihat yang menerima tatapan Cale hendak menjawab, tetapi
seseorang lebih dulu bicara.
“Aku akan ikut.”
“Eh?”
Sudut bibir Raja Iblis terangkat samar.
“Sepertinya… akan menyenangkan.”
“Umm… ya, sesukamu saja?”
Cale merasa agak tidak nyaman, namun tidak ada alasan khusus
untuk menolak pergi bersama Raja Iblis.
‘Apa sih yang menurutnya menyenangkan?’
Tentu saja, Cale tidak benar-benar mengerti maksud Raja
Iblis.
“Oh, dan satu hal lagi.”
Meski begitu, Cale adalah tipe orang yang tidak pernah
melewatkan hal-hal penting.
“Kalian yang akan mengurus Kaisar Tiga?”
Raja Iblis mengangguk pelan menjawab pertanyaan Cale.
“Setelah kami mendapatkan informasi yang kami butuhkan, kami
akan mengurusnya. Nama Kaisar Tiga tidak akan pernah terdengar lagi di luar
penjara ini.”
“!”
Wajah Kaisar Tiga mendadak pucat pasi.
Ia memahami makna di balik ucapan itu.
Namun, tidak satu pun orang yang peduli.
***
“Penyelamat kami!”
“Penyelamat kami!”
“Penyelamat kami!”
Begitu Cale tiba di gerbang reruntuhan sambil duduk di kursi
roda, ia langsung disambut oleh Suku Pohon Abu-abu yang bersujud ke tanah,
menyebutnya sebagai penyelamat.
“Fufufu~.”
Raja Iblis tertawa di belakangnya. Cale mulai mengerti apa
yang dimaksud dengan “menyenangkan” tadi.
Ia teringat kembali pada rakyat Kerajaan Roan yang dulu
bersorak memanggilnya “Tuan Muda Perisai Perak!”
Namun, sambutan kali ini terasa lebih tulus... atau bahkan
lebih fanatik dan membara.
Cale menghindari tatapan kaum Pohon Abu-abu dan mengalihkan
pandangan ke salah satu sudut, sambil menunjukkan ekspresi aneh.
“Benar, kan?”
[Ya, benar.]
Suara Sky Eating Water menjawab.
[Itu memang Si Naga Air.]
Di sebuah sudut dekat gerbang reruntuhan Dewa Iblis,
terdapat sebuah genangan kecil.
Dari sana, seekor makhluk kecil mengangkat kepala.
Naga Air milik Raja Naga.
Makhluk itu telah kehilangan sebagian besar kekuatannya.
Tubuhnya kini sekecil ular kecil.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap Cale.
[Tatapannya... terlihat sangat terdesak, ya?]
Tatapannya benar-benar putus asa dan penuh harap.
‘Apa lagi ini?’
Cale bertanya-tanya dalam hati.
***
Di saat yang sama, kabar tentang ritual pemurnian keliling
seluruh wilayah Dunia Iblis yang akan dimulai besok, menyebar ke seluruh
penjuru.
“Persiapkan pesta penyambutan yang megah! Akhirnya kita bisa
terbebas dari Penyakit Abu-abu!”
“Ini seperti menghadapi legenda Abu-abu!”
“Beliau adalah orang pilihan Dewa Iblis! Kita harus
menyambutnya dengan kehormatan tertinggi!”
Para iblis tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan mereka.
Meskipun wabah sudah cukup terkontrol, rasa takut terhadap
penyakit itu masih sangat besar.
Jika tidak berhasil dipurnikan, malapetaka lebih besar bisa
saja terjadi.
Karena itu, pengumuman ini bagaikan cahaya harapan bagi
mereka.
“Para penduduk wilayah pasti akan sangat gembira mendengar
kabar ini!”
“Tuan Penguasa! Para warga ingin secara sukarela menyambut
kedatangan beliau!”
“Sampaikan juga kepada keluarga para penderita bahwa
keajaiban akan segera datang!”
Suara-suara ceria dan ekspresi penuh harapan bermunculan
dari berbagai tempat.
“Ngomong-ngomong, bukankah beliau akan langsung melakukan
pemurnian begitu sadar?”
“Orang yang benar-benar baik. Meskipun manusia, rasanya kita
harus memberinya suatu jabatan.”
“Jabatan?”
“Tidak cukup jika hanya diberi piagam atau medali. Bukankah
beliau menyelamatkan seluruh Dunia Iblis?”
“Itu benar. Hmm... jabatan ya... setidaknya gelar
bangsawan?”
“Memang sudah sepantasnya. Keluarga pahlawan yang patut
dihormati.”
Legenda Abu-abu.
Sosok di balik legenda itu kini sedang dinanti.
Berbagai diskusi dan wacana tentang pemberian penghargaan
tersebar luas di dunia iblis.
***
Sementara itu, Cale—yang tidak mengetahui semua
itu—mendengar suara pendeta di hadapannya, bersikap dengan sangat hormat:
“Wahai penyelamat. Dewa Iblis sedang menantikan kamu.”
Pada saat yang sama, suara lain terdengar di telinganya.
[...Kau datang lagi... wahai pemilik bakat untuk membunuh
Dewa...]
Suara itu terdengar sedikit malu-malu.
[...Aku merindukanmu... sangat merindukanmu...]
“Apa-apaan ini...”
Begitu Cale mendengar suara yang malu-malu itu, bulu
kuduknya langsung merinding.
Ekspresinya seketika berubah menjadi sangat tidak nyaman.
.
.
Jangan lupa dukungannya disini:

Sangat cinta damai ya cale....aku kalo jadi cale udah gila karena suara2 dikepalanya
BalasHapus