Trash of the Count Family Book II 582 : Jangan Tersesat
Kekuatan yang dilewatkan oleh Dewa Kematian, Naga Kuno Eruhaben, dan
Cale, sekalipun berada di dalam tubuh Panglima Besar.
Bara api itu ada di dalam tubuh Uho?
"Mungkin, bukan hanya kekuatan Wanderer Api, tapi ada sesuatu yang
bercampur dan menyusup secara diam-diam."
Eden Miru si Half Blood Dragon tidak bisa menilai semuanya. Namun, dia
menyadari dengan jelas apa yang telah terjadi.
"Yang terpenting adalah pada saat ini, bara api di tubuh Uho
menyala dan membunuhnya. Putra Mahkota, kau tahu apa artinya ini, kan?"
Putra Mahkota Alberu menutup matanya lalu membukanya.
"Itu berarti mereka mulai bergerak sekarang. Aku mengerti kenapa
musuh diam saja selama ini."
Dia memerintahkan dengan tenang.
"Mulai sekarang, 8th Evils bersiaga penuh untuk perang."
Jika kemungkinan terburuk kedua terjadi, yaitu lokasi mereka ketahuan.
Musuh mengetahui lokasi Uho dan kelompok Cale.
"Dan untuk bersiap menghadapi yang terburuk—"
Suara Alberu bergetar. Mau tak mau memang begitu.
Yang terburuk, penyadapan.
Jika mereka mendengarkan semuanya, jika Kaisar Kedua dan bawahannya
mendengar percakapan mereka tentang Dunia Mimpi, atau jika mereka mengetahui
kondisi fisik Cale dan rekan-rekannya, atau jika mereka tahu bahwa mereka bisa
menguasai tempat ini tanpa kehadiran mereka,
"Untuk bersiap menghadapi yang terburuk, kita akan menjaga tempat
ini dan mencari cara untuk memberi tahu Cale tentang hal ini, bagaimanapun
caranya."
Sesuatu yang mengerikan mungkin akan terjadi.
Biiiiiiiip—
Saat itu, terdengar suara notifikasi pesan darurat.
Alberu mengeluarkan alat komunikasi video dan memeriksa pesannya.
〈Kekaisaran Barat
Breeze, dipastikan seluruh pasukan berkumpul di ibu kota.〉
"Hah!"
Kekhawatiran akan adanya musuh di dalam kini terasa sia-sia.
Belati musuh yang suram ternyata sudah berada sangat dekat di sisi
mereka.
‘Benar-benar, musuh kali ini tidak main-main.’
Sampai-sampai White Star terasa seperti lelucon, Kaisar Kedua
benar-benar jauh berbeda dari sebelumnya.
Alberu mengepalkan tinjunya erat-erat.
Dia sama sekali tidak boleh kehilangan apa pun.
‘Pasti bisa bertahan.’
Ya, seperti Kerajaan Roan.
Bagaimanapun caranya, harus bertahan dan selamat.
Oleh karena itu...
‘Kau juga harus selamat. Kumohon.’
Alberu menggigit bibirnya sambil memikirkan Cale, Choi Han, dan
rekan-rekannya.
Dan Raon, On, serta Hong yang mendengar berita itu kini berdiri
berdampingan di depan Ron.
"Tuan Raon, On, Hong. Mulai sekarang kalian harus benar-benar
menjaga tempat ini bersamaku."
Melihat Ron yang tidak tersenyum, bagaikan bilah pedang yang dingin,
anak-anak dengan usia rata-rata 10 tahun itu justru merasa sangat aman.
"Bisa kok."
"Tentu saja bisa!"
"Aku bisa melakukannya!"
Melihat tatapan mata yang menyala-nyala dari anak-anak berusia rata-rata
10 tahun itu, kepala pelayan Ron memalingkan wajahnya.
Dia melihat Beacrox, Cale, serta Mary dan Choi Han.
"Anak-anak ini terlalu berlebihan."
Alih-alih terdengar seperti keluhan, tatapan mata Ron lebih tajam dan
dingin dari sebelumnya.
Seolah dia siap menebas apa saja.
****
Sebuah ruangan di mana hanya ada satu-satunya nyala api yang berkobar di
dalam kegelapan.
Dua orang duduk berseberangan dibatasi oleh sebuah meja.
"Cih. Pikiran orang gila benar-benar sulit dibaca."
Salah satu dari tujuh bawahan Kaisar Kedua. Tidak, sekarang salah satu
dari empat bawahan, Mukhwa, berdecak.
"Makanya, kau seharusnya memulangkan Uho dengan baik-baik."
"Apa?"
Wanderer Api Mukhwa mengerutkan kening mendengar perkataan Wanderer
Amraek.
"Loh, bukankah memang begitu? Seberapa hebat kekuatan Api Kegelapan
kita? Bahkan pihak Cale Henituse pun tidak menyadarinya, kan?"
"Itu sudah pasti. Beraninya, Cale Henituse sekelas dia—"
"Ayolah, mari kita akui sekarang. Cale Henituse adalah eksistensi
yang luar biasa."
Melihat Mukhwa terdiam, Amraek melanjutkan kata-katanya.
"Api Kegelapan, yang merupakan gabungan dari kekuatanmu dan
kekuatanku, adalah kekuatan rahasia tingkat Fived Colored yang bahkan sulit
disadari oleh Ibu (Kaisar Kedua), kan? Terutama Uho yang memiliki sifat bawaan
atribut air, orang lain tidak akan menyadari api kecil seperti Api Kegelapan
saat melihatnya."
Mukhwa dan Amraek.
Kekuatan yang diciptakan bersama oleh api dan kegelapan yin, Api
Kegelapan. Itu adalah kekuatan yang bisa menyusup ke dalam tubuh seseorang dan
membaca pikirannya.
"Tentu saja Api Kegelapan juga punya batasnya, orang yang disusupi Api
Kegelapan tidak boleh menyadarinya. Karena itu adalah kekuatan yang bisa
dipertahankan jika tidak ketahuan."
"Benar! Kalau si Uho itu waras, dia pasti sudah menemukan Api
Kegelapan dan menghancurkannya!"
"Iya, iya. Mukhwa, ucapanmu benar. Aku yang salah,"
Ucap Amraek santai.
"Meski begitu, memang disayangkan dia kehilangan
kewarasannya."
"Itu benar,"
Mukhwa menyetujui.
"Gara-gara Uho menjadi gila tanpa alasan."
Benar.
Api Kegelapan adalah kekuatan
untuk membaca pikiran seseorang.
Namun, karena Uho menjadi gila, pikirannya tidak bisa dibaca dengan
benar.
"Setiap hari, Kue! Raon! Fuck, Permen kapas fuck! Brengsek, kenapa
dia hanya memikirkan hal-hal seperti itu!"
Tidak banyak hal yang bisa dipikirkan oleh Uho yang mentalnya hancur.
Terutama kue, Raon, dan permen kapas adalah yang paling banyak.
Melihat amarah Mukhwa, Amraek tersenyum lembut dan berkata,
"Tapi kita masih bisa mendapatkan beberapa hal, kan."
"Benar."
Mukhwa melontarkan apa yang mereka dapatkan.
"7th Evils, Cale Henituse, Dunia Mimpi."
Hanya sekali, tiga hal itu muncul sebagai serpihan ingatan yang sangat
kuat.
Itu pun bukan kalimat utuh, hanya serpihan yang terpotong-potong.
"Tidak kusangka Uho dan Cale Henituse berada di pihak yang
sama~"
Itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Tentu saja, setelah itu Uho hanya terus mencari kue lagi.
"Ini kesempatan."
Selain itu, ini adalah kesempatan bagus.
"Setelah Cale Henituse menghancurkan perwujudan 7th
Evils, dia menjadi diam."
Musuh juga sedang mengawasi Cale.
"Itu, kemungkinan besar berarti dia telah memasuki Dunia Mimpi."
Karena itu, sekaranglah saatnya.
"Cale Henituse yang tanpa rekan."
"Dan pasukannya yang ditinggalkan Cale Henituse."
"Ini adalah kesempatan untuk memusnahkan mereka semua."
Amraek berkata dengan lembut,
"Ibu juga sudah memberikan izinnya."
"...Baiklah."
Berbeda dengan Mukhwa, Amraek memiliki hak untuk memanggil Kaisar Kedua
sebagai 'Ibu'.
Mukhwa mengangguk sambil menggigit bibirnya.
Amraek berbicara dengan senyum tipis,
"Jika masalah ini diselesaikan dengan baik, kau mungkin akan
mendapatkan posisi Wind, atau mungkin posisiku. Benar, kan?"
"......Orang yang menyebalkan. Tapi ucapanmu tidak salah."
Wanderer Api Mukhwa berdiri dari tempat duduknya.
"Kekaisaran Barat akan bergerak."
"Ya."
"Dan kau?"
"Aku harus pergi menemui Ibu."
Mukhwa menuju Breeze Kekaisaran Barat, sementara Wanderer Amraek menuju Dunia
Mimpi.
***
Cale terus berjalan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengambil
setidaknya satu langkah lagi.
Tap.
Hutan di mana tidak ada angin yang bertiup.
Tap.
Dia berjalan ke tempat di mana kabut semakin menebal.
“Hehehe, Cale kenapa kau masuk? Di sini berbahaya! Untuk melindungi
mentalmu, tahukah kau seberapa keras kami—"
Terdengar.
Suara itu terdengar lagi.
“Sakit, hiks. Sakit.”
Suara lelaki tua yang pelit dan cengeng terdengar.
Sangat jelas.
Namun...
"Berbeda."
Arah suaranya berbeda.
"!"
Cale berhenti.
Karena Beacrox tidak bergerak.
Benang yang mengikat mereka menegang.
‘Bagaimana ini?’
Bolehkah dia melihat ke arah Beacrox?
Apakah itu boleh?
“Ah, sakit. Sakit. Aku juga ingin beristirahat, tapi terus terulang.”
Karena suara lelaki tua yang menangis itu terdengar dari samping, dari
arah Beacrox.
Bolehkah dia menoleh ke arah suara itu terdengar?
‘Sial! Berhentilah menangis!’
Saat itu, Sound of Wind berbicara dengan suara kasar dari arah
punggungnya.
“Kami yang akan melindungimu. Haa, haa. Kau pergilah! Keluar dari hutan
ini! Jangan pernah kembali ke alam bawah sadar lagi! Kumohon, pergilah!”
‘Sialan!! Sungguh, hutan ini, kabut ini benar-benar menyebalkan!’
Kemarahan Cale semakin memuncak.
‘Sial!’
Kabut ini aneh.
Cale menyadarinya dengan sangat jelas bahwa suara ini palsu.
Namun anehnya, di dalam kabut ini, rasa cemas bahwa ini mungkin nyata
mulai merasuki tubuhnya.
Ya, bukan pikirannya, tapi tubuhnya.
Dug dug dug!
Detak jantung yang berdetak kencang memperkuat rasa cemas itu.
Keringat dingin bercucuran, napasnya terengah-engah.
"Kabut sialan ini!"
Cale akhirnya berteriak, tak mampu menahan emosinya.
"Hei! Beacrox! Kau tidak sadar sekarang?!"
‘Kau baik-baik saja? Bagaimana keadaan tubuhmu?’
Kata-kata baik seperti itu tidak keluar dari mulutnya.
Dia hanya berusaha bertahan agar tidak diselimuti kecemasan, sehingga
amarahnya pun memuncak.
Di dalam kabut ini, emosinya campur aduk dan tidak terkendali.
Drrtt.
Dan benang emas itu mulai bergetar.
Ini bukanlah sinyal yang dikirimkan oleh monster tengkorak dari arah
belakang.
Ini adalah benang yang terhubung dengan Beacrox di sampingnya.
"Sialan!"
Pada akhirnya Cale tidak bisa menoleh.
Alih-alih, dia bergerak.
Dia bergerak mengikuti getaran benang itu.
"Hei!"
Cale mencengkeram lengan Beacrox.
"Si brengsek ini!"
Lengan Beacrox bergetar tak terkendali. Ditambah lagi...
“......Cale. Bawalah mereka. Setidaknya kau harus hidup. Kami baik-baik
saja.”
“XX! Pada akhirnya kita mati seperti ini tanpa bisa menangkap Dewa! Tapi
berkat dirimu aku bebas! Jangan mati!”
Suara Super Rock juga.
“Keugh. Aku tidak ingin mati, walau itu tidak keren~”
Suara Dominating Aura yang penuh gertakan juga terdengar.
Satu per satu, suara-suara itu semakin bertambah.
Timur, Barat, Selatan, Utara.
Suara-suara yang datang dari segala arah, mengalir masuk seperti
gelombang ombak.
Tidak ada yang meminta diselamatkan.
Mereka hanya menyuruh Cale untuk hidup.
Dan rasanya, jika Cale keluar dari hutan ini begitu saja, Kekuatan Kuno
akan lenyap terbawa kabut.
“Jangan khawatir. Kekuatanmu akan tetap ada, hanya kami yang akan
menghilang.”
Mendengar kata-kata Super Rock, wajah Cale menjadi sangat berkerut.
Dia menutup matanya.
Suara-suara yang terus mengalir.
Suara yang terasa sangat nyata.
Bersamaan dengan tubuh yang anehnya menjadi cemas.
Di tengah semua itu, Cale mencengkeram lengan Beacrox lebih kuat.
"Hei."
Lalu dia tiba-tiba berkata.
"Kau mendengarnya juga, kan?"
Beacrox menjawab meskipun masih gemetar.
"Ya."
Suaranya lebih tenang dari yang dibayangkan.
Tentu saja, suaranya sangat bergetar.
Tingkat kecemasan yang dirasakannya tampak lebih buruk daripada Cale.
Sebenarnya, apa yang dia dengar?
Cale tidak bertanya.
Alih-alih, dia menutup matanya.
Dan dia berkonsentrasi.
‘Tidak perlu dilebih-lebihkan.’
Tapi tidak perlu juga disepelekan.
Hanya...
‘Terima saja sebagai sebuah informasi.’
Cale mengusap wajahnya dengan satu tangannya yang bebas. Keringat
mengalir.
Tubuhnya memanas, dan bukan hanya karena cemas.
Dia menerima semuanya, dan memahaminya.
Kemudian mencatatnya.
Mengklasifikasikan, menganalisis, dan mengingat berdasarkan informasi.
Hawa panas memenuhi kepalanya.
Namun, tidak seperti tubuhnya yang gelisah, pikiran dan otaknya
berfungsi secara normal.
Cale menyadari dan menerima semua suara serta sensasi apa adanya.
Kemudian...
"Beacrox."
Saat ini.
Suara-suara yang mengalir masuk seakan menutupi segala arah.
Tubuh yang bergetar.
Di tengah itu semua, Cale berkata,
"Keheningan. Apa kau juga menyadarinya?"
Jawabannya sudah terlihat.
Pada saat itu, getaran tubuh Beacrox sedikit berkurang.
"Keheningan ya, Heh."
Terdengar tawa singkat dari Beacrox.
Tawa yang seolah akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Itu dia?"
"Ya."
Menyerahkan tubuhnya pada kecemasan dan mendengarkan banyak suara dengan
telinganya, Cale menyadari satu hal saat dia menerima semuanya.
"Hanya ada satu arah di mana tidak ada suara yang terdengar."
Dia menemukan keheningan itu.
Cale membuka mulutnya.
"Dari depan—"
Cale dan Beacrox, mereka berdua berbicara secara bersamaan.
"Arah jam 1."
"Arah jam 1."
Hanya dari arah jam 1 tidak ada suara yang terdengar.
Subjek mimpi, pemilik ingatan dari ruang ini.
Saat mereka berdua memberikan jawaban yang sama...
"Ayo pergi."
"Baik."
Itu menjadi sebuah keyakinan.
Cale dan Beacrox bergerak ke arah yang sama sambil membawa kecemasan
tubuh dan dikelilingi suara dari orang-orang yang mereka rindukan.
Mereka akan tahu setelah pergi ke sana.
Apakah ada jawaban di tempat itu, atau mungkin ada sesuatu yang lain.
Namun, Cale yakin dengan jawabannya.
Karena ini adalah jawaban yang tidak dia ambil sendirian, melainkan
bersama rekannya.
Itu adalah kepercayaan.
Tap.
Setelah rasa percaya itu muncul, kecemasan di tubuhnya mulai mereda.
Tap.
Berbagai macam suara masih terdengar, tetapi perlahan mulai memudar.
Meskipun kabutnya menjadi semakin tebal, anehnya...
Tap.
Cale dan Beacrox merasa sekeliling mereka menjadi begitu sunyi hingga
suara langkah kaki mereka berdua terdengar semakin keras.
Ya.
Keheningan semakin mendekat.
Tap.
Tidak ada sepatah kata pun.
Mereka tidak saling membicarakan tentang arah.
Namun mereka melangkah persis sama, baik itu ke utara, selatan, maupun
ke timur—ke segala arah.
Langkah kaki mereka perlahan semakin kuat, dan semakin cepat.
Tap.
Dan akhirnya.
"......"
"......"
Kedua orang itu telah berhasil melewati semua kabut.
Meski seluruh tubuh mereka basah oleh keringat dingin, wajah mereka
pucat pasi, dan bibir mereka terluka karena terus digigit demi menahan rasa
cemas.
Hah, hah.
Hah, hah.
Dalam keheningan itu, mereka mendengar dengan jelas suara napas diri
mereka sendiri dan rekannya.
Lalu, mereka mengangkat kepala.
Melewati hutan, sebuah jalan muncul.
Dan...
"......Cahaya."
"Ya."
Sebuah cahaya muncul.
Barulah sekarang mereka berdua saling menatap. Cale melihat senyum kecil
di bibir Beacrox lalu berkata,
"Kerja bagus."
"Tuan Muda juga."
Mereka berhasil.
Senyum yang sangat tipis dari Beacrox, namun dipenuhi dengan rasa
bangga.
Melihatnya, Cale tanpa sadar ikut tersenyum.
"Alam bawah sadar sialan."
Tentu saja dia tidak lupa mengumpat.
.
.

Komentar
Posting Komentar