Trash of the Count Family II 485 – Gray Rain Falls


Ketika Cale Henituse dicekik oleh kerahnya oleh Kaisar Tiga,

bayangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya umumnya tidak baik.

Bahkan ada yang membayangkan masa depan yang mengerikan.

“Hah...”

Raja Iblis pun berhenti berlari.

“U, uwoooo~”

Raon yang berada dalam pelukan Eruhaben bergumam kagum dengan suara terbata.

Tak lama kemudian Raon harus membuka mulutnya untuk merapikan apa yang baru saja ia lihat.

“Manusia kita dicekik, lalu tiba-tiba dari tangannya sebuah panah laut ditembakkan dan mengarah ke Kaisar Tiga.”

Dan—

“Kaisar Tiga terkena panah itu lalu terpental. Manusia kita juga terpental ke belakang karena daya pantul saat mengeluarkan panah laut.”

Arrrgghhhhh—!

Hooeeekkkk—!

Teriakan beruntun, pertama dari Kaisar Tiga lalu Cale.

“Manusia kita tiba-tiba memegang perutnya dengan wajah tenang seolah lega.”

Raon bergumam linglung.

Dan Kaisar Tiga—

Kwaaaaaa—!

Tiba-tiba kekuatan hampir setengah dari Naga Laut menimpanya, dan karena ia terlalu dekat dengan Cale, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima hantaman lautan itu.

Lautan yang menyerangnya.

Pikiran Kaisar Tiga seketika menjadi kosong.

“Ini tidak masuk akal—!”

Ia memekik bagaikan menjerit sambil tubuhnya terpental ke belakang oleh panah laut.

Namun pada akhirnya itu tetaplah lautan.

Lautan yang berasal dari Naga Laut yang lahir darinya.

Kekuatan itu tidak bisa memberikan luka fatal padanya.

“…..”

Kedua tangannya bergerak.

Swaaa—

Api membara dari tubuhnya.

Air laut seketika melahap panah laut yang mengincarnya.

“...Sialan!”

Kedua tangannya meraih panah laut sebesar Naga Laut itu, lalu merobeknya begitu saja.

Chwaaaak—

Lautan terbelah dan terpegang di kedua tangannya.

Namun meski berhasil menyelesaikan masalah itu dengan mudah, ia tak bisa menyembunyikan amarahnya.

Perih.

Dada yang tiba-tiba terkena panah laut berdenyut sakit.

Bukan luka besar, tapi sudah lama ia tidak merasakan nyeri seperti itu. Dan fakta bahwa penyebabnya adalah laut membuat amarahnya tak terbendung.

‘Berani sekali.’

Panah laut yang kini ia genggam di tangannya.

Lautan yang terbelah jadi dua berputar hebat, seakan menolak dirinya.

“Ha!”

Tak bisa dimaafkan.

Benar, hal ini sama sekali tidak bisa ditoleransi.

Ia menekan kekuatan di tangannya.

Chwaaa—

Air laut di tangannya semakin membubung.

Kaisar Tiga melepaskan panah laut yang ia genggam.

Sekaligus melepaskan lautan yang baru saja ia panggil.

Dua lautan itu saling bertubrukan.

Chwaaa—

Namun pada akhirnya salah satu lautan melahap yang lain.

Chwaaa—

Lautan Cale dimakan oleh lautan Kaisar Tiga.

“……”

Setelah menelan laut milik Cale, ia berdiri dengan dua pilar air berputar di sampingnya sambil menutup mata rapat.

Swaaahhh—

Suara hujan dan lautan terdengar sekaligus.

‘Aku adalah orang laut.’

Ia lahir di tepi pantai.

Sebagai manusia, ia hidup seumur hidupnya bersama laut.

Ayah, ibu, bahkan saudara-saudaranya—semua ditelan laut sialan itu.

Ah, tentu saja saudaranya, ia sendiri yang mendorongnya ke laut. Karena ia ingin memiliki satu-satunya warisan ayahnya, yaitu kapal.

Demi bertahan hidup, ia tak punya pilihan lain.

Bagaimanapun, saat berlayar, saat menghadapi bencana alam—

lautan selalu merenggut orang-orang berharga di sekitarnya.

Meski begitu, ia tetap hidup bersama laut.

Ia hanya tahu cara hidup dari laut.

Sebagai manusia lemah, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Laut terkutuk.

Laut yang dibenci.

Namun hanya lautan luas itu yang merengkuhnya.

Satu-satunya keluarga dan teman.

Ia hidup bersama laut sepanjang hidupnya.

Desa yang ditelan tsunami.

Di Desa itu, hanya ia yang selamat dan terus bertahan hidup.

Namun kematiannya bukan karena laut.

Melainkan karena naga sialan itu.

Seekor naga yang bilang pemandangan tempat itu indah, mencoba merebut Desa yang sudah tenggelam tanpa jejak itu.

Satu-satunya Desa yang ia jaga, harus diserahkan kepada naga.

Ia tak mau.

Jadi ia melawannya sendirian.

Tapi akhirnya ia harus lari, dan tempat pelariannya adalah laut.

Laut sialan yang telah merenggut semua orang yang ia sayangi, pada akhirnya merengkuhnya di detik terakhir.

Ia memang mati di laut, tapi setelah mati ia hidup kembali sebagai pengembara, menyadari Kekuatan Uniknya.

Dan ketika ia sadar bahwa kekuatannya adalah laut, ketika ia sadar laut benar-benar telah merengkuh dan memberinya tempat pada momen terakhirnya—

“Aku adalah—”

Ia benar-benar menyadari.

“Aku adalah laut.”

‘Akulah laut itu sendiri.

Hanya aku yang telah menyerahkan seluruh hidupku pada laut, yang bisa mengendalikan laut.

Lautlah yang memberiku kekuatan!

Naga atau siapa pun—'

tak perlu ditakuti.

Dan ia tak lagi terikat pada tubuh manusia.

Sebagai pengembara yang menyadari Kekuatan Uniknya, ia bisa menjadi alam raya itu sendiri: laut yang luas, berbahaya sekaligus hangat.

“Berani-beraninya merebut tempatku?”

Tapi Cale Henituse.

Bajingan ini berani mengendalikan laut.

‘Tidak, mencoba merebut milikku.

Seperti saudaraku yang dulu mencoba merebut kapal.

Seperti naga itu yang mencoba merebut Desa yang sudah jadi milikku.’

“Tak bisa dimaafkan. Sama sekali tak bisa dimaafkan.”

Brrrr—

Dua pilar air bergetar halus, seakan membagikan emosinya.

Seolah tubuhnya tak bisa menahan amarah.

Saat itu—

“So what?”

Cale menatap Kaisar Tiga dengan wajah datar.

Namun entah kenapa wajahnya begitu lega dan tenang.

Sambil menepuk-nepuk perutnya, ia membuka mulut.

“Memangnya siapa butuh maafmu?”

Dasar konyol.

Memang wajar Kaisar Tiga marah karena Naga Laut yang ia ciptakan dari Kekuatan Uniknya direbut.

Tapi kenapa dia mengabaikan Naga Laut yang tersisa?

Dan orang yang merasa dirampas, malah berniat menghancurkan istana yang jadi rumah bagi banyak orang?

“Hah.”

Cale menghela napas.

Lalu ia berkata dengan lantang,

“Raja Iblis! Tangkap dia buatku!”

Swaaahhh—

“…..”

“…..”

Sejenak, baik Raja Iblis maupun Kaisar Tiga kehilangan kata-kata.

“Ka, kau—”

Kaisar Tiga terperangah.

Ia sudah pasrah tak bisa lari, bersumpah akan membunuh Cale Henituse dengan tangannya sendiri di tempat ini.

Namun Cale bereaksi seperti itu?

“Dia gila?”

Tanpa sadar Kaisar Tiga berucap.

“Kuh, kuhuhuhu~”

Ekspresi kosong Raja Iblis lenyap.

“Kuahahahaha!”

Raja Iblis tertawa terbahak.

Di matanya hanya ada wajah Cale Henituse yang begitu tebal muka dan penuh percaya diri.

“Benar. Dia memang gila.”

Ia menghentakkan kaki, lalu tubuhnya bergerak di antara Cale dan Kaisar Tiga.

“!”

Kaisar Tiga tak punya waktu lagi untuk tertegun menatap si gila itu.

Swaaahh—

Kedua pilar air, satu mengarah ke Raja Iblis dan satu ke Cale.

“Manusia!”

Perisai hitam Raon menghadang pilar api raksasa yang meluncur bagai tombak.

Crack!

Namun perisai itu segera retak.

Raon buru-buru membuat perisai tambahan.

Ia belum lupa betapa kuatnya Kaisar Tiga saat terakhir bertarung.

Satu perisai hancur bukan alasan untuk menyerah.

Ia selalu begitu.

Wuuung—!

Tiga perisai lagi tercipta berlapis-lapis untuk menahan pilar api.

“Hm?”

Raon sadar ada yang aneh dengan Cale.

“Kenapa manusia tidak mengeluarkan perisainya?”

Perisai yang kini sudah kembali berwarna perak.

Ia pikir Cale pasti akan segera mengeluarkannya untuk menahan.

“Hm.”

Namun Cale ragu, tak segera melakukannya.

[ Belum semua daun tumbuh. ]

Si Rakus bilang agar ia menunggu sebentar lagi.

‘Bukankah harusnya selesai setelah pencernaan?’

[ Sorry, tahan 5 menit lagi. ]

5 menit.

Waktu yang sangat singkat.

Masalahnya, melawan musuh seperti Kaisar Tiga, 5 menit terasa seperti sehari penuh.

‘Sial!’

Wajah Cale mengeras.

[ Aku rasa aku akan jadi lima kali lebih kuat. ]

Mendengar kalimat tenang si Rakus, Cale tersenyum lebar.

[ Terutama lebih kuat melawan kekacauan dan elemen air. ]

Senymnya makin merekah.

“Kenapa manusia kita begitu?”

Raon tak habis pikir.

“Cale.”

“Cale-nim.”

Sementara Raon fokus menahan pilar air, Choi Han dan Eruhaben mendekat ke sisinya.

“Mari mundur.”

Seperti kata Eruhaben, mundur sementara Raja Iblis dan Kaisar Tiga bertarung adalah pilihan terbaik.

Kemudian Choi Han berdiri di depan Cale.

“?”

Cale yang heran melihat punggung Choi Han di depannya.

“Ayo naik.”

“Ah.”

Cale segera naik ke punggungnya.

Choi Han berlari cepat menuju tembok benteng, sementara Cale dengan santainya menumpang di punggungnya.

[ Hm. ]

Saat itu, suara Sky Eating Water terdengar.

[ Apakah Raja Iblis bisa mengalahkan laut? ]

Mendengar itu, ekspresi Cale berubah tenang.

‘Raja Iblis cukup kuat untuk menahan Kaisar Tiga.’

Itu sebabnya ia bisa bergerak sesuai rencana Cale.

Dan Kaisar Tiga hanya bisa memilih melarikan diri.

Cale sekarang bisa memahami niat Kaisar Tiga yang sempat mencekiknya.

‘Justru sekarang kesempatan.’

Ia bisa mengukur dengan jelas kekuatan Raja Iblis dan Kaisar Tiga hari ini.

‘Aku harus me-Record-nya.’

Dengan begitu, ia bisa mempersiapkan diri melawan Fived Colored Blood, Wanderer Fived Colored, serta para penguasa kuat lainnya, terutama Raja Pertama dan Raja Kedua.

‘Aku sudah melakukan bagianku.’

Ia sudah menyucikan dua Kota,

menyelesaikan urusan Naga Laut,

dan bahkan berhasil mencegah ramalan itu—bukti nyata adalah pertarungan Raja Iblis dan Kaisar Tiga di sini.

‘Sekarang saatnya aku juga istirahat.’

Karena itu, Cale menoleh pada pilar-pilar air yang masih mengejarnya, lalu berkata pada Choi Han:

“Menuju Raja Iblis!”

Choi Han langsung berlari ke arah Raja Iblis.

Pilar-pilar air pun mengikuti.

“…..”

Cale menatap Raja Iblis dan berteriak:

“Tolong urus ini juga!”

‘Ya, biar kau saja yang selesaikan!

Ini semua terjadi di Dunia Iblis, bukan?

Kau juga harus repot sedikit!’

“Choi Han, lompat!”

Choi Han menuruti ucapan Cale dengan patuh.

“Maaf.”

Dan ia dengan ringan melompati Raja Iblis, lalu kabur ke arah tembok benteng Mikashi.

“Hah!”

Raja Iblis tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.

Tapi Cale dan Choi Han tak peduli.

Bahkan, Cale sempat menoleh untuk mengamati.

‘Raja Iblis...’

Apa sebenarnya kekuatan bajingan itu?

Ia belum bisa merasakannya dengan jelas.

“!”

Dan tak lama kemudian, Cale bisa melihat secuil dari kekuatan itu.

Chwaaaak—!

Dua pilar air menuju Raja Iblis.

Satu awalnya mengincar Cale, tapi akhirnya arahnya sama.

Raja Iblis mengulurkan kedua tangan.

Seperti saat Cale memanggil lautan,

seperti saat Kaisar Tiga merobek lautan,

ia mengulurkan tangannya begitu saja.

Kwaaang! Boom!

Ia memukul pilar air itu dengan kedua tangannya.

“Ma-manusia! Pilar air itu dipukul mentah-mentah!”

Seperti seruan Raon yang terkejut, benar adanya.

Raja Iblis sama sekali tidak memunculkan aura atau energi.

Ia hanya memukulnya dengan tangan kosong.

Kwaaaa—!

Kwaaang!

Dan pilar air itu pecah berkeping-keping, lalu meledak.

“Apa-apaan itu?”

Cale melongo tak percaya.

Sementara itu, Choi Han sudah naik ke tembok, di mana Komandan Moll menyambut mereka.

“Dewa Pertempuran.”

“Hah?”

“Raja Iblis-nim sangat hebat dalam bertarung.”

“Ah.”

Cale baru menyadari sesuatu.

“...Dia sama sekali tidak basah.”

Raja Iblis.

Sejak tadi hujan deras, tapi ia tak kena setetes pun.

Cale teringat saat pertama kali bertemu dengannya—ia membuka pintu hanya dengan aura.

Aura itu sepertinya melingkupi seluruh tubuh Raja Iblis.

Suara Komandan Moll terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, kekuatan yang menolak semua hal?”

Ia menatap Raja Iblis dengan tatapan aneh.

Raja Iblis terus maju mendekati Kaisar Tiga.

“Hangatnya sinar matahari, sejuknya tetes hujan, wangi bunga, bahkan lezatnya makanan—bagi seseorang, semua itu bisa jadi bukan apa-apa.”

Cale menyadari, itu cerita tentang Raja Iblis.

“Raja Iblis-nim memiliki kekuatan untuk menolak segala sesuatu.”

Seperti hujan yang tak bisa menyentuhnya.

Ia bisa menolak semua yang hendak mengenai dirinya.

Lebih tepatnya, ia bisa menolaknya, mendorongnya pergi.

Sebab tak ada satu pun yang menyentuh hatinya.

‘Jika tidak menyentuh hati, dia bisa menolak segalanya.’

“Laut?”

Chwaaaa—

Laut yang dibangkitkan Kaisar Tiga, air deras yang membawa hujan, membentuk ular raksasa dan menyerang Raja Iblis.

“Kaisar Tiga tidak akan pernah bisa menyentuh Raja Iblis-nim dengan lautnya.”

Meski bertarung cukup lama, hingga kini setetes air pun belum membasahi Raja Iblis.

“Raja Iblis-nim pasti akan menolaknya.”

Selama hatinya tidak terguncang, selama ia tidak merasakan apa pun.

“Tak ada serangan, tak ada kekuatan, bahkan tak ada konsep yang bisa menyentuh Raja Iblis-nim.”

Kekuatan untuk menolak atribut, konsep, dan serangan apa pun.

Itulah alasan mengapa Raja Iblis saat ini dianggap calon terkuat untuk menjadi Dewa Iblis.

“Kaisar Tiga tidak bisa mengguncang hati Raja Iblis-nim.”

Karena itu—

“Lautnya tidak akan berpengaruh padanya.”

“Khukhu.”

Komandan Moll tertawa hambar lalu berkata pada Cale:

“Artinya, Kaisar Tiga hanya akan dipukuli.”

Dan seakan menjawab itu—

Chwaaaa—!

Raja Iblis berlari menembus arus air.

Ia mengayunkan tinjunya ke arah Kaisar Tiga.

“Ah, ngomong-ngomong, kemampuan bela diri Raja Iblis-nim tidak tertandingi di Dunia Iblis.”

Sesuai julukannya sebagai “Dewa Pertempuran”,

entah bertarung dengan tubuh kosong atau dengan senjata, ia menguasai semuanya.

“Keuhk!”

Kaisar Tiga berhasil menghindar dengan susah payah, tapi tetap terhantam dan terlempar sambil mengerang.

Perisai air yang mencoba melindunginya pun—

Bang!

Hancur diterjang pukulan Raja Iblis.

Ia tak bisa menghentikan langkah Raja Iblis.

‘Ini sudah selesai.’

Komandan Moll yakin.

Kaisar Tiga bukanlah lawan yang bisa mengguncang hati Raja Iblis.

Tak dengan rasa tunduk, tak dengan rasa takut, tak dengan rasa gentar,

bahkan tak dengan perasaan baik sebaliknya.

Jika tak bisa menimbulkan satu pun emosi, maka laut itu hanya tak berarti baginya.

“Sebesar apa pun Dunia, bagi seseorang yang tak mau menoleh padanya, ia hanya eksistensi sia-sia.”

Karena itulah, Raja Iblis akan mengalahkan Kaisar Tiga.

Saat itu—

“Hei.”

Komandan Moll melihat ekspresi Cale.

“Itu saja?”

“...Apa?”

“Maksudku, memang Raja Iblis kuat, tapi—”

Ekspresi Cale semakin buruk.

Ia tampak sangat tidak puas, resah, dan gusar.

“Pada akhirnya, bukankah itu cuma berarti dia sendiri yang tidak terpengaruh?”

“...Apa maksudmu?”

“Maksudku, cuma dia sendiri yang aman kan?”

Komandan Moll menatapnya, seolah tak mengerti masalahnya apa.

Namun wajah Cale semakin mengeras.

“Hei. Kaisar Tiga itu tidak selemah itu. Aku tahu kekuatan bajingan itu.”

Mungkin Komandan Moll tidak tahu, tapi Cale—yang pernah merasakan kekuatan Kaisar Tiga secara langsung—mengerti.

Kaisar Tiga itu masih menyimpan tenaga.

“Komandan Moll! Hei! Suruh Raja Iblis cepat tangkap dia! Secepatnya!”

Hujan deras mengguyur medan perang.

Sosok yang mengendalikan laut.

Cale tiba-tiba teringat makna sebenarnya dari perkataan Sky Eating Water.

[Apakah Raja Iblis bisa mengalahkan laut?]

Raja Iblis memang bisa menahan Kaisar Tiga.

Ia memang bisa menolak laut.

Tapi apakah laut hanya akan menyerangnya?

[ Raja Iblis memang bisa menolak laut, tapi ia tak bisa melindungi apa pun darinya. ]

[ Laut memiliki kekuatan untuk menghancurkan segalanya. ]

Suara Sky Eating Water menggema.

[ Raja Iblis menolak laut, tapi itu berarti ia tak mengenal laut. ]

[ Sedangkan Kaisar Tiga, dia cukup mengenal laut. ]

Benar.

Kaisar Tiga memahami laut lebih dari siapa pun.

“Dia belum menyerah.”

Saat Cale menyaksikan kekuatan Kaisar Tiga yang masih tersisa, ia tersadar secepat kilat.

Manusia tidak mudah berubah.

Kaisar Tiga pun begitu.

Ia tak peduli pada apa pun demi tujuannya.

Bukankah ia yang tega menghancurkan hutan, membunuh para iblis di dalamnya, hanya demi menangkap Cale?

Sekarang tujuannya adalah melarikan diri.

Dan membunuh Cale.

Cara terbaik untuk itu adalah—

“...Laut.”

Menyapu bersih segalanya dengan laut, lalu kabur di tengah kekacauan.

Laut tidak hanya menyerang Raja Iblis.

Alam tidak pernah bergerak hanya untuk satu makhluk saja.

“Mungkin dia akan memanggil laut besar seperti sebelumnya, menyapu segalanya!”

Apalagi sekarang hujan deras, air melimpah di mana-mana.

Bum!

Bumi bergetar.

Bersamaan dengan itu, langit berubah aneh.

Saat Kaisar Tiga mengulurkan tangan ke langit, awan hujan yang menutupi seluruh wilayah berkumpul.

Mereka terus menumpuk, bertumpuk.

Pemandangan yang tak masuk akal pun terbentuk.

Mika, Midi, dan situs peninggalan di antaranya—

ke sanalah semua awan hujan terkumpul.

Tidak, lebih tepatnya air itu sendiri berkumpul.

Bahkan setiap tetes air di tanah pun mengalir menuju Kaisar Tiga.

Sekali lagi, itu bukan sekadar air.

“Lautan datang.”

Lautan yang membawa lebih banyak air dibanding tsunami yang sebelumnya datang.

Saat menyadari hal itu—

Meskipun Raja Iblis bergerak menuju Kaisar Tiga,

dan meski kemungkinan besar Raja Iblis akan menangkap Kaisar Tiga pada akhirnya.

“Tapi bagaimana kalau sebelum itu lautan lebih dulu menyapu tempat ini?”

Bagaimana kalau hal yang sama seperti waktu itu kembali terjadi?

Leher bagian belakang Cale merinding.

“Manusia~!”

Mendengar perkataan Cale, Raon yang juga pernah mengalami peristiwa waktu itu seolah merasakan sesuatu, begitu pula rekan-rekannya dan Komandan Moll—wajah mereka satu per satu mulai memucat.

[ Cale. ]

Suara Sky Eating Water terdengar tenang.

[ Pada akhirnya, laut juga hanyalah air. ]

Nada suaranya mengandung tawa.

[ Biarkan Raja Iblis yang menangkap Kaisar Tiga. ]

Sepertinya dia telah menemukan sebuah jawaban.

[ Setelah aku ‘memakan’ lautan, aku akhirnya tahu apa itu laut. ]

Mana mungkin dia yang dulu terkurung di danau tahu apa itu laut?

Namun, setelah si rakus memakan lautan, seolah dia bisa memahami lautan yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya, itu hanyalah air.

Seperti hujan ini.

[ Mari kita tangkap lautan. ]

Raja Iblis akan menangkap Kaisar Tiga.

Maka, lautan akan kita tangkap.

“…Apa itu mungkin?”

Cale bertanya, dan Sky Eating Water menjawab:

[ Hujan bukan hanya berpihak pada Kaisar Tiga. ]

Awan hujan menggumpal.

Genangan-genangan air terbentuk di mana-mana karena hujan deras yang turun.

[ Itu hanya air yang sangat banyak. ]

Ucap Sky Eating Water.

[ Kaisar Tiga hanya melihat lautan. Tapi aku selalu melihat langit. ]

Karena itu, Sky Eating Water menegaskan:

[ Air yang ada di langit adalah milikku. ]

“Khekhe—”

Akhirnya senyum terbit di bibir Cale.

“Baiklah.”

Sudah lama tubuhnya terasa ringan setelah semua pencernaan selesai.

Memang ada sedikit kekacauan yang menggumpal di sekitar tulang selangka,

tetapi ini tetap kondisi tubuh terbaiknya dalam beberapa waktu terakhir.

[ Dan kalaupun aku tak bisa menahannya sepenuhnya, bukankah saat itu perisai yang lima kali lebih kuat bisa maju? ]

Mendengar ucapan Sky Eating Water, Cale mengangguk ringan dan menatap lurus ke depan.

Lautan milik Kaisar Tiga sedang bangkit.

Sosok Raja Iblis yang berjalan menuju lautan itu tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

Namun, Raja Iblis hanya akan menolak lautan itu dan melewatinya.

Tetap saja, lautan itu akan terus mengalir.

Menuju tempat ini.

Shhaaaaa—!

Cale menatap tetesan hujan yang jatuh di telapak tangannya.

Dan dia merasakannya.

Hujan ini sudah siap mendengarkan ucapannya.

Hujan yang turun dari langit, siap untuk mengikuti kehendak Sky Eating Water.

Shhaaaaa —!

Berdiri di atas tembok benteng, Cale menatap lautan milik Kaisar Tiga yang menjulang jauh lebih tinggi darinya.

.

.


Donasi disini : DONASI

Komentar

  1. Untung g beneran dimuntahin ToT, klo beneran keluar dari mulut apa gak kena mental tuh kaisar tiga ToT

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Episode Trash of the Count Family

Daftar Novel Terjemahan

Daftar Novel Children of the Holy Emperor